A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

14 Februari, 2013

GARA-GARA ASAP KEPARAT

Landscape gunung Batur

Tinggal di Bali itu seru, sebulan berasa hari minggu semua. Bukan itu saja, biar dikata jarak tempuh dari rumah ke kantor lebih pantas dibilang mudik, tapi sensasinya itu bok, bebas macet, wangi dupa dimana-mana, dan lalu lintasnya rapih kayak gigi buaya.

Selain itu, setiap weekend pasti hebohnya dobel, misalnya sudah heboh susun jadwal sunbathing di pantai, jalan-jalan ke museum, atau kelayapan sampai ke Ubud. Nah, saking banyaknya objek wisata di pulau ini, saya sampai menyerah untuk membuat list kunjungan setiap minggu. Boleh dibilang dimana hasrat menuntut, disitulah kakiku tunduk. Hadeh!

Suatu minggu saya dan seorang teman berikrar untuk "kunjungan kerja" ke desa Kintamani. Panggil saja dia Mega, bukan Megawati Sukarnoputri, ataupun Megan Fox, cukup Mega saja. Dia sih sudah pernah kesana, tapi berhubung saya terhipnotis hasutannya, maka mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus bertanggung jawab untuk menemani saya dan kembali kesana.

Konyolnya, dari sekian banyak episode yang diceritakan, saya cuma tertarik tentang asap yang mengepul dari mulut gegara saking dinginnya. Jadinya kita kudu berpakaian ala musim dingin dan gak boleh pakai short pants, tank top, sendal jepit, kebaya, baju pemadam, baju suster ngesot, apalagi sampai sanggulan segala.

Sebelum pergi kami mampir makan siang dan berinisiatif membungkus dua porsi ayam goreng untuk bekal nanti. Secara, perjalanan dari Kuta ke Kintamani memakan waktu sekitar 3 jam, itu pun belum terhitung macet atau karena si-Komo lewat. Membayangkan perjalanan sebegitu jauh, saya langsung mengoles sunblock sebelum berubah wujud menjadi panda Himalaya.

Susah memang kalau bukan anaknya pawang hujan, baru jalan 6 km, kami langsung dilaknat awan hitam. Hancurlah perisai sakti sunblock saya, hancur juga reputasi saya gara-gara memakai mantel kebalik. Ya, iyalah yah, salah beli mantel bok, kancingnya ada di depan, dan apa kabar baju eike kalau airnya sampai nyolot masuk kedalam.

Karena parno masuk angin, kita mampir di halte Trans Sarbagita (busway-nya Bali), akibat kebanyakan yang berteduh, pengguna busway jadinya gak kelihatan dan dicuekin bus, lewat deh tuh bus kurang ajar tanpa mampir sambil petugasnya dadah-dadah ke kita. Iba sekali lihat muka penumpang yang mau naik tapi dikhianati.

Lumayan juga sih, 30 menit kita tebar pesona disana sebelum akhirnya melanjutkan kembali perjalanan. Kurang lebih 1 jam diatas motor kita baru sampai di Ubud, masih saparuh perjalanan lagi. Mampirlah kita di sebuah gubuk tua tak berpenghuni yang super kotor. Letaknya persis di bahu jalan, semacam bekas warung yang debunya setebal bedak cewek-cewek nakal. Disana kita singgah sejenak untuk istirahat dan makan. Duduknya ngampar, beralaskan sendal basah, tanpa cuci tangan, tanpa urat malu, dan sambil gemetaran. Selesai makan, cuci tangannya di aspal basah, bermodalkan kemangi dan beberapa tetes air hujan yang mengalir di atap seng karatan. Emaaaaak!!

Saya yang menyetir motor sudah tremor gara-gara kedinginan, lebih-lebih pas memasuki Kintamani. Parahnya, saya cuma pakai celana pendek dan jaket casual, benar-benar salah kostum. Kintamani itu sebenarnya nama kecamatan yang terletak di kabupaten Bangli atau di satu-satunya kabupaten yang tidak memiliki pantai di Bali. Banyak anjing berkeliaran disana, jalannya juga gak mau di bahu jalan, maunya di tengah jalan sambil kejar-kejaran satu sama lain. Buset deh ini binatang, mentang-mentang kawasan kekuasaan mereka.

Kita tiba disana sekitar jam 4 sore, lumayan sepi dan bebas kabut. Hujan masih rintik-rintik, sedang udaranya sejuk nian. Tentulah "asap dari mulut" yang pertama saya cari, tapi sepertinya Dewi Fortuna sendang tak berpihak. Jangankan asap, bola api naga pun tak ada yang keluar dari mulut kita. Sudahlah, akhirnya aroma khas bakso yang menjadi penentu kemana tempat berteduh kita selanjutnya.

Sudah semangat bisa menyantap makanan hangat di tempat dingin, akhirnya saya harus puas dengan rasa bakso yang paling tidak enak sedunia. Entah apa keahlian penjual itu selain membuat bakso, yang jelas dia tak ada aura berdagang makanan sedikitpun. Mega sudah acting menelpon untuk mengalihkan perhatian. Saya malah memilih duduk menghadap jendela agar bisa tertolong dengan pemandangan gunung Batur, eh malah yang nampak jemuran si empunya warung yang menampilkan baju dalam warna-warni.

Belum lagi pas kita kebelet pipis tapi kamar mandinya lagi terisi. Hampir setengah jam nunggu kamar mandinya kosong, kok yah malah gak nongol-nongol orangnya. Pas ditanya, kata mbok adiknya masih mandi. Lha, kok lama sekali mandinya mbok? "Tadi itu adik yang pertama, sekarang adik yang satunya lagi" katanya. Ebuset, emang adiknya ada berapa mbok? "Tiga!" *pecah ketuban*

Karena saking kesalnya, kita langsung cabut dari situ, lagian sudah jam 6 sore, sudah hampir gelap juga. Masalah pemandangan sih oke, ada gunung Batur yang punggungnya diselimuti beberapa awan mungil. Sebenarnya di Kintamani juga terdapat banyak objek yang bisa dikunjungi. Ada istana presiden di Tampaksiring, Danau Batur yang berada di kaldera gunung Batur sendiri, ada Pura Ulun, atau bisa juga nyebrang sampai di desa Terunyan. Di desa itu, mayat orang yang sudah meninggal tidak dikubur/ diaben, melainkan diletakkan dibawah pohon atau di atas batu besar di tiga lokasi tertentu. Uniknya, walau gak dibalsem dan tetap mengalami proses penguraian, jasad mereka tidak mengeluarkan bau sedikitpun. Sayangnya letak semua objek berjauhan antara satu sama lain.

Berhubung niat saya cuma pingin ke pusat kota Kintamani saja, jadi harus puas walau penderitaan dan pemandangan tidak sepadan. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba suhu bertambah dingin, kabut semakin tebal, dan jarak pandang jadi terbatas sehingga harus menyalakan lampu. Kondisi jalan semakin menukik turun dan basah. Satu-satunya cara adalah memperlambat kecepatan motor dan tetap tabah menahan hasrat pipis yang mengkoyak-koyak kantung kemih.

Ini kabut lho jeng, bukan hujan
Entah kenapa saya langsung terpikirkan untuk "meminjam" toilet warga saja, segera kita jelalatan mencari rumah yang penghuninya lagi pamer gigi di halaman. Tak butuh waktu lama, di pojok jalan ada seorang cowok yang lagi jual gigi di depan rumah pink ngejrengnya. Dengan lantang saya mencoba bernegosiasi, lalu darinya lah kita diarahkan ke rumah yang lebih pojok dengan pemilik yang lain pula, dengan kata lain permohonan ditolak.

Oke, tak mengapa tuan. Bergegaslah saya dan Mega menuju rumah yang dimaksud. Sekali lagi, rumahnya berwarna pink dengan empunya seorang emak-emak. "Permisi bu, bu boleh kami numpang toilet?" Wajah saya langsung ditatap tajam-tajam, nanar matanya bak Soraya Montenegro. Tanpa sepatah dua kata doski mengangkat tangannya sambil mengisyaratkan penolakan dan pengusiran tak bermartabat. Kira-kira bahasa tubuhnya mengatakan "Apa lu bilang? Pinjam? Mending lu olang go out dali owe punya walung haa, sebelum owe naik dalah telus owe suntik mati lu olang dua punya bibir."

Tak habis akal, saya pun berinisiatif untuk mencari pom bensin agar bisa melampiaskan hasrat keparat ini. Tapi karena berhubung tak ada satu pun stasiun bahan bakar terdekat, Mega lalu menyarankan saya agar mampir beli air di warung terus pura-pura pinjam toilet. Aha!
Kenapa sih susah-susah nyari toliet, pipis di pohon atau di semak belukar juga bisa kan Ya?
Sorry layau, selagi masih ada yang eksklusif, ngapain jorok dengan pipis tanpa cebok. Memangnya saya cowok apaan, he? Tsaah.

Pergilah kita dengan paha dijepit-jepit, nyetirnya juga jadi gak fokus karena saking kebelet. Tak jauh dari situ, ada lapak penjual buah. Turunlah saya sambil teriak-teriak mau beli buah. Berhubung niat utamanya bukan untuk belanja-belanji, kita cuma order asal-asalan sambil mengutarakan niat pinjam toilet.

"Mbaknya juga mau pipis yah?, tanyanya. Iya bu, boleh?, tanya Mega. Boleh, sini saya antar kebelakang.
Oh iya, masnya kencing di belakang saja, kan cowok jadi gak di toilet juga gak masalah. Silakan ke halaman belakang mas, terserah mau kencing dimana saja dengan gaya apa aja gak masalah." DEGGGG!!

Mau sekuat apa pun berusaha, endingnya tetap di pekarangan orang juga, menghadap alam semesta, dan dipelototin anak-anaknya. Inilah pipis termahal seumur hidup saya, 15ribu per sekali nangkring. Memang sih  duitnya barteran sama buah, tapi manggisnya busuk semua. Untunglah, pas di lapak itu mulut saya keluar asap-asapnya. Yah kerennya cuma itu sih, karena mimpi jadi nyata aja. Yang parah, pas Mega datang, mukanya jadi kecut kayak korban pelecehan seksual. And you know, nasib kita samaan. Jadi, maksud ibu itu ngantarin kebelakang adalah ke toilet ramah lingkungan alias pipis cantik di semak-semak. Cetar!

Dalam perjalanan pulang kita sepakat mampir di Ubud untuk cuci mata dan hati. Sebagai informasi. Ubud adalah desa urban yang masuk dalam wilayah kabupaten Gianyar. Desa ini mendadak terkenal se-antero tata surya semenjak dijadikan lokasi syuting film Eat Pray Love yang dibintangi oleh Julia Roberts, iya Julia Roberts bukan Julia Perez. Catat itu Malhotra!

Lukisan kembar 5 gadis Bali, sederhana tapi langka

Jantung kota Ubud di malam hari itu sangatlah keren wahai para tua bangka. Jalanan sempit dengan sederet kedai dan butik berkelas adalah langka di Indonesia. Dan oh, pedestrian cantik serta lampion mungil disetiap pohon terlalu manis untuk diabaikan. Belum lagi kontur wilayah Ubud yang berbukit-bukit, seperti puzzle surga yang dirangkai di perut bumi. Sayangnya waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tanda Tuyul & Mbak Yul harus kembali ke Kuta. Pulanglah kami dengan segenap kedamaian dan tawa bahagia sebagai bentuk rasa syukur atas 5 lukisan kembar yang telah saya tukar dengan uang seratus ribu rupiah!


I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.