A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

12 Agustus, 2013

THE POWER OF TRAVELING

Sampai saat ini, saya masih sering mendapat pertanyaan sejuta umat tentang keuntungan dan manfaat traveling. Mulai dari bagaimana mencari modal jalan-jalan, apa tanggapan orang tua, reaksi pimpinan, ekspresi pacar, hingga bagaimana perasaan setelah melakukan perjalanan. Nah, bagi para kaum dengan hasrat ingin tahu yang mungkin melebihi IQ Albert Einstein, pada dasarnya adalah uang dari bekerja, keluarga malah mendukungnya, pimpinan berlapang dada, pacar tak banyak suara, dan perasaan sudah tentu bahagia. Sayangnya ada satu hal yang jarang terpikiran, ialah tentang pengalaman berharga dan pelajaran untuk semakin dewasa.

Menjadi pengelana dan melakukan perjalanan adalah impian jiwa-jiwa pencari kodrat manusia. Kami berjalan, mengayun langkah menuju ruang-ruang cerita, berbaur bersama fakta dunia, tersenyum bersama para pemburu cita-cita, dan menangis diantara tatapan nanar realita. Saya, dia, kamu, dan teman-teman pejalan lainnya adalah satu dari sepuluh spesies manusia yang ingin belajar mengenali hidup dari setiap jengkal alam semesta.

Dulunya saya juga seperti para awam yang tak paham, hingga akhirnya terjebak dalam sandiwara melalang buana yang ternyata menyimpan banyak pelajaran berharga. Bagaimana bisa, bukannya dengan bergelar siswa dan duduk di kelas kita sudah belajar tentang segalanya? Benar sekali! Tapi sayangnya, sejak Adam diturunkan di muka bumi pun ia sudah dibekali dengan bibit-bibit ilmu yang mampu menambah jumlah manusia dari dua menjadi tiga. Itulah mengapa saya tetap percaya mahal tidaknya sebuah kepala bukan dilihat dari rekam jejak sekolah berharga gila, melainkan sudah sejauh mana dia mengeruk jiwa dan menjadi bagian dari isi dunia yang menyembah sang pencipta.

Itu jualah alasan menjadi seorang pengelana merupakan panggilan jiwa yang sebenarnya telah ditakdirkan sejak garis-garis tangan dirangkai oleh Tuhan. Katakanlah dari jalan-jalan saya akhirnya belajar menghargai tiap profesi rendahan bagi sebagian setan yang merasa kerjaannya sudah sangat membanggakan.

Masih terekam jelas di memori kepala saat dalam pelayaran Bau-Bau menuju Makassar, saya yang waktu itu hanya membeli tiket kelas ekonomi, harus ikhlas menjual lelah di koridor kumuh bersama tumpukan dus dan wajib waspada dari ulah pemabuk dan perampok. Kebetulan disamping saya ada seorang nenek renta yang nekat bepergian sebatang kara, akhirnya karena desakan naluri miss persahabatan, saya mendekat dan memancingnya berbagi cerita-cerita hebat. Dari ujung pintu saat kapal merapat di dermaga Makassar, ia berdiri, memejamkan mata, mengusap kepala, dan memberkati saya dengan segala doa bertahtakan bait-bait harapan kebaikan. Dari situ saya belajar menghargai manusia tanpa memandang usia dan status sosial, disana jua saya akhirnya mengerti arti pembalasan dari sebuah perbuatan kecil yang ternyata berkesan bagi orang lain.

Saat di Bone, Sulawesi Selatan, saya dan dua sahabat sepakat memakai jasa driver hotel pergi ke pesta pernikahan agar terkesan hebat dan mengagumkan. Lalu kemudian kami menyesal saat menyadari jika sang supir memiliki cacat fisik bawaan di kedua kakinya, sungguh air keharuan bagai membeku di sudut-sudut mata. Penyesalan dan berjuta-juta rasa bersalah akibat terlampau sombong bak menghujam dada dan menampar-nampar nafsu keangkuhan. Olehnya saya mengerti betapa mencari makan itu sulit, juga tak ada artinya meratapi kekurangan hingga nanti menjadi penghuni kuburan. Hidup adalah pelajaran, lingkungan adalah ujian, kemauan berubah adalah kesempatan, serta menjadi berharga adalah pilihan dan bukanlah takdir Tuhan.
Kiri: Supir penderita disabilitas di Watampone. Kanan: Om Kifli, pedagang kaki lima di Surabaya
Berbeda dengan di Surabaya, disana saya belajar tentang arti berkawan, tentang imbalan dari kerja keras, tentang keikhlasan, rendah diri, dan tentang sebuah perjuangan. Namanya Om Kifli, seorang lajang kemayu penjual makanan khas Papua dan Maluku. Senyumnya mampu menanangkan perasaan, sangat tulus seperti senyum khas Indonesia timur kebanyakan. Pengalamannya melintasi zaman dari berprofesi sebagai chef hotel berbintang hingga direndahkan bak binatang telah sukses mengantar seporsi Papeda hangat saya tandas tak berbekas. Ia, si penghuni kost-kostan sederhana itu lalu melepas saya dengan tatapan kosong bagai ditinggal anggota keluarga yang telah lama hilang. Tuhan, darinya pula saya menemukan arti dari sebuah perjalanan. Kekeluargaan.

Ada pun di Palembang, namanya Mbok Cidek. Awalnya saya tak sengaja menunggu pesanan taksi untuk menuju bandara, karena suka berbasa-basi, saya menuju meja resepsionis dan memuji keramahannya serta fasitilitas hotelnya. Kami bercerita panjang lebar sampai ia mengutarakan mimpinya bahwa suatu hari nanti ia ingin seperti saya, berkeliling Indonesia dan punya teman dari segala bangsa. Sayangnya, upah sebagai penjaga hotel, kuli bangunan, dan tukang cuci piring masih tak cukup untuk mewujudkannya, bahkan 25 tahun sejak program transmigrasi berlalu ia tak pernah kembali ke Jawa. Kami berpisah saat seorang tamu datang dan menuduh barang berharga yang hilang di kamarnya adalah akibat kelalaian Cidek, baginya apapun yang terjadi di dalam hotel ialah tanggung jawab penuh resepsionis.

Dalam langkah menuju taksi, saya berbalik memberi salam perpisahan untuknya, dari jauh Cidek membalasnya dengan lambaian tangan diantara genangan air mata. Ia dihardik manager hotel dan tamu keparat yang mengiming-imingi penjara untuknya. Satu pesan moral yang bisa dipetik: Selalu introspeksi diri dan junjung tinggi rasa menghargai profesi orang lain. Menjadi pelanggan bukan berarti langsung mendapatkan mahkota raja, karena sesungguhnya itu hanya slogan marketing untuk propaganda saja.

Saat di Balikpapan, saya memilih duduk berdampingan dengan sang supir dalam perjalanan menuju penangkaran buaya di Teritip, tarulah namanya pak Ikam. Saat itu juga saya langsung didaulat menjadi tempat curahan hati beliau. Ia bercerita panjang lebar tentang fakta pisau hukum di negara ini yang hanya tajam kebawah. Setiap hari ia dan kawanan supir lainnya berebut antrian dengan tronton milik perusahaan raksaksa demi setetes bahan bakar hasil subsidi negara. Sungguh saya tak pernah tahu karena hal-hal seperti ini jarang dijual media.

Atas: Pak Ikam lagi fokus curhat. Bawah: Bu Yati nyaris mangap

Dibelakang kursi kemudi, ada Bu Yati, dialah satu-satunya penumpang didalam angkot selain saya. Ia berbagi cerita tentang pengalaman menjadi imigran gelap di Brunei dan Malaysia, sudah tentu faktor apatis pemerintah dan birokrasi yang berbelit-belit sehingga ia memilih meloncat ke negara tetanggga. Menurutnya, jika tak berbohong menjadi warga asli mereka, ia hanya diperkenankan menyekolahkan anak-anaknya hingga level SMA saja. Pemerintah negeri tetangga selalu mengutamakan kaum bumiputera untuk menganyam pendidikan setinggi-tingginya. Hukum negara juga selalu menomorduakan pendatang dan imigran, apalagi jika hanya sekelas tenaga kerja Indonesia, sungguh akan dipersulit jika tanpa surat kuasa dari para majikan yang meraja. Kesimpulannya, saya bahagia bisa menjadi bagian dari "pengakuan dosa" mereka, setidaknya saya juga bisa mengetahui rahasia negara walau bukan dari media massa.

Demikian juga dengan pelajaran berbangsa dan bernegara. Ini pun masih dalam kunjungan ke Bau-bau dulu. Adalah sosok pastor Martinus yang menjadi panutan saya dalam menjaga tradisi toleransi beragama. Disana, di satu-satunya gereja katolik itu, saya disambut bak tamu terhormat, lalu dipersilakan beristirahat di kamar calon pastor dan tentunya tidur bersama dengan Alvin, si calon pastor yang sekarang sudah menjadi seorang pastor. Di bilik kecil itu, saya tetap diizinkan mendirikan sholat, bebas bersujud dan melafalkan ayat-ayat Al-quran diantara mozaik Yesus Kristus dan Bunda Maria. Saat tiba waktu makan, saya, pastor, dan dua teman nasrani lainnya duduk bersama dan menyantap hidangan tanpa ragu. Tak perlu takut, sebelumnya pastor telah meminta warga muslim yang tinggal di sekitar gereja untuk memasak hidangan saya sesuai syariat Islam. Tak tanggung-tanggung, warga bahkan langsung mendatangi dan menyampaikan agar saya tak perlu khawatir masalah ini-itu, pastor bahkan sudah memberitahu mereka jika dia kedatangan seorang tamu terhormat, ialah seorang saudara muslim yang bisa berbaur dan tak canggung dengan gereja.

Tak berhenti disitu, yang paling menyentuh bahkan saat pastor Martinus, Lusi, dan Ririn, yang ketiganya adalah pengikut Yesus malah dengan bersemangat menemani saya mencari mesjid terdekat untuk mengikuti ibadah Sholat Jumat. Ah, saya bahkan merasa masih belum cukup membalas kebaikan mereka dengan oleh-oleh liontin salib dari besi putih yang saya beli sejak pulang ke Ternate dulu. Kini, saya bahkan tak ragu memberi ucapan selamat Natal untuk mereka. Bukan karena berani melawan aturan, tapi jika memang saya keliru, biar Tuhan jua yang langsung membuat perhitungan. Karena sesungguhnya saya hanya ingin membuktikan jika di Islam, kami juga lihai memelihara hubungan baik lintas agama, dan kami tak sekaku berita-berita memalukan di televisi. Tuhan pun begitu, rahasia-Nya terlalu agung untuk bisa diterka, antara boleh-tidaknya berbuat adil antar sesama, semua takkan bisa dijawab jika cuma mengandalkan kepala tanpa melibatkan hati.

Jadi, mulai hari ini, berhenti melihat kegiatan traveling sebagai ajang buang-buang duit dan pendongkrak status sosial semata. Karena sejujurnya, kami bukan pergi bersenang-senang, melainkan pergi sekolah, sekolah yang tenaga pengajarnya adalah hasil kolaborasi harmonis antara Tuhan, alam, dan lingkungan.

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.