A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

23 Januari, 2013

LAHIR DI TIAP KOTA

Google Doodle on 23rd January 2013
Terlahir sebagai seorang anak sulung adalah takdir yang luar biasa, hidup dan besar di lingkungan multi etnis juga sangat mempengaruhi setiap gaya hidup dan tata krama saya secara pribadi. Dulu, saat mama mengandung saya, teman-teman Korea papa sering main ke rumah, ngasih bingkisan, dan beberapa cinderamata. Tak disangka, sejak duduk di bangku kelas VIII Sekolah Menengah Pertama, saya sangat terobsesi segala hal tentang Korea. Euphoria itu baru berakhir setelah 8 tahun kemudian, dimana saya sudah sangat nasionalis dan membenci hal apa pun tentang Korea.

Kini, saya menjadi penggemar berat Yunani. Seperti belajar bahasa Yunani, mempelajari mitologi, hingga tergila-gila dengan makanan dan lagu berbahasa Greek. Tak bisa dipungkiri, sejak saya masih dalam kandungan, papa sangat mengidolakan seorang aktor berkebangsaan Yunani. Olehnya saya diberi nama "Gregorio", sungguh malang, konon menurut mendiang nenek, gara-gara nama itu saya sakit-sakitan dan divonis akan meninggal dunia oleh pihak rumah sakit. Ajaib memang, setelah mengikuti tata ritual adat dan hukum hitung-hitungan ala nenek moyang, akhirnya saya bisa "lolos dari maut" dan tumbuh besar dengan nama yang lebih Islami.

Besar dalam keluarga yang harmonis tentulah menjadi impian setiap anak, dan beruntunglah saya karena dibimbing dalam keluarga Islam taat yang moderat. Sejak kecil saya juga sering diasuh oleh (semacam) ibu angkat beragama Katolik yang sangat fanatik. Punya oma, cici, dan koko yang semuanya penganut Katolik Roma adalah sebuah pelajaran toleransi yang sangat luar biasa. Dari merekalah saya belajar kasih, dan dari keluarga sendiri saya belajar pentingnya saling menghargai dan menjaga jati diri.

Dulu, mama sibuk ke kantor, papa selalu dinas di luar kota, makanya saya dan adik-adik dilepas ke pengasuh yang kini sudah saya anggap seperti saudara sendiri. Dari pengalaman itu, mental kami lalu dilatih untuk tidak ketergantungan dengan orang tua. Karenanya, sejak memutuskan untuk merantau dan jauh dari mama dan papa, kami sudah tak cengeng lagi dan mudah berbaur dengan orang lain.

Saya tidak ingat pasti kapan awalnya saya mulai gila bepergian, mungkin saat ikut mama dinas ke luar kota, atau bisa saja sejak pergi ke pelosok kabupaten untuk mengunjungi papa. Memang sih, perusahaan papa letaknya lumayan jauh, di ujung Halmahera sana. Jadi kalau kangen, cuma bisa ngomong lewat telepon satelit yang biaya per panggilannya cukup untuk beli tv plasma. Sedangkan mama, kadang karena perjalanan dinas, saya dan adik nomor dua sering diboyong sekalian. Biasanya naik pesawat, tapi pernah juga naik kapal laut yang tidurnya umplek-umplekan di kelas ekonomi.

Nah, kalau di tempat kerja papa, perusahaannya dibangun di ujung dunia (baca: kakaknya pelosok). Ada mess, kantor produksi, pelabuhan tongkang, garasi alat berat, balai hiburan, hingga kandang Kasuari! Jadi, kalau malam pasti diajak berburu rusa, paginya berenang di kali, siangnya ikut papa naik tongkang untuk monitor bahan baku di pulau lain, sorenya nonton tv bareng anak-anak desa sampai dikejar-kejar Kasuari bunting.

Terkadang, saya juga sering pasang tampang meyakinkan agar dibolehkan ikut mendiang paman ke Papua, atau sekedar "menemani" nenek "hang out" ke Tidore. Intinya, dimana ada keluarga yang bepergian, disitu pasti ada jalan. Eh, tapi lumayan sih, 9 dari 10 niat busuk berhasil terlaksana dengan mulus. Contohnya, yah ke Papua itu. Saya sampai mati-matian meyakinkan mama kalau bolos sekolah seminggu itu tidak masalah, asalkan pas pulang harus beli jajanan bu guru dan semua nilai dalam rapor terjamin dunia akhirat. Wacaw!

Sejak saat itu, otak kanan saya mulai terlatih untuk menciptakan sejuta alasan demi hasrat jalan-jalan ini. Misalnya waktu kuliah dulu, saya pernah berbual ke rektor agar diizinkan mempromosikan kampus di Sulawesi Tenggara, motivasinya apa lagi kalau bukan karena jalan-jalan. Di Jakarta juga pernah, karena nyaris jadi jelangkung di kantor, saya nekat acting sakit ke HRD selama 3 hari dan langsung cabut ke Singapura. Sesuatu banget.

Kini, saya punya ritual tahunan agar selalu bisa jalan-jalan. Saya sih nyebutnya "Lahir di Tiap Kota", semacam harga mati untuk merayakan hari lahir di tempat-tempat berbeda. Awalnya sih tidak sengaja, saya mulai terpikirkan pas tahun 2009 lalu, sejak pulang ke Ternate dan merayakannya bersama keluarga. Sejak saat itu saya berniat agar tahun berikutnya harus bisa di kota yang lain. Alhamdulillah, memasuki tahun ke-5 ini semuanya masih berjalan sesuai rencana.

Setelah di Ternate, saya hijrah ke Makassar dan menyambut usia baru disana. Tahun beriktnya pindah ke Bali dan otomatis merayakannya disana pula. Sejak di Jakarta, saya malah bersumpah tak akan mau "lahir kembali" di kota itu. Selain kotor, saya juga tak ingin masa depan saya suram seperti suramnya lalu lintas Sunda Kelapa. Makanya, tahun 2012 kemarin saya rela ngesot ke Yogyakarta dan merayakan ulang tahun kesekian yang ternyata bersamaan dengan tahun baru Imlek.

Tahun ini, saya memilih Balikpapan untuk meletakkan usia muda saya. Dengan harapan, di kota itu, yang letaknya di Kalimantan atau tempat dimana 3 negara berada, saya akan "lahir kembali" sebagai pribadi baru yang lebih bijak dan lebih bersemangat layaknya hutan-hutan Borneo yang selalu tegak dan tetap sejuk dipandang mata. Di Balikpapan pula saya melepas segala ketergantungan obat-obatan dari terapi medis akibat rusaknya paru-paru saya karena rokok dan alkohol. Disana, di tempat paru-paru dunia berada, saya membeli paru-paru baru saya melalui nafas pertama di usia yang baru ini.

Selamat Ulang Tahun Aiya! Selamat datang di kota Beruang Madu!

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.