A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

23 Juli, 2014

LOMBOK PAKAI HATI

H E L L O  L O M B O K
Saya pernah menulis ulasan tentang Lombok beberapa waktu lalu. Tapi kali ini saya kembali ke sana, datang untuk yang kedua kali, dan berpura-pura layaknya pertama kali. Tenang, saya bersumpah tak akan menggerutu tentang slogan kota Mataram, mengungkit dendam di desa Sade, atau mengingat petualangan bersama Ran di Gili Trawangan.

Tak seperti sebelumnya, kali ini saya memilih angkutan udara sebagai moda transportasi pulang-pergi. Apa kabar bandara Lombok di tahun 2014? Ah, lupakan saja, ia masih tetap unik seperti kunjungan saya yang terakhir. Tentang penjual balon, rambu dan parkiran yang acak-kadut, hingga nenek berbaskom hitam, semuanya masih eksis seperti sedia kala. Saya mempercepat langkah, menaiki Damri tujuan pusat kota, lalu terbelalak mendapati sebuah bantal kepuk berlapis sprei ijo kumal tertinggal di bangku sebelah. Kenapa bisa? 

Ponsel berdering, menampilkan nama (mantan) kekasih yang sedang cemas. Ya, kunjungan kali ini sebagai hadiah pada hari ulang tahunnya. Tiada lagi hubungan lintas benua, atau perbedaan waktu 9 jam yang menyebalkan itu. Ini yang baru, yang tinggal hanya beberapa kilo dari urat nadi dan singgasana hati. Tolong, kali ini jangan memaksa saya bercerita seperti kisah novel teenlit yang dipenuhi drama.
P A N T A I  M A L I M B U  |  G I L I  T R A W A N G A N
Kami langsung ke Trawangan setelah menyimpan barang di rumah teman. Jika dulu saya dan Ran berangkat via Monkey Forest, kali ini dia memilih jalur Senggigi. Sepanjang perjalanan saya tak ubahnya anak Tarzan yang menemukan peradaban. Meloncat di penyangga bambu demi memotret pantai Malimbu, memuji toska lautan Lombok dari villa mangkrak tempat si mantan mencari inspirasi, atau melumat sore dari bibir Trawangan adalah contoh pengalaman yang tak mampu disimpan sebagai tulisan.

Biarkan saya membuat sedikit rekomendasi, yang seperti pelancong lain lakukan selama ini. Tapi jangan khawatir, saya masih menawarkan cerita yang mampu mendidik hati, menginspirasi kaki.

AIR TERJUN PALSU
P A N T A I  N A M B U N G  |  T A N J U N G  J A G O G
Katakanlah seperti itu, sebuah destinasi layak dikunjungi yang menawarkan dua pengalaman sekaligus. Berhenti bermimpi ke luar negeri, alihkan segala budget kesini, dan temukan potongan keajaiban dunia yang membuat hati tak lagi menderita.

Terletak di Buwun Mas, Lombok Barat, sekitar 2 jam dari kota Mataram. Sebuah pantai dengan tipikal pasir merica yang membuat kaki berat melangkah. Berjalanlah ke kiri, lewati bebatuan licin yang juga sanggup merenggut nyawa, hati-hati dan bertahanlah hingga benar-benar tiba di menu utama.

Lepas, biarkan matamu tak berkedip, izinkan mulut terkunci rapat, dan selamat datang di nirwana yang sebenarnya. Di depan ngana, ada batu karang setinggi pagar Istana Negara, sabar dan diamlah, nantikan buih dari ombak yang menghempas ganas. Tetap mengatur jarak waspada, lalu abadikan momen dengan ponsel kamera. Lihat apa yang terjadi, air terjun yang lahir dari rahim samudera. Selamat datang di Nambung, ya!

AMPENAN OLD TOWN
K O T A  T U A  A M P E N A N
Bosan dengan zaman yang semakin membingungkan? Mari melipir kesini, kenakan pakaian musim panas yang tak berpayet, lepaskan konde bangsawan, tinggalkan ransel beserta aib keluarga, kuatkan tekad dan mari berjalan. Pelindung tabir surya mungkin penting bagi yang tak ingin berkulit panggang.

Letakkan tangan di shutter kamera, bidik momen kota tua yang menjadi saksi antara bahagia dan celaka. Bau kopra dan rempah-rempah segera merasuki indera penciuman anda, tarik dan biarkan ia menyatu dalam raga, jadikan perjalananmu tak sia-sia di mata orang tercinta. Perhatikan tiap debu yang terbang, tankap tiap pesan, dan bawa mereka pulang sebagai kenangan. Bukankah tiap perjalanan harus memiliki cerita, yang dapat diwariskan hingga tujuh turunan?

MINARET OF ISLAMIC CENTRE
Tak harus menjadi muslim untuk masuk kesini, datang dan tengoklah maskot anyar kota Mataram. Capai puncak tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Barat ini, berdiri dan biarkan angin malam membuat bulu matamu berantakan, sebagai bukti jika kamu tak sedang dalam khayalan.

Pandang Mataram di bawah sana, kota mungil yang menjadi tulang punggung pulau Lombok, merangkap tempat bagi Islam dan Hindu untuk berdiri sejajar dan berjalan berdampingan. Harmonis sekali. Jika telah selesai, turun dan bersyukurlah, kau baru saja melihat utuh tempat lahirnya Sate Rembiga, Ayam Taliwang, dan Plecing Kangkung yang sudah tersohor se-Nusantara. Berbanggalah karena diahirkan di Indonesia!

BEBEK IJO MGM
Jangan pulang sebelum mencoba makanan ini. Simpan niat untuk berburu kuliner sejuta umat, ayunkan kaki dan berjalanlah kemari. Terletak di daerah Cakranegara, di depan MGM terdapat tenda sederhana persis di bibir jalan raya.

Bersihkan tangan dengan gel antiseptik, hapus tata cara makan ala Eropa, buang jauh-jauh sendok dan garpu. Tak perlu meja, duduklah bersila dan bersikaplah sederhana. Bumbu pedas dan minyak bebek akan beradu dengan nasi panas, lantas mengajarimu bahwa menghabiskan duit demi makan di restoran adalah perbuatan sia-sia. Setidaknya sejak malam ini.


Teman, tak perlu ke Paris jika kau hanya ingin melihat Eiffel, tak usah ke Ampera jika ingin mengenal Palembang. Jadilah berbeda, ketika satu dunia terobsesi bertemu Obama di Amerika, kau bisa pergi melihat beruang di Rusia. Jika hidup hanya untuk terlihat sama, buat apa saya bercerita?


Salam,

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.