TRAVENDOM

A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

HYMN ON VACATION
F I N D I N G  H I M


Apa yang kau cari dari sebuah perjalanan?
Jika telah meraup pengalaman, lantas apa yang dapat dibanggakan?
Tentang menaklukan tantangan, memperoleh teman, atau . . . masih mencari alasan?

Seorang nelayan bisa membedakan lautan yang tenang dan mematikan.
Pilot kapal terbang selalu menikmati gunung dan lembah yang mengagumkan.
Pewarta berita bahkan bisa bertutur lebih ringkas tentang kemajemukan, makanan, hingga kematian.
Lalu untuk apa kaki dirancang untuk selalu berjalan, atau mata yang dapat melihat lebih panjang?

Di luar sana banyak musafir yang memutuskan berjalanan untuk sebuah perubahan. Melewati gang sempit, sungai, perbatasan yang terisolasi, melompati bukit, mengintip samudera, dan menyaksikan pohon kering tanpa buah-buahan. Kebanyakan hanya ingin dikenang sebagai pejalan, kemudian pulang untuk bercerita tentang perkara berkawan dan tips menaklukan alam.

Pun di luar sana masih ada beberapa pasang kaki yang berjalan melambat, berhenti, dan berlutut di atas tanah-tanah kering, atau mendongak segaris lebih tinggi demi sebuah pencapaian. Refleksi tentang menemukan Tuhan. Ya, 'Partikel Kudus' yang dipuja lewat berbagai jalan. Satu-satunya keberanian yang menyertai tiap perjalanan.

Sekarang, tidak peduli di labirin sebelah mana kau berdoa, lidah dan harapan hanya tumbuh pada tangan yang dikepal, dan lagu-lagu ini adalah visual ketika kaki, hati, dan kepala memuja-Nya bersama-sama.

01. Shoulders - For King & Country (Praise To God)
02. Simera Ta Fota - Mixalis Xatzigiannis (Greek Orthodox Praise Song)
03. Namo Amitoufo Buddha Mantra - Li Na (Buddhist Praise Song)
04. Mawlaya Salli Wassalim - Maher Zain & Nasheed (Islamic Praise Song)
05. Gayatri Om Bhur Bhuvah Shawa (Hinduism Mantram)
06. Ji Nai Nan Arabic (Christian Coptic Praise Song)
07. Gadol Elohai - Joshua Aaron (Jewish Praise Song)
08. Create In Me A Pure Heart - Nabil & Kelsey (Baha'i Praise Song)

[download] Full Album.

Origin cover by: Martin Ferenc

TRAVEL LOUD!
Mendeskripsikan Yogyakarta sama halnya dengan bercerita tentang Bali, sama-sama telah menyandang nama besar. Candi yang megah, masyarakat yang ramah, senyum yang tulus, kehidupan yang sederhana, bersahaja, kehangatan khas Indonesia, yang ini, yang itu, yang semuanya sempurna. Indah tanpa celah dan tak kekurangan apa-apa. Mengupas keistimewaan dan pesona mereka berarti memilih mengulang pujian-pujian yang sama.

Malioboro 2012 adalah sebidang jalan sempit yang mementaskan perilaku sosial kaum madya hingga kalangan ningrat. Di sebelah timur berdiri De White Paal sebagai titik hubung antara Laut Selatan, Keraton, dan gunung Merapi yang berderet sejajar. Lalu apesal riwayat Beringharjo, Niil Maatschappij, Vredeburg, hingga stasiun besar di bilangan Sosromenduran. Lupakan saja, mengurai mereka berarti setuju untuk bercerita lebih jauh hingga ke Borobudur dan Prambanan di Magelang sana.

Jogja tiga tahun lalu adalah kota penyelamat, yang melemparkan pintu ajaib manakala rutinitas kerja dan kuliah merampas hak sebagai manusia bebas dan merdeka. Di dalam koridor sepur tua saya duduk menerawang jendela, berharap kondektur mempercepat kereta. Deana, Bram, Esther, dan Anton telah bertemu di alam ketiga, terperangkap dalam perjalanan malam menuju Semarang, ke kota lumpia.

Tiga jam meninggalkan Lawang Sewu, minibus hijau tua melintasi jalan layang, di bawah sana terpampang landscape menyedihkan. Rumah tanpa atap, tumbuhan tanpa warna, ternak tanpa gembala, jalan, sungai, dan segalanya adalah abu-abu. Lahar dan air mata meluap bersama, sepatu dan batang pisang berserakan di dalam selokan. Merapi menyambut kami dengan angkuh, udaranya menerbangkan doa dan harapan-harapan. Selamat datang di Jogja, kota ini sedang kesakitan.


Jogja bukan yang dulu, tak ada lagi Hilda yang mengundang ke pementasan barongsai saat perayaan Imlek, atau Arie yang selalu sibuk kuliah dan tak punya waktu hingga saya kembali ke Jakarta, bukan pula tentang Handy yang menekan klakson ketika saya membelakangi mobilnya, kemudian membayar semua makanan sebagai kado ulang tahun di malam yang sama.

Gunung pemarah itu telah jinak, ditopangnya awan dan langit biru saat pesawat kami merendah di depannya. Jogja kali ini tentang Adisucipto yang nampak sempit, jajanan di Legend Caffee yang enak dan murah, hotel-hotel baru yang mengancam ruang tata kota, hingga pusat perbelanjaan moderen yang didirikan untuk melaknat ruh Alun-alun dan euphoria Taman Siswa. Begitulah, sakralnya budaya dan tata krama sudah ditelanjangi atas nama pariwisata. Haleluya!

"Mas sudah di Jogja, sayang. Kalau tak ada halangan hari ini juga kita pindahan, titip saja kunci kamarnya. Selamat sekolah, selamat belajar."

Saya menarik buku kumal, merobeknya untuk membuat daftar kegiatan selama disana. Adik nomor lima sudah pamitan sejak pagi buta, izin bermalam di sekolah agar nilai ekstrakulikulernya tak berubah warna. Belanja lemari, sewa pick-up, cari wi-fi, kirim artikel, ambil raport, mengunjungi Universitas Gajah Mada, Tamansari, bertemu komunitas pejalan, buka puasa dengan sahabat lama, makan malam bersama Leonard, hitam, gelap, lalu tumbang menindih catatan yang masih di awang-awang. Takluk sebelum perang, layu sebelum berkembang

Iin meretas sebagai titisan ibu peri, mengantar pergi kesana kemari. Darinya pula Jogja nampak tidak lebih luas dibanding jidat orang dewasa. Dee Jee tak kalah sakti, selaku duta sebuah komunitas pejalan, dia mengundang saya ke lesehan di kolong jembatan layang. Kunci motor diserahkannya sebagai fasilitas jalan-jalan. Dua hari kemudian saya didaulat sebagai “penanggung jawab” wilayah Bali dan Maluku Utara.

Ah, kota ini semakin menyebalkan saja, Ia memutihkan sumpah serapah yang saya ucapkan beberapa tahun lalu. Ketika dengan yakin saya berjanji tak akan jatuh hati pada nama besarnya, atau terperangkap dalam keramah-tamahannya. Tak mungkin, tak akan mungkin.

Kini bukan lagi kisah tentang menemukan keluarga, saya bahkan disuguhkan pelukan-pelukan hangat laksana saudara. Handy pun hadir untuk yang kedua kali, menculik saya dari Vito Cafe Seturan ketika sedang konsentrasi mengirim kerjaan. Tak lupa dengan Hajah Toyib, ibu asrama baru untuk adik nomor lima. Terimakasih sudah bersedia menjadi mata-mata ketika adik jauh dari jangkauan mama.

Satu jam sebelum mengangkasa, saya melepas separuh cinta untuk Yogyakarta. Kepada adik nomor lima yang mau tidak mau, suka tidak suka, telah memaksa saya kembali kesana. Yang meninggalkan rumah demi bangku SMA, dan meyakinkan kami bahwa perempuan kecil pun bisa merantau ke mana saja.

Atau, bisa saja separuh cinta itu masih harus dibagi dua dengan Dia yang juga telah memilih menetap disana. Dia yang menjadi alasan bahwa ada masa lalu yang belum selesai hari ini. Entahlah, Jogja merebut separuh bahagia dari saya. Maaf jika saya menjadi seperti mereka, orang-orang yang selalu mengulang pujian-pujian yang sama. Kota ini memang istimewa!

Salam,

------------------------------------------------------------



Terimakasih kepada:

Deana Chandrawijaya | Bram Anthony
Esther Berliana | Anton Sugiharto
Hilda Komalasari | Handy Bareszky
Arie Wicaksono | Dee Jee | Iin Tjan
Hajah Toyib | Leonard Hutagalung
dan tentunya Adik Nomor Lima. 
HYMN ON VACATION
B E T A  I N D O N E S I A


Bantu saya memasung kembali diva holiwud dan pasukan boiben ke dalam teko ajaib. Singkirkan mereka jauh-jauh, karena kita masih punya lusinan musik bagus yang lebih layak menjadi teman jalan-jalan. Setidaknya ketika menjelajahi Nusantara.

Bayangkan saat mata dipejam, punggung diluruskan, dan batang leher menyentuh bantal. Pada kesempatan itu, hanya alunan nada tanpa vokal yang pantas mengawalmu menuju alam hibernasi. Tentu saja karena memilih nyanyian Maili Sairus adalah mimpi buruk yang bahkan lebih menakutkan daripada kematian.

Inilah kompilasi instrumental Indonesia terbaik yang patut didengar. Sebagian besar merupakan lagu daerah gubahan para komposer muda yang luar biasa. Sebelumnya, mari berterimakasih kepada See New Project, Jerry Kamit, VOCA, Relly Daniel Assa, dan Batavia Folk Instrumental.

01. Rambadia Tapanuli (Sumatera Utara)
02. Datun Julud Sape (Kalimantan Selatan)
03. Sabilulungan Chilling Out (Jawa Barat)
04. Bengawan Solo Saxophone (Jawa Tengah)
05. Anging Mammiri Acapella (Sulawesi Selatan)
06. Pulangah Bansi Instrumental (Sumatera Barat)
07. Cublak Cublak Suweng (Jawa Timur)
08. Bolelebo Acapella (Nusa Tenggara Timur)
09. Island Groove Music Lounge (Bali)
10. Kitjir Kitjir Batavia Folk (DKI Jakarta)

[download] Full album.
Origin cover by: Sebastian Alex Dharmawangsa

TRAVEL LOUD!
Pukul empat sore, momen dimana jiwa-jiwa penghuni Ibukota mencapai puncak ketidakpastian. Antara memilih pulang atau bertahan di kubikal, berlindung dari kemacetan yang membosankan atau bergegas ambil bagian dalam gelombang massa yang tidak sabaran.

Jangan mau hidup dengan rutinitas yang tidak pernah memberi kita pilihan. Makan untuk hidup, hidup untuk kerja, kerja untuk uang, uang untuk pergi liburan. Ya, liburan. Karena belajar itu wajib, kerja itu harus, tapi liburan itu urgent!

Tak ada salahnya bertahan di ruang kerja hingga malam. Menyelesaikan tanggung jawab, menunggu matahari dicincang bulan. Berjanjilah bahwa nanti, takkan ada keteledoran yang dapat dijadikan alasan untuk mengganggu kita selagi bersenang-senang.

Satu-satunya hal yang harus dilakukan ketika draft dan segala laporan telah diselesaikan adalah, bergegas ke stasiun untuk sebuah petualangan. Sendiri saja? Tentu, kadang kita memang harus nekat menyusuri labirin dengan tumit sendiri, mengukur diri sejauh mana dapat melangkah, atau menakar kemampuan seberapa lincah otak bekerja dalam perjalanan tanpa teman.

Bantu saya menutup mata dari tujuan destinasi sejuta umat. Mari melipir ke tempat yang kurang populer dibanding Jakarta, Bandung, dan sekitarnya. Pergilah ke "Kota Udang", tempat segala kuliner enak bertakhta, pusat bertemunya budaya Jawa dan Sunda. Cirebon, begitulah orang-orang menyebutnya.

Perjalanan dengan kereta api memakan waktu kurang lebih enam jam. Tiket bisnis dan kelas eksekutif dapat dibeli di stasiun Gambir, dengan tujuan Kejaksan. Untuk kelas ekonomi, pemesanan dapat dilakukan dari stasiun Jakarta Kota, dengan tujuan Cirebon Prujakan. Alternatif lain adalah bus, tiket bisa diperoleh langsung di loket penjualan operator bus di terminal Grogol, Jakarta Barat.

Cirebon bukan hanya tentang kerupuk, terasi, jajanan, atau apapun yang terbuat dari udang.
Berstatus kotamadya, Cirebon berperan strategis sebagai simpul pergerakan ekonomi antara Bandung dan Semarang. Tak hanya itu, Pantura kerap menjadi urat nadi lalu lintas yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya.

Arsitektur tua peninggalan kompeni Belanda masih banyak ditemukan disini. Bergeraklah ke arah pelabuhan di Pasuketan hingga kawasan heritage di Panjunan, lihat dengan mata kepala betapa Fabriek Tenoen, Gedoeng Bentoel, hingga Bank Indonesia masih berdiri kokoh menanti kedatangan ngana.

Disini, di kampung nelayan ini, etnis Jawa, Sunda, Tionghoa, dan Arab melebur dalam satu wadah dinamis yang bergerak mengikuti peradaban. Nyawa kehidupan ada dimana-mana, terselip diantara pagi di Pasar Kanoman, memancar dari aura Keraton Kasepuhan, atau berserakan di Alun-alun Kejaksan. Semua bergeliat, berlomba-lomba menampilkan senyum paling hangat.

Kuliner pun turut ambil bagian. Siapa yang mampu mendustakan nikmatnya empal gentong, sega lengko, nasi jamblang, sampai jajanan formalitas semisal cimol, es duren, cilok, hingga bawang goreng yang sangat tersohor itu?
Cirebon Dalam Galeri Instagram (travendom)
Jika memiliki waktu yang cukup, bergeserlah ke arah Kuningan, lihat betapa megahnya gunung Ciremai yang memelihara kota kebanggaan Sunan Gunung Jati ini. Selain itu, fasilitas hiburan dan akomodasi juga sudah tersedia dengan baik disini. Semua demi menunjang aktifitas wisatawan yang datang.

Kawasan Cipto adalah wilayah yang menjadi konsentrasi pemerintah kota untuk dikembangkan pada abad ini. Hotel budget maupun yang kelas berbintang banyak bermunculan. Layanan penyewaan kendaraan juga tersedia disepanjang jalan ini. Pilih saja sesuai kebutuhan.

Bagi yang tertarik ke Cirebon namun bingung menentukan pilihan akomodasi, tenang, saya punya satu kata kunci, katakanlah lebih sakti dibanding tongkat ibu bidadari.

Buka travelio.com, situs dapat diakses via komputer atau perangkat mobile. Masukkan Cirebon pada kolom lokasi, pilih tanggal dan lama menginap, silakan tunggu dan biarkan mesin pencari bekerja sesuai kodratnya sendiri. Berikutnya pilih hotel yang panjenengan inginkeun, baca deskripsi untuk melihat fasilitas, review, hingga tahun pembangunan dan luas kamar yang mereka tawarkan. Jika telah selesai, loncat ke langkah "Tawar sekarang!"

Masuk Ke travelio.com, Pilih Tanggal Dan Jenis Hotel.
Bukan, ini bukan membeli ikat rambut atau menawar pakaian dalam, kita memang sedang memesan hotel. Tenang saja, Travelio memberi kita kebebasan untuk bargaining sesuka jidat. Lio, si singa pirang yang akan bernegosiasi sesuai penawaran yang kita inginkan. Jika disetujui, maka langkah terakhir adalah melakukan pembayaran. Transaksi ini dapat dilakukan dengan kartu kredit, transfer antar bank, dan internet banking. Cukup duduk manis menunggu rincian pemesanan dikirimkan ke alamat surel. No merpati, no telepati, no basa-basi. Semua beres!

Isi Harga Yang Dikehendaki Dan Biarkan Lio Bekerja Melakukan Penawaran.

Good luck and travel safely untuk ngoni samua!

*Tulisan ini diikutkan dalam lomba “Travelio #YourTripYourPrice Solo Traveling Blog Competition”  yang di-host oleh wiranurmansyah.com  dan disponsori oleh Travelio.com
Keterangan gambar atau photo
"Flight attendant, doors maybe open!"

Tak ada yang berubah dengan bandara Soekarno-Hatta. Holding bay, taxi wayapron, aviobridge, tenant, welcome banner, shuttle bus, dan segala garis jidat petugas ground handling masih sama seperti dulu. Membeku dilapisi debu, depresi dikekang polusi.

Kopi hangat dari balkon lantai sepuluh menjadi penawar bagi oksigen beracun Ibukota. Semacam pagi yang tepat untuk melepas rindu, atau sekedar bertukar kabar sebelum tukang sayur dan kereta berselisih suara. Dua jam setelahnya adik bergegas kerja, mengabdi sebagai orang terpercaya di angkasa raya.

Penerbangan ke Kuala Lumpur 4 jam lagi. Saya mandi, kemas pakaian, memotong kuku, berdandan necis, lalu melakukan web check-in. Tak ada lagi yang harus dilakukan setelah ini, kecuali memastikan berlembar-lembar ringgit telah disimpan di saku celana.

Rincian boarding pass sudah terpampang di beranda pesan. Saya mengintip sebentar, kemudian mengabaikannya. Kursor diseret ke mesin peramban, jari-jari berdansa di papan ketik, mencari kontak terminal Kalideres. Dua, lima, sembilan, hingga puluhan artikel yang disarankan tak ada satupun yang memuat informasi ini. Siapa sangka, layanan terpadu Telkom ternyata masih mengoleksinya.

Suara perempuan tua menjawab panggilan dari seberang, intonasinya rendah, meyakinkan jika ia tersenyum selagi menyapa.

"Baiklah, jika Medan dan Pekanbaru tak ada lagi, mohon simpankan satu tiket ke Palembang. Saya siap untuk keberangkatan 1 jam dari sekarang." 

Semua terjadi tanpa rencana, spontanitas, secara tiba-tiba. Impulsif sekali.

Taksi melambat di persimpangan rumit, mobil-mobil berbaris lengket, menyisakkan ruang gerak yang sempit. Manusia tak lagi menunggangi kuda, kerjanya hanya duduk menanti lampu pemberi aba-aba. Inilah perjalanan pertama ke rahim Sriwijaya.

Bus meninggalkan terminal tepat jam empat sore, estimasi ketibaan pukul satu besok siang. Bersiaplah untuk 21 jam yang menyedot usia. Melintasi Banten kami bergerak ke ujung barat pulau Jawa, melewati sembilan kecelakaan maut, dua pos pemeriksaan, hujan badai di Selat Sunda, lalu merapat di pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Bus ini tak terlalu besar, berkapasitas hanya dua puluh kepala saja. Dari jendela retak yang menganga, bukit-bukit berlomba mengopeng hidung purnama. Melaju menaiki tanjakan, menyebrangi jembatan, menerobos kesunyian, tanpa penerangan, kami melewati perkotaan demi hutan-hutan perbatasan. Kereta pengangkut bauksit meliuk lemas di lintasan berkelok, diseberangnya datang lokomotif bermuatan kayu olahan. Orang-orang tertidur pulas, saya masih terjaga, melamun mencerna lagu yang bikin repot isi kepala. 

Janjimu bukan surga, bukan pula dunia.
Gara-gara cintamu aku masuk neraka.
Untuk apa kau terus berdusta?

Kami berhenti di kedai melayu pada perlintasan trans sumatera di Menggala. Nenek yang duduk disamping saya bergegas ke mushala, merapatkan shaf sebelum fajar tiba. Budak-budak berbaris mengantri makan, ada yang menanti pintu toilet terbuka, menunggu segelas aqua, menyiapkan diri untuk muntah kedua, hingga menggantukan hidup pada grafik ponsel yang sedang mengisi daya.

Jam dua belas siang kami meninggalkan Padamaran, berlepas dari wilayah Ogan Komering Ilir, selangkah lebih dekat ke perut Jakabaring berdiri. Pak Malik menawarkan boncengan dengan ramah, sepuluh ribu untuk ongkos Burlian ke sungai Musi. Inilah jembatan Ampera, ruh kota Palembang, nyawa bagi orang Sumatera Selatan! Begitu katanya.

Incoming call. Saya menatap layar ponsel lekat-lekat.

"Ayah menghubungimu sejak kemarin sore, tapi diluar jangkauan."

"Jangan khawatir, aku sudah di Palembang."

"Bukannya ke Kuala Lumpur? Seingat Ayah, penerbanganmu kemarin siang."

"Tiket sudah kubatalkan, kupilih saja kesini. Untuk ke Putrajaya aku masih bisa dari Denpasar. Sedangkan kalau ke Sumatera, haruslah lewat Jawa. Tak apa Ayah, anggap saja aku di Malaysia."

"Kabari Ibumu, jangan buat dia keliru mengirimkan doa ke negeri Petronas."

Panggilan berakhir, bau darah segar menyengat di seisi kamar tua. Saya tak peduli, inilah waktu yang paling dinanti. Tidur pertama kali dengan posisi yang lebih manusiawi.

5 menit kemudian lemari berbunyi, lalu tv mati sendiri.

Foto: M. Nawi, disadur dari website tipsfotografi.net [direct link]
HYMN ON VACATION
D I S CO V E R  Y O U R  F L A V O U R

Traveling tanpa musik seems like summer without beach, atau sunbathing tanpa sunglass. Kurang menggigit, begitulah kira-kira. Sayangnya berbicara musik adalah berbicara tentang selera. Tidak masalah, karena takkan mungkin ada kata 'suka' sebelum mencoba. Dengarlah 8 travel song list keren yang dipilih sebagai backsound perjalananmu. Let's think outside the box. Percayalah musik itu universal, bahwa segala bahasa adalah milik semua manusia.



1. Sunset Lover - Petit Biscuit
2. Hold You Inside - Lumin Bells
3. Caravane - Raphaël
4. De La Capat - Voltaj
5. Coins In A Fountain - Passenger
6. Emoticons - The Wombats
7. Disko Partizani - Shantel
8. Mon P'tit Gars - Christophé Mae

[download] Full album.

TRAVEL LOUD!
Tiap keputusan memiliki alasan tersendiri dalam memilih jalan keluar. Vakum selama hampir sembilan bulan adalah mimpi buruk bagi tiap blogger yang ingin berkembang. Tak masalah, saya hanya butuh mundur selangkah untuk melompat lebih jauh.

Lupakan saja, saya bahkan telah menulisnya dengan rinci di laman khusus pada bagian lain blog ini [baca disini]. Sekarang, dengan penuh semangat saya sampaikan, bahwa perjalanan panjang segera dimulai!

Siapapun pian, yang bermukim di Kalimantan, dan kada sibuk bak pejabat negara. Silakan bergabung dalam misi jelajah Borneo selama sebulan penuh. Trip ini akan dimulai dari Banjarmasin pada pertengahan Juni nanti.

Tak ada konsep khusus dalam misi kali ini. Seperti biasa, bergerak mengikuti angin, melangkah sesuai tuntutan hati. Tentunya, ini akan menjadi pengalaman tak ternilai, saat tekad berkelana pada bulan Ramadan di negeri orang terlanjur bulat seperti donat. Sebagai tambahan, Sampit akan menjadi pilihan untuk menikmati ketupat lebaran.

Kunjungi laman Kontak untuk informasi lebih lanjut.

Terimakasih dan sampai jumpa di Kalimantan!


Gambar: Daring Planet
H E L L O  L O M B O K
Saya pernah menulis ulasan tentang Lombok beberapa waktu lalu. Tapi kali ini saya kembali ke sana, datang untuk yang kedua kali, dan berpura-pura layaknya pertama kali. Tenang, saya bersumpah tak akan menggerutu tentang slogan kota Mataram, mengungkit dendam di desa Sade, atau mengingat petualangan bersama Ran di Gili Trawangan.

Tak seperti sebelumnya, kali ini saya memilih angkutan udara sebagai moda transportasi pulang-pergi. Apa kabar bandara Lombok di tahun 2014? Ah, lupakan saja, ia masih tetap unik seperti kunjungan saya yang terakhir. Tentang penjual balon, rambu dan parkiran yang acak-kadut, hingga nenek berbaskom hitam, semuanya masih eksis seperti sedia kala. Saya mempercepat langkah, menaiki Damri tujuan pusat kota, lalu terbelalak mendapati sebuah bantal kepuk berlapis sprei ijo kumal tertinggal di bangku sebelah. Kenapa bisa? 

Ponsel berdering, menampilkan nama (mantan) kekasih yang sedang cemas. Ya, kunjungan kali ini sebagai hadiah pada hari ulang tahunnya. Tiada lagi hubungan lintas benua, atau perbedaan waktu 9 jam yang menyebalkan itu. Ini yang baru, yang tinggal hanya beberapa kilo dari urat nadi dan singgasana hati. Tolong, kali ini jangan memaksa saya bercerita seperti kisah novel teenlit yang dipenuhi drama.
P A N T A I  M A L I M B U  |  G I L I  T R A W A N G A N
Kami langsung ke Trawangan setelah menyimpan barang di rumah teman. Jika dulu saya dan Ran berangkat via Monkey Forest, kali ini dia memilih jalur Senggigi. Sepanjang perjalanan saya tak ubahnya anak Tarzan yang menemukan peradaban. Meloncat di penyangga bambu demi memotret pantai Malimbu, memuji toska lautan Lombok dari villa mangkrak tempat si mantan mencari inspirasi, atau melumat sore dari bibir Trawangan adalah contoh pengalaman yang tak mampu disimpan sebagai tulisan.

Biarkan saya membuat sedikit rekomendasi, yang seperti pelancong lain lakukan selama ini. Tapi jangan khawatir, saya masih menawarkan cerita yang mampu mendidik hati, menginspirasi kaki.

AIR TERJUN PALSU
P A N T A I  N A M B U N G  |  T A N J U N G  J A G O G
Katakanlah seperti itu, sebuah destinasi layak dikunjungi yang menawarkan dua pengalaman sekaligus. Berhenti bermimpi ke luar negeri, alihkan segala budget kesini, dan temukan potongan keajaiban dunia yang membuat hati tak lagi menderita.

Terletak di Buwun Mas, Lombok Barat, sekitar 2 jam dari kota Mataram. Sebuah pantai dengan tipikal pasir merica yang membuat kaki berat melangkah. Berjalanlah ke kiri, lewati bebatuan licin yang juga sanggup merenggut nyawa, hati-hati dan bertahanlah hingga benar-benar tiba di menu utama.

Lepas, biarkan matamu tak berkedip, izinkan mulut terkunci rapat, dan selamat datang di nirwana yang sebenarnya. Di depan ngana, ada batu karang setinggi pagar Istana Negara, sabar dan diamlah, nantikan buih dari ombak yang menghempas ganas. Tetap mengatur jarak waspada, lalu abadikan momen dengan ponsel kamera. Lihat apa yang terjadi, air terjun yang lahir dari rahim samudera. Selamat datang di Nambung, ya!

AMPENAN OLD TOWN
K O T A  T U A  A M P E N A N
Bosan dengan zaman yang semakin membingungkan? Mari melipir kesini, kenakan pakaian musim panas yang tak berpayet, lepaskan konde bangsawan, tinggalkan ransel beserta aib keluarga, kuatkan tekad dan mari berjalan. Pelindung tabir surya mungkin penting bagi yang tak ingin berkulit panggang.

Letakkan tangan di shutter kamera, bidik momen kota tua yang menjadi saksi antara bahagia dan celaka. Bau kopra dan rempah-rempah segera merasuki indera penciuman anda, tarik dan biarkan ia menyatu dalam raga, jadikan perjalananmu tak sia-sia di mata orang tercinta. Perhatikan tiap debu yang terbang, tankap tiap pesan, dan bawa mereka pulang sebagai kenangan. Bukankah tiap perjalanan harus memiliki cerita, yang dapat diwariskan hingga tujuh turunan?

MINARET OF ISLAMIC CENTRE
Tak harus menjadi muslim untuk masuk kesini, datang dan tengoklah maskot anyar kota Mataram. Capai puncak tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Barat ini, berdiri dan biarkan angin malam membuat bulu matamu berantakan, sebagai bukti jika kamu tak sedang dalam khayalan.

Pandang Mataram di bawah sana, kota mungil yang menjadi tulang punggung pulau Lombok, merangkap tempat bagi Islam dan Hindu untuk berdiri sejajar dan berjalan berdampingan. Harmonis sekali. Jika telah selesai, turun dan bersyukurlah, kau baru saja melihat utuh tempat lahirnya Sate Rembiga, Ayam Taliwang, dan Plecing Kangkung yang sudah tersohor se-Nusantara. Berbanggalah karena diahirkan di Indonesia!

BEBEK IJO MGM
Jangan pulang sebelum mencoba makanan ini. Simpan niat untuk berburu kuliner sejuta umat, ayunkan kaki dan berjalanlah kemari. Terletak di daerah Cakranegara, di depan MGM terdapat tenda sederhana persis di bibir jalan raya.

Bersihkan tangan dengan gel antiseptik, hapus tata cara makan ala Eropa, buang jauh-jauh sendok dan garpu. Tak perlu meja, duduklah bersila dan bersikaplah sederhana. Bumbu pedas dan minyak bebek akan beradu dengan nasi panas, lantas mengajarimu bahwa menghabiskan duit demi makan di restoran adalah perbuatan sia-sia. Setidaknya sejak malam ini.


Teman, tak perlu ke Paris jika kau hanya ingin melihat Eiffel, tak usah ke Ampera jika ingin mengenal Palembang. Jadilah berbeda, ketika satu dunia terobsesi bertemu Obama di Amerika, kau bisa pergi melihat beruang di Rusia. Jika hidup hanya untuk terlihat sama, buat apa saya bercerita?


Salam,

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.