A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

16 Maret, 2011

MUTIARA DARI UTARA

Kota sekecil Ternate ternyata pernah memainkan peran penting di wilayah Indonesia timur. Dengan godaan rempah-rempahnya, pulau ini mampu mengharumkan nama Indonesia hingga tanah Eropa sana. Bule-bule penjajah rela bertarung demi menancapkan pengaruh di tanah ini. Orang-orang Maluku yang sebelumnya berada dibawah kekuasaan kerajaan Ternate dibuat berlutut oleh trik dan tipu muslihat mereka.


Era dan kekuasaan berganti-ganti menghampiri pulau ini, namun pemilik sah tak dapat dipungkiri, Ternate akhirnya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Kini bahkan memainkan peran sebagai tulang punggung Maluku Utara. Lebih dari itu, Ternate harus berpuas diri dengan luas wilayah yang tak masuk akal. Bayangkan saja, dengan populasi 186.000 jiwa (Sensus 2010) kita sudah bisa berkeliling pulau yang hanya membutuhkan waktu tak kurang dari 2 jam.

Disini terdapat gunung api aktif yang menjulang tinggi ditengah kota, kami menyebutnya Gamalama. Maitara dan Hiri ambil posisi sebagai pulau pengawal di kedua sisinya. Danau Laguna, Fort Oranje, Tolukko, Kalamata, Batu Angus, Pantai Sulamadaha, dan serentetan diving spot kelas atas terpampang nyata di tengah kota. Saya jamin siapapun yang menatap langitnya akan bergegas memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Ketjeh, bahkan sebelum mendarat di bumi Kie Raha sekalipun.


Ingatlah bahwa harga berbanding lurus dengan kualitas, if you pay peanuts you get monkeys. Selain letaknya yang berdekatan dengan Filipina, faktor akomodasi sering dijadikan alasan klasik. Tak mengapa, atraksi Bambu Gila dan tempat lahirnya teori Alfred Russel Wallace akan membuat anda berpikir dua kali untuk mencoretnya dari daftar tempat yang harus dikunjungi sebelum mati. Sekali lagi, sebelum mati.

Semua maskapai kini sudah melayani rute dari dan ke bandara Sultan Babullah. Tersedia penerbangan langsung dari Jakarta maupun transit melalui Makassar dan Manado. Untuk yang berdomisili diluar pulau Jawa, anda harus terbang melalui Jakarta maupun Surabaya terlebih dahulu. Jalur laut juga tersedia untuk pelayaran ke pelabuhan Ahmad Yani, Ternate. Ibarat peta buta, cukup tutup mata dan silakan tunjuk sesuka hati, selanjutnya tinggal menunggu kapal merapat dan lekas berangkat.


Di Ternate, orang-orang hanya mengakui dua hal sebagai penunjuk arah. Penduduk lokal menyebutnya Kadara (ke darat) dan Kalao (ke laut). Jangan heran kalau selama ayah dikandung badan hingga ayah berbadan dua anda tidak mendengar kata selatan-utara-barat-timur-tenggara-dan sebangsanya. Masalah bahasa, penuturan bahasa melayu Ternate memang terdengar kasar dan cepat, tapi yakinlah bahwa makna yang disampaikan sama sekali bukan untuk mengajak anda berkelahi ataupun membuat anda ingin ditelan bumi.

Bagi yang berencana melancong kesana, datanglah di bulan April, tepat saat digelarnya Festival Legu Gam. Awalnya acara ini diselenggarakan untuk memperingati hari ulang tahun (Alm.) Sultan Mudaffar Sjah, namun sejak berpulangnya beliau pada Februari tahun 2015, konsep dari Legu Gam sendiri mulai bergeser ke pementasan budaya dalam rangka melestarikan kearifan lokal. Kalau tak tertarik isu budaya, anda bisa meluangkan waktu ke pasar Gamalama. Kerajinan besi putih hingga batu bacan yang populer mungkin bisa menjadi pelipur lara.

Jangan tidur saat pesawat melintas di atas pegunungan Halmahera, buka penutup jendela lebar-lebar dan mengintiplah keluar sana. Matahari pagi sudah bersolek dengan gradiasi orange putih yang sangat rupawan, lantas pulau-pulau kecil dibawahnya menari diantara pohon-pohonnya yang rindang. Hati-hati, pasir yang mengkilat juga bisa berbicara. Katanya, "Selamat datang di mutiara dari utara!"

---------------------------------------
Gambar 1: Masjid Raya Al-Munawar. - Ilham Arch
Gambar 2: Pantai Sulamadaha. - Ilham Arch
Gambar 3: Bandar Udara Sultan Babullah. - @gloopic

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.