A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

08 Agustus, 2013

LOMBOK: THE UNPREDICTABLE LAND

"Lombok itu rumit, sulit, susah dimengerti, dan ajaib!" Saya membatin dalam penerbangan kembali ke pulau dewata.
Monumen Lombok Barat Bangkit, Gerung
Akhir maret kemarin saya dan Rani melakukan perjalanan agung ke pulau paling menggoda selain Bali. Rani adalah teman saya yang berdomisili di Bandung dan rela menghambur-hamburkan duit demi menikmati indahnya nusantara. Dalam hal ini saya diberi kepercayaan penuh sebagai leader perjalanan dan pengambil keputusan. Oke, saya lupa belajar dari pengalaman kelam tentang pentingnya mengobservasi destinasi agar tak gantung diri ditipu sana-sini.

Berharap semua berjalan sesuai rencana, kami memutuskan ke airport sejak subuh sebelum matahari mengganas. Kami tidak sedang bergegas mengejar jadwal pesawat, namun hanya menitip skuter matik kesayangan di lahan parkir bandara. You know lah, selain berguna sebagai pintu masuknya pulau dewata, bandara Ngurah Rai juga "merangkap" sebagai tempat penitipan kendaraan para turis. Jadi sebelum bepergian, simpanlah motor kalian disana dan pasanglah tampang meyakinkan saat berpapasan dengan petugas sewaktu meninggalkan bandara.

Usai melakukan tindakan tak terpuji, kami langsung mencegat taksi bluberd untuk menuju pelabuhan Padang Bai. Niat hati ingin adil membayar sesuai argo, saya malah ingin waktu diputar kembali agar uang 250 ribu kami tak melayang sia-sia. Tiba ditempat, kami dihadang segerombolan mafia desa yang menawarkan pelayaran menggunakan kapal cepat dengan harga mencekik si mandor binal. 400 ribu per orang untuk sekali jalan. Laknatullah kalian!

Bukannya gak punya duit, yah. Tapi seingat saya, sebulan lalu Jorge si teman bule pernah menyebrang kesana dan cuma bayar 120 ribu saja. Kini, orang-orang desa yang maruk itu ingin memperdaya kami, sesama bangsanya sendiri? Taktik busuk cemana pula ini? Biarlah hukum sebab akibat yang akan menghukum kalian menjadi mangsa para raja rimba.

Akhirnya dengan nanar kami menolak lalu bergumul dalam doa sambil sesekali menyelipkan mantra jahat. Berangkatlah kami dengan slow boat alias Ferry. Lumayan kok, cukup merogoh kocek 36 ribu untuk tiket sekali jalan dengan pass card simbolis yang tak berfungsi di seluruh tap-machine seantero pelabuhan. Untungnya, dengan harga segitu kita bisa pilih mau duduk di kelas ekonomi dengan konsep outdoor, atau menikmati pendingin udara dan hiburan televisi di ruangan eksekutif. Tentulah kami memilih opsi kedua dan tidur selama pelayaran menuju Lombok.

Percayalah, sebelum merapat ke dermaga Lembar, mata akan dibuat terpesona dengan lekukan tegas dari bukit-bukit Sekotong. Kalian akan sadar betapa beruntungnya terlahir di Indonesia. Saya terkesima menyaksikan tanah-tanah tandus tampak mengapung diatas Laut Bali. Sayangnya sejak pijakan pertama, seperti ada yang tidak beres dengan tagline kalau "Lombok itu keren." Suasana pelabuhan nampak gersang dan berdebu, tak ada kesan kalau itu adalah pintu masuk yang layak untuk sebuah destinasi idaman.

#1 - INSIDEN SUPIR PENDUSTA DAN FENOMENA RAPUNZEL
Untunglah saya segera memaklumi dan bergegas menaiki bemo putih yang siap diberangkatkan menuju Mataram kota. Supir sepakat mengantar kami ke Mataram Mall setelah melalui penawaran sengit dari 30 ribu menjadi 25 ribu per kepala. Alih-alih sudah punya janji dengan penumpang lain, kami malah diturunkan di pom bensin Gerung dan di-over ke bemo yang lain. Janjinya sih kami tak perlu tambah biaya karena itu kesalahannya, nyatanya supir jahanam itu bersekongkol dengan supir bemo yang baru dan kami malah diturunkan di daerah Cakranegara. Mau tak mau, langkah "peduli kasih" alias "rute ditolak, dompet bertindak" harus dilakukan demi sampai di Mataram Mall yang sepuh itu. Terkutuklah kau supir durjana!

Panggil saya NYONYA BESAR!
Menariknya, selama perjalanan 20km/jam itu kami bermain menebak beberapa fakta sepintas. Tarulah mayoritas pengguna jasa angkutan umum kebanyakan kaum nenek-nenek, yang dengan percaya diri mengubah fungsi handuk sebagai pashmina, kemudian dengan cuek mengenakannya pergi ke pasar hingga kemanapun mereka mau. Ada juga fungsi ganda bemo selain sebagai sarana transportasi ternyata merangkap sebagai losmen berjalan. Terbukti saat salah seorang mama yang dengan luwes menjatuhkan badannya diatas tempat duduk dan langsung melintang cantik untuk tidur di dalam angkot. Jujurly, I'm speechless and I think she'll said "hey, it's me Rapunzel, dude."

#2 - INTRODUCING: THIS IS AMAZING LOMBOK!
Tak lama bemo pun berhenti persis di depan Mataram Mall, perlahan kaki keceh mulai menapaki tanah Mataram. Sekilas, pemandangan kota ini tak begitu sememukau bayang-bayang ilusi, tak ada hal yang membuat saya berdecak kagum, selain kedai sederhana yang menjual seporsi Ayam Taliwang palsu beserta Es Teller gila yang tampilannya lebih mirip Es Cendol. Sisanya, mungkin cuma pelayan cuek tak responsif dan air mancur di kolam ikan yang juga berfungsi sebagai tempat cuci tangan yang berhasil mencuri perhatian kami.
Es Teller aneh & seperangkat Ayam Taliwang yang menggoda selera

Mencari transportasi pun tak sulit, banyak bemo, ojek, cidomo (andong), dan taksi papan atas yang berseliweran di pusat kota. Kami sepakat menyewa bemo menuju Bangsal untuk melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan. Selama perjalanan itulah mata saya terbuka lebar-lebar dan baru menyadari betapa rupawan alam Lombok. Di pinggir jalan terdapat pemukiman warga yang masih sangat tradisonal, sedang di ujung sana terhampar perkebunan hijau penopang kehidupan. Melewati Monkey Forest, saya dipaksa bangun dari kursi dan meraba-raba jendela bemo lalu meracau kegirangan menyaksikan punggung sintal bukit-bukit segar berbalut embun berselimut awan.

Tiba di Bangsal, kami langsung berebut tiket penyebrangan terakhir yang hampir habis terjual. Sekali lagi, perjalanan ke Gili Trawangan nampak menawan. Rombongan perahu reyot bak melayang diatas jernihnya lautan, perjalanan itu seperti dikawal senja yang mampu menidurkan amarah. Begitu pun saat tiba di tujuan, butir-butir pasir nampak berkilau lantas mempersembahkan cahaya selamat datang untuk para tamu yang kelelahan.

Sejujurnya, Gili Trawangan seperti gadis jelita asli pribumi yang terobsesi ingin menjadi bule. Masih perawan namun bersolek bak janda gemilang. Rumah penduduk yang sederhana dipersandingkan dengan cottage buatan luar negeri yang terlihat mengagumkan. Moda transportasi hanya diperbolehkan untuk sepeda dan cidomo, sedangkan faktor kenyamanan dan keamanan wisatawan, kita tidak bisa membandingkannya dengan Bali. Mereka masih terlalu kaku untuk menjadi tuan rumah yang baik.

Alih-alih ingin menyaksikan matahari terbenam dari sunset point yang paling tersohor, kami harus ikhlas merogoh kocek 20 ribu rupiah untuk sekaleng kokakola berhadiah sedotan demi parkir pantat di kursi malas. Sudahlah apa-apa serba mahal, sepeda yang disewa pun harus 3x diganti karena rusak ditengah jalan. Tapi jangan khawatir, walau judulnya mereka tetap memelihara "kearifan lokal", toh anjungan ATM juga banyak tersedia disana.

Sunset view dari Gili Trawangan
#3 - I LOVE INDONESIA
Saat malam tiba, saya dan Rani bergegas menuju pasar malam demi bertemu Mbak Erry untuk candle light dinner bersama. Sebelumnya saya dan Erry hanya berkomunikasi lewat sebuah milis Couchsurfing, kebetulan kami sama-sama ingin menjajaki Lombok tanpa itenerary dan memilih melangkah berdasarkan hati. Disanalah kami berkoalisi untuk traveling bersama dan meracuni otak Rani untuk segera resign dari kantornya (lalu sebulan kemudian Rani beneran resign. Jengjeng!) Setelah mengatur agenda besok pagi, Erry pamit ke homestay-nya, sedangkan saya dan Rani malah menyantap angin malam di bibir pantai, kami berbincang ringan tentang hakikat kehidupan, misi masa depan, mengolok-olok hentakkan musik disko yang menjadi latar belakang, hingga memuji gulungan ombak yang sudah jelas-jelas tak dapat mendengar bahasa manusia.

Tepat jam tujuh pagi, saat matahari pecah menembus perut Nusa Tenggara Barat, kami bergegas meninggalkan Gili Trawangan dan kembali ke pelabuhan Bangsal. Erry menyapa kami dengan senyum selamat pagi beserta tiga karcis ditangannya. Penyebrangan kali ini begitu teduh, nampak di ujung dermaga seorang pemuda tegap telah menunggu kami dengan Avanza silver. Itulah fasilitas antar-jemput yang diberikan mitra kerja Erry selama dia melakukan "kunjungan kerja berkedok jalan-jalan" di Lombok.

Dalam perjalanan menuju Sekotong, berkali-kali saya tepukau dengan pesona alam Lombok. Mulut terkunci rapat, pandangan terpana pada alam diluar jendela, dari kepala hingga seluruh badan bergerak cepat membidik pemandangan yang saling tarik ulur dengan mobil yang semakin melesat. Berhubung perjalanan dimulai dari Bangsal, kami harus melintasi kota Mataram - Gerung - Sekotong - baru ke pelabuhan Tawun. Mulai dari Pantai Malimbu hingga Pantai Senggigi juga kami jabanin, tak lupa pak Andri selaku driver menambahkan bumbu-bumbu histori di setiap objek. Boleh dikata, dia juga merangkap guide kami hari itu.

Saya merasa seperti terdampar ke belahan bumi tak berpenghuni yang mempersembahkan lautan hijau toska yang mahaluas, jajaran pulau mungil nan rimbun, teluk-teluk sempit berpasir putih, hingga barisan pegunungan yang menjulang menusuk langit. Jalan berkelok-kelok pun terasa lurus, bahkan saat memasuki daerah Sekotong yang fantastis itu, Deep Blue Sea milik Anggun C. Sasmi sukses menjadi backsound mewakili momen penuh rasa nasionalis yang menggebu-gebu. Sungguh, butuh berapa ratus kali saya harus bilang I Love Indonesia!

#4 - ANTARA SNORKELING, RHOMA IRAMA, DAN MUSIM KAWIN
Jalanan rusak merupakan tanda akurat saat memasuki daerah Tawun, selain juga saat Pelabuhan Lembar sudah dilewati. Tiba di dermaga penyebrangan Tawun, mobil langsung diparkir dan kami segera turun melakukan negosiasi. Ebrong kadebrong! Pemilik perahu sepakat di harga 300 ribu untuk tour sampai puas keliling Gili Nanggu, Gili Sudak, dan Gili Tangkong. Tentunya ini tak lepas dari peran penting Andri yang ternyata kenal dekat dengan pak nelayan sang pemilik perahu, saya lupa persis namanya. Karena sebelumnya, saat saya coba mengontak lewat telepon, kami diberi harga 600 ribu untuk biaya sewa perahu berukuran kecil. Danke lai, Andri.

Sebenarnya, misi utama kami ke Gili Nanggu adalah untuk jalan-jalan di atas air alias snorkeling. Hampir 4 jam kami habiskan disana sebelum menyudahi ritual bermain air kami dan kembali ke Tawun karena alasan cuaca. Puas memporak-porandakan lautan Sekotong, kami melangkah ke misi selanjutnya, menyambangi pemukiman adat suku sasak di dusun Sade, desa Rembitan, Lombok Tengah.

Dalam perjalanan menuju Sade, kami kembali melewati Gerung dan Mataram sebelum tiba di tujuan akhir, Praya. Namun berhubung kami juga harus mencarikan penginapan untuk Erry, maka durasi diperpanjang satu jam untuk jelalatan mencari hotel di kawasan kota tua Ampenan yang eksotik, kemudian mampir makan siang di salah satu kedai yang menurut Andri paling tersohor seantero Mataram dengan alasan tempat favorit Rhoma Irama. Saya ulangi yah, TEMPAT FAVORIT RHOMA IRAMA. #YaMenurutNgana

This is it: Nyongkolan
Yang tak kalah penting, saat mobil melintas di baypass menuju Praya, kami berpapasan dengan dua rombongan Nyongkolan yang fantastis. Sebagai informasi, Nyongkolan adalah prosesi arak-arakan calon mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dilakukan dengan berjalanan kaki hingga 10km serta diiringi oleh pasukan orgen tunggal menggelegar di ekor barisan. Masih menurut Andri, ini merupakan tradisi pernikahan asli suku sasak yang hanya dilakukan saat musim panen tiba dan cuma ada di akhir pekan saja. Jadi, kesimpulannya adalah, musim panen sama dengan musim kawin.

#5 - KEJUTAN SADE, LEBIH MENGEJUTKAN BIL
Kami tiba di Sade saat matahari mulai undur diri, tepat tiga jam sebelum saya dan Rani harus menuju bandara untuk kembali ke Bali. Silakan menyumbang secara sukarela di gerbang masuk pemukiman dan lihatlah betapa tinggi nilai budaya yang masih mereka pelihara. Umumnya rumah khas suku sasak ini beratapkan ijuk, dengan kuda-kuda dari bambu tanpa paku, dinding disanggah dari anyaman bambu, dan lantai terbuat dari tanah. Uniknya, orang sasak sering menggunakan kotoran kerbau untuk mengepel lantai. Jorok? Tidak! Bahkan berguna untuk menghangatkan lantai dan mengusir nyamuk. Anehnya tak sedikitpun saya mencium bau kotoran atau bau yang menyerupai kotoran itu selama berada di dalam rumah.
Nenek tukang palak

Sayangnya, pemerintah terlalu mengkomersialkan Sade dan terkesan kurang mengedukasi masyarakat tentang kiat-kiat menjadi tuan rumah yang baik. Terbukti saat kami bermaksud mengabadikan setiap sudut pemukiman cantik ini, muncul lah seorang nenek enerjik yang langsung berpose ala tampang "menderita" dan sekejap memalak kami bertubi-tubi. Saya pun pasti tergerak untuk berbagi rezeki, tapi mungkin bukan dengan cara-cara brutal seperti itu, nek.

Meninggalkan Sade, kami bergegas kembali ke Praya untuk menurunkan saya dan Rani di tujuan akhir, bandara. Memasuki gerbang BIL (Bandara Internasional Lombok), saya terbelalak menyaksikan euphoria warga Lombok memperlakukan orang-orang yang hendak bepergian. Dari jauh terlihat sebuah mobil pick-up dengan boks jeruji besi yang nampak satu keluarga besar sedang umplek-umplekan didalam sana. Kata Andri "disini sudah tradisi, yang berangkat sebiji, yang ngantar satu dusun."

Benar saja, memasuki area bandara, perkataan Andri semakin nyata. Tempat parkir kendaraan telah berubah menjadi tempat piknik. Para pengantar akan segera membuka lapak saat orang terkasih telah lepas landas. Mereka menggelar tikar dan berbagi tawa hingga berbagi rantang, bahkan ada penjual balon dan penjaja sticker superhero. Tertib? Jangan harap! Kami sampai tak percaya mereka tega melakukan itu pada bandara yang baru diresmikan. Sampah dimana-mana, sama banyaknya dengan balita yang diboyong oleh orang tua mereka. Mobil parkir di tempat motor, motor parkir di jalan keluar, orang-orang tidur melintang di taman.

Sebelum masuk, kami bahkan rela mengabadikan momen bersama saking lucunya dan masih belum percaya ini semua terjadi di Lombok. Erry dan Andri lalu melanjutkan misi menyantap Sate Rembiga, sedangkan saya dan Rani nyaris pingsan saat seorang nenek menyerobot pandagan kami dan berlenggang santai menenteng ember hitam menuju toilet bandara. Mau tahu apa yang terjadi? Dia mencuri air demi mencuci piring di lapaknya dan dengan penuh kegagahan berjalan mantap menghiraukan petugas Angkasa Pura yang berjaga dihadapannya. Eike speechless!

Kejutan tak berhenti disitu, justru semakin kedalam semakin parah. Kami berhasil masuk tanpa pemeriksaan dokumen yang lazim dilakukan di tiap pintu masuk bandara. Lolos detektor, saya dan Rani menuju konter check-in yang futuristik. Tak ada antrian disana, saya bahkan berani jamin saat itu mungkin cuma kami satu-satunya penumpang yang ada disana. Bandara baru ini cuma berisik karena mesin detektor, suara announcer pun nyaris tak ada, padahal baru jam tujuh malam.

Dari kiri: Erry, Saya, dan Rani
Pijakan pertama di lantai dua, kami berinisiatif menuju salah satu convenience store yang juga sepi. Dari jauh seorang karyawan memberi kode "toko sudah tutup", padahal masih buka dan mungkin baru bersiap untuk tutup. Jika saja ini di Bali, saya yakin kami pasti sudah diterima dan dilayani sebelum mereka benar-benar memasang gembok. Begitu pun dengan satu-satunya mesin penjual minuman kaleng yang tak pernah merespon setiap transaksi. Karena masih tak percaya melihat kondisi bandara yang begitu sepi, kami memutuskan untuk segera masuk ke ruang tunggu. Sama saja, tak ada siapa-siapa disana, ah, untunglah saat beralasan ingin keluar mencari colokan kami masih dipersilahkan.

Satu jam kemudian, petugas maskapai "baling-baling" memberi komando untuk boarding. Kami pun hanya berbagi antrian dengan sekitar 30 orang yang datang belakangan. Tak berapa lama, pintu ditutup dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dinyalakan, pertanda kami siap lepas landas meninggalkan Lombok Praya. 15 menit di udara dan saat saya dan Rani belum berhenti membahas pesona Lombok, abang pilot mengumumkan bahwa kami sudah masuk wilayah Bali dan bersiap untuk mendarat. Apa, bahkan saat atap BIL pun masih kelihatan? Nyatanya kami memang benar-benar melayang dan telah menyebrangi Laut Bali dibawah sana.

Sungguh, saya dan Rani tak henti-hentinya bertatapan sambil tertawa lepas seraya mengucap kekaguman atas Lombok yang tak pernah berhenti memberikan kami kejutan, bahkan saat kaki ini telah sejengkal meninggalkannya. Itulah Lombok, tanah yang selalu memiliki seribu alasan mumpuni untuk menarik saya kembali kesana dan menertawakan diri sendiri karena tak pernah berhasil memprediksi kejutan-kejutannya.


I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.