A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

11 Agustus, 2013

NEKAT DEMI THREESOME

Bila ada yang berpikiran bahwa wisata andalan Nusa Tenggara Barat cuma ada Lombok, Gili Trawangan, Meno, dan Air, berarti kalian sungguhlah malang, kawan. Lupakan juga pesona Pantai Kuta, Senggigi, Malimbu, dan Tanjung Aan. Mari sini rapat-rapat, om nak bawa korang berseronok sikit kat Gili Nanggu. Jom tak perlu risau, ai takde buat kesilapan, santai jela!

Sebagai informasi, Gili Nanggu terletak di kecamatan Sekotong, tepatnya di kabupaten Lombok Barat. Perlu diingat, komplotan Gili Nanggu dan geng Gili Trawangan adalah dua hal yang berbeda, yah. Gili Trawangan, Air, dan Meno adalah penguasa surga di pucuk utara pulau Lombok, sedangkan "The Threesome Gili's" alias Nanggu, Sudak, dan Tangkong adalah pemegang kuasa pesona di bagian barat pulau Lombok. Walaupun dari segi ukuran Gili Nanggu dan kawan-kawan masih kalah saing dengan pasukan Trawangan, namun percayalah, wujud nirwana sebenarnya ada di pihak Nanggu.

Gili Nanggu, Sekotong
Saya, Rani, dan Erry dibuat kelimpungan menyaksikan penampakan Gili Nanggu dari kejauhan. Sebelumnya, kami tiba di pelabuhan Tawun tepat pukul dua belas siang. Andri yang adalah driver merangkap guide langsung bergegas negoisasi ke para nelayan agar kami diberi harga sewa perahu yang masuk akal. Maklum, sebelumnya mereka membanderol harga 600 ribu per perahu saat saya melakukan pemesanan lewat telepon sehari sebelumnya. Ulala! Untungnya mereka sepakat mengganti angka 6 menjadi 3 untuk tour keliling Gili Nanggu, Gili Sudak, dan Gili Tangkong sepuas-puasnya. Mengingat tujuan utama kami adalah untuk snorkeling, melayanglah 60 ribu rupiah segar untuk biaya tambahan sewa Mask, Snorkel, Fin, dan Life Vest.

30 menit menunggu, datanglah perahu biru eye catching yang siap mengantar kami ke pangkuan pulau berpasir putih. Perjalanan singkat terkesan seperti menghabiskan separuh usia saking tak mampu membendung semangat yang makin meletup. Tiba di Nanggu, saya seperti kehilangan pijakan nadi pengatur harga diri, rasa-rasanya ingin berjalan dengan gaya sakti dan jumpalitan menggunakan gigi. Memukau sekali jendral!

Berhubung skenario utama bukan untuk leyeh-leyeh, tebar pesona, foto-foto, dan bermain istana pasir yang memalukan. Maka dengan ini saya nyatakan kami telah membajak perahu dan menyandera mas masinis untuk membuang kami ke tengah-tengah lautan, lebih tepatnya diantara Gili Nanggu dan Gili Tangkong. Sungguh, jika waktu itu kami benar-benar melakukan peyanderaan, saya mungkin sudah mengancam "bawa kami sekarang, atau kau akan hanyut bersama kami ditengah lautan."

Saat seperangkat alat renang telah melilit ketat di badan, saya tertatih menuju bibir perahu, bersiap melakukan lompatan bunuh diri dan... Byuuurrr!! Basah sudah segenap jiwa pengagum terumbu karang yang tak pernah tenang. Lautan bak tumpukan spring bed kerajaan, terasa empuk walau dinginnya mampu membuat belang-belang tulang belakang. Segarnya tak tergambarkan.

Lantaran ingin terlihat seperti perenang andal, saya malah terjebak dalam orientasi buruk kaum remaja. Kepala sudah tak sudi dibenamkan, badan pasrah pada pelampung tak berdosa, gaya renang hanya ngangkang-tutup paha saja. Penyebabnya? Saya sedang asyik berpose nista demi selembar foto untuk modal pamer di dunia maya. Sungguh memalukan sekali. Tapi demi biota laut yang sangat rupawan, itu hanya bagian dari kegembiraan yang tak bisa dibayangkan. Sudahlah Raulemos, berhenti membuat bantahan dan sujudlah di kaki nelayan. Baiklah!

Demi pose begini, pasrah minum air garam sampai kembung.

Dua jam pertama kami membombardir energi dengan berenang di kawasan terumbu karang Gili Tangkong yang menawan. Sebelumnya, kami memilih hengkang dari kawasan Nanggu yang semakin banyak didatangi sampan, selain juga karena alasan cuaca yang memaksa kami harus mempersingkat waktu. Untunglah sejak di Tangkong, saya, Rani, dan Erry tak pernah membahas hal-hal lain kecuali fokus berenang dan memberikan potongan biskuit kepada ikan-ikan kecil yang menggemaskan. Kami sungguh menikmati kesempatan yang entah kapan akan terulang, sampai tiba-tiba badai datang dan merajam semua perenang amatiran.

Masinis segera memberi komando untuk bergegas kembali ke perahu, saya pun menurutinya walau dengan mimik yang tak berkeprikemanusiaan. Tapi sejujurnya, sebelum benar-benar kembali ke pelabuhan Tawun, kami masih mampir merasakan sensasi menyambut hujan di daratan Gili Tangkong. Jika harus dijelaskan, saya cuma bisa bilang kalau rasanya seperti beradiri di atas kuburan sendiri! Cantik sih, tapi dengan badai dan mimik awan yang hitam mencekam, lebih baik saya menyerah dan pulang.

Namun dalam perjalanan pulang, darah ini seperti mendidih dan memaksa segera unjuk gigi menaklukan alam. Tiba-tiba saya merasa seperti terlibat dalam kenangan masa kecil dulu, saat setiap pekan selalu mengarungi lautan Ternate-Tidore bersama alm. nenek, dan selalu merasa tenang saat wajah yang terlanjur pucat pasih ditampar dengan senyum khas sang nenek. Sungguh, jati diri sebagai anak kepualauan segera berkibar, kemudian menuntun saya keluar dari badan perahu dan duduk di bambu yang menjadi penyeimbang di tiap sisinya. Saya menikmati butir-butir hujan, merasakan hembusan angin kencang, sambil sesekali menahan pukulan ombak yang mampu menjatuhkan badan. Tidak takut jatuh dan tenggelam? Tidak sama sekali! Kan ada pelampung. Lha, tadi kan katanya anak kepulauan, kok pakai pelampung? Diam saja! Intinya kan ada ada pelampung. Hih!

Life Vest-ku harapan hidupku
Perjalanan singkat yang mengagumkan ini kami akhiri dengan adegan balas dendam atas semangkuk mie kuah pedas. Benar-benar sempurna, walau hanya sempat melintasi Gili Sudak, kami merasa seperti telah menetap bertahun-tahun dan mengetahui segala pesona di tiap gili. Bagaimana tidak, lihat saja empat jam telah berlalu dan tak seorang pun tahu.

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.