A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

16 Desember, 2013

DILI, HETAN DIAK LIU!

Saya tak pernah bermimpi bisa bertandang ke Timor-Leste, ke negara yang jarang masuk dalam wish list turis Indonesia. Sayang hujan mengubah segalanya, hati digerakkan agar segera melancong kesana daripada merayakan kesepian di Kupang. Subuh itu saya bertekad puasa agar tampak bak musafir alim di kisah para Nabi. Malang ternyata, medan yang dilalui terlalu berat bagi seorang pendosa macam saya. Jalanan sepanjang Soe hingga Kefamenanu terlalu kejam untuk dihadapi, mabuk darat merenggut harapan saya. Tangan kiri mengepal minyak angin, yang kanan menggenggam kantong plastik. Jejeran pohon cendana seperti melecehkan perasaan yang sakitnya mampu menembus jendela berhiaskan goresan hujan.

Jam 4 sore minibus yang saya tumpangi memasuki Atambua, kemudian lanjut menuju border Mota’ain. Tak ada masalah selama di imigrasi Indonesia maupun di Timor Leste. Perbedaannya hanya di gedung imigrasi Republica Democratica De Timor Leste (RDTL) yang jauh lebih bagus dibanding milik Republik Indonesia. Pun saat tiba di loket Servico de Migração, proses pengurusan Visa on Arrival untuk masa berlaku 30 hari berjalan lancar tanpa kendala. Cukup membayar zakat seharga $30 di loket imigrasi demi cap alakadarnya yang diklaim sebagai pass key masuk kesana.
B O R D E R  M O T A ' A I N  &  I M I G R A S I  T I M O R  L E S T E
Sebelumya santer beredar rumor tentang aparat RDTL yang sering memalak WNI yang baru pertama kali kesana. Don't worry, tante, tetaplah tenang serta selalu berlaku santun di tiap tanah yang kau pijak. Jika ada tatapan-tatapan ambigu, lekas tangkis pakai senyum tjakep khas Indonesia. Buktinya, saya berhasil lolos dari skenario mereka walau hanya mengandalkan jurus gigi pepsodent. Lucas jeli memperhatikan halaman akhir passport sakti lalu menyerahkannya kembali pada saya, si tukang cemas. “Bemvindo ao Moluccas!” ia berusaha terlihat akrab. Muito Obrigado!

Timor-Leste pernah menjadi bagian dari NKRI, ia berada di urutan akhir dari total 27 provinsi pada era kepemimpinan presiden Soeharto. Hingga karena urusan takhta dan dunia, Canberra dan Lisbon bersekutu membantu Dili agar lekas bebas dari asuhan Jakarta. Lalu oleh presiden B.J. Habibie dan mukjizat memorandum-nya, Indonesia pun melepas Dili kepada Xanana Gusmão. Kini kita berpisah, walau berada di pulau Timor dan harus berbagi sekat dengan provinsi Nusa Tenggara Timur, namun kita sudah beda bendera, beda paham, masa depan, dan lagu kebangsaan. Lantas, lupakah mereka dengan kita, mantan saudaranya? Tidak sama sekali! Dili masih membutuhkan Atambua untuk menjadi perantara menuju Oecussi, Dili pun masih mewarisi keramahan Nusantara.

Kami memasuki Dili pukul delapan malam, jalanan sepanjang Mota’ain hingga ke Tasitolu yang merupakan gerbang Ibukota tak boleh dibilang mulus. Sungguh jomplang dibanding kondisi Atambua yang masih lebih menjanjikan. Tak ada penerangan selain lampu kendaraan, rata-rata rumah di poros jalan Batugade hingga Liquica hanya menggunakan bohlam kuning berdaya 5 watt, seluruh daratan nampak terang karena campur tangan bulan. Perpisahan memang menyakitkan, saat Jakarta pusing membatasi pembangunan mal dan menekan jumlah kendaraan, Dili harus puas merayakan pusat perbelanjaan pertama di negara mereka.

Setelah memimpin kemudi selama 12 jam, kini Vanus mematikan penyejuk kabin dan mempersilakan kami menikmati udara segar dari celah jendela. Ia mengurangi kecepatan dan tetap awas melaju dalam pekatnya malam. Hostel saya terletak di jalan protokol Rua De Thomas di kawasan Mandarin. Malam melelahkan itu berakhir dengan obrolan hangat bersama Evi Arbay, wanita paruh baya asal Jakarta yang juga menjadi partner makan malam saya di kedai India. Letaknya persis di seberang Backpacker Hostel, cukup jinjit dua puluh langkah dan sampailah kalian para manusia. Jika berkesempatan kesana, cobalah jus mangga mereka yang dibanderol seharga $2.5 per gelas. Katakanlah itu jus mangga paling segar dan enak yang pernah ada sejak Puteri Yang Tertukar menemukan ibu kandungnya.

Paginya, tepat satu jam setelah Evi kembali ke Atambua. Saya panik mencari sikat gigi dan shampo sachet yang rupanya kaku dalam genggaman. Kemudian bergegas mandi untuk segera kabur ke puncak Fatucama, kira-kira 10km dari lokasi hostel kesana. Berbekal Nimbuz sakti seharga $3 per hari, saya memacu pedal meninggalkan distrik Mandarin menuju Dili Harbor, lalu melesat cepat melewati Areia Branca sebelum tiba di Cristo Rei. Cukup 20 menit dan tubuh takluk dihujam peluh. Kalori meleleh dan merembes ke permukaan kulit, betis kembang kempis, ubun-ubun serasa berdesis menantang terik kota Dili. Saya berhenti di Largo De Lecidere dan menatap arloji penuh was-was. Waktu menunjukkan pukul 8.30, artinya satu setengah jam lagi saya harus bertemu Yesus sebelum bersujud dibawah kubah An Nur.
L A R G O  D E  L E C I D E R E
Segelas air mineral produksi Indonesia dan sekaleng Dellos jus pisang buatan Korea menjadi bekal ke Fatucama. Semakin dekat, alam semakin memikat. Saya belum pernah melihat jalan raya, bukit, laut, mobil, kapal, dan elang dalam satu kombinasi sedekat ini. Benar-benar udara yang kau hirup merupakan oksigen asli produksi pohon-pohon terdekat. Saya memarkir sepeda di bahu jalan dan berdiri diam untuk menikmati segalanya. Kadang dunia memang indah hanya dengan melihat, diam, dan tak melakukan apa-apa. Mengingat durasi, spontan saya memompa pedal dan bersusah-payah melaju di jalanan menanjak sambil diawasi banner iklan Telemor, Timor Telecom, dan Telkomcel.

Memasuki kawasan Cristo Rei, terlihat beberapa aparat keamanan menyambut turis dengan sangat ramah. Tak ada entrance fee untuk masuk kesana, tak ada pula biaya parkir seperti di Indonesia. Cukup letakkan kendaraan di pelataran yang telah disediakan dan silakan taklukkan 500 anak tangga untuk segera berjumpa dengan sang Kristus Raja.

Mental saya diuji setelah melewati tangga ke seratus, dua bocah mendekat dan meminta air minum yang saya genggam. Saat itu cuma ada dua pilihan; Segera berikan agar mereka tak pingsan kehausan atau mempertahankan supaya saya tak dehidrasi di atas nanti. Untungnya saya bukan orang gila yang memilih opsi pertama. Setelah mengucapkan terima kasih dan berlari meninggalkan saya dalam kepayahan, salah seorang berbalik dan menyampaikan kabar gembira, “Yesus peduli kakak!” Senyum ini merekah dibawah sadar, bak terhipnotis untuk bangkit dan terus mendaki.

Sebelum mencapai puncak, saya tersungkur dan mencengkram erat pagar pembatas. Tubuh seperti terbakar, wajah berdenyut mengikuti detak jantung. Saya kehausan, butuh air, butuh apa pun untuk diminum. Saya mematung, lalu melepaskan ransel dan duduk bersila di tangga untuk mencoba bersatu dengan alam. Nafas yang diatur sesuai ritme tarik-hembuskan lumayan ampuh untuk menetralkan emosi. Saya bangkit berdiri, walau tenggorokan hanya puas dibasahi air liur sendiri, saya mutlak bersugesti bahwa anak tangga terakhir akan segera berada di bawah kaki.

Kini dari ketinggian 150 mdpl (meter di atas permukaan laut) saya berada persis di atas Fatucama, berdiri seorang diri di bawah tangan Yesus yang hendak memeluk. Mata memandang hamparan lautan, hidung tak perlu bekerja menyaring polusi, telinga hanya mendengar gerakan kawanan burung, kulit rela menyambut terik, jiwa tenang menikmati kedamaian, hati senang menghaturkan pujian. Disana, di atas puncak Fatucama, saya berharap semoga Yesus, Tuhan yang mereka cintai dapat mendampingi, mengawasi, dan memberkati tanah yang telah mereka perjuangkan setengah mati. Cristo Rei, patung tembaga setinggi 27 meter ini dirancang oleh Mochamad Syailillah, seorang muslim lulusan sarjana Seni Rupa Institut Teknologi Bandung.

Kurang 30 menit jam sebelas, saya turun dan kembali ke kota. Kali ini harus melangkah dengan tergesa-gesa. Saya hanya punya sisa waktu satu jam sebelum telat mengikuti ibadah sholat jumat. Sepeda saya pacu dengan kencang, setengah jam kemudian saya sudah keluar dari kawasan Areia Branca, itu pun sudah include mampir berbual dengan seorang pemuda di depan Caz Bar. Oh, iya, termasuk juga singgah di Fatin Fa'an Al-Faun Natural Market dan cuci mata di seputaran Palacio Do Governo, nama samaran dari Istana Pemerintahan.
C R I S T O  R E I  -  A R E I A  B R A N C A  -  F A T U C A M A  H I L L
Saya tiba di Mesjid An Nur tepat tengah hari, inilah satu-satunya mesjid terbesar di Dili. Berada di Kampung Alor atau yang lebih tersohor sebagai kawasan khusus pasar pakaian. Banyak Loja atau kios menjajakan baju “Blok M.” Sholat Jumat disini baru dimulai pukul 12.30, saya memanfaatkan setengah jam tersisa untuk makan di warung Jawa berkedok Rumah Makan Padang. Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya yang mengaku bernama Shidiq menepuk pundak saya saat asik mengintip sebuah ruangan kelas kosong;
“Mesjid ini punya skola lagi libur 3 bulan, guru-gurunya semua dikirim ke Lisboa untuk belajar bahasa Porto. Padahal sudah 5 kali kesana dan tiap pulang cakap sedikit pun tidak bisa.”
Ada beberapa mobil berlabel Kareta Estado yang parkir di halaman mesjid. Mereka adalah ekspatriat yang datang untuk sebuah kepentingan di Timor Leste. kebanyakan merupakan pejabat dan pedagang asal Indonesia, ada pula dubes Malaysia dan para tentara muslim utusan PBB hingga saudagar dari Arab, China, dan India. Sholat jumat sendiri tergolong tenang, tak ada yang tidur, berisik, ataupun sibuk dengan gadget. Semua luluh dalam ceramah yang dihantar dalam bahasa Indonesia.

Setelahnya, saya kembali mengayuh sepeda menuju kawasan Dili Beach. Seorang laki-laki mendekatkan motornya, entah dari mana ia tahu saya berkebangsaan Indonesia, ia langsung memberi kode, “Kaka lurus saja, nanti kalau sudah ketemu pantai langsung belok kiri, 100m dari situ kaka belok kiri lagi, ada rumah Krisdayanti disana.” KRIS-DA-YAN-TI!! Lalu kata itu seakan terpatri di kepala, merasuk dalam sukma dan mengambil alih kesadaran untuk mengikuti petunjuk si laki-laki kurang kerjaan.
M E S J I D  A N  N U R  &  R U M A H  K D
Benar saja, saya yang awalnya penasaran lalu berhenti tepat di pagar berwarna krem dan cokelat. Seorang mama mendekat dan berbagi senyum melihat saya dalam keadaan Linglung. “Itu rumah Krisdayanti, masuk sudah!” Eh, apa-apaan, nih? Saya masih tak percaya kalau kini telah berdiri beberapa depa dari sang diva. Entahlah, tiba-tiba saya membayangkan Raul Lemos dan Aurel nongol lalu bersekutu melempar saya dengan ketupat bumbu khas Timor hingga lari lintang-pukang. Kini mama itu yang bingung melihat saya merangkai senyum kecil dan pergi meninggalkan rumah fenomenal itu.

Dili memang panas, tapi eksotis. Saya rela bersepeda tanpa perlindungan sunscreen maupun baju lengan panjang. Inilah saatnya menikmati matahari tanpa batas. Matahari Bali serasa kurang menggigit dibanding Dili. Itulah mengapa dengan senang hati saya rela bolak-balik Dili Beach demi membakar kulit sendiri. Sepanjang jalan berjejer kedutaan Jepang, Korea Selatan, Amerika, Australia, Indonesia, hingga Malaysia. 

Tepat di depan agen Pertamina, saya kembali menuju Katedral Motael yang berhadapan persis dengan Monumen 12 November di kawasan Dili Harbour. Seorang kakek mendekat, meminta imbalan 50 centavos untuk sekaleng Dellos yang saya pesan. Sebelum pergi, ia mengaku senang masih bisa berbahasa Indonesia, saya mendadak bangga dan menyampaikan belasungkawa dalam peristiwa Santa Cruz dulu. Ia tertawa, tangannya mengusap kepala, melepas topi hitam yang ia kenakan dan berjanji telah memaafkan kita, semua orang Indonesia. Ah, saya memacu sepeda dengan bahagia tak terkira!
P A L A C I O  D O  G O V E R N O
Kembali ke pusat kota, saya menitipkan sepeda pada seorang bocah penjual lobster dengan upah 25 sen. Saya mulai menyisir Palacio Do Governo, Kedutaan Portugal, Parlemento Nacional, Universidade Nacional Timor Lorosae, dan jual tampang di sepanjang Avenida Sidade de Lisboa. Boleh dibilang inilah detak jantung Dili, tempat segala denyut ekonomi berada. Banyak mobil mewah buatan Eropa berseliweran, sangat kontras dengan tampilan taksi kuning khas Dili. Sepanjang jalan saya tak pernah bertemu pengemis, kecuali dengan beberapa penderita gangguan jiwa yang belum diasuh pemerintah. Ada pula gedung Bank Mandiri yang lumayan ampuh mengubah suasana asing menjadi bersahabat.

M O B I L  M E W A H  D I M A N A  -  M A N A
Timor Leste mengakui bahasa Portugis dan Tetun sebagai bahasa resmi, namun pada kenyataannya, masyarakat lebih suka menggunakan bahasa Tetun dalam berkomunikasi dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai opsi kedua. Banyak papan informasi dan segala aset pemerintah yang menggunakan bahasa Porto sebagai penunjuk identitas, sayangnya untuk bercakap pun rakyat masih lebih fasih berbahasa Indonesia dibanding Portugis. Artinya, selama disana saya jarang menggunakan bahasa Inggris dan lebih santai berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Tapi memang, walaupun mengaku para ABG mereka tumbuh dalam pengaruh infotainment dan sinetron Indonesia, namun Sergio, seorang supir bemo di Dili terlihat bingung saat saya pancing mengumpat, “Doh, Dili itu panasonic bingits!” Padahal di bumper mobil putihnya ada tulisan, “Lu, Gue, End!” Ya, Iya lah, yah.. menurut ngana?

Hari sudah sore, langit siap memasuki waktu maghrib, sayang tak ada tanda-tanda sunset. Mendung menggantung di atas sana, tandanya harus bergegas pulang. Saya kembali ke parkiran dan membayar upah untuk si bocah pemurah hati. Saya menunduk dan memungut botol plastik yang ia buang tepat di atas sendalnya, lalu melemparnya di tempat sampah. Ia sumringah, saya mengangkat alis dan menatapnya dengan tegas, “Soe foer iha nia fatin, harufak Timor Leste.” Yang dalam bahasa Tetun berarti, “Buang sampah di tempat sampah, jagalah Timor Leste tetap cantik.” Ia menangguk dan tampak kebingungan mendengar saya bisa berbahasa Tetun. Belum tahu dia, itu kan kata-kata yang saya jiplak dari tempat sampah di depan Bank Mandiri tadi. #KemudianMintaDigampar

L A N D M A R K  K O T A  D I L I
Berbincang dengan Tante Rita --pemilik hostel-- memang menyenangkan, ia seolah-olah menjadi duta pariwisata saat membeberkan kecantikan Timor Timur. Saya mewanti-wanti jika ia ke Indonesia lagi, agar menggunakan taksi bluberd supaya tak ditipu sana-sini. Ia mempersembahkan dua mangga berdaging padat sebagai ucapan terima kasih, saya terharu. Sambil menatap blender di pojok dapur, saya menyerahkan secarik kertas berisi kontak taksi kebangsaan Indonesia untuk kode wilayah Bali.

Paginya saya menikmati lalu lintas sepi sebelum pergi meninggalkan Dili. Memasuki Maubara, mobil kami dipaksa menepi karena mengalami pecah ban di bagian belakang. Semua penumpang berpencar, saya turun dan mengadu sial pada Nelly, seorang artis daerah asal Kupang yang kini memilih bekerja di Dili dan menjadi orang dekat Xanana Gusmao. Ia takjub saat mengetahui saya datang dari Bali, kami bertukar kontak, ia menjanjikan fasilitas kelas satu jika saya bertandang kesana lagi. 

Ia mengaku kagum dengan Bali, saya membalas dengan memuji Dili berkali-kali. Kami membahas apapun yang layak untuk diperbincangkan, penumpang lain diam tak berkutik mendengar segala omong kosong ini. Mobil melaju kencang, menghempaskan genangan air sepanjang jalan. Mendengar Nelly memaksa saya kembali ke Dili, semua penumpang berbalik menunggu saya memberikan jawaban. Saya berjanji, mereka jadi saksi, bahwa saya pasti kembali, datang dengan segenap hati dan menikmati Dili untuk yang kedua kali, suatu hari nanti. Dili, Hetan Diak Liu, Hau Hadomi O!

Salam,

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.