A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

19 September, 2013

LIBURAN ALA TUKANG TIPU

Beberapa tahun lalu saya pernah menetap di Makassar dalam waktu yang cukup lama, kemudian sempat bekerja di salah satu travel agent terkemuka di Kota Daeng. Owner dan manager kami memang jarang ada di kantor. Kalaupun datang, paling selepas makan siang sudah pada pulang, begitu pun dengan HRD-nya, lebih banyak turun di lapangan.

Huru-hara bermula saat selesai jam makan siang, sang manager tersayang dengan gegap gempita mengabarkan pesta diskon yang sekejap memanaskan telinga kami. Namun layaknya promo diskon kebanyakan, pastilah punya syarat dan ketentuan, salah satunya promo tidak berlaku di semua gerai cabang. Untuk mendapatkan produk impian, kami hanya boleh membelinya di gerai cabang yang ditunjuk, dan.. Bimsalabim! Brand sok cantik itu cuma mengadakan promo potongan harga di gerai cabang Sultan Hasanuddin alias di dalam terminal bandara. Gila!

Secepatnya kami berembuk, menyusun taktik, menangkap solusi, serta menepis risiko. Tepat selepas pulangnya manager, kami berbondong-bondong menyerbu meja Mbak Hamorah, dialah Ticketing Supervisor yang bertanggung jawab atas segala ide busuk ini. Divisi Tour, Accounting Officer dan beberapa teman Massenger juga turut antusias dan saling mengingatkan agar apa pun keputusannya supaya tak sampai di telinga atasan.

Hasil "rapat" telah memutuskan kita akan membumihanguskan bandara demi nafsu belanja yang terlanjur menggelora. Untuk urusan masuk ke dalam terminal, Hamorah sudah menyiapkan tiket untuk kami semua. Ah, cukup acting menjadi calon penumpang agar tampak meyakinkan di pintu keberangkatan. Tak tanggung-tanggung, credit card pak manager yang limitnya sampai sekonci-konci sorga telah berhasil kami genggam.

Kami bersiasat mengabarkan ke semua sub-agent dan mitra kerja agar secepatnya menyelesaikan transaksi sebelum pintu kantor ditutup rapat-rapat. Mesenjer melakukan pengantaran lebih cepat dari janji, tiketing memanipulasi time limit dua jam lebih awal, akunting tutup kas sewenang-wenang, tour division menunda follow-up rombongan dinas untuk esok pagi. Kami semua larut dalam gegap gempita yang menyesatkan, kemudian bersekongkol menyudahi kerjaan satu jam lebih cepat.

Telepon berantai berdering hingga ke seluruh lantai, rekan travel sebelah sibuk menanyakan desas-desus kami bervakansi massal. Jangankan memberi ucapan selamat, yang tak percaya dan memaksa kami bersumpah juga ada. Intinya, semakin tak percaya reaksimu, maka semakin keji kau ditipu. Kami kompak memberi berita palsu seolah-olah "OWNER MEMBERI KAMI INSENTIF DENGAN CARA MEMBAGI-BAGIKAN TIKET LIBURAN GRATIS SEHARI SEMALAM DAN MENUTUP KANTOR HINGGA WAKTU YANG BELUM DITENTUKAN." Keparat sekali sodarah-sodarah!

Saat semua sibuk merapihkan meja kerja, saya dan beberapa teman sedang berada di lantai dua. Ada yang sedang bersolek, membereskan ruangan, menatap melankolis ke luar jendela, hingga yang mengawasi gerakan jarum jam untuk menanti waktu berbuka puasa. Saya yang baru keluar dari toilet langsung ikut terlibat dalam drama penipuan Nessie atas Farah.

Farah adalah staff umum yang bertugas memeriksa segala kebutuhan kantor, dan sejak skandal "liburan akbar" dihembuskan, tak satu pun episode yang melibatkan dia didalamnya. Itulah mengapa ia tampak kebingungan dan dengan segenap jiwa menelan mentah-mentah bualan Nessie, walau sebenarnya Farah juga mendapatkan "tiket liburan" dari Hamorah.

"Ya ampun, mbak Farah masak gak tahu sih? Kita kan nanti sore lepas pulang kantor langsung berangkat ke Jogja, gih sana pulang beres-beres."  Nessie berbuat dosa dengan mantapnya, dan entah kenapa Farah bak terpasung akal dan hatinya, lalu dengan sukacita mempercayainya. Semua orang tak pernah peduli dengan Farah, hingga saat dia mengayunkan langkah menuju rumah pun kami tak menyadarinya.

Etsca bergegas mengambil mini travel bag di rumah Hamorah, yang lainnya sibuk meratakan make-up agar terlihat selaras dengan koper yang akan digeret nanti. Tiba jam pulang kerja, Etsca dengan sabar menanti langkah gemulai tiap kawan untuk menuju ke Avanza miliknya. Sedangkan saya dan beberapa teman lain memilih berangkat dengan sepeda motor saja.

Sebelum berangkat, rombongan Avanza mampir menjemput Farah di rumahnya. Maklum, jarak dari kantor ke tempat tinggalnya hanya sejauh lompatan kodok dalam tempurung, dekat sekali. Farah dilepas bak pahlawan negara yang berhasil menyatukan pulau Samalona ke Indonesia. Kakek, nenek, ponakan, dan serentetan saudara melambaikan tangan layaknya ia hendak mencari ilham di tanah Jawa. Kakeknya bahkan sampai menitipkan beberapa lembar rupiah untuk membeli batik asli khas Yogyakarta. Ah, Farah menuju Avanza dengan kebahagiaan yang tak terkira.

Di bandara, kami berkumpul untuk proses rekayasa kelakuan. Semua berlagak bagai penumpang sibuk yang buru-buru terbang tanpa tujuan. Tiket palsu dibagi-bagikan dan dengan kekuatan mantra jahat kami semua lolos melewati pemeriksaan petugas Angkasa Pura dan seperangkat detektor yang tak sanggup mendeteksi kebohongan. Segala wajah dari tiap manusia nampak sumringah, tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, kini saatnya membuat para SPG (sales promotion girl) brand kenamaan itu bertekuk lutut dihadapan tas belanja kami.

Etsca melanjutkan kejayaan berbual ala Nessie, ia meyakinkan Farah jika ajang belanja-belanji ini hanya selingan selagi menunggu jadwal pesawat. Dan Farah tetaplah Farah, ia masih saja mengangguk polos sembari naik pitam memberi kami semangat mengacak-ngacak gerai laknat.

Tepat jam lima sore, kurang satu jam sebelum waktu berbuka puasa. Kami kembali berbuat rencana busuk, sekejap terpikirkan rumah pak manager untuk menjadi sasaran amukan perut. Banyak faktor "kebetulan" yang menjadi dasar alasan untuk berbuka puasa disana, tentu karena jarak rumahnya yang dekat dengan bandara, dan atas pertolongan Tuhan ternyata di hari yang sama beliau sedang mengadakan buka puasa bersama. Ulala.

Etsca dan saya bingung mengatur skenario pamungkas, sampai akhirnya kami bersepakat akan mengakhiri penipuan ini dengan cara kekeluargaan. Farah masih sibuk bertukar tawa dengan teman-teman lain di ruang tunggu, ia tak pernah tahu betapa kepala kami nyaris meledak demi mencari "obat penenang" untuknya. Hamorah, Rince, Vince, Abishak, dan beberapa teman lain bertugas untuk mengalihkan konsentrasi Farah. Mereka berupaya membuatnya merasa "akan segera mengudara."

Drama penipuan ini masih berlanjut hingga dalam perjalanan ke rumah pak manager. Tiba disana, kami tak butuh kiat khusus untuk bersikap layaknya rumah sendiri. Orang sekampung datang bersilaturahmi, para keluarga pak manager juga lengkap berdatangan. Kami memang perusuh, pembuat kekacauan, tanpa rasa ragu dan malu, kami memang begitu, dan manager kami tahu akan hal itu. Persekongkolan ini telah kami musyawarahkan ke pak manager dan keluarga dekatnya, beliau tak kuasa menahan rasa iba dan menyerahkannya ke hakim langit yang Maha Perkasa. Dan Farah, dia masih tetap tak mencium gelagat keji kami, dia malah sedang khusyuk membungkus beberapa takjil untuk bekal di pesawat nanti. Iya, UNTUK BEKAL DI PESAWAT NANTI. Jengjeng!

Sekarang tibalah waktunya, waktu dimana kami harus berterus terang padanya. Farah kini telah ikut bersama Etsca yang menjadi pemimpin rombongan Avanza. Selepas acara dan setelah saya bersama kawanan roda dua bergegas menuju bandara (baca: rumah), kami harus memastikan mereka sudah berada di jalan raya agar segala rencana bisa berjalan sebagaimana mestinya.

"Halo, selamat sore! Bisa berbicara dengan pak Etsca? Bapak, saya Fulgoso dari Merpati Nusantara. Kami hanya ingin menginformasikan jika pesawat dengan nomor penerbangan MZ 472 tujuan Yogyakarta mengalami gangguan teknis sehingga penerbangan anda ditunda hingga esok pagi. Silahkan lakukan konfirmasi di loket kami agar mendapatkan kode registrasi untuk bermalam di hotel yang kami fasilitasi, atau bapak juga bisa melakukan pembatalan tiket yang semuanya akan diproses refund 100% tanpa potongan sama sekali. Sebelumnya kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terima kasih!" 
Etsca pura-pura histeris dan berteriak panik diujung telepon. Semua rekan kerja menjalankan acting mahakaget dengan sangat sempurna. Mereka bahkan antusias menghujat Fulgoso yang tak lain dan tak bukan adalah saya sendiri, ah kami memainkan peran dengan sangat memukau. Farah cuma diam, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Tentulah ia tak terima dengan semua skenario yang kami ciptakan, mana mungkin ia berkhianat dengan mengatakan tidak mendengar segala percakapan yang telah diatur dari speaker phone tingkat maksimal?

Hari sudah malam, peran pun telah saya kerjakan, kini waktunya pulang bersama pasukan roda dua. Tinggal lah kawanan Avanza yang kalang kabut mencari obat penenang agar Farah tak putus asa dan bersedia mengakhiri hidpunya. Menurut penuturan Etsca, setelah dijelaskan alasan tentang batalnya penerbangan, Farah akhirnya "bisa memaklumi" dan tak keberatan untuk kembali ke rumah. Namun yang jadi masalah adalah "apa yang harus ia bilang pada keluarga yang sudah terlanjur mengirim doa dan menitipkan oleh-oleh untuknya? Terlebih untuk kakeknya yang dengan berbesar hati menitipkan uang padanya." Untuk masalah yang satu ini Etsca harus ikhlas dua kain batik miliknya menjadi hak Farah. Inilah ganjaran yang harus diterima agar Farah tak perlu kelamaan bermuram durja.

Esoknya kami beraktifitas seperti biasa, pergi kerja dan pura-pura mencemooh petugas maskapai sambil sesekali beberapa rekan kerja menjeling bertahtakan kode rahasia ke saya. Brigida, salah satu staff mesenjer kami tiba-tiba datang dan menghujam kami dengan sumpah serapah. Iya, dia merasa tak dianggap karena tak diajak. Ah Brigida, seandainya kemarin sore kamu tak bergunjing dengan customer setelah selesai melakukan pengantaran, kamu pasti akan terlibat dalam skandal penipuan ini. Sayang ia tak mau menerima penjelasan kami dan tetap mengadu pada atasan agar kami semua dikenakan SP a.k.a surat peringatan bagi karyawan yang tak setia kawan juga egois dan berhati busuk. Yassalam!

Saya tetap tak ambil pusing, bagi saya dia tetaplah rekan kerja yang paling asik diajak perang cubit-cubitan. Dari lantai tiga tempat pantry berada, saya memuji kiprahnya di dunia pergosipan. Ia tak menggubris, kemudian melahap tandas satu mangkok mie rebus ekstra panas. Sungguh, dengan tampang Papua yang khas, ia menjelma menjadi sangat menakutkan. Kini ia turun, bersiap melakukan pengantaran dan saya sudah duduk manis di lobby, menunggu waktu yang tepat untuk kembali mengacaukan hidupnya. Ia keluar dari ruang akunting, menarik pintu dengan keras, mengambil motornya, lalu menghujat saya dan tukang parkir yang tak tahu apa-apa. Sebelum tancap gas, ia masih meluangkan waktunya untuk menegaskan pemboikotan pertemanan dengan seluruh karyawan, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah saya. Mungkin karena terlalu emosi, Brigida terjatuh karena kehilangan pijakan dan keseimbangan kehidupan. Ia menimpa motornya dan tukang parkir yang menyelamatkannya. Brigida bangkit, langsung spontan menancap gas dengan wajah setajam silet. Ah, ada-ada saja!


Catatan: Karena alasan privasi, seluruh nama tokoh sengaja disamarkan.
PERINGATAN KERAS: Kini Farah dan Brigida telah mengetahui yang sebenarnya, kami sepakat menjadikan kisah diatas sebagai bahan untuk mempererat silaturahmi. Jadi jangan sedikitpun mengambil perilaku negatif dari kisah ini untuk dijadikan teladan.

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.