A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

04 November, 2012

BEHIND THE SCENE

TULISAN DIBAWAH TIDAK BERMAKSUD MERUGIKAN PIHAK MANAPUN

#1 BALI BUKAN INDONESIA
Siapa sih yang tidak kenal Bali? Sejak SD kita sudah didoktrin habis-habisan kalau Bali adalah satu-satunya tempat wisata terbaik di dunia. Pokoknya masa bodoh dengan negara lain, yang jelas Bali itu indah, keren, dan populer. Emang sih tak berlebihan menurut saya, bahkan mungkin Bali jua satu-satunya alasan yang dapat menyelamatkan muka Indonesia dari sentimen barat tentang korupsi, kaum barbar, hingga tragedi bom Bali itu sendiri.

Kini saya sudah tumbuh dewasa, bermuka tua, dan semakin cerewet. Boleh dong saya curhat dadakan disini. Bagi yang belum pernah ke Bali, jangan gusar, anda cukup duduk manis dan bersiap-siap dibombardir dengan beberapa fakta menarik. Sedang bagi yang sudah pernah ke Bali atau bahkan orang Bali, mohon tetap pasang muka bersahabat dan silakan mencocokan cerita saya dengan kenyataan di tekape.

Jadi begini, setahun kemarin kan saya sempat tinggal di Bali selama lima bulan, dan selama itu saya belajar banyak tentang cara orang Bali memuliakan pendatang. Bukan rahasia lagi kalau pulau Dewata paling jago di bidang pelayanan jasa, bahkan saya sempat berpikir apa jangan-jangan semua orang Bali dilahirkan sebagai manusia-manusia kualitas terbaik dalam hal menghargai tamu. Tidak berlebihan, mengingat saya yang awalnya sangat under estimate terhadap orang yang bertato, jadi diam tak percaya saat seorang bli (panggilan untuk laki-laki) menyapa saya dengan sangat ramah, ramah sekali.

P U L A U  B A L I
Dulu sebelum kesana, saya masih bingung bagaimana pula rupa pulau itu. Apakah Bali itu nama pulau saja, atau nama salah satu objek wisata, atau bahkan nama sebuah kota. Saya malah sempat berpikir kalau Bali itu nama salah satu pantai dan Kuta itu nama kotanya. Memang dasar korban doktrin, apa yang dikatakan guru langsung saja ditelan mentah-mentah. Ternyata setelah kesana saya baru tahu kalau Bali itu nama pulau sekaligus nama provinsi, dan Kuta adalah nama kecamatan juga nama pantai yang merangkap sebagai ibukota dari kabupaten Badung. Sedangkan ibukota Bali sendiri berada di kota Denpasar.

Tapi seudik-udiknya saya, tetap lebih udik bule-bule tajir yang datang kesana. Kebanyakan dari mereka mengira Bali adalah suatu negara sendiri dan bukan bagian dari Indonesia. Parahnya, mereka bahkan tidak menganggap eksistensi uang rupiah maupun bendera kita di setiap kantor camat sebagai bukti otentik kalau Bali itu milik Indonesia. Errrr!

Pernah saya ketemu salah seorang teman asli Bali, sebut saja namanya bli Kadek. Dari percakapan singkat kami ternyata saya baru tahu kalau kebanyakan teenagers Aussie-lah yang paling rusuh sekaligus yang paling banyak menyumbang devisa. Sedang predikat bule dengan nilai geografi terburuk jatuh pada persekutuan bule-bule Eropa barat dan Rusia. Dengan kata lain, mereka inilah yang paling sering menganggap Bali dan Indonesia itu berbeda.

Kadang muncul juga rasa sedih sebagai WNI saat menyadari kalau ternyata Bali lebih populer dibanding Indonesia. Eits! Tapi itu masih masalah bule-bule polos. Saya juga punya cerita yang sebelas-duabelas dengan pandangan bule-bule tadi, kali ini bahkan dobel parahnya. Jadi, dari beberapa orang Bali yang saya temui, ternyata sangat sedikit yang menguasai peta Indonesia, banyak yang mengira kalau di Indonesia itu cuma ada Bali, Jawa dan Jakarta. Terus provinsi yang lain? Nah itu dia, saya saja sampai rematik mengetahuinya.

----------------------------------------------------------------------------------------
Datang dari mana, dek?
Dari Makassar, buk.
Oh, Makassar itu di Jawa, kan?
Bukan, buk. Makassar letaknya di Sulawesi.
Oh, iya, Sulawesi itu di Sumatera, maaf saya lupa. Hehehe...
Ehk busyet! Bukan juga, buk. Sumatera dan Sulawesi juga beda kok.
Apa dekat Jakarta yah, dek?
Iya deh, buk. Emang dekat Jakarta. (Ya Tuhan, ini kenapa begini banget sih cobaannya?)
Emang adek asli sana?
Bukan, buk. Saya asli Maluku kok.
Oh, di Jakarta juga, yah?
MAMAYO.... BUNUH BETA JUA!!
----------------------------------------------------------------------------------------

Selain si ibu kost, masih banyak kok teman-teman lain yang melakukan kesilapan sejenis. Paling fatal bahkan pernah ada yang menganggap kalau Papua itu di luar negeri alias sudah merdeka dan jadi negara sendiri. Tuwawaw! Tapi kelemahan (sebagian) orang Bali mungkin cuma di geografi saja, sisanya bisa dipastikan mereka unggul dalam segala bidang.

#2 MELONGOK SURAMNYA DEWATA, BULE O'ON, HINGGA ABG JADUL
Selama disana, saya mencoba membuka diri dan belajar bagaimana mempertahankan budaya dalam kemajemukan, tak pelak banyak pelajaran berharga yang bisa saya bawa pulang hingga sekarang. Bagi orang berduit, mereka datang ke Bali khusus untuk liburan dan tinggal di hotel mahal, jadi tak ada waktu untuk menelusuri sisi lain Bali. Berhubung saya bergelimpangan waktu kosong dan pada dasarnya memang doyan gentayangan, jadilah saya memanfaatkannya untuk menggali sisi lain dibalik pesona pulau Dewata.

Di pulau surga itu, saya mulai berkenalan dengan dunia hiburan malam dan berkawan akrab dengan beberapa wanita tuna susila. Empat diantaranya bahkan menjadi sahabat saya sampai sekarang, ialah Novi, Lisa, Ketut, dan Made. Awalnya saya pikir tidak ada salahnya membuka diri untuk mengenal mereka lebih dekat, selain juga untuk mencari tau seperti apa cara mereka berjibaku dengan kerasnya kehidupan. Barulah saya sadar kalau mereka juga manusia, bernapas untuk hidup, dan makan nasi supaya kenyang.

Mereka adalah orang Bali asli yang datang dari kampung dan mencoba peruntungan diantara hingar-bingar Kuta. Gaya hidupnya cenderung ke barat-baratan, jago bahasa inggris dan tajir. Maklum, mereka punya beberapa pacar bule yang sekaligus menjadi penopang dalam urusan finansial.  Hebatnya, tiap-tiap bule yang dipacari tak tahu-menahu kalau mereka dipermainkan.

Novi misalnya, dia punya dua pacar bule serta tiga cemceman. Diantara mereka ada yang bertanggung jawab untuk membayar uang sewa kamarnya, melengkapi perabot, bahkan ada juga yang khusus ngasih uang saku. Oh iya, pacarnya yang paling tajir bahkan sampai pernah membawa dia jalan-jalan ke Australia dan Thailand, setelah itu pulang-pulang dijajanin komputer tablet dan motor baru. Gila gak tuh?

Tapi ada pula beberapa kisah hidup mereka yang membuat saya salut sampai detik ini. Jujur saja, saya sudah dua kali gagal mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, bukan karena tak mampu, tapi saya merasa bukan type academy oriented. Awalnya saya minder melihat teman seangkatan bisa memakai toga dan memiliki foto wisuda bersama keluarga tercinta. Namun setelah mengenal empat sahabat ini, saya jadi mengerti kalau takdir tiap-tiap manusia itu berbeda, bahkan segera menyadari bahwa ilmu tanpa kreatifitas juga percuma.

Berkaca dari pengalaman Lisa, dia adalah gadis asal Karangasem yang hanya mengayam pendidikan setinggi sekolah dasar, berparas khas wanita desa, dan selalu menganggap Jakarta sebagai surga dunia. Pertama bertemu dia mengaku tak dapat membaca dan menulis. Oh Tuhan, mata saya langsung berkaca-kaca, rasanya seperti orang yang dihina tanpa ampun. Dalam hati cuma bisa bertanya "Kok bisa yah dia seperti itu?" Sedang dia hidup di pulau surga, yang dimana semua perhatian pemerintah akan diprioritaskan pada meereka.

Sosoknya yang sederhana dan selalu tersenyum membuat saya merasa sedang berbicara dengan manusia paling ramah sedunia. Kadang tanpa malu ia meminta saya mengajarkannya alfabet dan cara menulis yang baik, walaupun tanpa sadar dia sudah bisa mengoperasikan perangkat Blekberih dan ber-Skaip ria melalui komputer jinjing. Memang sih, mau dibilang buta huruf tapi kok ya bisa pake hape sih. Eh, padahal itu handphone yang digenggam cuma berfungsi untuk melakukan panggilan saja, selanjutnya ia menghafal langkah-langkah menyalakan komputer hingga menggunakan aplikasi jejaring sosial hanya melalui insting dan metode "hafal gambar." Killer deh!

Lain Lisa lain pula si Ketut, kalau yang ini bahkan cuma sampai kelas IV Sekolah Dasar. Ini lebih tidak bisa membaca apalagi menulis, bahkan di kontak ponselnya nama saya ter-save menjadi "P17", butuh 1001 malam untuk berpikir bagaimana bisa Aiya Lee berganti menjadi Pe-tujuh-belas. Nah, biasanya kalau ada sms masuk dari bulenya, dia hanya membuka ikon pesan itu namun bukan untuk membacanya, apalagi mengirim balasan. Nanti saat si bule naik pitam dan melakukan panggilan ke ponselnya, baru deh perang argumen bergerilya dengan sengit, pake bahasa Inggris pula. Sesuatu deh, yah.

Namun percayalah, kegigihan menghadapi keterbatasan dan upaya untuk merubah masa depan yang mereka lakukan membuat saya menunduk dan langsung angkat topi untuk mereka. Setidaknya mereka bukan seorang pengecut yang malu akan kekurangan maupun takdir buruk yang dipikulnya. Bahkan dengan mengenal mereka, saya jadi bisa mengenal Bali yang sesungguhnya, yang lebih hangat dari sinar mataharinya.

Terlepas dari masalah buta aksara, mereka boleh dibilang sukses. Lisa rela mempreteli pacarnya di Belanda demi bisa membuka tabungan di salah satu bank internasional, walaupun pada akhirnya saya yang harus menandatangani buku tabungannya dan memecahkan rekor sebagai nasabah teraneh seantero Bali. Dia juga berhasil bolak-balik Belanda dan selalu lolos pengajuan visa di embassy tanpa perlu kedip-kedip mata.

D R E A M L A N D  B E A C H
Oh iya, bagi yang sering bertanya "Kok bule mau sih sama cewek hitam dan (maaf) jelek?" Saya cuma bisa bilang kalau itu memang sudah begitu maunya. Saya masih ingat dulu ada teman berkulit putih, tinggi, lumayan cantik, namun tak pernah "laku" di Bali. Logikanya, di barat sana kan mereka dari bangun sampai tidur cuma ketemu sama orang-orang yang sejenis setanah air dengan mereka. Nah, giliran melihat perempuan Bali yang agak kecoklatan, mereka merasa unik dan menganggap orang berkulit cokelat sebagai manusia langka yang eksotis. Sebaliknya, orang Indonesia sering menanggap berpacaran dengan bule akan mendongkrak popularitas dan isi kantong sekaligus bisa memperbaiki keturunan. Maka jadilah pasangan serasi sakinah mawahdah.

Padahal kalau boleh jujur, orang Bali itu putih langsat. Namun karena mereka sadar kalau cantik dan keren itu harus cokelat, berjemurlah mereka hingga tampak seperti orang-orang latin. Makanya, buat anak-anak ibukota yang menganut paham "iklan" kalau cantik itu harus putih, silakan datang ke Bali, pasti dicuekin bule dan salting sepanjang jalan gara-gara pakai baju lengan panjang dan topi bunder akibat parno kena sinar matahari.

Aiya Lee

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.