A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

14 Januari, 2013

TRAVELING BERKEDOK KONDANGAN

Ceritanya, waktu itu ada teman kuliah yang akan melepas masa lajangnya, namanya Amy. Acaranya dilangsungkan di kabupaten Watampone, lumayan lah 4 jam dari Makassar. Saya berangkat dengan dua orang sahabat, namanya Fera dengan Suji. Sebelum berangkat kita sepakat berkumpul di terminal angkutan antar daerah.

Singkat cerita, kita berangkat bertiga naik mobil Panther yang dikaruniai oleh seorang pemuda ajaib, kebetulan duduknya persis disamping saya. Dari hasil menguping, sepertinya dia akan ke Kendari dan entah bagaimana caranya dia malah naik mobil tujuan ke Watampone. Dia bukan hanya ajaib, tapi lebih dari sekedar percaya diri dan multi talented. Bagaimana tidak, bisa-bisanya dia menelpon dengan suara nyaring menggelegar, pake headset bando segede gambreng, dan nyanyi keras-keras sambil sesekali berjoget ala zombie. Ini anak waras gak sih?

Untunglah selama perjalanan Makassar - Bone kami disuguhi pemandangan alam yang fantastis, ada pohon pinus yang harum, perbukitan Camba yang memesona, dan jalan Trans Sulawesi yang mulus seperti pantat bayi. 2 jam sebelum memasuki Bone, kami mampir makan malam dan... UHUY! Pemuda ajaib tadi dipindahin ke mobil lain. Rasakan!

Amy, Andy, dan.. Ekhm, artis ibukota
Awalnya sih kami berniat turun di rumah pengantin, tapi apa boleh buat, Fera ditawarin fasilitas gratis dari partner bisnisnya yang bersedia menjamin semua akomodasi kami selama disana. Tidak tanggung-tanggung, kami diberi kamar VIP di hotel paling keren untuk se-antero Bone, dan sudah tentu semua itu cuma-cuma. Gak sia-sia deh saya berteman dengan Fera selama ini #EhMaksudNgana

Besok paginya, entah karena terlalu bersemangat atau takut ketinggalan acara, kami bangun jam 7 dan langsung bergegas ke kondangan. Ini antara semangat persahabatan atau gak pernah pergi ke acara kawinan. Ya iyalah, embun saja belum kering, kami sudah standby di lobby hotel dengan muka gepeng dan mulut masih bau iler. Tapi untunglah semua itu bisa tersamarkan berkat make up gila-gilaan dan perasaan gembira menjadi pusat perhatian satu hotel. Bukan itu saja, perginya juga minta diantar-jemput sama mobil hotel. Pokoknya puncak-puncak belagu kami, ya hari itu. Serasa artis Ibukota yang diundang ke kabupaten untuk konser pilkada. Ngok!

Tiba di rumah pengantin, sudah ada yang ganjil. Rumah masih sepi, tendanya saja masih didekor, janur kuningnya juga baru dipasang. Parahnya, yang punya hajat juga belum mandi dan belum ngapa-ngapain. Idih, memalukan sekali. Untung Amy teman kami, jadi gak terlalu nusuk malunya. Coba kalau orang lain, saya mungkin sudah bunuh diri di depan pengantin daripada harus hidup menanggung malu.

Akhirnya, sambil menunggu Amy didandani Indobotting (sebutan pakar rias untuk orang Bugis), kami bergosip ringan dengan ibunya. Tak lama datanglah Uki, teman seangkatan kami juga. Berempat kami dijamu dengan kue-kue khas Bugis, diantaranya ada yang paling unik, namun saya lupa persis namanya, yang jelas itu kue terbuat dari 30 butir telur! Demi Tuhan saya menyerah untuk yang satu ini, batin saya pasti meronta-ronta kalau saya tetap nekat menelannya. Favorit saya sih Barongko, terbuat dari adonan telur dan pisang yang dihaluskan. Enak sekali kalau disantap saat dingin.

Tepat jam 10 pagi, kami harus minggat dari kamar pengantin dan mager di tenda resepsi. Tak lama datanglah rombongan pengantin laki-laki, namanya Andi. Gilanya, mereka datang dari Palu ke Bone lewat jalur darat. Ini bukan sekedar perjalanan biasa, ini perjalanan antar provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, mungkin kurang ekstrim bagi kalian yang belum paham. Nih saya perjelas yah, jadi si-Andi itu keluar dari Palu-nya sejak jam 8 malam dan baru nyampe Bone besok paginya jam 10. Empat belas jam pemirsa-pemirsa, dan apa kabar baju pengantinnya beserta seperangkat make up yang sudah dipoles sejak sore kemarin. Tragis sekali.

Seperti pesta kawinan biasanya, para tamu dipersilahkan makan sampai puas, lanjut sesi pemotretan, sesi gosipan, sesi curi-curi pandang, dan sesi pamungkas alias pulang membawa harapan (baca: bungkusan). Bukan rahasia umum lagi kalau pesta di kampung itu meriahnya dobel. Semua tetangga dan jajaran perangkat desa akan turun tangan demi memeriahkan acara resepsian warganya. Dan berubahlah tanah tandus seakan-akan menjadi karpet merah bagi para undangan. Malamnya sudah pasti semua ngantri buat karaokean gratis, ada yang nyanyi lagu barat jadul, lagu cinta-cintaan, lagu perjuangan, sampai lagu yang baru kedengaran yang saya rasa itu lagu ciptaan mereka sendiri. Ah, sungguh masyarakat di kampung itu sangat harmonis hidupnya.

Fera, Suji, Uki, dan Fikar
Selesai pesta, kami kembali ke hotel bersama dua anggota baru, lengkap sudah pasukan belagu menjadi lima orang. Mereka adalah Uki dan Fikar, salah satu teman seangkatan kami yang baru tiba dari Makassar. Sudah diduga, bukannya tidur, kami malah melepas rindu dan saling mengungkit aib sejak jaman kuliah dulu. Besok paginya, petugas hotel berhasil memata-matai kami dan meminta penambahan biaya untuk dua orang lainnya. Tiba-tiba saya merasa gagal sebagai seorang penyelundup.

Sayangnya, pagi itu Fikar harus kemabali ke Makassar dan tak bisa ikut jalan-jalan keliling Bone. Setelah check-out, kami pergi ke rumah pengantin dan memaksa Amy untuk menjadi tour guide seharian. FYI: Si-Andy (mampelai pria) sudah kembali ke Palu sejak jam 7 pagi, nah emaknya Amy juga pasrah pas anaknya kami sandra keluar dari kamar untuk pergi jalan-jalan. Mungkin, kamilah teman paling laknat yang pernah dimiliki Amy, dan bisa jadi Amy lah satu-satunya pengantin paling gila yang nekat keluar kamar sehari setelah merit (pergi jalan-jalan, jadi leader, jadi bandar, naik motor, dan panas-panasan pula).

Tentunya saya tidak terlalu banyak membahas rute jalan-jalan kami disini, karena saya sudah mempersiapkan itu semua di lapak khusus edisi Bone. Pada akhirnya, Uki yang sebelumnya sepakat akan pulang berbarengan dengan kami malah berkhianat dan memilih bermalam di rumah tantenya yang mereka sendiri baru saling ketemu hari itu.

Menjelang maghrib, mobil jemputan kami pun datang. Selesai acara cipika-cipiki dan sesi pamitan, pulanglah kami ke tempat dimana kami seharusnya berada, Makassar. Isuzu Panther reyot yang full music dangdut koplo makin melaju menembus gelapnya malam. Dibalik jendela kusam, saya menatap ilalang bisu dan memuja pesona bulan sambil bertanya dalam hati "Kapan saya bisa kembali lagi kesini, ke kampung sahabat saya yang harmonis dan agamis ini."



I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.