A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

05 Oktober, 2013

LAYU SEBELUM BERKEMBANG

Belakangan ini saya sering bertemu dengan orang-orang hebat yang bermimpi ingin keliling dunia dan mahir berbahasa asing dari segala bangsa. Oh.. please, you don't need to be like google translate that could make everyone has a miracle and could speak with everything, even wall or stone! Cukup jadi diri sendiri dan melangkahlah jika memang kaki ingin melangkah. Tak butuh banyak alasan apalagi ketakutan yang terlalu dibuat-buat.

Banyak opini yang terbentuk ditengah-tengah masyarakat kita bahwa jika ingin menguasai dunia, haruslah pandai berbahasa inggris. Padahal ini tak selamanya benar, begitupun jika ingin berpacaran dengan orang Korea maka harus latihan makan Kimchi atau kudu pintar mengaji kalau iyey mawar kawilarang samosir lekong Arabian. Aduh, kasihan sekali kau nak. Nanti saya bercerita panjang lebar tentang kenapa kleund cmuah tinta usah bersusah payah dan jumpalitan kaki di atas kepala di bawah demi mahir berbahasa asing.

Coba googling, cari itu orang Jepang, Cina, Arab, Prancis, dan bahkan orang Russia sekalipun. Perhatikan itu dorang punya muka baik-baik dan hitung berapa jumlah komedo di hidungnya. Maksud saya lihat saja sekilas untuk perkenalan, kan situ cuma mau tahu spesies manusia mana yang gak pintar berbahasa inggris, kan? Sok dites aja biar kalian tak melaca cedih.

Saya memang belum pernah ke negara-negara tadi, tapi percayalah, sampling error dari hasil survey saya cuma 5%, kok. Tentulah based from true story. Halah! Berangkat dari pengalaman pribadi selama menetap di Bali, saya banyak belajar membuka diri dari segala manusia penghuni bumi. Belajar masak, belajar tidur tengah malam, belajar clubbing, belajar miskin, belajar sunbathing, swimming, jogging, hingga terpikirkan niat untuk coba berjalan di dinding.

Saya merasa Bali sudah cukup mewakilkan Indonesia dan dunia. Semua ada disini, mulai para perantau dari Sabang sampai Merauke, pencari jati diri dari Miangas sampai Pulau Rote, turis dari Greenland sampai Zimbabwe, pelancong dari Barbados sampai Timor Leste. Karenanya, kau tinggal tunjuk saja siapa yang ingin kau masukkan dalam daftar calon teman barumu, dan siapa yang hendak kau blacklist dari kehidupanmu yang ternyata sudah kelam termakan zaman.

Orang sering berpikir jika ingin jalan-jalan ke luar negeri atau minimal ke Bali hukumnya wajib bisa berbahasa inggris, hal ini tentu tak salah, tapi saya pribadi merasa kalau bahasa Bali lah yang harus ditekuni jika ingin eksis disegala pergunjingan dan naik daun diantara desas-desus reportase tetangga. Bukankah pergi berlibur semata-mata untuk menenangkan pikiran dan melapangkan perasaan? Lalu kenapa masih sibuk mencari arti bahasa inggris dari "Tolong buatkan saya roti keju pakai teri goreng lapis selai kacang terus panggang sikit sampai gosong semua yah, bok."

Suatu sore saya pernah iseng ke pantai Kuta dan berniat melumat habis buku yang baru saya beli sembari menunggu matahari tenggelam. Persis di depan saya lewat segerombolan turis China yang (sepertinya) menggunakan jasa guide abal-abal. Dari sekitar 20 orang, hanya ada satu yang bisa berbahasa inggris. Sang tour guide asik menjelaskan panjang-lebar tentang apa itu canang (sajen), kenapa orang Indonesia doyan minum es kelapa muda, dan yang paling fantastis adalah saat dengan tampang tak berdosa ia meyakinkan si kepala rombongan kalau "di pantai Kuta lah tsunami pernah terjadi selain di Aceh!" Berhubung si ketua rombongan tak bisa berbahasa inggris, dia cuma bisa bilang "oh, I see.. I see."  Benar-benar luar biasa rahasia Tuhan, entah siapa yang gila.

Bulan Maret kemarin juga pernah ada bule Prancis yang menjadi tetangga kamar saya. Istrinya berdarah Sulawesi dengan pembawaan yang cukup ramah. Sayang sang istri tak terlalu lancar berbahasa inggris, anehnya Nico sang suami mengerti apa saja yang dikatakan istrinya. Pernah suatu siang saat Nico baru pulang surfing, dengan lantang sang istri berteriak dari balkon lantai dua ke lantai satu. "Hey baby, from where your take the helmet?" Suaranya menggema, menusuk hati, menggelitik kaki, membuat gatal jari dan dahi. Kau tahu apa yang terjadi? Nico menghampirinya dan memberikan penjelasan dengan tata bahasa sesuai grammar dan mereka pun larut dalam pelukan penuh kebahagiaan. Padahal itu helm curian. Untuk kisah ini saya beri judul "Pasangan Mahagila."

T H I S  I S  IT ,  J O R G E !
Jorge, seorang teman asal Chile yang bahasa inggrisnya tak bagus-bagus amat, pernah nginap di tempat saya seharian. Paginya saat saya sedang bersusah-payah membuka kelopak mata yang masih melekat, dia membuat saya terkejut dengan salam "Selamat tinggal, Aiya!" Ah dasar, padahal harusnya ia bilang "Selamat pagi!" Selesai mandi, ia kembali memuji "I love your screen!" Heh? Screen? Oh, okay, maksudnya mirror alias cermin. Dalam perjalanan ke Uluwatu, ia berteriak histeris di tengah jalan dan meminta saya menepi sebentar. Lekas ia meraih smartphone canggih dari saku celana dan mendekat ke botol bensin eceran untuk mengabadikan kemasan yang dipajang. Katanya "Aiya, di Chile juga kami menyebut bensin sebagai bensina, dan oh... Kalian menjual bensin dengan kemasan botol Vodka? Indonesia memang luar biasa!"

Fina, istri dari Niko si bule Prancis bukan hanya satu-dua kali membuat saya harus terkaget-kaget dengan bahasa inggris otodidaknya. Pernah sekali saat saya lagi serius menulis di balkon kamar, datang seorang temannya yang meminta Fina menjadi translator bahasa inggris agar dia bisa skype-ing dengan pacarnya di Russia. Kita sebut saja teman Fina bernama Jacob dan perempuan Russia sebagai Nikita. Mereka memutuskan ber-video call ria di balkon dan duduk persis di depan saya. Setelah ngobrol ngarul-ngidul, kini Jacob bertanya serius ke Nikita yang juga hancur bahasa inggrisnya. Sesuai anjuran Fina, maka dengan gagah Jacob menyapa "Hei priti, so what yur fader is ektiviti?" Nikita melongo "What? My father? He is a musician." Fina tak mau kalah, ia menyuruh Jacob bertanya kembali "Musician what?" Nikita menimpal "He is a guitar player." Tanpa menunggu komando Fina, Jacob kalap menyimpulakan "Wow, so yur fader is gitar. right?" Saya langsung melipat laptop dan bergegas masuk kamar dengan muka merah menahan tawa. Diluar sana Fina histeris cekikikan di depan laptop dan pembicaraan itu pun berakhir dengan suara Nikita yang mengumpat mereka berdua dengan kata-kata kotor sebelum memutuskan sambungan.

Adapun orang Jepang yang pernah saya jumpai di Padang Padang Beach, ia mendekat dan bertanya dengan antusias mengenai bongkahan-bongkahan batu cantik disekitar pantai. Setelah panjang lebar saya menjelaskan apa itu yang namanya coral, ia tak mengerti dan baru pengakuan dosa kalau IA TAK BISA BERBAHASA INGGRIS DAN INDONESIA. #YaMenurutNgana #MasaSayaHarusPakeBahasaJepang
REZA, MANOJ, & ERTISH IBUKOUCAH
Saya juga pernah menjadi host untuk dua orang Iran yang tak lancar bahasa inggrisnya, namanya Reza dan Manoj. Bahasa inggris Manoj bahkan NOL BESAR namun ia percaya Tuhan pasti menyatukan pikiran tiap manusia dengan "bahasa-bahasa lain" yang muncul secara spontanitas. Ia benar, walau saya juga cukup kaget saat dia menyebut jenis ikan yang sering digunakan untuk Spa Fish sebagai spesies Barracuda!

Jika ada diantara kalian yang sudah pernah ke Bali dan atau baru punya rencana berkunjung kesini, jangan pernah berkecil hati saat melihat anak-anak, nenek-nenek, atau emak-emak yang amat "mahir" bahasa inggrisnya. Yang hanya dengan "Come here sir/ madam, just look-look around and you can pay if you like or exit if you don't like" pun para pedagang bisa menarik turis bule, atau "massage sir, kam tu massage, wan awer jas porti paip, let's kam.. kam.." pun para spa therapist bisa merayu pelanggan untuk meluangkan waktunya.

Saya tahu bukti-bukti diatas mungkin masih belum cukup meguatkan hati pembaca yang memang sudah tercipta untuk putus asa sampai lansia. Tapi tenanglah, jangan berkecil hati, saya juga tak mahir-mahir amat bahasa inggrisnya. Bahkan kadang masih sulit membedakan how to pronounce antara "water" atau "weather." Intinya asalkan pesan tersampaikan, tak perlu gaya-gayaan karena takut salah grammar atau apalah itu, yang penting berani dan percaya diri. Tapi jika memang niat tuan sekalian adalah untuk belajar bahasa asing atau minimal bisa menguasai bahasa daerah yang hendak dituju, tentu saya sangat sepakat dan mendukung penuh agar jerih payahnya segera tercapai. Jadi, mulai sekarang lekas berkemas dan pergi jalan-jalan, jangan buang-buang waktu dengan memikirkan komentar orang. Jangan mau layu sebelum berkembang!

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.