A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

15 September, 2012

MIMPI YANG TERTUKAR

Siapa berani berpaling dari racun sakti tiket promo? Katakanlah!
Saya contohnya, saking tergila-gilanya dengan penawaran budget airlines yang tak lazim, saya rela memborong beberapa tiket liburan tanpa pikir panjang. Hebatnya lagi, saya bahkan nekat membeli tiket untuk perjalanan empat bulan kedepan, hingga pertengahan tahun depan.

Tentu proses berburu tiketnya sedikit lebih sulit dibanding berburu uang logam kembalian di Alfamart, dan saya merasa puas tujuh turunan setelah sukses mendapatkannya. Nah yang jadi masalah adalah SAYA BATAL TERBANG MENJELANG HARI KEBERANGKATAN.


Jadi para hadirin dan hadiran, saya sudah mati-matian mengganjal mata dengan tusuk gigi demi begadang 1001 malam untuk merebut  kursi murah di penerbangan itu, yang pada akhirnya saya harus merelakkan semuanya hangus. Kalau sudah begini pepatah “Sudah jatuh tertimpa tangga” kedengaran lebih sakit dibanding kalimat “Kita putus aja beb.”

Intinya, dari hasil perburuan saya yang fenomenal itu akhirnya saya keluar menjadi salah satu yang beruntung mendapatkan tiket PP Jakarta - Ho Chi Minh hanya dengan IDR 600,000 untuk periode terbang 04-07 Agustus. Bagi sebagian orang ini mungkin gak heboh-heboh amat, tapi bagi saya ini adalah rute impian yang saya idam-idamkan selama ini. Saya pernah berjanji bahwa diantara semua negara Asean yang harus saya kunjungi pertama kali adalah Viet Nam, walaupun kenyataan membawa saya ke Singapore. Yasudah kita tidak usah mempermasalahkan takdir, karena itu urusan Tuhan.

Kronologinya, tepat sebulan sebelum jadwal berangkat penyakit paru-paru saya kambuh setelah hampir tiga tahun terakhir. Dalam keadaan panik, saya bukannya cemas memikirkan berapa yang saya harus bayar untuk biaya chek-up melainkan gelisah dengan tiket liburan saya (demi Tuhan ini jangan ditiru dirumah yah). Puncaknya adalah sehari setelah kambuh, kondisi tubuh saya menurun drastis dan harus dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat. Parahnya lagi, saya disarankan untuk dirawat intensif di rumah sakit. Seharusnya bukan begini jalan ceritanya.

Mama yang datang jauh-jauh dari Ternate membuat suasana menjadi semakin panik, ada lagi hasil diagnosa dokter yang mengharuskan saya melakukan scan dan therapy dengan beberapa alat medis, dan inilah yang kemudian menyulap mama terlihat lebih menakutkan dibanding jarum suntik. Semoga postingan kali ini mama gak baca ya Allah.

Mungkin karena motivasi cepat sembuh yang merasuki pikiran saya terlalu over, saya tetap bersikukuh untuk harus segera pulih, walaupun kenyataan berkata saya layak menjadi The Next of Datuk Maringgih. Kurus kering kerontang kalau kembang kempis kayak kunang-kunang.

Jangan tanya seberapa mengerikan hidup di rumah sakit. Sebagai gambaran, dua pasien di kamar sebelah akhirnya meregang nyawa hanya dengan selang waktu 7 jam. Menurut lo?


Back to topik, akhirnya menjelang hari ketiga saya dirawat, mama membuat sebuah keputusan bombastis. Tiket penerbangan Jakarta – Makassar sudah dibelinya, kemudian mama masuk ke kamar dan berbisik pelan “Kita ke Makassar yuk, dokter disini mama kurang yakin deh.” Jreeeng!

Sebagai seorang anak yang takut dikutuk menjadi batu, saya pun menuruti kehendaknya. Bayangkan saja, saya baru diberitahu jam 10.00, fase galau dan ngambil keputusan jam 11.00, info ke pihak rumah sakit jam 11.30, dokter datang jam 13.00, cabut infus jam 14.00, balik ke kosan 14.30, ganti baju 14.50, menuju airport jam 15.00, check-in jam 16.30, take-off jam 17.00, landing Makassar jam 20.20, tiba di rumah jam 21.30. PASIEN MANA YANG GAK GANGGUAN JIWA, COBA???

Emang sih selama di Makassar kesehatan saya semakin membaik, bahkan berat badan saya sukses naik 3kg dalam seminggu. Menurut saya sih, perilaku dokter dan kecocokan obat sangat berperan penting dalam kesembuhan pasien. Tapi, pernyataan dokter dan kecemasan mama yang berlebihan juga dapat membuat pasien ingin memojokkan diri dibawah shower. Bagaimana tidak, seorang pasien yang sedang menunjukkan kemajuan pesat akan kesehatannya bisa menjadi anak idiot dalam sekejap tatkala sang dokter sudah mengeluarkan ultimatum “Jangan kemana-mana dulu yah.” Apalagi keputusan itu didukung penuh oleh sang bunda. Ah langit ketujuh seperti runtuh dalam hitungan detik.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, ini lebih sakit daripada dihina oleh si-bawang merah. Tentulah saya cuma bisa acting tidak terjadi apa-apa agar bisa melupakan tiket liburan saya, sayangnya semakin hari semakin besar rasa bersalah saya terhadap tiket itu. Klimaksnya adalah saat saya harus bangun di pagi hari dan menyadari bahwa semestinya nanti malam saya sudah harus gala dinner di Ho Chi Minh dan bukan malah jadi penunggu rumah di Makassar. Selamat!

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.