A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

26 Februari, 2013

INCREDIBLE BALIKPAPAN

Dulu saya pernah bermimpi bisa menginjakkan kaki di pulau Kalimantan, pulau terbesar di nusantara sekaligus tempat dimana 3 negara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam) menyandarkan wilayah kedaulatan mereka. Disana, hutan mereka menjadi paru-paru dunia, flora dan faunanya menjadi kebanggaan bangsa, serta budayanya yang tua menjadi mahal untuk dipandang sebelah mata.

Disana pula saya pernah mendengar kisah tentang negeri kaya raya yang dipimpin seorang raja telah berjaya. Bukan itu saja, tanah pertiwi juga mempertaruhkan wilayah dan harga diri bangsa dari sejengkal batas antar negara dengan Malaysia. Selain itu, cerita mengenai banyaknya perusahaan raksasa yang menjadi barometer kemakmuran Indonesia juga santer terdengar hingga ke luar angkasa.

Sepinggan International Airport

Sejak setahun lalu saya mencari informasi tentang wilayah mana yang paling layak dijadikan tolak ukur kemajuan Kalimantan. Dari hasil riset kecil-kecilan, sebagian besar lebih menyarankan ke Kalimantan Timur, khususnya ke kota Balikpapan. Konon, modernitas disana lebih terlihat jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di Kalimantan. Sekedar info, Balikpapan itu bukanlah ibukota dari provinsi Kaltim, karena Samarinda lah yang mendapatkan wasiat itu. Tentunya saya bukan sedang membanding-bandingkan pencapaian sebuah kota, melainkan hanya memilih mana yang paling siap menyambut pendatang. Setelah menimbang beberapa aspek semisal tersedianya akomodasi yang baik dan akses yang mudah serta biaya hidup yang masih manusiawi, akhirnya dengan mantap saya memilih kota Beruang Madu.

Terbang dengan maskapai berbiaya rendah idola para pelancong, saya berangkat dari Makassar sebagai pusat jembatan udara di timur Indonesia. Lumayan, perjalanan 45 menit itu berakhir dengan salam perpisahan dari seorang awak kabin cantik yang terlihat gugup menyebut nama bandara Sepinggan. Berbekal selembar itinerary, saya menyimpan susunan jadwal dan list objek wisata selama kunjungan sehari semalam. Dengan petunjuk GPS (guide penduduk setempat), saya pun menuju Terminal Dam dengan angkot hijau tua.

Sejak berpijak di Balikpapan, saya optimis kalau kota ini mampu mengangkat wajah Indonesia dihadapan para Malaysia sebagai tempat hidup paling bergengsi di seantero Borneo. Bagaimana tidak, dengan kehidupan masyarakatnya yang cukup dinamis, kota ini tampak menggeliat dengan segala sumber dayanya. Jalanan yang super bersih dengan pohon-pohon jangkung yang rimbun, serta kontur wilayah berbukit dengan lintasan sungai-sungai spiral yang eksotis, sungguh merupakan modal mutlak bagi Indonesia untuk memukul telak keharmonisan hidup bangsa-bangsa tetangga.

Landmark Taman Bekapai

Selama perjalanan saya selalu memperhatikan segala aspek yang berhubungan dengan citra suatu kota sambil jelalatan mencari unsur-unsur kearifan lokal yang masih dijaga. Bangga rasanya saat dua pasang bola mata menemukan berbagai ukiran dan ornamen khas Kalimantan masih bertengger manis di gapura maupun di setiap sudut kota, bahkan saya nyaris sujud syukur saat melihat bendera pusaka masih mengangkasa di halaman sekolah dengan para siswanya yang berseragam khas Indonesia. Ah, ternyata kita masih saudara, saya pikir sudah dicaplok tetangga.

    
 Boleh bantu saya cariin sampah, gak?

Setibanya di tempat tujuan, saya kembali berdecak kagum melihat betapa rapihnya terminal angkutan umum yang masih satu lokasi dengan pasar tradisional. Angkot-angkot berbaris rapih, pedagang berjejer dengan teratur, areanya bebas dari tukang palak, pengamen, bechek, ojwek, dan bau sampah membangke. Oke, saya butuh waktu seumur hidup untuk percaya kalau ini masih di Indonesia. Dari situ saya berjalan kaki mencari rumah teman yang yang kami pun belum pernah ketemu dan hanya bertegur sapa lewat milis Couchsurfing.

Namanya mbak Hikmah, putri asli Balikpapan yang bingung pas ditanya "apa makanan khas Balikpapan." Lokasi rumahnya sangat dekat dengan terminal yang juga masih di pusat kota, cukup menyusuri gang sempit berjarak 200 meter dan bertemulah saya dengan couchsurfer paling beken se-Balikpapan ini. Awalnya saya masih luma-luma cikung untuk bertegur sapa atau sekedar "menggilai" nya. Ah, ternyata cukup beberapa menit saja untuk bisa melumpuhkan suasana. Akhir kata, walau sedang sakit ia rela menemani saya memperkosa Balikpapan.
Toko berkedok kebun

Sebagai tuan rumah yang mulia, dia menuruti saya untuk pergi ke Depot Cendrawasih di Jl. A. Yani demi menyantap es campur paling nikmat sejagad raya. Oke, kami melakukan kesilapan dengan pergi ke Kebun Sayur terlebih dahulu. Bukan, ini bukan rencana yang ditukar, ini hanya sekedar ganjaran akibat obrolan tanpa jeda yang kami lakukan di atas angkot tadi. Ya, kami teledor dan warung dambaan itu kelewatan jauh dibelakang.

Jangan berburuk sangka dengan nama Kebun Sayur, saya bukan sedang pergi berbelanja keperluan dapur atau berburu terong Jaipur. Ini semacam pusat oleh-oleh Balikpapan yang menjual segala jenis buah tangan khas Kalimantan, jadi tak ada satu pun anak Adam yang jualan sayur-mayur disini. Jangankan saya, Hikmah pun tak sanggup menjabarkan alasan kenapa dan mengapa toko oleh-oleh bisa menjelma menjadi Pasar Inpres Kebun Sayur. Hanya nenek moyang dan Tuhan yang tahu alasannya. Tapi menurutnya, Kebun Sayur adalah nama kampung dimana pasar skandal itu berdiri, seperti halnya nama Kebon Jeruk di Jakarta. Jadi, alasan kuat sih namanya diadopsi dari nama kampung halamannya.

Tambah Hikmah, selama dia menjadi guide, sayalah orang pertama dengan kunjungan paling singkat di "kebun" itu. Bukan apa-apa, masalahnya kebanyakan aksesoris yang dijual sudah banyak dipasarkan di Bali. Bahkan mulai dari bahan dan segala seni ukirnya juga persis seperti yang ada disana. Jadi, cukup songket Banjar beraroma jeruk yang saya beli dengan harga 40 ribu, setelah itu kami melipir pulang demi kembali ke pelukan es campur. Sebagai tambahan, trip kali ini disponsori oleh naik angkot dan jalan kaki sampai betis brekele.

Tempat penyebrangan khusus
Sekedar informasi, orang Balikpapan menyebut angkot sebagai taksi, dan taksi argo sebagai "teksi." Hee, maksud ngana cuma beda huruf vokal "a" dan "e" doang. Entahlah. Yang jelas, selama naik angkot, jangan coba-coba memberi isyarat berhenti dengan kode "kiri", cukup bilang "stop" sebelum si supir menimpal permintaan anda dengan "ya iyalah, masa saya mau stop di kanan." Satu lagi, setiap angkot di Balikpapan pasti punya satu tempat sampah di dalam kabin. Jadi jangan buang-buang tenaga dengan melempar sampah keluar jendela atau menyimpannya dibawa tempat duduk, apalagi kalau yey sampai nekat bawa pulang itu tempat sampah ke kediaman yey. Dijamin yey bakal kena denda selangit dan dijambak emak-emak penumpas kejahatan.

Bagi pejalan kaki, demi menghindari kecelakaan dompet berupa denda atau tatapan sinis penduduk lokal, berjalanlah diatas pedestrian dan menyebranglah di tempat khusus penyebrangan yang telah disediakan. Karena selama anda menuruti peraturan yang ada, anda akan dilindungi undang-undang dan dihormati oleh bumi dan langit tempat anda berpijak. Jangan sesekali berkendara dengan gila sambil ugal-ugalan di jalan. Para sopir angkot sudah dididik untuk "memberi pelajaran" ditengah jalan, seperti ucapan salah satu supir yang saya klaim sebagai ketua geng.

Balikpapan terkenal akan percampuran budaya dari segala penjuru nusantara, inilah mengapa Hikmah sendiri tak sanggup menjabarkan apa makanan khas Balikpapan selain Bobongko. Segala etnis dari 34 provinsi ada disini, mulai dari Aceh, Batak, Palembang, Jawa, Sunda, Dayak, Bali, Sasak, Manado, Bugis, Ambon, hingga Papua semua berbaur jadi satu. Hal ini pula yang membuat saya menyebutnya seperti Dubai-nya Indonesia. Tempat segala budaya berada sekaligus pusat dari segala manusia Indonesia bersikut rezeki. Disana semua orang berinteraksi menggunakan bahasa Indonesia dan minim sentuhan budaya yang benar-benar khas dan asli Balikpapan.

Mayoritas penduduknya adalah muslim, pengaruh budaya islam melayu masih sangat terasa disini. Umat kristiani didominasi oleh etnis Batak dan Manado, kemudian para perantau dari Bali ikut memeriahkan keberagaman dengan berbagai ritual sakral Hindu. Buddha pun eksis disini, para pendatang asal Pontianak memilih merantau sambil menyebarkan ajaran Siddharta Gautama yang dinamis. Sungguh inilah sepetak tanah Indonesia yang paling pantas memikul amanat pancasila.

Selama disana saya jarang menemukan ceceran sampah dimana saja, seluruh sudut kota tampak bersih dan rapih. Petugas kebersihan ada dimana-mana, tempat sampah dan papan himbauan kebersihan juga selalu tersedia sejagat raya. Akhirnya, walaupun dengan luas kota yang tergolong kecil, orang jadi betah tinggal disana. Bahkan menurut Hikmah, warga dilarang membuang sampah di siang hari, karena dapat mengganggu kualitas udara dan keindahan kota. Mobil sampah juga diharamkan beroperasi pada pagi-sore hari, semua proses pendistribusian sampah hanya dapat dilakukan saat malam hari saja. Keren sekali kakah!

    
Tempat sampah ala angkot

Pahlawan kebersihan dimana-mana



Kami menghabiskan banyak cerita tentang kedisiplinan Balikpapan sambil lesehan di Pantai Kemala dan Melawai, sebuah bibir pantai yang menjadi pembatas antara darat dan laut Balikpapan. Alih-alih menanti sunset yang terkutuk dibalik awan, saya menikmati segerombolan kapal tongkang yang berlalu-lalang diantara selat Semayang. Banyak kapal segede gaban yang lagi nangkring cantik di laut lepas, rata-rata milik perusahaan tambang atau minyak yang memfasilitasi para pekerja sebagai sarana transportasi ekslusif. Saking bongsornya, kapal-kapal itu bahkan lebih menyeramkan dibanding upil di pelupuk mata.

Semakin gelap kapal-kapal itu semakin merapat ke dermaga Semayang, banyak penjemput yang sudah menunggu kedatangan keluarga mereka. Adil sekali hidup ini, dimana ada yang masih gengsi ke kantor naik mobil pribadi, yang lainnya berlapang dada membuang usia diatas kapal demi mencari sepiring rezeki di laut seberang. Saya akhirnya digeret pulang oleh Hikmah sebelum jatuh pingsan akibat kebanyakan protes dan memuji yang bukan-bukan. Memuji aspal Balikpapan yang mulus bak pantat bayi misalnya.

Angkotnya karyawan tambang
Inilah hari dan malam pertama saya di kota beruang madu, Hikmah sangat berjasa menemani saya melancong ke mesjid agung At-taqwa yang superbesar dan turut beribadah bersama disana. Hari pertama saya tutup dengan obrolan hangat dengan ibunya, banyak kisah inspiratif tentang mendiang ayahnya yang sangat menggetarkan sanubari. Tak lama saya pun tumbang di ruang tv ditemani kucing kesayangan mereka, Poh.

Pagi di Balikpapan sangatlah romantis, seorang suami akan mengantar istrinya berangkat kerja. Anak-anak sekolah bergegas menuntut ilmu dengan restu orang tua yang tampak ikhlas. Tak ada yang naik kendaraan pribadi, jarang pula yang nenteng gadget parlente ke sekolah. Semua nampak sederhana dan berwibawa. Ah, Hikmah dan keluarganya pun begitu. Ibunya bahkan masih memperhatikan sarapan saya sebelum berangkat kerja dan sebelum kami pamit berpisah. "Aiya termasuk salah satu tamu yang paling diperhatikan ibu lho, jarang-jarang ada tamu yang diperhatiin sarapannya" kata Hikmah sambil menerima secarik testimoni dari saya. Makasih tante!

Saya harus menuntaskan misi terakhir seorang diri, berbekal ilmu trayek angkutan yang diwariskan Hikmah, pergilah kaki gatal ini menikmati udara segar di Jalan Minyak (Jl. Yos Sudarso) dan mencari monyet-monyet penunggu hutan. Terpaksa saya putuskan hubungan baik dengan angkot dan lebih memilih berjalan kaki. Udara disepanjang "Jalamin" benar-benar asri, hawa sejuk dan kicauan burung mampu menyulap jalanan lembab terasa seperti karpet mahal buatan Turki. Saya menikmatinya hingga berakhir di depan Lapangan Merdeka. Yah kira-kira 3 km lah, tapi tak masalah, gugusan kilang minyak Mathilda dan harumnya laut Kemala sudah sangat cukup meredam keluh kesah.

Perjalanan sehari semalam ini akhirnya tamat di penangkaran buaya Teritip milik Borneo Life, namun sebelum kesana saya masih sempat-sempatnya tebar pesona di Plaza Balikpapan dan Taman Bekapai. Namanya saja penangkaran buaya, ya iyalah, ada banyak buaya sok imut yang lagi gogoleran. Kulit mereka tebal bak sendal bakiak, hidungnya jerawatan duri tajam, serta bau busuk menyengat dari sebongkah tokay mengering di dalam kandang. Saya yang awalnya antusias ingin mencicipi sate buaya langsung terdiam seribu bahasa.

Murid binaan Teritip
Gajah ababil
Tak jauh dari situ, ada replika rumah Lamin atau rumah adat Kalimantan Timur yang dibangun persis di depan kebun bonsai. Asik mengambil gambar, saya dikagetkan oleh hentakkan kaki gajah yang mengendus kedatangan saya. Duileh, telinganya segede loyang, belalainya sepanjang selang pemadam kebakaran. Saya memanfaatkan kesempatan emas ini untuk mengobrol dengan hewan yang tak mengerti bahasa manusia, yakali mungkin karena merasa tersaingi, dia lalu berjalan mendekat dengan tatapan judes yang bikin pingin muntah darah. Barulah saya sadar kalau dia tidak sedang diikat dan bisa saja menginjak tubuh ini menjadi kornet. Goodbye gajah gendut!

Arloji tepat menunjukkan pukul 11:00, artinya saya cuma punya waktu sejam lagi sebelum take-off ke Makassar. Pulanglah saya ke bandara dengan perasaan berbunga-bunga. Inilah hadiah ulang tahun paling berharga dibanding materi maupun surat kuasa. Dari jendela mungil pesawat saya berdoa dan menyimpan mimpi untuk bisa kembali lagi kesana, ke pulau bak benua yang menopang tiga negara berserumpun budaya dan bahasa. Juga pulau yang menjadi saksi kemenangan saya melawan penyakit paru-paru dan krisis percaya diri selama 6 bulan.


I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.