TRAVENDOM

Apa jadinya jika seorang pejalan berdarah Maluku yang menyenangi apapun tentang Bali dan Yunani, datang ke sebuah pulau tua rasa Belanda di Papua; yang masyarakatnya penggemar sepak bola, zumba, dan musik deutro Afrika?

Doom, merupakan daratan seluas 500 hektar yang mengapung kira-kira 3 Km dari bibir Kota Sorong. Dihuni oleh lebih dari tiga ribu kepala keluarga, pulau ini adalah cikal bakal terbentuknya peradaban Sorong dan segala hal yang mengatasnamakan modernisasi.

Saya adalah satu dari lima belas orang yang menumpangi perahu kayu bermesin 13 PK. Anak muda menyebutnya Jonson, orang tua mengenalnya sebagai taksi laut, dan orang mabuk memujinya sebagai moda penyeberangan cuma-cuma. 

Pukul sembilan malam, saya bertolak dari Halte Doom di Sorong menuju dermaga Doom. Dikawal nyanyian motoris cerewet yang terdengar seperti puji-pujian setan, saya mendekat ke jendela perahu, merapatkan dagu menikmati kerlap-kerlip pelabuhan peti kemas dan sorotan mercusuar pulau Dofior.

Sepasang tuna wicara memadu kasih di baris depan, sedang tiga nona Biak sibuk mengutuk harga pinang di bangku belakang.

“Lima ribu per kepala!” Motoris mengusir lamunan ketika perahu melekat di kaki dermaga. Tukang becak saling sikut merebut penumpang. Di ujung jembatan, satu mama berambut pirang menggenggam ikat pinggang, siap melabrak enam bocah berisik yang asik berenang telanjang bulat. Malam-malam.

Saya tinggal di rumah kepala katering junjungan di pulau ini. Maar Yakeba, mama enerjik berdarah besser yang semangat mengajarkan banyak hal tentang memasak. Bersama Nando anaknya, saya diberi tanggung jawab sebagai asisten koki terkenal untuk membuat kulit panada, lontar papua, apem labu, hingga roti unti setiap jam tiga sore.

Secara administratif, Doom berada di Distrik Sorong Kepulauan dan membawahi enam RK, atau semacam Rukun Tetangga (RT). Rumah Mama Yakeba terletak di RK IV, sebuah dusun dengan populasi pemakan pinang, mace penutur mop, remaja pemabuk dan gadis tukang gosip terbanyak.

Barangkali, Doom juga merupakan satu-satunya tempat di Papua yang memiliki becak sebagai moda transportasi utama dan orang Papua asli sebagai pengayuhnya.

Pada era Onderafdeling, pulau ini menjadi basis Hoofd van Plaatselijk Bestuur yang cukup berpengaruh di wilayah kepala burung Irian. Ini seperti pusat pergudangan terkemuka di bawah pengawasan para meneer "Van Oranje." 

Mewarisi kemajuan tata kota Belanda, rumah-rumah tropis bergaya Eropa juga telah didukung oleh instalasi air terpadu, pembangkit listrik Indonesia, hingga terowongan paralel buatan Jepang. Orang sana menyebutnya lovrak.

Tak jauh dari lapangan bola, berdiri gereja misionaris tua di persimpangan jalur laut. Kokoh bersebrangan dengan sebuah toko kelontong Cina dan satu-satunya PAUD di pulau ini. Dua ratus meter ke barat ada masjid Maloku dengan menara setinggi 12 hasta, pun merupakan salah satu masjid tertua di wilayah administratif Kota Sorong.

Pada beberapa pekarangan rumah kristiani, berdiri kamar lonceng yang dibangun menyerupai sebuah pos jaga dengan tanda salib di atapnya. Lonceng-lonceng itu dibunyikan sebagai pengingat waktu ibadah, berita kematian, dan kabar tentang upacara pernikahan.

"Hanya pemabuk berdosa yang sanggup membunyikan lonceng-lonceng ini melebihi suara semboyan tanda bahaya." Kata Mega, seorang kemayu mantan narapidana.

Malam hari, ketika sebuah pesta dansa digelar sebagai perayaan resepsi perkawinan, orang-orang berdesakan, merapat mencari pasangan. Beberapa datang dari Sorong, ada pula yang bertandang dari pulau-pulau seberang.

Pesta, bagi masyarakat di sini merupakan suka cita luar biasa. Orang muda menari sampai pagi, diiringi musik Ambon, Halmahera, Amerika, Turki, hingga India. “Ini dansa pukul tanah!” Mega membisikkan saya yang takjub keheranan.

Saya lalu diundang ke bilik rahasia Oginawa, seorang kemayu asli Waisai yang cakap berdialek Ternate, namun terobsesi menjadi warga negara Jepang.

Kami duduk membentuk separuh lingkaran, berderet dari kiri ke kanan; Anindita, Kencana, Esbeth, dan Mama Tua sebagai tamu dari luar kota yang mulutnya sibuk menjelaskan panjang lebar tentang suka-duka hidup sebagai lelaki lentik di tanah Papua. 

"Orang-orang di sini memanggil kami dengan kata 'bambu', menggantikan banci atau waria yang terdengar merendahkan." katanya.

Dua botol sopi dicampur minuman bersoda telah digilir searah jarum jam, dan sudah tentu gelas tidak perlu berhenti di saya. Separuh dari mereka meracau kepanasan, sebagian terkapar, dan berbalas mop dibawah sadar. Saya menekuk lutut, menahan tawa pelan-pelan, sembari membuka sedikit jendela demi menuruti dada yang kehilangan oksigen.

Subuh tiba ketika pesta di penghujung selesai. Saya dan Nando bergegas kembali ke rumah, melewati setapak gelap berbau pesing yang masih basah. Di beberapa sudut, orang-orang berjejer di selokan yang kering; ada yang berbagi pinang, memetik gitar, bernyanyi, atau menghitung bintang dibalik asap tembakau yang mengepul dari mulut.

Pemandangan dari Jetty RK IV, Pulau Doom.
"Ini torang pulang lewat jetty andalan warga, jam begini pasti masih ada Sayuti di sana, lagi sibuk tunggu de pu laki datang bawa barang naraka untuk dipake sama-sama.

Biasanya teman-teman kumpul untuk ambil barang di Oginawa, termasuk aparat. Ah sudah, ini su jadi rahasia umum." Nando menutup cerita dengan melompati selokan lebar di samping sumur tua.

Saya mengikutinya sambil meyakinkan pijakan mendarat dengan baik dan suara langkah kaki tak sampai ke telinga Mama Yakeba. Tepat pukul lima, kami sudah berada di kamar, saya mengunci pintu, menarik selimut, dan mencoba percaya jika pengalaman ini terlalu luar biasa.

Siapa sangka, dua jam lalu saya berbagi tawa dengan para pengedar di rumah bandar narkoba.


Salam,

*Seluruh nama disamarkan untuk alasan privasi dan keamanan.
Mendeskripsikan Yogyakarta sama halnya dengan bercerita tentang Bali, sama-sama telah menyandang nama besar; candi megah, masyarakat ramah, senyum tulus, kehidupan sederhana, bersahaja, serta hangat. Indah tanpa celah dan tak kekurangan apa-apa.

Mengupas keistimewaan dan pesonanya berarti memilih mengulang pujian-pujian yang sama.

Malioboro 2012 adalah sebidang jalan sempit yang mementaskan perilaku sosial kaum madya hingga kalangan ningrat. Di sebelah timur, berdiri De White Paal sebagai titik hubung antara Laut Selatan, Keraton, dan gunung Merapi yang berderet sejajar.

Lalu bagaimana dengan riwayat Beringharjo, Niil Maatschappij, Vredeburg, hingga stasiun besar di bilangan Sosromenduran?

Lupakan saja, mengurai mereka berarti setuju untuk bercerita lebih jauh hingga ke Borobudur dan Prambanan di Magelang sana.

Jogja tiga tahun lalu adalah kota penyelamat, yang melemparkan pintu ajaib manakala rutinitas kerja dan kuliah merampas hak sebagai manusia bebas dan merdeka. Di dalam koridor sepur tua saya melamun menatap persawahan, berharap kondektur mempercepat kereta. 

Perjalanan dari Jakarta berakhir sudah, rangkaian telah tiba di Stasiun Poncol. Semarang kali ini tak bisa panjang, Jogja sudah menunggu dengan gempita. Esther, Deana, dan Bram memilih jelajah singkat di kota lumpia. 

Tiga jam meninggalkan Lawang Sewu, minibus hijau tua melintasi jalan layang, di bawah sana terpampang pemandangan menyedihkan. Rumah tanpa atap, tumbuhan tanpa warna, ternak tanpa gembala, jalan, sungai, dan segalanya adalah abu-abu. Lahar dan air mata meluap bersama, sepatu dan batang pisang berserakan di dalam selokan.

Merapi menyambut kami dengan angkuh, udaranya menerbangkan doa dan harapan-harapan. Selamat datang di Jogja, kota ini sedang kesakitan.


Jogja bukan yang dulu, tak ada lagi Hilda yang mengundang ke pementasan barongsai saat perayaan Imlek, atau Arif yang selalu sibuk kuliah dan tak punya waktu hingga saya kembali ke Jakarta, bukan pula tentang Handy yang menekan klakson ketika saya membelakangi mobilnya, kemudian membayar semua makanan sebagai kado ulang tahun di malam yang sama.

Gunung pemarah itu telah jinak, ditopangnya awan dan langit biru saat pesawat kami merendah di depannya. Jogja kali ini tentang Adisucipto yang nampak sempit, jajanan di Legend Café yang enak, hotel-hotel baru yang mengancam ruang tata kota, hingga pusat perbelanjaan moderen yang didirikan untuk melaknat ruh Alun-alun dan euphoria Taman Siswa. Begitulah, sakralnya budaya dan tata krama sudah ditelanjangi atas nama pariwisata.

"Mas sudah di Jogja, sayang. Kalau tak ada halangan hari ini juga kita pindahan, titip saja kunci kamarnya. Selamat sekolah, selamat belajar."

Saya menarik buku kumal, merobeknya untuk membuat daftar kegiatan selama disana. Adik nomor empat sudah pamitan sejak pagi buta, izin bermalam di sekolah agar nilai ekstrakulikulernya tak berubah warna.

Belanja lemari, sewa pick-up, cari wi-fi, kirim artikel, ambil rapor, berkunjung ke Universitas Gajah Mada, Tamansari, bertemu teman-teman Couchsurfing, buka puasa dengan sahabat lama, makan malam bersama Leonard, hitam, gelap, lalu tumbang menindih catatan yang masih di awang-awang. Takluk sebelum perang, layu sebelum berkembang.

Iin menjelma sebagai ibu peri, mengantar pergi kesana-kemari. Darinya pula Jogja nampak tidak lebih luas dibandingkan di peta. Dee Jee tak kalah sakti, selaku duta komunitas pejalan, dia mengundang saya ke lesehan di kolong jembatan layang. Kunci motor diserahkannya sebagai fasilitas jalan-jalan.

Ah, kota ini semakin menyebalkan saja, Ia memutihkan sumpah serapah yang saya ucapkan beberapa tahun lalu. Ketika dengan yakin saya berjanji tak akan jatuh hati pada nama besarnya, atau terperangkap dalam keramah-tamahannya. Tak mungkin, tak akan mungkin.

Kini bukan lagi kisah tentang menemui keluarga, saya bahkan disuguhkan pelukan-pelukan hangat laksana saudara. Handy datang untuk yang kedua kali, menculik saya dari Vito Cafe Seturan ketika sedang konsentrasi menyelesaikan kerjaan. Tak lupa dengan Hajah Toyib, induk semang baru untuk adik nomor empat.

Satu jam sebelum mengangkasa, saya melepas separuh cinta untuk Yogyakarta. Kepada adik yang mau tidak mau, suka tidak suka, telah memaksa saya kembali ke sana; yang juga telah meninggalkan rumah demi bangku SMA, dan meyakinkan kami bahwa perempuan kecil pun bisa merantau ke mana saja.

Atau, bisa saja separuh cinta itu masih harus dibagi dua dengan Dia yang juga telah memilih menetap di sana. Dia yang menjadi alasan bahwa ada masa lalu yang belum selesai hari ini.

Entahlah, Jogja merebut separuh bahagia dari saya. Maaf jika saya menjadi seperti mereka, orang-orang yang selalu mengulang pujian-pujian yang sama. Kota ini memang istimewa!


Terima kasih:

Iin Ilham Tjan | Handy Bareszky | Dee Jee | Hilda Komalasari | Arif Wicaksono | Deana Chandrawijaya | Esther Berliana | Maties Bram Anthony | Leonard Pasaribu
Runway Bandara Jefman
Pagi pukul tujuh, aroma kayu bakar melekat di dinding-dinding kamar. Ruben mengetuk pintu pelan-pelan, membangunkan saya yang baru terjaga dua jam lalu. Bangun cepat, jonson datang 30 menit lagi, katanya.

Semesta di Papua memang bergulir lebih awal, Tuhan dan matahari tiba dua jam lebih cepat di sini.

Dari dapur yang tak bisa dibilang sempit, duduk Maar Yakeba mengawasi semangkuk kamomor dan dua cangkir teh goalpara yang masih panas. Saya bergegas mandi dan sarapan bersamanya sebelum pergi.

Vanus tiba belasan menit kemudian, merapat bersama long boat bertenaga 15PK dengan kapasitas angkut empat kepala.

Tempo! Kita harus lekas pergi, sebelum ombak hantam torang.” Perintahnya.

Hari ini, di Kamis ketiga pada April yang memilih tandus, kami bertolak dari Doom ke pulau Jefman. Sebuah daratan yang masa depannya telah mati sepuluh tahun lalu.
*  *  *

Frans menarik tali pinggang ketika indikator sabuk pengaman berkedip, empat awak kabin kembali bersandar di jumpseat. Dari kokpit yang disesaki perangkat navigasi, Capt. Lusset mengirim perintah persiapan mendarat.

Seribu kaki di bawah sana, tampak buih gelombang Laut Halmahera yang bertubi-tubi menampar pesisir Sorong, sebuah bandar yang pernah dikendalikan Kontroleur Hoofd van Paatselijk Bestuur di era Onderafdeling.

Fokker F28 yang mengangkut 39 penumpang beserta kru terbang merendah, bersiap untuk mendarat. Hirias, seorang petugas menara kontrol baru saja mengirim pesan, meminta Lusset bersedia mengalihkan penerbangan itu ke Biak. Cuaca kian buruk untuk sebuah pendaratan, dengan alasan apapun.

Di kiri Frans, duduk seorang perempuan asal Timika yang tengah mengepalkan tangannya. Di seberang, dua nona Ambon sedang berdoa menutup mata. Baki jendela dibiarkan terbuka. Semua terdiam, patuh mengikuti prosedur keselamatan penerbangan sipil sebelum mendarat.

Tak ada pemandangan lain kecuali langit yang benar-benar gelap, dan suara dua mesin Rolls-Royce Spey yang dipacu maksimal untuk mengangkat beban seberat ribuan ton.

Frans mengusap wajahnya, kepalanya penuh dengan banyak kemungkinan dan secuil rasa bahagia. Dadanya berdetak cemas, tak sabar untuk segera tiba dan menghadiri undangan pesta keluarga; sebuah perayaan sederhana yang penuh dengan dekorasi bunga kamboja.

Lima menit kemudian Ia terjaga dalam tidur yang panjang. Perjalanan ini telah selesai.

Kamis malam, lewat laporan terbaru di saluran televisi andalan, seseorang membacakan berita:

Penerbangan 724 yang lepas landas dari Ambon menuju Sorong telah menutup kisahnya bersama 41 orang yang dilaporkan meninggal dunia.

Pesawat terhempas saat menghantam bukit batu ketika berupaya mengganti kordinat untuk tindakan divert ke Biak. Lambung bernomor PK-GFU patah menjadi 3 bagian. Menurut catatan, terdapat 2 penumpang cedera dan 2 orang dilaporkan selamat dalam insiden ini.” – Kamis, 1 Juli 1993.

Pelukan-pelukan yang harusnya mekar di pintu kedatangan, kini menjadi luapan emosi kehilangan. Orang-orang sibuk mengingat kebaikan korban, berharap Tuhan berkenanan menukar garis tangan. Di sebuah tanjung berbatu di bibir lautan, ada regu penyelamat yang tulus bekerja atas alasan kemanusiaan.
*  *  *

Jonson ditambatkan pada sebuah jangkar setelah tiba di pulau ini. Saya menarik napas panjang untuk merayakan mimpi telah berkunjung ke pulau yang mati.

Tak ada lagi pesawat yang datang dan pergi, hilang sudah segala jejak, kecuali landasan sepanjang 1.850 meter yang digunakan anak-anak berlatih sepeda, bermain bola, mengejar kupu-kupu, atau berjalan kaki ke sekolah.

Asap ikan bakar mengepul harum dari rumah Ferdinand, nelayan paruh baya yang mengangkat Vanus sebagai anaknya. Kami dijamu dengan hidangan sepanjang meja dan taplak putih yang bersih dari noda.

Ruben meraih pinang, menawarkannya kepada empat pemuda yang berbalas mop di selasar utara. Saya memilih berjalan ke timur, mencari jejak peradaban Jefman yang kini mati tersungkur.

Puluhan tahun lalu, orang-orang yang hendak ke Sorong harus mendarat di sebuah pulau yang berada 15 mil di sebelah barat. Tak ada landasan pacu di kota itu, kecuali pelabuhan peti kemas yang menjadi satu-satunya gerbang ekonomi Irian Jaya.

Sesiapa yang tiba di Jefman, masih perlu menempuh 40 menit pelayaran menuju Sorong. Barang yang dibawa tak boleh banyak, kelebihan bagasi akan ditinggalkan di Ambon atau Ujung Pandang untuk diterbangkan pada hari berikutnya.

Lain dulu lain sekarang, ketika lalu lintas udara telah dialiahkan ke Bandara Domine Eduard Osok, Jefman perlahan ditinggalkan. Gedung terminal kedatangan hingga menara kontrol hanya menyisakkan pondasi yang rata dengan tanah.

Di pesisir dermaga tua, ada belasan depot kecil terbengkalai yang menunggu ditiupnya sangkakala sebagai tanda kiamat telah tiba.

Berenang di Tanjung Batu
Anak-anak berenang telanjang, menikmati paparan tabir surya dan menjadikan mereka menarik dengan caranya. Saya menyingkirkan sarang laba-laba saat melewati tiga bunker tua di tanjung batu. Seratus meter di belakang, berdiri sebuah bukit setinggi 35 kaki yang menghadap lautan bebas. Vanus mengulurkan tangan dan menggoda saya untuk naik ke atas.

Itulah bukit batu, puncak tertinggi di sini. Batu yang kau duduki adalah titik terakhir penerbangan itu.” Vanus mengarahkan telunjuk, tepat ketika saya sedang bersila di atasnya.

Bukit Batu, Pulau Jefman
Satu minggu lalu, ketika memutuskan datang ke Sorong, saya menyusun daftar kunjungan wajib bersama Résqualdoz. Ada dua belas tempat di catatan itu, tapi saya mencoret Piaynemo di Raja Ampat dan menggantinya dengan Jefman pada urutan pertama.

Sebab saya percaya; dulu, di pulau ini, pernah ada sepasang telinga yang pura-pura kuat mendengar selamat tinggal, dan ada banyak bahu yang acapkali merindukan pelukan-pelukan selamat datang.

Di sini, di Jefman.

Tanjung Batu, Pulau Jefman



HYMN ON VACATION
F I N D I N G  H I M


Apa yang kau cari dari sebuah perjalanan?
Jika telah meraup pengalaman, lantas apa yang dapat dibanggakan?
Tentang menaklukan tantangan, memperoleh teman, atau . . . masih mencari alasan?

Seorang nelayan bisa membedakan lautan yang tenang dan mematikan.
Pilot kapal terbang selalu menikmati gunung dan lembah yang mengagumkan.
Pewarta berita bahkan bisa bertutur lebih ringkas tentang kemajemukan, makanan, hingga kematian.
Lalu untuk apa kaki dirancang untuk selalu berjalan, atau mata yang dapat melihat lebih panjang?

Di luar sana banyak musafir yang memutuskan berjalanan untuk sebuah perubahan. Melewati gang sempit, sungai, perbatasan yang terisolasi, melompati bukit, mengintip samudera, dan menyaksikan pohon kering tanpa buah-buahan. Kebanyakan hanya ingin dikenang sebagai pejalan, kemudian pulang untuk bercerita tentang perkara berkawan dan tips menaklukan alam.

Pun di luar sana masih ada beberapa pasang kaki yang berjalan melambat, berhenti, dan berlutut di atas tanah-tanah kering, atau mendongak segaris lebih tinggi demi sebuah pencapaian. Refleksi tentang menemukan Tuhan. Ya, 'Partikel Kudus' yang dipuja lewat berbagai jalan. Satu-satunya keberanian yang menyertai tiap perjalanan.

Sekarang, tidak peduli di labirin sebelah mana kau berdoa, lidah dan harapan hanya tumbuh pada tangan yang dikepal, dan lagu-lagu ini adalah visual ketika kaki, hati, dan kepala memuja-Nya bersama-sama.

01. Shoulders - For King & Country (Praise To God)
02. Simera Ta Fota - Mixalis Xatzigiannis (Greek Orthodox Praise Song)
03. Namo Amitoufo Buddha Mantra - Li Na (Buddhist Praise Song)
04. Mawlaya Salli Wassalim - Maher Zain & Nasheed (Islamic Praise Song)
05. Gayatri Om Bhur Bhuvah Shawa (Hinduism Mantram)
06. Ji Nai Nan Arabic (Christian Coptic Praise Song)
07. Gadol Elohai - Joshua Aaron (Jewish Praise Song)
08. Create In Me A Pure Heart - Nabil & Kelsey (Baha'i Praise Song)

[download] Full Album.

Origin cover by: Martin Ferenc

TRAVEL LOUD!
HYMN ON VACATION
B E T A  I N D O N E S I A


Bantu saya memasung kembali diva holiwud dan pasukan boiben ke dalam teko ajaib. Singkirkan mereka jauh-jauh, karena kita masih punya lusinan musik bagus yang lebih layak menjadi teman jalan-jalan. Setidaknya ketika menjelajahi Nusantara.

Bayangkan saat mata dipejam, punggung diluruskan, dan batang leher menyentuh bantal. Pada kesempatan itu, hanya alunan nada tanpa vokal yang pantas mengawalmu menuju alam hibernasi. Tentu saja karena memilih nyanyian Maili Sairus adalah mimpi buruk yang bahkan lebih menakutkan daripada kematian.

Inilah kompilasi instrumental Indonesia terbaik yang patut didengar. Sebagian besar merupakan lagu daerah gubahan para komposer muda yang luar biasa. Sebelumnya, mari berterimakasih kepada See New Project, Jerry Kamit, VOCA, Relly Daniel Assa, dan Batavia Folk Instrumental.

01. Rambadia Tapanuli (Sumatera Utara)
02. Datun Julud Sape (Kalimantan Selatan)
03. Sabilulungan Chilling Out (Jawa Barat)
04. Bengawan Solo Saxophone (Jawa Tengah)
05. Anging Mammiri Acapella (Sulawesi Selatan)
06. Pulangah Bansi Instrumental (Sumatera Barat)
07. Cublak Cublak Suweng (Jawa Timur)
08. Bolelebo Acapella (Nusa Tenggara Timur)
09. Island Groove Music Lounge (Bali)
10. Kitjir Kitjir Batavia Folk (DKI Jakarta)

[download] Full album.
Origin cover by: Sebastian Alex Dharmawangsa

TRAVEL LOUD!
Pukul empat sore, momen dimana jiwa-jiwa penghuni Ibukota mencapai puncak ketidakpastian. Antara memilih pulang atau bertahan di kubikal, berlindung dari kemacetan yang membosankan atau bergegas ambil bagian dalam gelombang massa yang tidak sabaran.

Jangan mau hidup dengan rutinitas yang tidak pernah memberi kita pilihan. Makan untuk hidup, hidup untuk kerja, kerja untuk uang, uang untuk pergi liburan. Ya, liburan. Karena belajar itu wajib, kerja itu harus, tapi liburan itu urgent!

Tak ada salahnya bertahan di ruang kerja hingga malam. Menyelesaikan tanggung jawab, menunggu matahari dicincang bulan. Berjanjilah bahwa nanti, takkan ada keteledoran yang dapat dijadikan alasan untuk mengganggu kita selagi bersenang-senang.

Satu-satunya hal yang harus dilakukan ketika draft dan segala laporan telah diselesaikan adalah, bergegas ke stasiun untuk sebuah petualangan. Sendiri saja? Tentu, kadang kita memang harus nekat menyusuri labirin dengan tumit sendiri, mengukur diri sejauh mana dapat melangkah, atau menakar kemampuan seberapa lincah otak bekerja dalam perjalanan tanpa teman.

Bantu saya menutup mata dari tujuan destinasi sejuta umat. Mari melipir ke tempat yang kurang populer dibanding Jakarta, Bandung, dan sekitarnya. Pergilah ke "Kota Udang", tempat segala kuliner enak bertakhta, pusat bertemunya budaya Jawa dan Sunda. Cirebon, begitulah orang-orang menyebutnya.

Perjalanan dengan kereta api memakan waktu kurang lebih enam jam. Tiket bisnis dan kelas eksekutif dapat dibeli di stasiun Gambir, dengan tujuan Kejaksan. Untuk kelas ekonomi, pemesanan dapat dilakukan dari stasiun Jakarta Kota, dengan tujuan Cirebon Prujakan. Alternatif lain adalah bus, tiket bisa diperoleh langsung di loket penjualan operator bus di terminal Grogol, Jakarta Barat.

Cirebon bukan hanya tentang kerupuk, terasi, jajanan, atau apapun yang terbuat dari udang.
Berstatus kotamadya, Cirebon berperan strategis sebagai simpul pergerakan ekonomi antara Bandung dan Semarang. Tak hanya itu, Pantura kerap menjadi urat nadi lalu lintas yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya.

Arsitektur tua peninggalan kompeni Belanda masih banyak ditemukan disini. Bergeraklah ke arah pelabuhan di Pasuketan hingga kawasan heritage di Panjunan, lihat dengan mata kepala betapa Fabriek Tenoen, Gedoeng Bentoel, hingga Bank Indonesia masih berdiri kokoh menanti kedatangan ngana.

Disini, di kampung nelayan ini, etnis Jawa, Sunda, Tionghoa, dan Arab melebur dalam satu wadah dinamis yang bergerak mengikuti peradaban. Nyawa kehidupan ada dimana-mana, terselip diantara pagi di Pasar Kanoman, memancar dari aura Keraton Kasepuhan, atau berserakan di Alun-alun Kejaksan. Semua bergeliat, berlomba-lomba menampilkan senyum paling hangat.

Kuliner pun turut ambil bagian. Siapa yang mampu mendustakan nikmatnya empal gentong, sega lengko, nasi jamblang, sampai jajanan formalitas semisal cimol, es duren, cilok, hingga bawang goreng yang sangat tersohor itu?
Cirebon Dalam Galeri Instagram (travendom)
Jika memiliki waktu yang cukup, bergeserlah ke arah Kuningan, lihat betapa megahnya gunung Ciremai yang memelihara kota kebanggaan Sunan Gunung Jati ini. Selain itu, fasilitas hiburan dan akomodasi juga sudah tersedia dengan baik disini. Semua demi menunjang aktifitas wisatawan yang datang.

Kawasan Cipto adalah wilayah yang menjadi konsentrasi pemerintah kota untuk dikembangkan pada abad ini. Hotel budget maupun yang kelas berbintang banyak bermunculan. Layanan penyewaan kendaraan juga tersedia disepanjang jalan ini. Pilih saja sesuai kebutuhan.

Bagi yang tertarik ke Cirebon namun bingung menentukan pilihan akomodasi, tenang, saya punya satu kata kunci, katakanlah lebih sakti dibanding tongkat ibu bidadari.

Buka travelio.com, situs dapat diakses via komputer atau perangkat mobile. Masukkan Cirebon pada kolom lokasi, pilih tanggal dan lama menginap, silakan tunggu dan biarkan mesin pencari bekerja sesuai kodratnya sendiri. Berikutnya pilih hotel yang panjenengan inginkeun, baca deskripsi untuk melihat fasilitas, review, hingga tahun pembangunan dan luas kamar yang mereka tawarkan. Jika telah selesai, loncat ke langkah "Tawar sekarang!"

Masuk Ke travelio.com, Pilih Tanggal Dan Jenis Hotel.
Bukan, ini bukan membeli ikat rambut atau menawar pakaian dalam, kita memang sedang memesan hotel. Tenang saja, Travelio memberi kita kebebasan untuk bargaining sesuka jidat. Lio, si singa pirang yang akan bernegosiasi sesuai penawaran yang kita inginkan. Jika disetujui, maka langkah terakhir adalah melakukan pembayaran. Transaksi ini dapat dilakukan dengan kartu kredit, transfer antar bank, dan internet banking. Cukup duduk manis menunggu rincian pemesanan dikirimkan ke alamat surel. No merpati, no telepati, no basa-basi. Semua beres!

Isi Harga Yang Dikehendaki Dan Biarkan Lio Bekerja Melakukan Penawaran.

Good luck and travel safely untuk ngoni samua!

*Tulisan ini diikutkan dalam lomba “Travelio #YourTripYourPrice Solo Traveling Blog Competition”  yang di-host oleh wiranurmansyah.com  dan disponsori oleh Travelio.com
Keterangan gambar atau photo
"Flight attendant, doors maybe open!"

Tak ada yang berubah dengan bandara Soekarno-Hatta. Holding bay, taxi wayapron, aviobridge, tenant, welcome banner, shuttle bus, dan segala garis jidat petugas ground handling masih sama seperti dulu. Membeku dilapisi debu, depresi dikekang polusi.

Kopi hangat dari balkon lantai sepuluh menjadi penawar bagi oksigen beracun Ibukota. Semacam pagi yang tepat untuk melepas rindu, atau sekedar bertukar kabar sebelum tukang sayur dan kereta berselisih suara. Dua jam setelahnya adik bergegas kerja, mengabdi sebagai orang terpercaya di angkasa raya.

Penerbangan ke Kuala Lumpur 4 jam lagi. Saya mandi, kemas pakaian, memotong kuku, berdandan necis, lalu melakukan web check-in. Tak ada lagi yang harus dilakukan setelah ini, kecuali memastikan berlembar-lembar ringgit telah disimpan di saku celana.

Rincian boarding pass sudah terpampang di beranda pesan. Saya mengintip sebentar, kemudian mengabaikannya. Kursor diseret ke mesin peramban, jari-jari berdansa di papan ketik, mencari kontak terminal Kalideres. Dua, lima, sembilan, hingga puluhan artikel yang disarankan tak ada satupun yang memuat informasi ini. Siapa sangka, layanan terpadu Telkom ternyata masih mengoleksinya.

Suara perempuan tua menjawab panggilan dari seberang, intonasinya rendah, meyakinkan jika ia tersenyum selagi menyapa.

"Baiklah, jika Medan dan Pekanbaru tak ada lagi, mohon simpankan satu tiket ke Palembang. Saya siap untuk keberangkatan 1 jam dari sekarang." 

Semua terjadi tanpa rencana, spontanitas, secara tiba-tiba. Impulsif sekali.

Taksi melambat di persimpangan rumit, mobil-mobil berbaris lengket, menyisakkan ruang gerak yang sempit. Manusia tak lagi menunggangi kuda, kerjanya hanya duduk menanti lampu pemberi aba-aba. Inilah perjalanan pertama ke rahim Sriwijaya.

Bus meninggalkan terminal tepat jam empat sore, estimasi ketibaan pukul satu besok siang. Bersiaplah untuk 21 jam yang menyedot usia. Melintasi Banten kami bergerak ke ujung barat pulau Jawa, melewati sembilan kecelakaan maut, dua pos pemeriksaan, hujan badai di Selat Sunda, lalu merapat di pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Bus ini tak terlalu besar, berkapasitas hanya dua puluh kepala saja. Dari jendela retak yang menganga, bukit-bukit berlomba mengopeng hidung purnama. Melaju menaiki tanjakan, menyebrangi jembatan, menerobos kesunyian, tanpa penerangan, kami melewati perkotaan demi hutan-hutan perbatasan. Kereta pengangkut bauksit meliuk lemas di lintasan berkelok, diseberangnya datang lokomotif bermuatan kayu olahan. Orang-orang tertidur pulas, saya masih terjaga, melamun mencerna lagu yang bikin repot isi kepala. 

Janjimu bukan surga, bukan pula dunia.
Gara-gara cintamu aku masuk neraka.
Untuk apa kau terus berdusta?

Kami berhenti di kedai melayu pada perlintasan trans sumatera di Menggala. Nenek yang duduk disamping saya bergegas ke mushala, merapatkan shaf sebelum fajar tiba. Budak-budak berbaris mengantri makan, ada yang menanti pintu toilet terbuka, menunggu segelas aqua, menyiapkan diri untuk muntah kedua, hingga menggantukan hidup pada grafik ponsel yang sedang mengisi daya.

Jam dua belas siang kami meninggalkan Padamaran, berlepas dari wilayah Ogan Komering Ilir, selangkah lebih dekat ke perut Jakabaring berdiri. Pak Malik menawarkan boncengan dengan ramah, sepuluh ribu untuk ongkos Burlian ke sungai Musi. Inilah jembatan Ampera, ruh kota Palembang, nyawa bagi orang Sumatera Selatan! Begitu katanya.

Incoming call. Saya menatap layar ponsel lekat-lekat.

"Ayah menghubungimu sejak kemarin sore, tapi diluar jangkauan."

"Jangan khawatir, aku sudah di Palembang."

"Bukannya ke Kuala Lumpur? Seingat Ayah, penerbanganmu kemarin siang."

"Tiket sudah kubatalkan, kupilih saja kesini. Untuk ke Putrajaya aku masih bisa dari Denpasar. Sedangkan kalau ke Sumatera, haruslah lewat Jawa. Tak apa Ayah, anggap saja aku di Malaysia."

"Kabari Ibumu, jangan buat dia keliru mengirimkan doa ke negeri Petronas."

Panggilan berakhir, bau darah segar menyengat di seisi kamar tua. Saya tak peduli, inilah waktu yang paling dinanti. Tidur pertama kali dengan posisi yang lebih manusiawi.

5 menit kemudian lemari berbunyi, lalu tv mati sendiri.

Foto: M. Nawi, disadur dari website tipsfotografi.net [direct link]
HYMN ON VACATION
D I S CO V E R  Y O U R  F L A V O U R

Traveling tanpa musik seems like summer without beach, atau sunbathing tanpa sunglass. Kurang menggigit, begitulah kira-kira. Sayangnya berbicara musik adalah berbicara tentang selera. Tidak masalah, karena takkan mungkin ada kata 'suka' sebelum mencoba. Dengarlah 8 travel song list keren yang dipilih sebagai backsound perjalananmu. Let's think outside the box. Percayalah musik itu universal, bahwa segala bahasa adalah milik semua manusia.



1. Sunset Lover - Petit Biscuit
2. Hold You Inside - Lumin Bells
3. Caravane - Raphaël
4. De La Capat - Voltaj
5. Coins In A Fountain - Passenger
6. Emoticons - The Wombats
7. Disko Partizani - Shantel
8. Mon P'tit Gars - Christophé Mae

[download] Full album.

TRAVEL LOUD!

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.