A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

23 November, 2012

TRANSIT DRAMATIS

Enaknya jadi perantau tuh setiap tahun pasti pulang kampung, mentok-mentoknya sih dikirimin makanan kesukaan kalau sampai gagal mudik. Orang tua akan mengalami fase-fase paling menegangkan saat bulan ramadhan hanya tinggal menghitung hari. Itulah masa dimana mereka harus membuktikan cinta kasihnya kepada sang buah hati alias dipanggil mudik. Gak usah sok deh, semua anak kuliahan pasti dibayarin, kecuali dia anak Paris Hilton si wanita kaya raya pemilik kebun raya Soerabaja.

Nah, berhubung waktu itu saya sudah bekerja di salah satu perusahaan perjalanan wisata  di Makassar, jadi deh tuh bela-belain ke kantor pagi buta biar bisa monitor harga tiket miring. Gak muluk-muluk sih, asal bisa transit Manado saja sudah cukup. Lumayan lah buat gentayangan beberapa jam, hitung-hitung juga sekalian temu kangen sama sahabat yang kuliah disana.

Sambil memantau harga, saya juga tak lupa memantau aib orang di facebook. Dan... Jreeeng! Sahabat saya kebetulan online saat itu. Terpikirlah rencana busuk secepat gerakan maling sendal. "Woi say, kangen, lagi ngapain, kapan mudik?" modus banget. "Hai, kabar baik, belum tau nih, dikau kapan say?" balasnya lugu, lugu banget malah. Gak tau apa kalau saya mau ngasih doktrin sesat supaya kita bisa mudik bareng.
Sulham (kiri), Artis (kanan)

Awalnya saya mengutarakan niat untuk pulang dengan penerbangan transit. Maklum, walaupun sudah banyak penerbangan langsung Makassar-Ternate, tetap terbang melalui Manado terasa lebih menggiurkan. Semacam sekali terbang 3 provinsi terlampaui. Ya.. iyalah, yah. Eh, tak berapa lama ide saya direspon positif, dia bahkan tergiur dengan penawaran istimewa saya tentang mudik bareng dari Manado. Perfecto!

Tibalah hari-H, saya berangkat naik pesawat barunya si-Singa yang ada sepuluh pintu daruratnya, iya sepuluh, se-pu-luh! Nyaris sama banyak dengan pintu masuk stadion GBK, berasa kayak mau diajak terjun payung rame-rame sama mas pilot. Setelah terbang selama satu jam, mendaratlah kami di bandara Sam Ratulangi Manado tepat pukul 22.00. "Akhirnya bisa balik lagi kesini" gumam saya dalam hati. Waktu jaman SMP sih pernah 2x kesana, tapi itu dulu waktu saya masih kecil, yang ke sekolahan masih PD pake bedak tabur semena-mena di jidat.

Selesai klaim bagasi saya langsung curi-curi pandang dan berusaha mendeteksi wajah sahabat saya diantara kerumunan sampah masyarakat. Dengan tampang fresh dan wangi parfum yang semerbak, dia sudah menunggu saya dengan seorang temannya yang kelihatannya (belum) cukup akrab. Karena terlalu bersemangat, saya sampai lupa jaga image dan tak sungkan menyeret koper hingga ke gerbang keluar bandara.

Malam itu saya hanya punya waktu enam jam di Manado sebelum melanjutkan penerbangan ke Ternate besok pagi, dan sudah tentu saya dan sahabat akan terbang bersama untuk pertama kalinya. Tak butuh waktu lama untuk mengeluarkan jurus manis manja grup, dengan senyum yang dibuat-buat saya berusaha membujuk sahabat agar dia berkenan mengantar saya keliling Manado. Mulai dari ngotot dibelikan nasi kuning Kampung Kodok, memaksa disediakan pisang goreng, ingin ke patung Yesus Memberkati, hingga jalan kaki keliling kawasan Megamas (Boulevard). Tentulah doski menolak mentah-mentah ajakan saya, tapi bukan saya namanya kalau tak banyak akal. Seperti kerasukan roh traveler, saya langsung mengutarakan nafsu jalan-jalan ke supir taksi, "Pak, jang dulu antar pe kita di hotel, kase baronda dulu neh?" Spontan sahabat saya langsung menjeling antagonis dan nyaris menelan saya hidup-hidup. Amper mo dapa poloso kang kita.

Yasudah, memang lagi apes ketemu "guide" galak. Kami akhirnya makan-makan di kawasan Malalayang, biasalah ditraktir gorengan dan ayam bakar. Berhubung sudah jam 2 pagi, saya terpaksa tak bisa menyaksikan gemerlapnya kota Manado. Mall, tempat nongkrong, pusat jajanan, hingga restoran sudah pada tutup. Anehnya, tengah malam begitu justru tempat karaoke yang semakin menggeliat, isinya banyak remaja pria sok gaul bersama tante-tante genit dengan make up setebal 5 centi. Sialnya, ternyata banyak bule bekpeker yang lalu-lalang sepanjang jalan dengan mulut bau alkohol. Cis!


Tepat jam 4 pagi kami kembali ke hotel untuk istirahat, hotelnya kelas melati tepatnya, tapi posisinya sangat strategis. Berada persis di bibir pantai, persis diatas lahan reklamasi, pas di pusat kota, dan bonusnya bisa lihat matahari terbit. Kekurangannya, ternyata saya baru tahu kalau itu hotel mesum, kamar mandinya tanpa bak penampungan, mandi pake ember bekas kemasan cat tembok, kloset jongkok selebar jidat Angelina Jolie, dan shower purbakala segede meriam dengan air setetes embun. Ini cobaan kenapa begini banget sik?


Megamall Manado
Minanga Beach Hotel, Malalayang
Bangun-bangun langsung grasak-grusuk nyari kamera dan melarikan diri ke bibir pantai, untunglah masih keburu matahari pagi. Tak lama sahabat saya keluar, ikut narsis sebentar sebelum dia pamit ke kosannya untuk ambil barang sekalian beres-beres, saya pun kembali ke kamar dan segera memesan taksi. Hasil kesepakatan sih, dia mampir dulu ke kampus buat legalisir surat baru menyusul saya ke bandara, makanya saya harus duluan tiba untuk mengurus proses check-in sekalian block seat supaya  kita bisa duduk berdampingan.

Setelah semua proses selesai, saya kembali ke pintu keberangkatan dan menunggunya dengan secangkir teh hangat. Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit, hingga panggilan boarding untuk naik ke pesawat pun saya belum juga melihat batang hidungnya. Kami dicari-cari petugas maskapai, bahkan nama kami sampai diumumin satu bandara, yee.. nyantai dong! Mengingat sahabat saya masih belum bisa dihubungi, sedangkan sudah final call untuk naik ke pesawat, saya akhirnya tancap gas dan berlari dramatis menuju ruang tunggu. Setibanya malah masih harus diinterogasi petugas judes yang menanyakan keberadaan sahabat keparat saya, setelah melalui negosisasi panjang, saya pun dipersilahkan masuk duluan sambil tetap menunggu perkembangan kabar dari dia. Kebayang gak sih, itu pesawat delay gara-gara nungguin kita berdua?!

Wings Air, IW 1774 MDC - TTE
"Mas, temannya sudah ada kabar? 10 menit lagi kami harus lepas landas" tanya pramugari ramah yang ketahuan lagi kesal. "Gak usah mbak, push back saja, biarin tiketnya hangus. Saya juga sudah pasrah" timpal saya dengan muka kelipat-lipat. Tak lama pintu pesawat pun ditutup, start engine, push back, dan take-off deh. Terbanglah saya dengan pesawat berbaling-baling bambu dan siap dideportasi ke kampung halaman. 5 menit setelah mengudara, saya baru sadar kalau akhirnya malah terbang sendiri dan duduk disamping kursi kosong yang seharusnya diisi sahabat saya. Serius dalam lamunan penuh dendam, tiba-tiba saya dikagetkan seorang bule yang duduk di seberang dan berusaha menghibur atau lebih tepatnya menghina.

"Kamu yang tadi ditunggu yah?" tanyanya. "Yes" to the point banget. "Temanmu mana?" balasnya. "Tau ah, dia mungkin kejebak macet" jawab saya seadanya. "Jadi, kamu berangkat sendiri dong? Pasti kamu nyesek banget kan.. kan.. kan?" dia mencoba melucu. "Errrr!" berbaliklah saya ke jendela lonjong dan dengan cepat menggunakan earphone. Maka tidurlah saya sampai roda pesawat menyentuh landasan Sultan Babullah, kemudian bangun dalam keadaan kacau balau dan penuh dengan dendam kesumat.

Beberapa hari setelah insiden itu, sahabat saya membombardir ponsel saya dengan permintaan maaf bertubi-tubi. Walaupun saya sudah memaafkannya, tapi pada akhirnya saya juga mengetahui kalau dia memang tak ada niat untuk berangkat dan berpura-pura excited. Untung saja saya hati saya hasil cangkok dari hati bidadari jadi tak bisa memusuhi sesama manusia. Jadilah kami menjadikan itu sebagai lucu-lucuan dan tetap bersahabat sampai kapan pun. Asal jangan ulang dua kali, yah!


I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.