A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

29 Mei, 2012

BERBOHONG DEMI BUTON

B A U B A U ,  S U L A W E S I  T E N G G A R A
Kenalkan, inilah dua orang hebat yang menjadi partner in crime saya selama perjalanan ke tanah Buton. Adalah Lusi, perempuan sipit berhati sensitif yang memusuhi kakak kandungnya sendiri. Berikutnya ialah gadis minimalis berdarah Toraja rasa Papua. Ezra, duapuluh tahun, Papua Barat!

Kata siapa mahasiswa tidak bisa jalan-jalan?

Kami telah membuktikannya pada dunia. Bahkan menjadi pemeran utama jika berbohong demi plesiran adalah dosa terbaik sejauh tidak bocor ke telinga rektorat.

Kampus dengan populasi 10 juta remaja labil akhirnya terhipnotis seolah-olah kami akan berangkat membawa bendera almamater, dan mempromosikannya di tanah orang. Tiga pack brosur yang akan dibagikan telah menambah beban di ransel saya, tak lupa senyum tulus dan lambaian tangan teman-teman yang mencari perhatian kami untuk sekedar mengatakan 'daa.. daa..'. Tenang saja, kami percaya bahwa dibalik senyum yang hebat terdapat rasa iri yang kuat.

Dengan ATR mungil milik Merpati Nusantara Airlines, kami melayang menuju Baubau dari Makassar. Satu jam tiga puluh menit, pesawat pun mendarat di landasan yang tak lebih lebar dari stagen nenek moyang suku Maya. 8 menit yang kritis berakhir dengan bumping keras hingga pesawat nyaris ke luar landasan. Semacam ucapan selamat datang yang terlalu berlebihan. Juga menakutkan.




Kami dijemput oleh Pastor Martinus, teman Lusi yang menjabat sebagai pastor agung Gereja Katolik Paroki Santo Paulus di Baubau. Pemberkatan dan sedikit pelukan hangat ampuh meredakan trauma atas insiden pesawat laknat tadi. Betoambari, merupakan bandara perintis berukuran kecil yang berada di wilayah Katobengke. Dengan atap yang dicat biru menyala, sepintas mirip kantor Direktorat Jendral Air Galon dari mata air Segitiga Bermuda. Bedanya mereka punya landasan dan proses klaim bagasi yang masih menggunakan sistem absen sesuai nama di tiket ngana. Langka!

Pastor melayani kami dengan ramah sejak hari pertama, diajaknya kami makan siang di sebuah kedai milik jemaatnya. Saya mendadak amnesia jika misi utama kami adalah mempromosikan kampus, bukan wisata kuliner atau mengungkap tabir gelap kalkulator kasir yang menggunakan cahaya bulan. 

Esok pagi kami sudah punya janji dengan pejabat dari Disbudpar Baubau, sebut saja Umar. Selain lihai dalam membina hubungan korporat, ia jualah yang akan mendampingi kami berkunjung ke semua sekolah.

Kamali Beach Hotel terletak persis di jantung kota, kami menempatinya di lantai dua. Ezra rela privasinya direnggut ketika harus berbagi ranjang dengan Lusi. Sedangkan tidur dalam bilik sendiri adalah takdir garis tangan saya. Satu jam kemudian semua berubah, propaganda makhluk halus pun dijalankan. Mereka berhasil memaksa saya untuk tidur bertiga, walau tanpa extra bed, di lantai, beralaskan tikar dan digerayangi kecoa lapar.

Domino menjadi alasan tepat untuk menghabiskan waktu di malam hari, sedangkan bedak bayi adalah resiko terburuk bagi setiap pecundang. Tak berapa lama keceriaan kami harus berakhir. Sekumpulan anjing liar menggonggong persis dibawah balkon di depan kamar. Binatang-binatang ini menerawang sesuatu dibelakang kami, di Maluku kami menyebutnya suanggi.



Ritual pengantar tidur adalah mendengar dua perempuan lugu membahas kehebatan kosmetik Korea dan rencana esok pagi. Subuh pada hari ketiga kami dijemput oleh pastor yang menunggu dengan mini van biru milik gereja. Dari lantai dua dayang-dayang sibuk bersolek, bersiap jatuh ke planet bumi.

Nirwana beach, pantai dengan pasir putih maha halus ini berlokasi di Kelurahan Sula, Distrik Betoambari. Kami tiba pukul 5 pagi dan langsung benerang ketika langit masih cenderung gelap. Tiba-tiba kedamaian sirna lantaran Lusi menjerit memohon pertolongan. Bukan, dia tidak tenggelam atau hendak disandra perompak Somalia. Dia hanya terlalu takut melihat ikan teri yang berenang melingkar membentuk formasi donat pada perutnya yang bergelambir. Sial.

Pastor mengundang kami bermalam di gereja sepulangnya dari sana, tentu ini tawaran yang sangat berdosa jika ditolak. Lusi dan Ezra tidur sekamar, saya masih tetap mendapat ranjang sendiri, namun harus berbagi ruang dengan Albert, si calon pastor yang beberapa bulan lagi akan pergi ke Roma. Dari bilik kecil ini kami menjalankan arti bertoleransi. Albert merapihkan setiap sudut kamar, saya bersiap menggelar sajadah, bersujud tepat dibawah patung Yesus, Isa putera Maryam dari Bethlehem.

Suasana gereja membuat saya betah, pastor bahkan meminta secara khusus kepada warga muslim disekitar untuk membantu saya menentukan arah kiblat. Dan memasak makanan Halal tentunya. Walaupun pastor Martinus dan Lusi adalah seorang Katolik, dan Ezra yang juga seorang Protestan, mereka sigap mengantarkan saya ke Masjid Raya untuk mengikuti ibadah sholat Jumat disana. Tak ada alasan lain, beliau memang seorang pemandu merangkap pastor dan sahabat yang hebat.


F O R T  W O L I O
Selain Masjid Raya, ada pula Masjid Agung Wolio, letaknya persis di dalam kompleks benteng Wolio sendiri. Setelah kunjungan ke makam raja-raja, kami juga menyempatkan masuk ke Museum Budaya yang dikelola yayasan kerajaan. Oleh seorang penjaga museum saya diajak naik ke lantai dua, meninggalkan rombongan dibawah sana. Baju, kapak, parang, gelang, badik, tombak, dan segala prasarana perang tersimpan rapih dalam kotak kaca.

"Inilah silsilah kepemimpinan kerajaan Buton. Sejarah kita mempunyai keterkaitan satu sama lain. Buton bahkan masih memiliki hubungan emosional dengan Kesultanan Ternate, kerajaan hebat yang punya banyak pengaruh di timur Indonesia. Selamat datang, saudara. Bahagia melihatmu disini." Dia menyambut dengan bangga sebelum berbalik turun ke anak tangga.

Malam hari, saat Lusi dan pastor Martinus sedang mengikuti misa menjelang natal, saya dan Ezra memutuskan pergi mencari tiket Pelni. Kami menghubungi satu-satunya operator taksi yang nomornya dicatat Ezra siang tadi. Limabelas menit kemudian, satu dari total lima armada mereka tiba di gereja. Berwarna hijau gelap, sedan tua ini lebih mirip mobil penjahat Yugoslavia. Tak ada argo meter, pewangi, penyejuk udara, ditambah sambutan pengemudi yang bahkan lebih tegas dari paspampres Istana Negara.

"Jalan Sultan Hasanuddin, pak." Saya menyingkat waktu agar laki-laki plontos ini segera menginjak gas. "Tunggu sebentar, saya harus mengabarkan orderan yang tadi saya temukan di jalan." Tanpa menunggu persetujuan, ia sigap menekan tombol radio perantara, menyebarkan berita gembira jika perusahaan mereka baru saja mendapat orderan tambahan dari dua manusia.

"Tolong kirim satu unit ke persimpangan Adipura, yang pesan dua perempuan berbaju merah. Yang rambut pendek pakai jeans putih, yang rambut panjang pegang payung. Jemput sekarang!" Intonasinya menghilang, saya dan Ezra saling tatap, menahan tawa dengan ekspresi merah padam.

Lusi dan pastor menyusul kami ke Pantai Kamali, menawarkan gorengan untuk menikmati denyut kota sebelum kembali. Sepuluh langkah di depan saya berdiri sosok yang tak asing lagi. Desi Ramli, teman sekelas waktu SMA yang memilih kembali ke kampung nenek tercintanya. Siapa sangka, pertemuan ini mengantarkan saya pulang membawa 4 bungkus kacang mete sebagai oleh-oleh. Darinya pula kami diajak berkeliling kota dengan angkot bling-bling milik pacarnya. Pastor hanya menggeleng ketika tahu kami lenyap dari penglihatannya.

Besok adalah malam terakhir bagi kami. Pastor memberi komando untuk mencari mobil pick-up tambahan. Seluruh penghuni gereja diwajibkan ikut mengantar. 10 detik setelah mobil memasuki pos penjagaan di pelabuhan, terjadi pembunuhan sadis pada kijang hitam yang persis berada di belakang kami. Saya dipeluk seorang mama, Ia meyakinkan bahwa kita akan baik-baik saja. Itu sudah biasa.

Pastor merangkul kami erat-erat, matanya menegaskan jika Ia membenci kehilangan. Bertolak dengan KM. Sinabung, kami meninggalkan Baubau dengan segala kurang lebihnya. Bocah-bocah mendekat ke lambung kapal dengan menumpangi perahu kayu berukuran kecil. Orang-orang saling melambaikan tangan, sesekali melempar koin untuk ditangkap anak-anak tadi. Saya semakin bersemangat ketika lembaran rupiah saya mendarat tepat pada anak perempuan berkepang dua. Saya dapat lima ribu, teriaknya.

Perjalanan ini belum selesai, hingga ketika semua penumpang tertidur pulas dan hanya menyisakan saya dan seorang nenek tua yang hendak menyeduh kopi. "Terimakasih sudah menemani nenek bercerita. Kapal ini masih jauh berlayar, sama seperti hidupmu. Jangan pernah lelah memberi, jangan sekalipun merasa rugi, hidup hanyalah tentang berbagi. Jika kembali di Makassar nanti, nenek harap kau mendapatkan apa yang kau cari." Ia menutup kisah ini dengan mengusap kepala saya berkali-kali.

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.