A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

08 Oktober, 2012

MAKASSAR BISA TONJI

P A N T A I  L O S A R I
Pasti banyak yang mengira Ujung Pandang dan Makassar itu beda daratan, beda nasib, beda golongan darah, bahkan beda bapak (eh apa-apaan nih?). Nah, saya selaku calon walikota Makassar di masa mendatang (minta digeplak), dengan ini ingin meluruskan jalan hidup kawan-kawan semua. Pffft!

Kota yang dulu emak-emak kita nyebutnya Ujung Pandang itu cuma ada satu, Makassar. Namanya aja yang berubah, entah siapa yang menggantinya, yang jelas jangan sampai kalian harus minum Oskadon gara-gara mikirin si-Makassar (apalagi sampai timbul dugaan apa jangan-jangan si-Ujung Pandang sudah operasi plastik, makanya dia ganti nama). Nyot dikenyot nyoot.

C E L E B E S  C O N V E N T I O N  C E N T R E
Bagi yang belum pernah ke Makassar, jangan bermuram durja sayang, karena saya akan mencurahkan segala huru-hara 'Kota Daeng' kedalam tulisan ini. Dan bagi orang Makassar yang nyangkut kesini, jangan lupa pilih saya sebagai calon walikota masa depan (minta dipasung deh).

Lima tahun lalu waktu saya turun dari khayangan dan jatuh di 'Kota Anging Mamiri', suasananya bagaikan di pedalaman Somalia, kering, panas, mencekam, dan semrawut. Namun semuanya berubah saat Jusuf Kalla turun tangan. Kebetulan waktu itu beliau menjabat sebagai wakil presiden kabinet Indonesia Bersatu Jilid 1. Darinya lah segala investor ditarik dan diberi fasilitas terbaik agar mau berinvestasi di Sulawesi Selatan, sudah tentu Makassar mendapatkan porsi lebih untuk yang satu ini. Mendadak kota ini melejit menjadi primadona baru Indonesia. Dari sini lah semangat kebangkitan Indonesia timur dikobarkan, dan tak menutup kemungkinan Makassar bakal menjadi barometer pembangunan di timur nusantara, bahkan digadang-gadangkan sebagai 'ibukota' nya Indonesia timur. Keren.

I M P E R I A L  A R Y A D U T A  H O T E L
Memang sih beda banget Makassar lima tahun lalu dan Makassar yang sekarang, saya masih ingat waktu liburan ke Cirebon dulu, eh pas pulang pesawat kami sudah landing di bandara baru yang kerennya pake banget. Padahal saya perginya cuma sebulan, jadinya kan berasa kayak turun di kota baru. Belum lagi misi pemerintahnya yang menginginkan Makassar menjadi kota dunia, bayangin aja sendiri kayak apa jadinya nanti.

Disini, di kota ini, semua pelajar dari Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara menggantungkan cita-cita mereka. Tak heran bila di setiap sudut kota kita banyak berpapasan dengan orang Buton, Ambon, Sorong, Bima, Ternate, dkk. Disini pula tempat sejuta kuliner terkenal bersemayam, sebut saja Coto Makassar, Konro Bakar, Es Pisang Ijo, Palubutung, Mie Titi, dan yang paling mendunia (duileh) si-Pisang Eppe. Tuhkan jadi lapar, sok di lap dulu ilernya.

Sebagai kota industri, orang mungkin kurang melirik Makassar sebagai destinasi tujuan wisata. Padahal, disini banyak sekali situs budaya warisan nenek moyang hingga benteng peninggalan kolonial Belanda. Diantaranya ada Fort Rotterdam, Benteng Somba Opu, situs peninggalan kerajaan Gowa-Tallo, hingga makam pahlawan Diponegoro. Atau mau yang lebih moderen, ada Trans Studio Indoor Theme Park (duluan Makassar dari Bandung), ada Bugis Waterpark, Pantai Losari, Bantimurung Waterfall, dan wisata pantai Tanjung Akkarena hingga Galesong. Bagi yang doyan diving silakan ke Kepualauan Spermonde, dan yang demen foto-foto di pantai coba deh main ke Tanjung Bira yang pasirnya seputih tepung beras rosbren. Atau anda seorang shopaholic? Idih jangan main jauh-jauh sampai luar negeri jeng, di Makassar juga sudah komplit.

W I S M A  K A L L A

Pasti gak banyak yang tahu kalau disini lagi dibangun Center Point of Indonesia, katanya sih itu semacam 'palm jumeirah' nya Makassar. Nantinya disitu akan ada kantor presiden RI, apartemen mewah, hotel berbintang, dan segala-galanya yang bertaraf internasional. Yah semacam lokasi kaum borjuis gitu deh. Letaknya persis di depan Pantai Losari dan merupakan bagian dari proyek lanjutan kota mandiri Tanjung Bunga. Inilah proyek paling prestisius yang sukses melambungkan nama Sulawesi Selatan. Ajib deh!

Ngomongin satu daerah tentu tak bisa lepas dari buah tangan khas daerah itu sendiri, nah buat para traveler yang sudah memasukkan Makassar ke list kunjungan berikutnya, nih saya kasih tau apa aja yang kudu dibeli. Makassar paling tersohor dengan minyak gosok cap Tawon (ingat yah, minyak tawon bukan minyak kayu putih. Kalau minyak kayu putih itu khas Ambon), selanjutnya syrup Markisa, terus Kacang Disko, and then Jalangkote Lasinrang. Semuanya bisa didapat di kawasan pusat oleh-oleh Jl.Somba Opu, kecuali Jalangkote di Jl.Pengayoman. Tapi kalau malas nyari juga gak masalah, toh di bandara juga banyak yang jual sih, tapi ya itu harganya lebih mahal dari gincu puteri keraton.

M E S J I D  A M I R U L  M U K M I N I N
Buat yang kakinya sudah gatal pingin segera melancong kesini, saya rasa budget 2 juta sudah lebih dari cukup untuk 3 hari 2 malam. Asalkan mau nge-trip ala backpacker dan nginap di hotel bintang dua. Masalah konsumsi mah gampang, disini murah meriah mencr*t kok. Yang penting kemana-mana naik angkot dan gak belagu, dijamin pulang pun masih sanggup belanja oleh-oleh deh.

Orang Makassar juga gak galak dan anarkis kayak di tv kok, mereka pada baik dan ramah-ramah, palingan yang judes cuma daeng becak doang. Jadi, gak ada alasan lagi buat gak ngintip ibukotanya Indonesia Timur bukan? Cepat nabung, jaga kesehatan, kemasi barang-barang, dan berrrrangkat ke kotanya Sultan Hasanuddin.

Aiya Lee

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.