A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

17 Januari, 2014

SEKEPANG CERITA DARI KUPANG

Bombardier ramping menukik turun, merobek mendung yang membungkus pucuk gunung. Kilat beradu terang, berlomba memotret keheningan. Lampu kabin diredupkan, saya menegakkan sandaran kursi.
Protaseis milik Nikos Vertis mengalun sendu di telinga, menjadi penenang kala pendaratan dramatis berlangsung. Roda berdesis, menggilas punggung El Tari yang segar mengkilat. Mata memandang bangkai Merpati yang nyaris karatan dipagari ilalang tinggi. Kami memuji seluruh crew sebelum turun menginjak bumi. Saya mempercepat langkah, menyingkat waktu agar tak sial kehabisan taksi. Kupang mengingatkan kami tentang mati!

Sepe tumbuh disepanjang jalan El Tari, bunganya mekar setahun sekali, sangat menawan terkena sinar matahari. Saya menurunkan kaca, mengizinkan udara masuk hingga ke pori-pori. Joshua memperhatikan secarik kertas, berusaha menebak lokasi dan sesekali menumbuk klakson penuh emosi. Di ujung telepon Shendy mengarahkan kami ke RSUD W. Z. Johannes sebagai patokan. Rencananya saya akan tinggal di tempatnya untuk beberapa hari, entah akan bertahan disini atau lanjut ke Dili nanti. 

"Selamat datang, anak! Inilah Kuanino, pusat kota Kupang." Ibunya menyambut, menawarkan keramahan bagi saya yang kepalang grogi.

S E P E ,  B U N G A  D E S E M B E R
[ FOTO: DIDIK KUSMAYADI ]

Usai menyerahkan kunci, Shandy memimpin langkah menuju kamar yang akan saya tempati. Bilik seluas 2x2 meter telah menanti untuk dihuni. Sebelum pergi ia menitipkan pesan, bukan tentang aturan dan ketentuan. "Kalau ada apa-apa nanti sms saja, banyak warung makan disekitar sini, nanti bila tak sibuk akan kutemani keliling kota." Shendy memang ramah. "Yang disana itu masih bangunan rumah sakit, yang itu sana bangsalnya. Nah, kalau kamarmu ini persis dibelakang ruang jenazah. Semoga betah." lanjutnya. Shendy pamit pergi, saya masuk ke kamar mandi, mencoba melupakan kata-kata terakhir dan membuang lamunan di bibir ledeng. Oh, sumber air so dekat!

Chily, seorang kenalan yang sudah lama bertengger di list BlackBerry Massenger menyapa saya malam itu, rupanya ia telah menetap setahun disini. Tak banyak kompromi dan basa-basi, kami segera membuat janji, mengatur tempat makan dan berjumpa untuk kali pertama. Sebelum menuruti kehendak kaki, kami meyakinkan Shendy pasti pulang sebelum pagi. Saya langsung meraih kunci dan mengambil alih kemudi, membelah jalan tanpa plat nomor asli, untunglah hujan mampu menidurkan polisi.

Hari kedua saya takluk dijajah alergi. Tak boleh mandi, melihat matahari, apalagi menghirup debu dari kasur warisan bangsa Romawi. Chily menelpon, menanyakan kabar dan pamit ke Makassar untuk dua hari, menyusul sms Shendy yang mengaku sedang pergi membeli babi. Saya menguatkan hati, bangkit berdiri untuk mencari sesuap nasi. Edo mendekat, menawarkan jasa ojek dua garis diatas gratis. Saya memintanya bersumpah tak ada tagihan siluman setelah ini. Beruntung, lima belas ribu sudah termasuk mampir ke Kimia Farma, Sahabat Money Changer, Timor Travel, dan BNI Kuanino. Kami juga bersepakat keliling kota sekembali saya dari Dili.

Teringat modem CDMA yang tak dapat berfungsi, saya menghentikan langkah di depan pagar, memutar badan dan mencari orang-orang yang memang tak pernah kelihatan di jalanan. Ini saatnya mengasah bakat tidak terpuji. Saya lekas menyeret kaki, membuang jauh-jauh masker penuh bakteri, menghampiri sebuah kios yang nampak sunyi.

“Halo, cari apa?”
“Ee kaka nona, beta mau tanya tapi tidak belanja.”
“Kenapa ade?”
“Disini warnet paling dekat dimana e?”
“Lu mu main game, kah?”
"Itu sudah!"
"Oh, lu coba nae lampu satu atau lampu dua!"
"Eh? Beta nae lampu?”
"Iyo, ade lu tinggal pilih saja."
"Tinggal pilih??”
"Iyo, pilih, ade mengerti pilih to? Tunjuk!”
“Engggg... Lampu macam apa itu, kaka?"
"Woo.. Beta lupa bilang, itu oto bemo. Jadi lu nanti liat di atap oto ada lampu angka berapa, 1 atau 2. Ongkos dua ribu saja, bilang stop di depan Telkom su. Be cuma inga itu, sonde ada yang dekat sini sudah."
"Hooo.. Beklah!"

Kupang mungkin tak cantik, juga tak banyak objek menarik. Hampir seluruh artikel yang pernah saya baca hanya menjadikannya sebagai kota transit. Untuk kuliner bahkan mereka cuma mengandalkan Se'i babi, walau ada juga pilihan daging sapi. Namun begitu, saya memutuskan menetap dua hari setelah kembali dari Dili. Inilah Kupang, ibukota Nusa Tenggara Timur. Tempat dimana pengungsi Timor Timur yang pro integrasi mengadu nasib di Noelbaki. Kota sederhana dengan masyarakatnya yang gila pesta, juga menjadi tempat plesir favorit kaum hedonis Dili dan Oecussi, terutama saat perayaan Natal hingga tahun baru Masehi.

S E L A M A T  D A T A N G  D I  K U P A N G !
Saya masih ingat saat Martin memecah keheningan, menyapa ramah dan mendekati saya yang sedang khusyuk ber-video call dengan kekasih. Martin, seorang warga negara Belanda yang amat fasih berbahasa Indonesia lengkap dengan logat khas Sumba. Bermula dari niat terpendam untuk mengirimkan hadiah kepada istrinya, ia merapat, mendekat, dan mencoba akrab saat mengetahui saya hendak meninggalkan Dili dan pulang ke Kupang besok pagi. Kami terlibat dalam obrolan singkat, saya menyanggupi dan meyakinkannya agar tak perlu resah juga gelisah. “Beri tahu saja ke istrimu untuk menjemputnya di Kupang. Tapi jika tak kelelahan, biar saya sendiri yang mengantarnya nanti.”

Kini perjalanan saya dipantau Yenni, pendeta berparas ayu yang merangkap istri Martin dari Hollandia. Darinya pula saya disarankan tinggal di penginapan murah langganan mereka berdua. Singkatnya, Martin menghampiri saya karena Yenni, saya menolong Yenni karena Martin, Yenni menolong saya karena Martin, dan semua huru-hara tolong-menolong ini terjadi gara-gara Martin. Oleh karenanya, terpujilah Martin!

Edo memboyong istri dan anaknya, tengah malam buta menjemput saya di depan Hotel Flobamora. Samuel temannya datang mengambil alih setelah saya meminta Edo mengantar Nona dan si mungil Kristin karena tak enak hati. Kali ini saya hanya cukup menyumbang sepuluh ribu untuk waktu tempuh selama 5 menit dari Kana'an ke Kampung Solor. Samuel memang punya bakat yang tertunda. Pembalap.

Yenni menyambut dengan sumringah, saya segera menyimpan ransel dan menyeretnya untuk makan malam bersama. Kami berjalan menuju Teddy's, sebuah kawasan pasar malam yang berada distrik Kota Lama. Inilah kunjungan kali kedua setelah saya dan Chily sebelumnya. Satu ekor kakap bakar merah dan seperangkat nasi panas menjadi penghantar perkenalan kami malam itu. Untuk porsi jumbo sekomplit itu cuma dihargai 25 ribu saja! Porsi yang sama jika di Jimbaran – Bali sudah pasti dibanderol seharga 300 ribu untuk seukuran telapak kaki. Daging ikan yang manis melebur bersama sambal terasi dan cah kangkung panas. Dunia terasa sempurna tanpa kekurangan apa-apa.
S U B A S U K A  P A R A D I S O
Mikrolet putih melesat cepat, melaju angkuh di jalan sempit, sesekali berhenti, mengangkut penumpang di tanah tandus. Bemo disini memang begini, tak seorang supir pun yang rela mobilnya disalip sepeda. Saya menyesuaikan posisi, mengatur tinggi agar kepala tak memar membentur besi. Lagu-lagu bajingan dipersembahkan, kebanyakan berbahasa Ambon dan Portugis. Ada pun musik country yang menjadi selingan penawar depresi. Saya meraih koin, mengetuknya di teralis pembatas jendela, tanda minta berhenti. Kupang memang sakti, tak mengakui "stop" dan "kiri" sebagai kode minta menepi. Ini unik sekali!

Yenni memang puteri Sumba sejati, cerita-ceritanya menemani kami sepanjang hari. Kisah pernikahannya cukup menghibur saat Pantai Lasiana enggan menunjukkan pesonanya. Pun saat bertandang ke Taman Nostalgia di distrik Oebobo, ia sanggup menutupi kekurangan Gong Perdamaian Nusantara yang biasa saja dengan berbagai cerita mengagumkan perihal adat pernikahan orang Sumba. Kami menutup sore dengan menikmati hujan dan memuja keindahan bunga desember. Sebelum pulang ke Waingapu besok subuh, ia berjanji akan ke Ternate setelah ini, saya meyakinkannya pasti ke Sumba suatu saat nanti.
[ SUNSET DI BYPASS EL TARI | KOMODO | GONG PERDAMAIAN NUSANTARA | LAVALON HOMESTAY ]
Natal masih dua minggu lagi, namun kidung rohani sudah kedengaran disana-sini. Mayoritas penduduk memang penganut Katolik dan Kristen. Ada yang tak biasa dengan pagi ini, Jus—penjaga homestay—asik berpesta di dapur sana. Lagu pop etnis Flores seakan menjadi motivasi untuk lekas bergegas mandi. Saya menghampirinya, menyulang teh panas dan roti manis sebelum mengayunkan kaki dan berdansa bersama. Kami memang gila, bangga berpesta dengan lagu-lagu berbahasa daerah. Tak lama, kami sepakat menyudahi segalanya sebelum mini compo kuno dibanting kakek tua.

Tanpa sadar Edo sudah menunggu diluar, bersiap mengantarkan saya keliling kota. Hari ketiga kami awali dengan berburu Se’i sapi di jalan Ahmad Yani. Se'i adalah daging rebus yang diasapi dengan rempah-rempah hingga wangi. Selanjutnya Edo mengajak saya mengintip kecantikan Subasuka Paradiso, sebuah konsep rekreasi pantai dengan chapel mewah yang diapit beberapa bale kayu berukuran kecil. Bendungan Tilong pun tak kalah menarik, nampak kokoh dibalut beton-beton kuno. Katakanlah ini sebagai penangkap hujan milik desa Noel Nasi.
B E N D U N G A N  T I L O N G ,  N O E L  N A S I
Tak perlu neko-neko, menyaksikan sunset saat melintas di bypass El Tari pun sudah bikin merinding. Dari hutan kota, pohon lontar, angkot futuristik, Lavalon cafe, dan ras kulit hitam dengan senyum-senyum tulus berlatar belakang tanah tandus ternyata lebih melekat dalam ingatan dibanding sederetan objek wisata yang terlanjur famous. Begitulah Kupang, sisi lain Indonesia, pintu gerbang Nusa Tenggara. Alam dan manusia hidup sejajar dalam satu kota, menjanjikan tawa dari kakunya Jakarta, mengajari akan kebesaran Sang Pencipta, menawarkan keramahan warga dari desas-desus derita. Karena Kupang menyadarkanmu bahwa sesungguhnya alam itu manusia, lewat filosofi Timor kebanggaan mereka.
Batu adalah tulang, tanah adalah daging.
Hutan adalah rambut, dan air adalah darah.
- Mama Aleta Baun
Edo berada dalam tekanan, saya memaksanya mengingat judul lagu yang diputar Jus tadi pagi. Tak ada urat malu lagi bagi kami, ia berhenti di depan Universitas Nusa Cendana, berusaha mengawinkan melodi dari saya yang bernyanyi tanpa gengsi. "La le le luk si la sol, mi fa mi fa sol, le'le tiding fa fa, rebing mude mi." Gemu Fa Mi Re, sebuah lagu dansa dari Maumere untuk Indonesia!

Matahari kini berada di sisi lain bumi, bulan makin meninggi, kami kembali usai mencetak foto sebagai kenang-kenangan. Saya bergegas mandi lalu menjawab telepon yang berdering berkali-kali. Nona menyapa ramah, mengatakan mereka sekeluarga sudah di depan pagar, datang untuk bersilaturahmi. Saya menyambut dengan pelukan dan meraih bingkisan dari si kecil Kristin. Edo mendekat, menyampaikan niat jika Nona ingin berfoto bersama. Jus tak mau ketinggalan, ia merapat untuk terlibat akrab. Kami larut dalam tawa dan canda, berikrar jika kami adalah keluarga di depan teh panas buatan Nona.

Saya duduk menunduk, mengatur nafas setelah mereka pamitan pulang. Seorang pria mendekat, menjabat tangan dan duduk persis di seberang saya. Ony Meda, adalah seorang putra daerah yang sangat faham tentang sejarah. Bohlam kuning remang-remang yang menggantung di atas meja adalah saksi betapa obrolan malam itu tak akan terlupakan. Kami berbasa-basi tentang arti kata "Lavalon", berlanjut ke rezim orde baru, membahas keterlibatan asing dan lepasnya Timor Timur hingga asal mula pecahnya konflik Maluku. Segalanya sukses kami lumat hingga larut.
[ KRISTIN | KAKA NONA | EDO | ERTISH IBUKOUCHA | KAKA JUS ]
Penasaran dengan bingkisan dari Kristin, saya pamit untuk istirahat, lagipula sudah jam dua pagi. Koran yang dijadikan pembungkus telah koyak dan terlepas, saya meraih kain yang digulung rapih, sebuah syal kuning dengan motif tenun Flores ada diantaranya. Saya meraih ponsel, membuka satu pesan masuk dari Edo. "Kaka nyong, maaf kami cuma bisa kasih itu saja. Itu syal kesayangan Nona, kaka ambil sudah. Lagipula kaka sudah seperti keluarga. Semoga perjalanannya selamat sampai tujuan e." Saya menatap cermin, menyaksikan mata berkaca-kaca dengan syal kusut yang menggantung di leher. Dunia seperti berhenti, seakan menyadarkan saya bahwa jalan-jalan akan lebih bermakna jika bisa membawa pulang cerita, tentang menemukan sebuah keluarga.

Salam,

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.