A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

12 Desember, 2012

PLESIR KE KANDANG DEDEMIT

HANYA UNTUK 17 TAHUN KE ATAS

Jauh-jauh traveling cuma pergi ke mal, itu mah biasa. Ke kebun binatang, hutan belantara, landmark kota, atau ke pantai, semuanya sudah biasa. Bagaimana kalau bertandang ke rumah horror dan jadi tamu setan? Itu baru gilingan. Niatnya sih cuma ingin melepas rindu dengan kota Surabaya, tapi sugesti sahabat saya terlalu jahanam untuk diabaikan. Bagaimana bisa saya mau menuruti sarannya untuk jalan-jalan ke kandang dedemit, tapi begitulah kehendak garis tangan, berbekal skuter matik pinjaman, melajulah kami dengan setitik niat baik dalam mantra komat-kamit.

Perhatikan orbs yang tertangkap kamera. Halah!

Namanya Rumah Hantu Darmo, nama bekennya sih RHD. Sebelumnya saya pikir ini rumah terletak di Jln. Raya Darmo, aneh juga kalau sampai ada rumah angker di pusat kota. Eh, ternyata lokasinya berada nun jauh di mato, jauh di telingo, jauh di ongkos, dan jauh dari pusat kuto jugo. Maaf, saya belum lulus tes TOEFL bahasa Minang.

Well, letak pastinya sih di perumahan Darmo Harapan Indah, Jln. Darmo Satelit, Blok R. Intinya, tanya sekuriti aja kalau gak ketemu jalannya. Secara, saya aja keder pas disana. Darmo Indah itu kan perumahan elite cong, kebayang gak sih berapa banyak blok dan bentuk rumah-rumahnya yang serupa tapi tak sama. Yakali, seperti saya dengan Konstantinos Galanos, mirip tapi tak mau saling mengakui. Ekhm.

Demi jembatan Suramadu dan baut-bautnya yang hilang, hawa perumahan Darmo tuh spooky parah. Jalanan kompleksnya minim cahaya, banyak pohon gede yang rantingnya pada gondrong, terus ada beberapa lahan kosong yang ditutupi pagar seng. And you know, asap-asap putih ala Si Manis Jembatan Ancol juga ada, entah muncul dari lokasi pembakaran sampah atau ditiup angin antah berantah. Hiyyy!

Pokoknya, sebelum ketemu rumah naas itu, ada beberapa ciri mencolok yang bisa dijadikan patokan. Bisa dari pos satpam mungil yang personilnya lebih dari 3 orang (yakali mereka boiben), bisa juga dari kerumunan pelancong yang lagi bergunjing di jalanan. Singkatnya sih kalau sudah ketemu salah satu tanda, tinggal siapin nyali lahir batin aja. Saya mah gak heboh-heboh amat, walaupun kepala mendadak besar sampai bulu kuduk ber-standing applause juga saya gak bakalan takut. Beneran, saya tidak takut. Ti-dak-ta-kut!

Kalau gak salah, pukul 22.00 iring-iringan motor kami sudah parkir manis di depan pagar RHD, sebelumnya sudah ada beberapa ABG labil yang (sepertinya) sedang menunggu momen tepat untuk beradegan panas disekitar situ. Kelihatan sih karena mereka gak bawa kamera, gak berniat masuk, pake make up setebal sendal jepit, dan duduk 5 in 1 diatas motor. So, kalau bukan mau nyari setan, pasti mau nyari kesempatan.
















Jika dilihat sekilas, ini rumah seperti bekas kebakaran, dinding dan pilar-pilarnya masih berdiri kokoh. Nah, kebetulan malam itu bulan lagi bunder-bundernya, terang pula (bukan terang bulan). Atap rumahnya sudah raib, entah dirobohin atau dijarah maling. Makanya itu si bulan bunder menggantung tepat diatas rumah, bayangin sendiri aja kayak apa dengkul saya malam itu.

Sambil mengumpul energi positif, saya masih sempat-sempatnya menebar senyum ke para ABG labil, susah memang kalau naluri artis sudah tertanam sejak orok. Tiba-tiba mas Yudi, salah satu anggota rombongan kami, memberanikan diri masuk ke pekarangan RHD. Tak mau gegabah, saya pun pura-pura tanya kronologis kejadiannya biar bisa lebih menjiwai.

Dari informasi yang saya dapat sih katanya dulu penghuni rumah itu terlibat pesugihan, kejadiannya sekitar tahun 2001 silam. Mereka ingin kaya raya dan bergelimang harta, makanya pakai jalan pintas, yaitu membuat suatu perjanjian dengan bangsa jin. Nah, dalam kesepakatan itu, mereka harus mempersembahkan nyawa manusia sebagai tumbal. Celakanya, pas semua keinginan telah dikabulkan, mereka malah mangkir dari janji dan berusaha melarikan diri ke daerah lain lewat jalur laut. Sayangnya, sebelum mereka benar-benar kabur, ternyata para jin sudah mengetahuinya dan langsung menenggelamkan kapal mereka. Hilang lah semua anggota keluarga itu di laut lepas dan sampai hari ini tidak ditemukan bangkai kapal maupun jasad mereka.

Katanya, rumah mereka memang sengaja dihancurkan oleh pihak pengelola, sedangkan barang-barang mereka akhirnya diambil kembali oleh para jin. Keluarga yang menjadi ahli waris pun tak ada yang mau menempati rumah horror itu. Begitulah kisah urban legend yang konon dipercaya semua masyarakat Surabaya. *merinding*

Oh, iya, mengenai gangguan dan interaksi makhluk halus, saya sih awalnya kurang percaya. Tapi melihat pos satpam yang awalnya berada tepat di depan rumah telah dipindahkan ke ujung jalan yang jaraknya 200 meter dari rumah, yah mau tidak mau harus percaya kalau mereka sering jadi korban teror kunti and friends. Eh tapi beneran ding, itu pos memang dipindah gara-gara satpamnya ciut. Buktinya, mereka ditugaskan 3-4 orang sekaligus.


















Setelah mendengar kronologi ceritanya, saya malah memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah. Namanya saja rumah setan, tentulah mistis dan gelap gulita. Terpaksa deh blekberi tua renta bekerja agak melenceng dari kodrat, bimsalabim, jadilah ia senter alakadarnya. Maka muluslah tiap langkah saya dituntun hape berkedok lampu ajaib.

Belum juga kaki saya mencapai pintu masuk, datanglah satu rombongan keluarga yang over excited ingin ketemu hantu. Senang dong ada teman, keluarlah saya dan berharap ada yang bersedia masuk bareng atau minimal pipis celana bareng di dalam sana. Eh, dasar keluarga sok imut, satu gak masuk, semuanya pun ikut-ikutan. Masuklah saya sendiri dengan tampang sedatar-datarnya. Sebenarnya, di dalam sana sudah ada mas Yudi sih, tapi masa cuma kita berdua saja. Kan gak lucu kalau tiba-tiba jin Ifrit nongol trus ngajak kita main ular tangga.

Sekedar info nih yah, seumur-umur saya uji nyali di tempat angker, baru kali itu saya tiba-tiba cemas dan merinding disko. Ini bahkan lebih seram dari TPU Jeruk Purut di Jakarta atau Lawang Sewu di Semarang. Sialnya, ini rumah yang notabene nya dihuni jin dan iblis malah tak mengurungkan niat para budak seks untuk berbuat yang "iya-iya" di dalam sana. Saya sih tidak ketemu langsung malam itu, tapi menurut mas Yudi, disitu sering menjadi tempat favorit untuk melakukan hal-hal nista. Oh, pantasan ABG laknat tadi sudah dandan total walau cuma ke markas dedemit. Hadezig!

Pertama masuk, saya antara takut sama kagum. Secara, itu rumah gueeddee banget, persis kayak rumah di film-film lebay endosyar. Kamarnya besar-besar, ruang tamu dan tempat kumpul keluarga semuanya luas. Sebagian besar dindingnya sudah lumutan dan dikotori coretan, kusen hingga daun pintu dan jendela juga hilang tak berbekas. Ada juga kamar mandi yang tinggal puing-puing, seram gila.

Kata mas Yudi, ada juga ruang bawah tanahnya, semacam garasi dan beberapa ruang besar yang tak diketahui fungsinya. Tapi demi langit dan bumi, saya tak cukup punya nyali untuk pergi kesana. Gara-garanya saya iseng ngambil foto di salah satu kamar, dan you know ternyata itulah ruang paling angker dari seluruh bangunan itu. Sebagai tambahan, disitulah lokasi berlangsungnya acara uji nyali dari program Dunia Lain milik Trans7.

Lagi seru-serunya ngambil foto, eh ada bunyi sirine yang makin lama makin kuat dan mendekat. Jadi tambah lemas nih dengkul, nyaris pingsan malahan. Tapi kenapa tiba-tiba rumah jadi bergelimpangan cahaya sih. Bukan, bukan cahaya bulan, tapi seperti ada lampu sorot yang mengarah ke kami. Dan, ahmaigat, ternyata itu cahaya senter dan sirine mobil polisi. Kami langsung dikomando untuk keluar dari rumah, segera saya dan mas Yudi menurutinya. Ya ampun, diluar sudah ramai pengunjung rupanya, seperti pasar tumpah minus pedagang. Kami pun masih tetap disorot lampu senter dan diperhatikan jutaan mata, berasa kayak pasangan mesum yang kepergok. Idih, jijay banget!

Jadi, dari penjelasan om-om berpistol, setiap tengah malam polisi memang rutin patroli disitu. Bukan mau nangkap dedemit, tapi mau ngusir pengunjung sekalian bubarin pesta seks dadakan. Yaeyalah, saya juga baru sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul 12 ting-ting.


I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.