A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

10 November, 2012

BANDARAKU IDOLAKU

S U L T A N  H A S A N U D D I N  A I R P O R T ,  M A K A S S A R
Sadar atau tidak, bandara adalah symbol peradaban dan identitas suatu kota maupun negara. Kita akan terkagum-kagum saat melihat kebersihan Changi Airport Singapore, dan akan merasa biasa saja saat roda pesawat menyentuh landasan Soekarno-Hatta Jakarta. Kembali ke bagaimana pihak yang bertanggung jawab mampu mengemas tampilan bandara itu sendiri.

Sebagai orang yang melihat perkembangan suatu daerah melalui segala sisi, sudah tentu saya akan mengklaim daerah itu "terurus" atau tidak melalui pintu masuknya, ya bandara. Bagaimana kalau daerah itu tak memiliki bandara? Saya pasti jelalatan memperhatikan kondisi stasiun Kereta Api, terminal Bus, atau bahkan Pelabuhan. Pokoknya yang namanya pintu masuk deh. Berniat amat? Menurut nganaaa.

Dari sekian banyak bandara di Indonesia, hanya ada beberapa yang pantas menyandang status sebagai "bandar udara", sisanya? Lebih cocok jadi terminal angkot dan pangkalan taksi. Selain jorok dan alakadarnya, system penanganan bagasi hingga raut wajah petugasnya sama-sama suram. Oh iya, satu lagi, bandara di negara ini tuh warnanya sama semua. Saya lebih suka menyebutnya bandara partai, walaupun lain bentuk, semuanya satu warna. Krem, Marun, dan Cokelat.

Untunglah anak-anak Indonesia sekarang sudah melek desain, jadilah bandara dengan konsep "papa-papa" berhasil diruntuhin dan dibangun kembali dengan tampilan yang lebih berkelas. Walaupun ada juga beberapa pihak yang menganggap bangunan berbentuk moderen dan elegan akan mengubur kearifan lokal dan identitas daerah, nyatanya putra-putri bangsa bisa meyakinkan kalau keren tak berarti lupa daratan. Contohnya bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Menurut Jusuf Kalla, bandara Makassar adalah bandara pertama di Indonesia yang perencanaan, bahan baku, dan poses pembangunannya dilakukan oleh putra-putri bangsa. Bangga gak tuh?

Bagi yang baru pertama kali ke Makassar, dijamin bakalan terkagum-kagum dengan tampilan bandara baru mereka yang cukup futuristik. Kalau diperhatikan baik-baik, atap bandara berbentuk seperti ombak dan ada tanduknya. Filosofinya, orang Bugis itu (katanya) paling jago menundukkan samudera, sedang tanduk diilhami dari moncong rumah adat suku Toraja, Tongkonan.

Beda dengan Makassar, Jakarta yang merupakan ibukota negara dan (seharusnya) menjadi symbol kebangkitan bangsa, malah selalu menjadi nomor dua dalam melakukan gebrakan. Kata lainnya sih kurang inisiatif. Lihat saja bandaranya, jika ada bayi baru lahir dan tidak segera diberi tahu tentang sejarah Indonesia, ia pasti sudah mengira bandara Soekarno-Hatta merupakan peninggalan kolonial Belanda. Terlalu kuno dan tampak seperti gudang sembako.

Untunglah pemerintah nekat merogoh kocek demi mempercantik setiap bandara di tiap-tiap ibukota provinsi. Untungnya lagi, pembangunannya dikawal ketat oleh pihak yang bertanggung jawab dan dijadwalkan dapat selesai lebih cepat dari target. Selain itu, bandara-bandara baru yang didesain oleh anak bangsa justru semakin tanding-tandingan canggihnya. Nah, kalau begini kan enak, jadinya kita (lu aja kali gue enggak) yang doyan ngacir dari kota ke kota merasa lebih nyaman setiap bepergian.
N G U R A H  R A I  I N T E R N A T I O N A L  A I R P O R T ,  B A L I
[sumber dari google]
Lihat saja bandara baru Lombok yang keren nian itu, terus ada bandara Kuala Namu Medan yang canggihnya pake banget. Belum lagi ground design Soekarno-Hatta yang ada monorailnya, wuzzz!
Apa kabar Bali? Eits, Ngurah Rai juga sudah diruntuhin dan dibangun kembali dengan tampilan yang lebih anggun. Bahkan kabarnya, bandara barunya akan menjadi bandara paling cantik di Asia. Sadisnya, itu bandara baru dikerjakan Agustus 2011 dan ngejar target selesai bulan Maret 2013. Oh-Em-Ji.

Semoga, setelah kelar dengan program renovasi seluruh bandara, pemerintah mau menambah pahala dengan program renovasi pelabuhan se-Nusantara, terus lanjut lagi ke stasiun kereta, terus terminal bus, terus halte, terus pangkalan ojek, terus bagi-bagi sepeda gratis, terus ngasih sendal gratis, terus bedah rumah, terus... disiram pake air panas!

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.