TRAVENDOM

Masa lalu adalah satu hal yang paling saya hindari dalam hidup ini. Perkara paling menakutkan adalah tentang kenang-kenangan. Memandang bangunan tua atau meraba dinding berlumut di benteng kolonial hanyalah beberapa di antaranya. Kadang saya berbohong ketika mengagumi kisah sejarah demi menghormati para tetua.

Pulang ialah kembali ke beberapa tahun yang lalu. Tidak peduli bagaimana rupa bandara baru, atau seberapa banyak perahu di laut biru. Penerbangan ini seperti perjalanan untuk pergi ke masa lampau. Tidak lebih.

Lihatlah orang-orang itu, mereka menghabiskan jutaan rupiah untuk datang ke sini dan menjadi korban dari target promosi. Bapak menginjak pedal, mengacuhkan saya yang sibuk mengumpati sampah visual. Kecepatan ini cukup untuk menghitung pepohonan, mengagumi gunung, atau menyapa dermaga tua yang masih sama seperti dulu, tak berubah walau seujung kuku.

Hijau berganti merah, kami berhenti di seberang persimpangan Istana Raja. Mobil dan motor berbaris memanjang, pasukan burung gereja melintang di atas tiang, hinggap menikmati kebebasan.

Pada sebuah perempatan di pusat kota, satu toko buku tua masih berdiri di sana, kokoh memunggungi area pecinan lama dan bekas bioskop era HollandiaPenjual perhiasan besi tempa juga masih berjaya, berjejer di atas selokan yang disanggah setapak berkapasitas dua kepala. Siapapun yang pernah ke kota ini, pasti sepakat untuk bertandang sekali lagi.

Dulu, pada suatu penerbangan ke Sunda Kelapa, seorang pramugara juga pernah mengakuinya. "Apa pun yang ada di kotamu, kini telah berpindah ke dalam kepalaku." Katanya.

Bagi saya, meriam besar di ujung bukit penyerangan bukanlah peninggalan prasejarah. Puluhan tahun silam, dari gundukan yang dilapisi rerumputan lebat, saya menjadi pendosa dan melanggar janji pada kedua orang tua. 

Setiap hari ketika pulang sekolah, kawan jahat selalu mengajak ke tempat yang sama. Kami merobek kardus dengan adil, lantas melesat turun secara bergiliran. Kala itu, tak ada janji yang perlu diingat, termasuk ikrar pada Ibu yang mewanti-wanti untuk mejaga seragam agar tak kotor dan lusuh.

Saya mengingat meriam itu sebagai pemantik kenangan, yang menembakkan ingatan masa silam; tentang kebebasan, kegembiraan, atau teriakan teman-teman yang berlarian hingga jatuh dan menangis bersama.

Harus berapa kali kuperingatkan untuk menunggu di gerbang sekolah?” Dengan darah yang mendidih di ubun-ubun, Bapak menghardik saya di bahu pedestrian. Titik akhir pemberhentian.

* * *
Ada satu kisah tentang musafir yang menulis sangat runut tentang kota ini. Langit biru, warna laut, intonasi, bahasa, serta legenda danau keramat telah membuatnya jatuh hati. Konon, cincang tuna mentah, irisan kenari, dan cabai pedas yang diberi perasan limau juga telah menjadi menu favoritnya.

Ia terlalu bangga pada kota kecil ini, bahkan pernah meneteskan air mata di balkon Istana Raja. Ia jatuh hati, kasmaran pada sebuah kota, memelas cinta pada rahim cengkeh dan pala.

Kini dunia telah berubah, era bergulir ke kordinat yang lebih cepat dan memanjakan mata, hingga lahirlah para Mat Kodak yang memilih bertutur lewat rupa dibandingkan kata-kata. Tangan-tangan itu cermat membidik segala yang memiliki nilai dan suara. Hasil yang telah diseleksi lalu dipotong sama sisi, kemudian dipoles menggunakan pemanis dan aturan saturasi, sebelum ditampilkan pada platform jejaring sosial berbasis visual. Saya melihat semuanya, ini hebat sekali!

Aspal basah nan berliku, ranting-ranting tua, matahari, awan, bintang, makanan, dan apapun yang ada di dinding lini masa semuanya menakjubkan. Para ahli pemasaran menyebutnya sebagai strategi promosi akhir zaman. Ini jauh lebih rasional ketimbang menempatkan sepasang wajah kaku pada satu spanduk "Selamat Datang!" yang nyaris ada di setiap gerbang kedatangan di mana saja.

Dua minggu setelah hibernasi, saya mengunci pintu, meninggalkan rumah ketika terik sedang berdansa di cakrawala. Dikawal kawan rasa saudara, kami melaju ke selatan. Ini adalah sejarah, mengisahkan seorang perantau yang pulang untuk negerinya. Sebuah upaya memanggil masa lalu lewat penjelajahan pertama sejak tiga belas tahun. Inilah hari yang dilingkari dalam kalender hidupnya.

Kami berhenti di struktur tanpa atap berbentuk kura-kura, dan merupakan satu-satunya bangunan pertahanan terapung di Republik Garuda. Menurut literatur, tempat ini didirikan oleh bangsa Telenovela, sebelum disempurnakan oleh negeri Seribu Kanal. Tembok-tembok kokoh setebal satu meter seperti melekat di atas tanah, anggun dengan pondasi yang dilapisi suket lima senti sebagai penangkal lidah matahari.

Saat air laut pasang, bangunan ini tampak mengambang dari dermaga pulau seberang. Sekali lagi, ini bukan basis pertahanan perang. Saya mengenangnya sebagai tempat latihan berenang. Persis ketika pelatih meniup peluit panjang, kami meloncat bergantian, satu orang satu putaran.

Sewaktu singgah di Batavia saat hendak pulang ke sini, seseorang mendaratkan pesan sebelum jadwal lepas landas. Tanpa basa-basi, ia langsung menginterogasi.

“Kupikir kau sudah tak ingin kembali. Angin apa yang mengantarmu kali ini?”

Rumah.

“Kau bilang tak ada lagi yang harus diperbaiki. Aku masih mengingat kata-katamu.”

Aroma lemari, cerita-cerita lama, dan wangi seprai tua yang menarik kaki untuk datang.

“Bagaimana dengan janji terakhirmu?”

Jangan cemas, dendam ini sudah hilang. Setidaknya tak ada lidah yang harus dipotong. Saya pulang untuk mengenang, mengingat, dan memaafkan sebisa mungkin. Hanya itu.

“Kirimkan foto tentang semua yang pernah kau ceritakan dulu.”

Lihat nanti.

"Lantas, bagaimana dengan hubungan ini?"

Sudah selesai.
* * *

Pulang,

Kini tentang menemukan kedamaian. Kota ini adalah sebenar-benarnya rasa tenang. Ibarat gasing yang gagah ketika berlari, saya tetaplah gasing yang patuh ketika digenggam. Pulang adalah akhir dari paragraf panjang perjalanan, terlebih ketika rindu memaksa saya menjadi pecandu.


Musik untuk perjalanan ini:
Home — Hollow Coves
Play on Spotify

Terima kasih:
Adon Accader, Risnawaty Tjan, Rini Redea, Sulham Bian, Nicholas Tan, Ketut Ardi L. Putra.
Kenalkan, inilah dua tokoh ajaib yang menjadi teman dalam perjalanan ke Baubau. Adalah Lusi, perempuan sipit berhati sensitif yang terlahir untuk memusuhi kakak kandungnya sendiri. Serta Ezra, gadis Toraja yang lebih senang dipanggil "mutiara hitam dari Papua."

Mari sepakat untuk melupakan stigma kolot yang bilang pengabdi ilmu hidupnya pas-pasan. Kata siapa mahasiswa tak bisa jalan-jalan.

Kami membuktikannya pada dunia, bahkan menjadi contoh jika berbohong demi plesiran adalah halal, selama tidak bocor ke telinga Rektorat.

Mulai penjaga kantin, teman, dosen, sampai petugas kebersihan kampus menelan bulat-bulat seluruh sandiwara ini. Kami dilepas seperti trio hebat yang hendak mengharumkan nama almamater ke mancanegara. Imbasnya, tiga ransel kini dipenuhi segala brosur promosi yang beratnya tak main-main. Sebuah permulaan yang menyedihkan.

* * *
Pesawat ATR Merpati Nusantara melayang menuju Baubau, terbang selama 1 jam 30 menit meninggalkan ruang udara Sultan Hasanuddin Makassar. Saya tak mengingat apa-apa pada penerbangan ini, kecuali benturan keras saat mendarat. Mungkin inilah yang disebut salam "Selamat Datang!"

Tiga pembohong dijemput Martinus, seorang pastor yang fasih berbahasa Arab dan bekerja di Gereja Katolik Santo Paulus Baubau. Kami mengenal Martinus dari Lusi, yang tak lain adalah mantan jemaatnya ketika bertugas di Makassar dulu. Pagi itu, setelah disambut dengan jabat tangan yang erat, Martinus langsung menjadi teman dan terjebak ke dalam cerita perjalanan ini.

"Kita tunggu bagasi dulu, ini mungkin agak lama. Petugas harus mengambilnya secara manual dan mememeriksanya satu-persatu. Persis seperti pendataan presensi di sekolah." Martinus bergurau.

2008, Bandara Betoambari tak lebih mewah dari kantor kelurahan di Jakarta. Gedungnya kecil tanpa pendingin ruangan, bingkai detektor, conveyor belt, serta mengoleksi toilet pesing yang menjadi rumah bagi kecoak dan laba-laba beracun.

Sebagai tuan rumah, pastor menjamu kami dengan ramah. Perjalanan pertama adalah menuju ke kedai milik jemaatnya di kawasan Kamali. Makanannya enak, bersih, murah, dan penjualnya sopan sekali. Kami bahkan disuguhkan "sulap-sulip" ketika selesai.

Seorang petugas kasir yang belum mahir tampak kebingungan, kalkulatornya mendadak mati. Akhirnya transaksi dilakukan di bahu jalan, sebab alat penghitung sakti baru menyala jika dijemur matahari. Abrakadabra!

Pastor memandu kemudi, mengarahkan mobilnya ke sebuah penginapan sederhana yang tak jauh dari sana. Satu petugas menyerahkan kunci tanpa ekspresi. Kami menempati dua kamar di lantai atas, sepasang bilik kecil yang menjadi awal malapetaka di perjalanan ini.

Tak ada yang mencolok dari kamar kami, selain sepasang meja rias dengan cermin kusam, dipan kuno berkelambu, dan lantai papan yang berisik ketika dipijak. Satu jam setelahnya semua berubah, duo penakut memilih tidur bertiga dan memboyong segala harta ke kamar saya.

"Ada yang aneh dengan kamar itu. Lagi pula, kita tak melihat tamu lain sejak tiba tadi siang. Kitalah satu-satunya penghuni di penginapan ini!" Lusi berspekulasi, lalu diamini oleh Ezra, seorang Kristen fanatik yang tak pernah percaya takhayul sebelumnya.

Kami melewati malam di balkon kamar dan bermain kartu hingga pukul dua. Tiga anjing membawa kabar, berdiri persis di bawah sana dan menggonggong ketakutan. Tak lama lantai bergerak, seperti merespon beban yang berjalan mendekat. Lusi mematung, telapak tangannya berkeringat. Ezra bergegas merapihkan jajanan di atas meja dan mengutuk lelembut yang mencoba berkenalan. Kalah, trio penakut kini bertobat di dalam selimut.

* * *
Ini pagi pertama di Baubau. Umar, seorang pegawai dari Disbudpar datang menjemput pukul delapan. Sebagai warga lokal, Umar jualah yang mengatur segala jadwal untuk kunjungan ke beberapa instansi dan sekolah. "Ini pertama kalinya ada 'Kampus Pariwisata' dari Makassar yang datang promosi ke Baubau." Katanya.

Agenda hari ini berjalan lancar tanpa hambatan, Umar melaksanakan tanggung jawabnya dan mengantarkan kami kembali ke sarang dedemit. Sebelum terjaga, Martinus melayangkan sebuah pesan.

"Besok subuh Pastor mengajak kita ke pantai dan situs sejarah, pulangnya kita diundang bermalam di gereja. Gimana Aiya, kau bersedia?" Lusi menyampaikan isi pesan, lalu menunggu jawaban dari seorang muslim yang jarang sembahyang. Tak ada alasan untuk menolak, saya menyanggupi sambil berkemas di balkon yang gelap.

Pukul 5.40 pagi, Martinus tiba dengan mini van biru berlogo salib yang lengkap dengan identitas gereja di kedua sisi. Kami bergerak menuju Pantai Nirwana saat matahari belum sadarkan diri. Di jalanan yang masih gelap dan lampu-lampu yang telah dimatikan, Martinus menginjak rem tiba-tiba. Sesuatu seperti terperangkap di kolong mobil setelah terjadi benturan keras. Kami melompat turun dan mencari segala kemungkinan. Nihil.

Mobil kembali dipandu dengan pelan, tak ada yang bicara hingga tiba di tempat tujuan. Seperti melepas sial, kami berendam ketika laut masih tenang, sekaligus melarungkan cemas dari segala tanda-tanda.

Pantai telah selesai, kini waktunya bergerak ke dataran tinggi. Mobil melaju menuju Fort Wolio, sebuah kawasan pusat pemerintahan Kerajaan Buton di masa lampau. Menurut Guiness Book Record (2006), benteng ini memiliki luas 23,375 hektar dan telah dikukuhkan sebagai benteng terluas di dunia.

Di kompleks itu juga berdiri Masjid Agung Keraton Buton, makam raja-raja, serta Museum Budaya Wolio. Seseorang mendekat ketika kami sedang berbincang di ruang tengah, kemudian mengajak saya untuk naik ke lantai dua. "Yang lain tunggu di sini, ya." Pintanya.

Berada di atas, saya melihat beberapa lemari kaca berukuran besar yang menyimpan banyak koleksi baju, kapak, parang, gelang, badik, tombak, dan segala prasarana perang. Pria ceking beruban itu memandu saya ke satu dinding tinggi yang berisi silsilah para raja. Telunjukknya mengarahkan pandangan ke sebuah nama yang tak asing di telinga: Sultan Madar Syah.

"Buton dan Ternate pernah berperang karena adu domba Belanda, hingga suatu ketika Pangeran Ternate datang melamar dan menikahi putri cantik Kerajaan Buton. Sejak saat itu seluruh dendam dihapuskan, mereka berikrar sebagai saudara dan menjadi mesra sampai sekarang." Jelasnya.

Kunjungan telah usai, kami harus pulang ke kota sebelum tengah hari. Pastor bersama Lusi dan Ezra mengantarkan saya ke sebuah masjid di pusat kota. Ibadah salat Jumat akan dilaksanakan lima belas menit lagi. Pada sujud terakhir, saya berdoa meminta kesehatan bagi tiga nasrani taat yang rela menunggu di luar sana, di mobil bertanda salib yang dijaga budak-budak belum akil balig.

Pulang salat saya ikut ke gereja. Bukan pergi berdoa, melainkan untuk tinggal di sana. Beberapa petugas menyambut dengan ramah, kami langsung diantar menuju ke gedung asrama.

Saya berbagi kamar dengan Albert, seorang rohaniwan muda yang dua bulan lagi akan berangkat menimba pendidikan pastoral di Italia. Albert menyerahkan seperangkat alat mandi, selimut, dan memberikan sajadah serta kompas sebagai penunjuk arah kiblat. 

Sejak sore itu, dari ruangan ini saya bersujud menyembah Allah dengan Yesus Kristus yang menggantung tepat di atas kepala. Mungkin benar jika Tuhan memang gemar bercanda.

Lupakan promosi kampus, di perjalanan kali ini saya belajar tentang toleransi dan menemukan banyak orang yang masih menjadi manusia. Lihat saja saat makan malam tiba. Ketika berdampingan satu meja dengan seluruh pengelola gereja, Martinus jeli membaca kecemasan saya dan segera memanggil seorang bibi berkerudung putih.

"Jangan khawatir, itu kami yang masak. Seluruh makanan diolah oleh warga muslim yang tinggal di sekitar gereja. Pastor membayar kami untuk layanan katering bulanan. Mari makan sama-sama!" Rupanya bibi tak datang sendiri, ia tiba bersama empat perempuan muslim lainnya dan satu lelaki paruh baya yang lengkap dengan sarung dan peci di kepala.

Kami tinggal dua malam gereja ini, sembari menunggu jadwal pelayaran untuk kembali ke Makassar. Di hari kedua, Martinus mengajak kami menikmati malam di anjungan Kamali. Dari bundaran patung Naga yang menjadi simbol modernitas kota, seseorang memberikan kejutan, menutup mata saya dari belakang.

Dialah Desi, teman semasa SMA di Ternate. Setelah lulus, kami putus kontak selama tiga tahun dan bertemu tanpa sengaja di malam itu. Desi memilih pulang kampung dan menetap di kota ini. Ia melepas kami setelah mengajak berkeliling kota dengan angkot milik kekasihnya. Tak lupa, kami dibekali tiga bungkus kacang mete dan sepasang gelang rotan sebagai tanda perpisahan dari mereka.

Tibalah malam terakhir, malam yang sarat dengan kata selesai. Martinus dan petugas gereja antusias mengantar kami ke pelabuhan. Usai pamit dan berpelukan, suasana berubah mencekam setelah insiden penikaman menelan dua korban di pintu kedatangan. Untuk alasan keamanan, Pastor segera mengambil barang dan bernegosiasi dengan petugas darat agar bisa mengantarkan kami hingga ke geladak.

Seharusnya ini jadi air mata terakhir ketika merelakan Martinus kembali ke darat setelah semboyan persiapan berlayar dibunyikan, namun saya keliru. Di bawah sana ada banyak tangan yang melambaikan perpisahan, melepas kepergian yang entah kapan kembali datang.

Kapal telah menjauh, meninggalkan dermaga yang penuh doa-doa. Dari ranjang sempit yang berkarat, saya berjanji untuk mengingat perjalanan ini sebagai satu dosa yang paling manis.

Dua tahun kemudian seseorang membagikan pesan ke dinding milis di sosial media, mengabarkan kehilangan dan meminta doa untuk jiwa yang mendadak pergi. Desi telah pulang ke surga, meninggalkan banyak kenangan yang ditenun oleh tawa dan kebersamaan yang rupa-rupa. Inilah air mata terakhir dari perjalanan ini, air mata yang diberikan untuk perempuan pemalu yang diam-diam merawat sakitnya sendiri.
Musik untuk perjalanan ini:
Don't Watch Me Cry — Alexandra Porat
Terima kasih:
Lusiani Hartono, Ezra Paginan, Pastor Martinus, Desi Ramli, Usman Syam, Hatta Alwi, Umar Dg. Ngawing.
Minggu subuh, ketika orang-orang sedang membeli bunga tidur, seorang supir daring terbangun dari lelapnya. Sebuah layanan pencari pengemudi secara otomatis memilihnya dan menjodohkan kami dengan tidak sengaja. Saya melakukan panggilan untuk memandu lokasi penjemputan saat ia masih setengah sadar.

Tak ada kemacetan, kami melaju tanpa hambatan dari pinggiran Makassar menuju Pelabuhan Soekarno-Hatta di pusat kota. Mobil melesat dalam waktu 30 menit, cepat sekali. Jika saja bukan tengah malam, sudah tentu kami membutuhkan satu setengah jam perjalanan.

Pagi ini, saya dan adik nomor dua bertolak menuju pulang. Kami menumpangi kapal Dorolonda karena membawa banyak barang. Perjalanan ini memakan waktu 3 hari 2 malam. Menurut keterangan, pelayaran kami akan singgah di Baubau, Namlea, Ambon, sebelum bersandar di Ternate.

Saya terakhir berlayar dengan kapal yang sama pada 2016 lalu, saat berangkat dari Ternate menuju Sorong. Sedangkan adik, ini menjadi pengalaman pertama baginya. Entah harus bagaimana, mesti gembira atau khawatir dibanting gelombang.

Kami berlepas pukul enam, saat pagi belum juga mengetuk langit Ujung Pandang. Kapal tampak lenggang, menyisakkan banyak tempat tidur kosong yang bisa digunakan. Pemandangan ini sudah biasa, kecuali beberapa hal yang berubah. Sebut saja sistem boarding pass, tersedianya kamera pemantau di seluruh lantai, ketepatan waktu tiba-berangkat, kualitas dan kemasan makanan, hingga jaringan nirkabel yang tersedia kendati berbayar. Namun, ada hal penting yang menuntut untuk dibahas. Corona.

Jauh sebelum jadwal pulang, tiada ada hari tanpa obrolan tentang ancaman pandemi ini. Televisi, radio, surat kabar, hingga tren media sosial memberitakan hal yang sama. Para ahli tak bosan-bosan menebar banyak informasi terkait dampak dan cara penanganan. Eknonomi dunia terancam, tenaga kesehatan dibuat kelelahan.

Kota-kota besar menutup akses datang dan pintu keberangkatan. Para pejabat serentak berlutut, meminta seluruh rakyat rajin cuci tangan dan menahan diri serta menghindari keramaian. Tapi itu tak terjadi di sini, di kapal tua yang menjadi bahtera bagi orang-orang sederhana.

Tak ada masker, hand sanitizer, informasi jumlah korban, peta penyebaran, poster statistik, himbauan, maupun rasa cemas atau saling curiga. Orang-orang tidur bersama, berbagi makanan, melepas tawa, menikmati banyak perkenalan, hingga menghanyutkan lamunan di laut yang tak pernah membocorkan rahasia ke siapa-siapa. Barangkali memang tak ada informasi yang tiba di telinga, atau bisa jadi mereka memang tak takut kematian.

Kapal berlabuh di tiap-tiap dermaga, menaik-turunkan penumpang segala usia. Saya memilih ke buritan saat terik berkibar di atas Laut Banda. Ini adalah hari kedua, hari di mana rasa heran memenuhi isi kepala, bingung melihat banyak orang yang menolak percaya atas kepanikan Jakarta.

Ketika tiba di Namlea, kami dilarang turun ke darat. Berkali-kali suara mualim memperingatkan akan adanya pemeriksaan ketat. Mereka membatasi ruang gerak dan mengatur ketentuan jarak. Saya melihat kesigapan otoritas darat, tapi tidak dengan para penumpang yang sudah menutup telinga rapat-rapat.

"Negara pung tugas cari obat, bukan suruh katong badiam di rumah. Katong ini rakyat biasa, seng punya kantor, seng ada gaji. Kalau katong badiam, sapa yang kasih katong makan. Nanti katong mati karna kelaparan, bukan karena virus dari Wuhan." 

Seorang Ibu berbaju cokelat mengeluhkan tindakan Istana, suaranya mencuri perhatian beberapa orang. Di malam yang dibasahi gerimis, kata-katanya mungkin telah terbang hingga ke jantung Batavia.

Pada semboyan ketiga, kapal mengangkat jangkar menuju titik pemberhentian berikutnya. Jika tak ada halangan, kami akan berlabuh di Ambon dalam 5 jam ke depan. Saya sedang menjawab panggilan istimewa dari Medan ketika pemeriksaan tiket dilakukan, hingga terkunci di tangga geladak empat dan diselamatkan rombongan pedagang perempuan.

"Sini dek, pegang tiket ini. Nanti kalau Kapten datang, kau jangan gugup, bilang saja namamu La Murad." Katanya. Ini pasti nama laki-laki Buton, saya bergumam.

Benar saja, ketika Kapten dan petugas keamanan melakukan sidak, saya lolos berkat tiket bantuan. Kami tertawa bersama saat tim operasi berjalan menjauh, dan selamat datang di drama yang baru.

Oleh orang-orang baik yang telah menolong tadi, kini saya dikepung, ditanya arah tujuan, pelabuhan asal, usia, agama, profesi; ditawari belanja minyak kayu putih racikan, diajak jadi member sabun antiseptik keputihan, hingga dimintai nomor telepon untuk dijodohkan dengan anak-anak mereka.

"Su ada pacar ka belum? Mana fotonya?"
"Kamong nih putih, macam bukan orang Maluku e."
"Kamong muslim tapi kanapa pakai gelang Hindu?"
"Ayo gabung jadi member. Kalau capai target dapat emas."
"Ini sabun untuk obat keputihan, buat muka juga bisa."
"Minyak kayu putih asli tidak bikin hangat, tapi bikin hangus."
"Tadi telfonan deng sapa, kamong pung pacar?"
"Dulu beta pung mantan ABK kapal. Tapi sayang dia su mati."

Tuangala!

Saya pamit meninggalkan mereka saat akses pintu kabin telah dibuka. Di dalam sana, banyak yang sudah terlelap, namun beberapa masih terjaga dan kompak melingkar di depan televisi, duduk melihat kompetisi Dangdut dengan volume yang menentang hukum alam.

Lain Namlea, lain pula Ambon. Di kota yang seharusnya menjadi pusat berdenyutnya segala aturan, kami bahkan tak melihat pemeriksaan yang mencolok. Kapal berlabuh pukul tiga subuh, para penumpang lanjutan diperbolehkan turun dan kembali lagi 4 jam kemudian. Saya dan adik tentu tak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Noura, teman yang sempat waswas dan merasa bersalah karena tak sempat menemui saya, kini telah berdiri dengan sabar di gerbang Pelabuhan Yos Sudarso. Ia mengubah rencana dan melanggar himbauan untuk membatalkan pertemuan yang tidak perlu. Kami bertemu di tahun 2017, ketika berangkat sebagai delegasi Indonesia untuk sebuah program kepemudaan di Jepang. Saya dari Maluku Utara, dan Noura selaku wakil dari Maluku.

Ambon yang mencintai suara hujan memaksa kami harus bertemu pukul delapan, atau satu jam sebelum kapal melanjutkan pelayaran. Tak apa, 40 menit sudah lebih dari cukup untuk memintal cerita di kawasan Sirimau. Esok, saya akan mengingat Amboina sebagai kota dengan banyak warisan kerusuhan, Gong Perdamaian, Lapangan Merdeka, Tugu Trikora, Pattimura, sagu tumbu, dan buah gandaria yang diberikan cuma-cuma oleh mama penjual pulsa di ujung jalan.

Semboyan berangkat dibunyikan, titiran berputar menghantarkan kami kembali ke pelukan Gamalama. Halaman terakhir pada perjalanan ini telah selesai di Teluk Ambon. Kapal cikar kanan dan bergerak dari selatan ke utara.

Kami melewati laut paling tenang, gunung-gunung di kejauhan, matahari terbenam, serta lumba-lumba yang saling berkejaran. Saya menopang dagu di anjungan sebelah kiri, menikmati jagat raya yang ternyata memiliki banyak cakra. Pelayaran ini telah berakhir, tepat ketika lamunan menemukan banyak cinta di kulit samudra.
Laut Maluku | 18.35 | 18/03/2020

Musik untuk perjalanan ini:
Quizás Alla Turca — Marija Popovic, Julijana Sarac
Play on Spotify

Terima kasih:
Noura C. Letwory, Ardika Fauzi, Dwi Rachmasari, Fréia Soler Ramal, Handika Rosalin, Wahyu Pribadi.


Saya kembali setelah tiga minggu berkelana di Jakarta dan Palembang. Kamis yang lumayan terik saat QZ-7520 mengecup landasan Bandara Ngurah Rai. Dari meja kecil di sebuah kedai kopi Amerika, saya meraih ponsel dan mematikan fitur flight mode selagi menunggu caramel macchiato disajikan. Ping! Satu notifikasi dari Fréia mengetuk baki peberitahuan.

"Mampir ke sini sebelum pulang ke tempatmu, ada sedikit kejutan. Aku berkencan dengan artis paling tampan di negeri ini. Percayalah!"

Bli Dewa, sopir langganan dengan sigap memandu kemudi, menuruti perintah menuju ke Monumen Bom Bali di Legian. Kami berhenti di mulut gang Poppies II, saya lanjut berjalan seratus meter ke indekos Fréia yang berada persis di belakang Sky Garden — sebuah kiblat bagi remaja pemabuk Australia.

"Sini, masuklah! Sekarang kau percaya, bukan?
Setelah berpapasan dengan Justin Bieber dan duduk di pangkuan pemain klub bola Eropa tiga pekan lalu, kini aku bahkan telah mengetahui tahi lalat paling rahasia duda seksi se-Indonesia ini." Mata kanannya mengejap dengan genit, lalu menawarkan secangkir teh tanpa gula.

Saya menyeretnya ke balkon, lantas menyerangnya dengan banyak tanda tanya. Belum tuntas ia berterus terang, ponsel berdering di pengakuan dosa nomor lima. Mas Her, sepupu dari garis keluarga Bapak menelepon tiba-tiba.

Halo, mas..

"Kamu di mana? Mas lagi di Denpasar, sedang transit delapan jam bersama mbakyu dan dua kemenakanmu. Malam nanti kita ke Jember, mudik ke rumah nenek. Mau ikut, ndak?"

Aku sudah di Bali, kebetulan baru mendarat dua jam lalu. Ini mungkin mau istirahat dul ...

"Kamu sudah 20 tahun lebih ndak pernah pulang ke Jember. Nenek pasti senang kalau tahu kamu ikut."

Nganu... tapi mas, besok pagi aku harus ke ...

"Ayolah, kapan lagi kau bisa ke sana?!"

Yasudah, sampai jumpa di Terminal Ubung pukul tujuh malam ya, mas.

Kalah telak.

Tanpa pikir panjang, saya bergegas meninggalkan Fréia yang separuh telanjang. Tujuh jam tidaklah lama, bahkan masih harus dibagi dengan beres-beres kamar, mencari layanan binatu kilat, berkemas, bertemu miss Jeje, dan mengambil dokumen kerja sama di kantor Pablo yang dijaga banyak anak kucing. Hih!

Malam itu, tepat pukul sembilan, bus yang kami tumpangi bergerak menuju Pelabuhan Gilimanuk. Perjalanan ini membutuhkan lima jam waktu tempuh. Belum termasuk antrean naik kapal, pelayaran menuju Ketapang, dan lintas darat dari Banyuwangi ke Jember.

Di sini, di bus tua berjendela kusam dengan gorden kotor berbau dan kantong muntah di mana-mana, saya menggantungkan harapan demi bertemu nenek tercinta.

Bapak menelepon pukul dua pagi, hanya untuk menyampaikan jika keluarga besar sudah menunggu kedatangan kami. Dari intonasi, sepertinya Bapak senang mengetahui saya ikut pulang.

Subuh menjelang, di baris belakang, Mas Her tetap antusias menjelaskan setiap tempat yang kami lewati. Saya mendekap si bungsu, memastikan kepalanya tegak dan tetap terjaga di pangkuan. Mobil melaju kencang, suara muazin terdengar timbul-tenggelam.

Di barisan depan, aroma balsem menyerang dari para penumpang lansia. Di pojok lainnya seorang anak laki-laki dirundung siksa muntahnya sendiri. Subuh yang lengkap dengan polusi asap rokok, bau keringat, hingga wangi kopi dan pop mie rasa ayam bawang. Seperti bahtera Nabi Nuh, bus ini memuat apa saja yang ia kehendaki.

"15 menit lagi kita sampai di terminal Tawangalun." Kondektur menyadarkan para penumpang yang kelelahan.

Kami tiba di Jember pukul tujuh pagi, saya masih terharu bisa datang lagi ke sini. Tawangalun bukanlah sekadar terminal, ini adalah tempat ketika Bapak memutuskan pergi dari rumah dan merantau sebelum ia remaja. Kepergian itu meninggalkan jarak tanpa kabar yang cukup lama, hingga ia menemukan Ibu dan menikah di Maluku. Bapak akhirnya pulang untuk pertama kali di tahun 1994. Ia kembali membawa Ibu, saya, dan adik nomor satu.

Tak lama seorang sopir mikrolet mendekat, menawarkan jasa angkutan sewa menuju Lojejer. Mungkin, Jember hari ini adalah tentang mengingat sebanyak-banyaknya, atau menyoraki mendung yang berhasil memasung matahari.

Badan terasa lelah saat kepala sibuk memutar banyak kenangan. Saya terlalu lama melewati hari sebagai musafir. Berkelana ke sana kemari, jarang mandi, sehingga tak lagi mengingat tanggal dan hari.

Pagi itu, dari balik kabut yang menutupi jarak pandang dan embun yang tak rela jatuh dari daun-daun, nenek berdiri dengan senyum paling rindu. Saya mendekapnya erat-erat, seperti orang-orang hilang yang akhirnya saling menemukan.

Tiba-tiba ponsel bergetar, menampilkan pesan dari baki pemberitahuan andalan.

"Dia sudah kembali ke Jakarta. Padahal aku masih merindukan wangi lehernya."

Perempuan gila!

Musik untuk perjalanan ini:
Es Rappelt Im Karton — Pixie Paris
Terima kasih:
Fréia Soler Ramal, Gatot Suherman, Dewa Bagus Padma, Jessica Kattler, Pablo Budjana.
Apa jadinya jika seorang pejalan berdarah Maluku yang menyenangi apapun tentang Bali dan Yunani, datang ke sebuah pulau tua rasa Belanda di Papua, yang masyarakatnya penggemar bola, zumba, dan musik Latin Amerika. Jawabannya hanya satu, terlalu rupa-rupa.

Doom, sebuah daratan seluas 500 hektar yang mengapung tiga kilometer dari bibir Kota Sorong, dan dihuni oleh kurang lebih 3000 kepala keluarga. Pulau ini adalah cikal bakal terbentuknya peradaban Sorong serta segala hal yang menamakan diri sebagai modernisasi.

Saya ialah satu dari lima belas orang yang menumpangi perahu kayu bermesin 13 PK. Anak muda menyebutnya Jonson, orang tua mengenalnya sebagai taksi laut, dan orang mabuk memujinya sebagai moda penyeberangan cuma-cuma. 

Pukul sembilan malam, saya bertolak dari Halte Doom di Sorong menuju ke dermaga Pulau Doom. Dikawal nyanyian motoris cerewet yang terdengar seperti puji-pujian setan, saya mendekat ke jendela perahu, menopang dagu menikmati cahaya gudang peti kemas di antara sorotan mercusuar Pulau Dofior.

Sepasang tuna wicara memadu kasih di baris depan, sedangkan tiga nona Biak sibuk mengutuk harga pinang di bangku belakang.

“Lima ribu per kepala!” Motoris mengusir lamunan ketika perahu merapat di kaki dermaga. Kawanan becak merapat, beberapa sampai saling sikut memperebutkan penumpang. Di ujung jembatan, satu mama berambut pirang sedang menggenggam ikat pinggang, siap melabrak enam bocah berisik yang berenang telanjang bulat malam-malam.

Saya tinggal di rumah kepala katering junjungan di pulau ini. Maar Yakeba, perempuan enerjik berdarah Besser yang semangat mengajarkan banyak hal tentang memasak. Bersama Nando anaknya, saya diberikan tanggung jawab untuk membuat kulit panada, lontar papua, dan apem labu setiap jam tiga sore.

Secara administratif, Doom masuk ke Distrik Sorong Kepulauan dan terbagi atas dua Kelurahan. Rumah Yakeba terletak di Erka Empat. Sebuah lingkungan yang populer sebagai populasi pemakan pinang, mace penutur mop, remaja pemain bola, serta para gadis eksotis terbanyak.

Barangkali, Doom juga merupakan satu-satunya tempat di Papua yang memiliki becak sebagai moda transportasi utama, dan orang Papua asli sebagai pengayuhnya.

Pada era Onderafdeling, Doom menjadi basis Hoofd van Plaatselijk Bestuur yang cukup berpengaruh di wilayah kepala Pulau Irian. Seperti pusat pergudangan terkemuka di bawah pengawasan meneer Van Oranje.

Mewarisi tata kota Belanda, rumah-rumah tropis bergaya Eropa yang ada di sana juga telah didukung oleh instalasi air terpadu, pembangkit listrik, hingga terowongan paralel buatan Jepang yang lebih dikenal sebagai lovrak.

Tak jauh dari lapangan bola, berdiri gereja misionaris di persimpangan jalur laut, kokoh berseberangan dengan sebuah toko kelontong Tionghoa dan satu-satunya PAUD di pulau ini. Dua ratus meter ke barat, terdapat Masjid "Maloku" dengan menara setinggi 12 hasta. Ini juga merupakan salah satu masjid tertua di wilayah administratif Kota Sorong.

Di beberapa pekarangan rumah umat Kristen, tampak sebuah bangunan berbentuk kamar kecil dengan tanda salib di atapnya. Lonceng-lonceng itu dibunyikan sebagai pengingat waktu ibadah, berita kematian, dan kabar tentang upacara pernikahan.

"Hanya pemabuk berdosa yang sanggup membunyikan lonceng-lonceng ini melebihi semboyan tanda bahaya." Kata Mega, seorang kemayu mantan narapidana.

Malam hari ketika sebuah pesta dansa digelar, orang-orang berdesakan, tampil mencari pasangan. Beberapa datang dari Sorong, ada pula yang menyeberang dari pulau-pulau seberang.

Pesta, bagi masyarakat di sini merupakan sukacita luar biasa. Orang muda menari sampai pagi, diiringi musik Ambon, Halmahera, Amerika, Turki, hingga India. “Ini dansa pukul tanah!” Mega membisikkan saya yang masih takjub keheranan.

Dari Mega pula saya diajak ke bilik rahasia Oginawa, seorang kemayu asli Waisai yang cakap dialek Ternate, namun terobsesi menjadi Geisha terpandang dan tinggal di Jepang.

Saya mengambil tempat di sebuah kursi rotan. Sementara yang lain bersila membentuk separuh lingkaran, berderet dari kiri ke kanan; Anindita, Mega, Oginawa, Kencana, dan Maria yang datang dari Sorong, yang selalu memuji sukacita hidup sebagai lelaki lentik di tanah Papua. 

"Orang-orang sini memanggil kami dengan sebutan 'bambu', menggantikan kata banci atau waria yang terdengar merendahkan." Katanya.

Dua botol sopi dicampur minuman bersoda telah digilir searah jarum jam, dan tentu saja gelas tidak perlu berhenti di saya. Separuh dari mereka meracau kepanasan, sebagian terkapar dan berkelakar di bawah sadar. Saya menekuk lutut, menahan tawa pelan-pelan, sembari membuka sedikit jendela demi menuruti dada yang kehabisan udara.

Subuh tiba ketika pesta di penghujung selesai, Nando bergegas menjemput saya untuk kembali ke rumah. Di jalan pulang, kami melewati setapak gelap berbau pesing yang masih basah. Di beberapa sudut, para remaja duduk berjejer di selokan yang kering. Ada yang berebut pinang, memetik gitar, bernyanyi, hingga menghitung bintang yang jelas-jelas tak bisa ditakar.

Jetty Erka Empat di Pulau Doom
"Torang pulang lewat jetty andalan. Kalau jam begini, biasa Sayuti lagi tunggu de pu laki datang bawa kiriman. Nanti kalau su tiba, dorang langsung ke Oginawa pu markas untuk dipake sama-sama, termasuk aparat. Pokonya su jadi rahasia umum." Nando menutup cerita dengan melompati parit lebar di samping sumur tua.

Saya mengikutinya sambil meyakinkan suara pijakan tak sampai ke telinga Yakeba. Tepat pukul lima kami masuk ke kamar. Saya mengunci pintu, menarik selimut, dan mencoba percaya jika pengalaman ini terlalu berbahaya.

Siapa mengira jika dua jam lalu saya berbagi tawa dengan kawanan pengedar di rumah bandar narkoba.


Musik untuk perjalanan ini:
Fuiste Mía — Frank Diago

*Seluruh nama disamarkan untuk alasan keamanan.

Mendeskripsikan Yogyakarta sama halnya dengan bercerita tentang Bali. Keduanya menyandang nama besar, memiliki budaya megah, masyarakat yang ramah, senyum yang tulus, kehidupan yang sederhana, bersahaja, serta orang-orang kreatif yang berpikiran maju dan terbuka. Sungguh indah tanpa celah dan tak kekurangan apa-apa.

Mengupas keistimewaan dan pesona Jogja tak lain ialah mengulang pujian-pujian yang sama.

Malioboro 2012 adalah sebidang jalan sempit yang mementaskan perilaku sosial kaum madya hingga kalangan ningrat. Di sebelah timur, gagah berdiri De White Paal sebagai titik hubung antara Laut Selatan, Keraton, dan Gunung Merapi yang berderet sejajar.

Lalu bagaimana dengan riwayat Beringharjo, Niil Maatschappij, Vredeburg, hingga stasiun besar di bilangan Sosromenduran?

Lupakan saja, mengurai mereka berarti setuju untuk bercerita lebih jauh hingga ke Borobudur dan Prambanan di Magelang sana.

Jogja tiga tahun lalu adalah kota penyelamat, yang menawarkan pintu ajaib manakala rutinitas kerja dan kuliah merampas hak sebagai manusia bebas dan merdeka. Di dalam sepur tua, saya melempar tatapan pada hamparan sawah dari balik jendela, dan berharap agar kondektur mempercepat kereta. 

Perjalanan dari Jakarta berakhir sudah, rangkaian telah tiba di Stasiun Poncol. Semarang kala itu tak bisa ditulis terlalu panjang, sebab Jogja sudah menunggu dengan gempita. Tak menyerah, Ester memaksa saya, Bram dan Diana untuk bersedia turun dan melakukan jelajah singkat di kota lumpia. 

Tiga jam meninggalkan Lawang Sewu, minibus hijau tua bergerak melintasi jalan layang dengan pemandangan yang menyedihkan. Rumah tanpa atap, tumbuhan tanpa warna, ternak tanpa gembala, jalan, sungai, dan segalanya adalah abu-abu. Lahar dan air mata meluap bersama, sepatu dan batang pisang terperangkap di dalam selokan.

Merapi menyambut kami dengan angkuh, udaranya menerbangkan doa dan harapan-harapan. Selamat datang di Jogja, kota ini sedang kesakitan!

Jogja bukan lagi yang dulu. Tak ada lagi Hilda yang mengundang ke pementasan barongsai, atau Arif yang sibuk kuliah hingga tak punya waktu untuk berjumpa. Bukan pula tentang Handy yang menekan klakson ketika saya membelakangi mobilnya, kemudian membayar semua makanan sebagai hadiah ulang tahun di malam yang sama.

Kini gunung pemarah itu telah jinak, ditopangnya awan dan langit biru saat pesawat kami merendah di depannya. Jogja kali ini tentang Adisucipto yang semakin sesak, jajanan di Legend Café yang enak, hotel-hotel baru yang mengancam ruang terbuka, hingga pusat perbelanjaan moderen yang dibangun untuk mematikan ruh Alun-alun dan Taman Siswa. Begitulah, sakralnya budaya dan tata krama sudah ditelanjangi atas nama pariwisata.

"Kakak sudah di Jogja, sayang. Kalau tak ada halangan, hari ini kita pindahan. Titip saja kunci kamarnya. Selamat sekolah, selamat belajar!"

Saya melayangkan sebuah pesan singkat ke adik nomor empat, lalu menarik buku agenda dan merobeknya untuk menyusun daftar rencana selama di sana. Adik telah berangkat sejak pagi buta, sekaligus berkemah agar nilai ekstrakulikulernya tak berubah warna.

Belanja lemari, sewa pick-up, cari wi-fi, kirim artikel, ambil rapor, berkunjung ke Gajah Mada, Tamansari, bertemu komunitas Couchsurfing, buka puasa bersama Leonard, hitam, gelap, lalu tumbang menindih catatan yang masih di awang-awang. Takluk sebelum perang, layu sebelum berkembang.

Iin menjelma sebagai peri dan mengantar pergi ke sana kemari. Darinya pula, Jogja terlihat sangat kecil dan sempit. Dee Je tak kalah sakti, ia mengundang saya ke lesehan di kolong jembatan layang, kemudian menyerahkan kunci motor sebagai fasilitas jalan-jalan.

Ah, kota ini semakin menyebalkan saja, ia memutihkan sumpah yang pernah saya ucapkan dulu. Ketika dengan yakin saya berjanji tak mungkin jatuh hati pada nama besarnya, atau terjebak dalam keramah-tamahannya. Tak mungkin, tak akan mungkin.

Sekarang kisah telah berubah, bukan saja tentang mengurus adik tercinta. Kini saya menemukan keluarga baru lewat banyak perkenalan dan pelukan. Dan oh, Handy datang untuk yang kedua kali, lalu menculik saya dari kawasan Seturan ketika sedang merampungkan kerjaan.

Esok hari, saya bergegas menghadiri undangan untuk momen yang paling menentukan. Sebuah buku diserahkan, saya membukanya pelan-pelan. Adik berhasil naik kelas dengan nilai yang memuaskan. Sebagai hadiah, kami berkemas untuk pindah ke induk semang yang baru.

Adik memang mewarisi sifat Ibu yang pemberani. Ia pergi meninggalkan rumah untuk sebuah cita-cita, dan mampu meyakinkan kami bahwa perempuan kecil bisa merantau ke mana saja. 

Tugas telah selesai, segala pertemuan juga telah berakhir. Kini saya bisa melepas cinta dan pulang dengan hati yang tenang. Atau bisa saja separuh cinta itu masih harus dibagi dua dengan dia yang telah memilih menetap di sini. Dia yang menjadi alasan bahwa ada masa lalu yang belum selesai sampai hari ini.

Entahlah, Jogja merebut separuh paru-paru dari saya. Maaf sudah menjadi seperti mereka, orang-orang yang selalu mengulang pujian-pujian yang sama. Kota ini memang istimewa!

Musik untuk perjalanan ini:
Happy All The Time — See New Project
Terima kasih:
Ester Berliana, Bram Anthony, Diana Chandrawijaya, Risnawaty Tjan, Handy Bareszky, Dee Je, Hilda Komalasari, Arif Wicaksono, Leonard Pasaribu.
Runway Bandara Jefman
Pagi pukul tujuh, aroma kayu bakar melekat di dinding-dinding kamar. Hanan mengetuk pintu pelan-pelan, membangunkan saya yang baru terjaga dua jam lalu. Bangun cepat, jonson datang 30 menit lagi, katanya.

Semesta di Papua memang bergulir lebih awal, Tuhan dan matahari tiba dua jam lebih cepat di sini.

Dari dapur yang tak bisa dibilang sempit, duduk Maar Yakeba mengawasi semangkuk kamomor dan dua cangkir teh goalpara yang masih panas. Saya bergegas mandi dan sarapan bersamanya sebelum pergi.

Vanus tiba belasan menit kemudian, merapat bersama long boat bertenaga 15 PK dengan kapasitas angkut empat kepala.

Tempo! Kita harus lekas pergi, sebelum ombak hantam torang.” Perintahnya.

Hari ini, di Kamis ketiga pada April yang memilih tandus, kami bertolak dari Doom ke Pulau Jefman. Sebuah daratan yang masa depannya telah mati sepuluh tahun lalu.
*  *  *

Frans menarik tali pinggang ketika indikator sabuk pengaman berkedip, empat awak kabin kembali bersandar di jumpseat. Dari kokpit yang disesaki perangkat navigasi, Capt. Lusset mengirim perintah persiapan mendarat.

Seribu kaki di bawah sana, tampak buih gelombang Laut Halmahera yang bertubi-tubi menampar pesisir Sorong, sebuah bandar yang pernah dikendalikan Kontroleur Hoofd van Paatselijk Bestuur di era Onderafdeling.

Fokker F28 yang mengangkut 39 penumpang beserta kru terbang merendah, bersiap untuk mendarat. Hirias, seorang petugas menara kontrol baru saja mengirim pesan, meminta Lusset bersedia mengalihkan penerbangan itu ke Biak. Cuaca kian buruk untuk sebuah pendaratan, dengan alasan apa pun.

Di kiri Frans, duduk seorang perempuan asal Timika yang tengah mengepalkan tangannya. Di seberang, dua nona Ambon sedang berdoa menutup mata. Baki jendela dibiarkan terbuka. Semua terdiam, patuh mengikuti prosedur keselamatan penerbangan sipil sebelum mendarat.

Tak ada pemandangan lain kecuali langit yang benar-benar gelap, dan suara dua mesin Rolls-Royce yang dipacu maksimal untuk mengangkat beban seberat ribuan ton.

Frans mengusap wajahnya, kepalanya penuh dengan banyak kemungkinan dan secuil rasa bahagia. Dadanya berdetak cemas, tak sabar untuk segera tiba dan menghadiri undangan pesta keluarga. Sebuah perayaan sederhana yang penuh dengan dekorasi bunga kamboja.

Lima menit kemudian ia terjaga dalam tidur yang panjang. Perjalanan ini telah selesai.

Kamis malam, lewat laporan terbaru di saluran televisi andalan, seseorang membacakan berita.

Penerbangan 724 yang lepas landas dari Ambon menuju Sorong telah menutup kisahnya bersama 41 orang yang dilaporkan meninggal dunia. Pesawat terhempas saat menghantam Bukit Batu ketika berupaya mengganti kordinat untuk tindakan divert ke Biak. Lambung bernomor PK-GFU patah menjadi 3 bagian. Menurut catatan, terdapat 2 penumpang cedera dan 2 orang dilaporkan selamat dalam insiden ini.” – Kamis, 1 Juli 1993.

Pelukan-pelukan yang harusnya mekar di pintu kedatangan, kini menjadi luapan emosi kehilangan. Orang-orang sibuk mengingat kebaikan korban, berharap Tuhan berkenanan menukar garis tangan. Di sebuah tanjung berbatu di bibir lautan, ada regu penyelamat yang tulus bekerja atas alasan kemanusiaan.
*  *  *

Jonson ditambatkan pada sebuah jangkar setelah tiba di pulau ini. Saya menarik napas panjang untuk merayakan mimpi telah berkunjung ke pulau yang mati.

Tak ada lagi pesawat yang datang dan pergi, hilang sudah segala jejak, kecuali landasan sepanjang 1.850 meter yang digunakan anak-anak berlatih sepeda, bermain bola, mengejar kupu-kupu, atau berjalan kaki ke sekolah.

Asap ikan bakar mengepul harum dari rumah Ferdinand, nelayan paruh baya yang mengangkat Vanus sebagai anaknya. Kami dijamu dengan hidangan sepanjang meja dan taplak putih yang bersih dari noda.

Hanan meraih pinang, menawarkannya kepada empat pemuda yang berbalas mop di selasar utara. Saya memilih berjalan ke timur, mencari jejak peradaban Jefman yang kini mati tersungkur.

Puluhan tahun lalu, orang-orang yang hendak ke Sorong harus mendarat di sebuah pulau yang berada 15 mil di sebelah barat. Tak ada landasan pacu di kota itu, kecuali pelabuhan peti kemas yang menjadi satu-satunya gerbang ekonomi Irian Jaya.

Sesiapa yang tiba di Jefman, masih perlu menempuh 40 menit pelayaran menuju Sorong. Barang yang dibawa tak boleh banyak, kelebihan bagasi akan ditinggalkan di Ambon atau Ujung Pandang untuk diterbangkan di hari berikutnya.

Lain dulu lain sekarang, ketika lalu lintas udara telah dialihkan ke Bandara Domine Eduard Osok, Jefman perlahan ditinggalkan. Gedung terminal kedatangan hingga menara kontrol hanya menyisakkan pondasi yang rata dengan tanah. Di pesisir dermaga tua, ada belasan depot kecil terbengkalai yang menunggu ditiupnya sangkakala sebagai tanda kiamat telah tiba.

Anak-anak berenang telanjang, menikmati paparan tabir surya dan menjadikan mereka menarik dengan caranya. Saya menyingkirkan sarang laba-laba saat melewati tiga bunker tua di Tanjung Batu. Seratus meter di belakang, berdiri sebuah bukit setinggi 35 kaki yang menghadap lautan bebas. Vanus mengulurkan tangan dan menggoda saya untuk naik ke atas.

Itulah Bukit Batu, puncak tertinggi di sini. Batu yang kau duduki adalah titik terakhir penerbangan itu.” Vanus mengarahkan telunjuk, tepat ketika saya sedang bersila di atasnya.

Bukit Batu, Pulau Jefman
Satu minggu lalu, ketika memutuskan datang ke Sorong, saya menyusun daftar kunjungan wajib bersama Resqualdoz. Ada dua belas tempat di catatan itu, tapi saya mencoret Piaynemo di Raja Ampat dan menggantinya dengan Jefman di urutan pertama.

Sebab saya percaya, dulu, di pulau ini, pernah ada sepasang telinga yang pura-pura kuat mendengar selamat tinggal, dan ada banyak bahu yang acapkali merindukan pelukan-pelukan selamat datang.

Di sini, di Jefman.

Musik untuk perjalanan ini:
Les Choristes — Bruno Coulais
• 
Terima kasih:
Hanan Mayor, Stevanus, Ferdinand Tibo, Resqualdoz, Risda Nurhuda.

Ampera Bridge, Palembang

"Flight attendant, doors maybe open!"

Tak ada yang berubah dengan Bandara Soekarno-Hatta. Holding bay, taxi wayapron, aviobridge, tenant, welcome banner, shuttle bus, dan segala garis jidat petugas darat masih sama seperti dulu. Tebal dilapisi debu, depresi dikekang polusi.

Kopi hangat di balkon lantai sepuluh adalah penawar dari udara beracun Kota Jakarta. Di bawah sana tampak klakson penjual sayur dan rangkaian kereta yang sedang berselisih suara. Inilah saat yang tepat untuk menadah cahaya pagi, atau sekadar duduk berdua dan bertukar kabar sebelum adik nomor satu berangkat kerja, pergi mengabdi di angkasa raya.

Ponsel berkedip, mengingatkan perbangan ke Kuala Lumpur akan lepas landas empat jam lagi. Saya bergegas mandi, berkemas, berdandan necis, lalu melakukan lapor berangkat di laman daring milik maskapaiTak ada yang harus dilakukan setelah ini, kecuali memastikan paspor dan Ringgit telah aman di saku celana.

Rincian boarding pass sudah dilayangkan ke kotak surel. Saya mengintip sebentar, kemudian mengabaikannya. Bukannya berangkat, saya menyeret kursor ke mesin peramban, membiarkan jemari berdansa mencari kontak Terminal Kalideres. Dua, lima, sembilan, hingga puluhan artikel yang disarankan tak ada satu pun yang memuat informasi ini. Tak dinyana, layanan informasi Telkom 108 ternyata masih mengoleksinya.

Suara perempuan tua menjawab panggilan dari seberang, intonasinya rendah, meyakinkan jika ia tersenyum selagi menyapa.

"Baiklah, jika Medan dan Pekanbaru tak ada lagi, mohon ambilkan satu tiket ke Palembang. Saya siap untuk keberangkatan 1 jam dari sekarang." 

Semua terjadi tanpa rencana, secara tiba-tiba. Impulsif sekali.

Taksi melambat di persimpangan yang rumit. Kerumunan mobil berbaris rapat, menyisakkan ruang gerak yang sempit. Manusia tak lagi menunggangi kuda, kerjanya hanya duduk menanti lampu pemberi aba-aba. Inilah perjalanan pertama ke Sumatra, melancong ke jantung Sriwijaya.

Bus meninggalkan terminal pukul empat sore, dengan estimasi ketibaan pukul satu besok siang. Bersiaplah untuk 21 jam yang menyedot usia. Melintasi Banten, kami bergerak ke ujung barat Pulau Jawa, melewati sembilan kecelakaan maut, dua pos pemeriksaan, hujan badai di Selat Sunda, lalu merapat di pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Bus ini tak terlalu besar, berdaya tampung hanya dua puluh kepala saja. Dari jendela retak yang menganga, bukit-bukit berlomba mengopeng hidung purnama. Mobil melaju menaiki tanjakan, menyebrangi jembatan, menerobos kesunyian tanpa penerangan. Kami melewati perkotaan hingga hutan-hutan di perbatasan. Kereta pengangkut bauksit meliuk lemas di lintasan berkelok, di seberangnya datang lokomotif bermuatan kayu olahan. Orang-orang tertidur pulas, namun saya masih terjaga dan sedang mencoba mencerna lirik lagu yang bikin repot isi kepala. 

"Janjimu bukan surga, bukan pula dunia.
Gara-gara cintamu aku masuk neraka.
Untuk apa kau terus berdusta?"

Kami berhenti di kedai Melayu pada perlintasan Trans-Sumatra di Menggala. Nenek yang duduk di samping saya bergegas ke musala, merapatkan saf sebelum fajar tiba. Budak-budak berbaris makan. Ada yang kelaparan, menanti pintu toilet terbuka, menyiapkan diri untuk muntah kedua, hingga terikat pada gawai yang sedang mengisi daya.

Jam dua belas siang kami meninggalkan Padamaran, berlepas dari wilayah Ogan Komering Ilir menuju tempat Jakabaring berdiri. Pak Malik menawarkan boncengan dengan ramah, sepuluh ribu untuk tarif dari Burlian ke Sungai Musi. Inilah Jembatan Ampera, urat nadi Kota Palembang! Begitu katanya.

Incoming call. Saya menatap layar ponsel lekat-lekat.

"Bapak menghubungimu sejak kemarin sore, tapi selalu di luar jangkauan."

Jangan khawatir, aku sudah di Palembang.

"Bukannya kamu ke Kuala Lumpur?"

Tiket sudah kubatalkan. Untuk ke Putrajaya, aku masih bisa berangkat dari Denpasar. Namun jika hendak ke Sumatra, aku harus terbang dulu ke Jawa. Tenanglah, anggap saja aku di Malaysia.

"Lekas kabari Ibumu. Jangan buat dia keliru mengirimkan doa ke ujung Petronas."

Panggilan berakhir. Bau darah segar menyengat di seluruh kamar. Saya tak peduli, inilah waktu yang paling ditunggu-tunggu. Tidur pertama dengan posisi yang lebih manusiawi.

Lima menit kemudian lemari berbunyi, lalu televisi mati sendiri. Persetan!


Musik untuk perjalnan ini:
Gending Sriwijaya — Indisch Muzikanten Collectief
Terima kasih:
Richard Bahisda, Aldo Grice, Ryan William, Dee Je.

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.