A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

HYMN ON VACATION
B E T A  I N D O N E S I A


Bantu saya memasung kembali diva holiwud dan pasukan boiben ke dalam teko ajaib. Singkirkan mereka jauh-jauh, karena kita masih punya lusinan musik bagus yang lebih layak menjadi teman jalan-jalan. Setidaknya ketika menjelajahi Nusantara.

Bayangkan saat mata dipejam, punggung diluruskan, dan batang leher menyentuh bantal. Pada kesempatan itu, hanya alunan nada tanpa vokal yang pantas mengawalmu menuju alam hibernasi. Tentu saja karena memilih nyanyian Maili Sairus adalah mimpi buruk yang bahkan lebih menakutkan daripada kematian.

Inilah kompilasi instrumental Indonesia terbaik yang patut didengar. Sebagian besar merupakan lagu daerah gubahan para komposer muda yang luar biasa. Sebelumnya, mari berterimakasih kepada See New Project, Jerry Kamit, VOCA, Relly Daniel Assa, dan Batavia Folk Instrumental.

01. Rambadia Tapanuli (Sumatera Utara)
02. Datun Julud Sape (Kalimantan Selatan)
03. Sabilulungan Chilling Out (Jawa Barat)
04. Bengawan Solo Saxophone (Jawa Tengah)
05. Anging Mammiri Acapella (Sulawesi Selatan)
06. Pulangah Bansi Instrumental (Sumatera Barat)
07. Cublak Cublak Suweng (Jawa Timur)
08. Bolelebo Acapella (Nusa Tenggara Timur)
09. Island Groove Music Lounge (Bali)
10. Kitjir Kitjir Batavia Folk (DKI Jakarta)

[download] Full album.
Origin cover by: Sebastian Alex Dharmawangsa

TRAVEL LOUD!
Pukul empat sore, momen dimana jiwa-jiwa penghuni Ibukota mencapai puncak ketidakpastian. Antara memilih pulang atau bertahan di kubikal, berlindung dari kemacetan yang membosankan atau bergegas ambil bagian dalam gelombang massa yang tidak sabaran.

Jangan mau hidup dengan rutinitas yang tidak pernah memberi kita pilihan. Makan untuk hidup, hidup untuk kerja, kerja untuk uang, uang untuk pergi liburan. Ya, liburan. Karena belajar itu wajib, kerja itu harus, tapi liburan itu urgent!

Tak ada salahnya bertahan di ruang kerja hingga malam. Menyelesaikan tanggung jawab, menunggu matahari dicincang bulan. Berjanjilah bahwa nanti, takkan ada keteledoran yang dapat dijadikan alasan untuk mengganggu kita selagi bersenang-senang.

Satu-satunya hal yang harus dilakukan ketika draft dan segala laporan telah diselesaikan adalah, bergegas ke stasiun untuk sebuah petualangan. Sendiri saja? Tentu, kadang kita memang harus nekat menyusuri labirin dengan tumit sendiri, mengukur diri sejauh mana dapat melangkah, atau menakar kemampuan seberapa lincah otak bekerja dalam perjalanan tanpa teman.

Bantu saya menutup mata dari tujuan destinasi sejuta umat. Mari melipir ke tempat yang kurang populer dibanding Jakarta, Bandung, dan sekitarnya. Pergilah ke "Kota Udang", tempat segala kuliner enak bertakhta, pusat bertemunya budaya Jawa dan Sunda. Cirebon, begitulah orang-orang menyebutnya.

Perjalanan dengan kereta api memakan waktu kurang lebih enam jam. Tiket bisnis dan kelas eksekutif dapat dibeli di stasiun Gambir, dengan tujuan Kejaksan. Untuk kelas ekonomi, pemesanan dapat dilakukan dari stasiun Jakarta Kota, dengan tujuan Cirebon Prujakan. Alternatif lain adalah bus, tiket bisa diperoleh langsung di loket penjualan operator bus di terminal Grogol, Jakarta Barat.

Cirebon bukan hanya tentang kerupuk, terasi, jajanan, atau apapun yang terbuat dari udang.
Berstatus kotamadya, Cirebon berperan strategis sebagai simpul pergerakan ekonomi antara Bandung dan Semarang. Tak hanya itu, Pantura kerap menjadi urat nadi lalu lintas yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya.

Arsitektur tua peninggalan kompeni Belanda masih banyak ditemukan disini. Bergeraklah ke arah pelabuhan di Pasuketan hingga kawasan heritage di Panjunan, lihat dengan mata kepala betapa Fabriek Tenoen, Gedoeng Bentoel, hingga Bank Indonesia masih berdiri kokoh menanti kedatangan ngana.

Disini, di kampung nelayan ini, etnis Jawa, Sunda, Tionghoa, dan Arab melebur dalam satu wadah dinamis yang bergerak mengikuti peradaban. Nyawa kehidupan ada dimana-mana, terselip diantara pagi di Pasar Kanoman, memancar dari aura Keraton Kasepuhan, atau berserakan di Alun-alun Kejaksan. Semua bergeliat, berlomba-lomba menampilkan senyum paling hangat.

Kuliner pun turut ambil bagian. Siapa yang mampu mendustakan nikmatnya empal gentong, sega lengko, nasi jamblang, sampai jajanan formalitas semisal cimol, es duren, cilok, hingga bawang goreng yang sangat tersohor itu?
Cirebon Dalam Galeri Instagram (travendom)
Jika memiliki waktu yang cukup, bergeserlah ke arah Kuningan, lihat betapa megahnya gunung Ciremai yang memelihara kota kebanggaan Sunan Gunung Jati ini. Selain itu, fasilitas hiburan dan akomodasi juga sudah tersedia dengan baik disini. Semua demi menunjang aktifitas wisatawan yang datang.

Kawasan Cipto adalah wilayah yang menjadi konsentrasi pemerintah kota untuk dikembangkan pada abad ini. Hotel budget maupun yang kelas berbintang banyak bermunculan. Layanan penyewaan kendaraan juga tersedia disepanjang jalan ini. Pilih saja sesuai kebutuhan.

Bagi yang tertarik ke Cirebon namun bingung menentukan pilihan akomodasi, tenang, saya punya satu kata kunci, katakanlah lebih sakti dibanding tongkat ibu bidadari.

Buka travelio.com, situs dapat diakses via komputer atau perangkat mobile. Masukkan Cirebon pada kolom lokasi, pilih tanggal dan lama menginap, silakan tunggu dan biarkan mesin pencari bekerja sesuai kodratnya sendiri. Berikutnya pilih hotel yang panjenengan inginkeun, baca deskripsi untuk melihat fasilitas, review, hingga tahun pembangunan dan luas kamar yang mereka tawarkan. Jika telah selesai, loncat ke langkah "Tawar sekarang!"

Masuk Ke travelio.com, Pilih Tanggal Dan Jenis Hotel.
Bukan, ini bukan membeli ikat rambut atau menawar pakaian dalam, kita memang sedang memesan hotel. Tenang saja, Travelio memberi kita kebebasan untuk bargaining sesuka jidat. Lio, si singa pirang yang akan bernegosiasi sesuai penawaran yang kita inginkan. Jika disetujui, maka langkah terakhir adalah melakukan pembayaran. Transaksi ini dapat dilakukan dengan kartu kredit, transfer antar bank, dan internet banking. Cukup duduk manis menunggu rincian pemesanan dikirimkan ke alamat surel. No merpati, no telepati, no basa-basi. Semua beres!

Isi Harga Yang Dikehendaki Dan Biarkan Lio Bekerja Melakukan Penawaran.

Good luck and travel safely untuk ngoni samua!

*Tulisan ini diikutkan dalam lomba “Travelio #YourTripYourPrice Solo Traveling Blog Competition”  yang di-host oleh wiranurmansyah.com  dan disponsori oleh Travelio.com
Keterangan gambar atau photo
"Flight attendant, doors maybe open!"

Tak ada yang berubah dengan bandara Soekarno-Hatta. Holding bay, taxi wayapron, aviobridge, tenant, welcome banner, shuttle bus, dan segala garis jidat petugas ground handling masih sama seperti dulu. Membeku dilapisi debu, depresi dikekang polusi.

Kopi hangat dari balkon lantai sepuluh menjadi penawar bagi oksigen beracun Ibukota. Semacam pagi yang tepat untuk melepas rindu, atau sekedar bertukar kabar sebelum tukang sayur dan kereta berselisih suara. Dua jam setelahnya adik bergegas kerja, mengabdi sebagai orang terpercaya di angkasa raya.

Penerbangan ke Kuala Lumpur 4 jam lagi. Saya mandi, kemas pakaian, memotong kuku, berdandan necis, lalu melakukan web check-in. Tak ada lagi yang harus dilakukan setelah ini, kecuali memastikan berlembar-lembar ringgit telah disimpan di saku celana.

Rincian boarding pass sudah terpampang di beranda pesan. Saya mengintip sebentar, kemudian mengabaikannya. Kursor diseret ke mesin peramban, jari-jari berdansa di papan ketik, mencari kontak terminal Kalideres. Dua, lima, sembilan, hingga puluhan artikel yang disarankan tak ada satupun yang memuat informasi ini. Siapa sangka, layanan terpadu Telkom ternyata masih mengoleksinya.

Suara perempuan tua menjawab panggilan dari seberang, intonasinya rendah, meyakinkan jika ia tersenyum selagi menyapa.

"Baiklah, jika Medan dan Pekanbaru tak ada lagi, mohon simpankan satu tiket ke Palembang. Saya siap untuk keberangkatan 1 jam dari sekarang." 

Semua terjadi tanpa rencana, spontanitas, secara tiba-tiba. Impulsif sekali.

Taksi melambat di persimpangan rumit, mobil-mobil berbaris lengket, menyisakkan ruang gerak yang sempit. Manusia tak lagi menunggangi kuda, kerjanya hanya duduk menanti lampu pemberi aba-aba. Inilah perjalanan pertama ke rahim Sriwijaya.

Bus meninggalkan terminal tepat jam empat sore, estimasi ketibaan pukul satu besok siang. Bersiaplah untuk 21 jam yang menyedot usia. Melintasi Banten kami bergerak ke ujung barat pulau Jawa, melewati sembilan kecelakaan maut, dua pos pemeriksaan, hujan badai di Selat Sunda, lalu merapat di pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Bus ini tak terlalu besar, berkapasitas hanya dua puluh kepala saja. Dari jendela retak yang menganga, bukit-bukit berlomba mengopeng hidung purnama. Melaju menaiki tanjakan, menyebrangi jembatan, menerobos kesunyian, tanpa penerangan, kami melewati perkotaan demi hutan-hutan perbatasan. Kereta pengangkut bauksit meliuk lemas di lintasan berkelok, diseberangnya datang lokomotif bermuatan kayu olahan. Orang-orang tertidur pulas, saya masih terjaga, melamun mencerna lagu yang bikin repot isi kepala. 

Janjimu bukan surga, bukan pula dunia.
Gara-gara cintamu aku masuk neraka.
Untuk apa kau terus berdusta?

Kami berhenti di kedai melayu pada perlintasan trans sumatera di Menggala. Nenek yang duduk disamping saya bergegas ke mushala, merapatkan shaf sebelum fajar tiba. Budak-budak berbaris mengantri makan, ada yang menanti pintu toilet terbuka, menunggu segelas aqua, menyiapkan diri untuk muntah kedua, hingga menggantukan hidup pada grafik ponsel yang sedang mengisi daya.

Jam dua belas siang kami meninggalkan Padamaran, berlepas dari wilayah Ogan Komering Ilir, selangkah lebih dekat ke perut Jakabaring berdiri. Pak Malik menawarkan boncengan dengan ramah, sepuluh ribu untuk ongkos Burlian ke sungai Musi. Inilah jembatan Ampera, ruh kota Palembang, nyawa bagi orang Sumatera Selatan! Begitu katanya.

Incoming call. Saya menatap layar ponsel lekat-lekat.

"Ayah menghubungimu sejak kemarin sore, tapi diluar jangkauan."

"Jangan khawatir, aku sudah di Palembang."

"Bukannya ke Kuala Lumpur? Seingat Ayah, penerbanganmu kemarin siang."

"Tiket sudah kubatalkan, kupilih saja kesini. Untuk ke Putrajaya aku masih bisa dari Denpasar. Sedangkan kalau ke Sumatera, haruslah lewat Jawa. Tak apa Ayah, anggap saja aku di Malaysia."

"Kabari Ibumu, jangan buat dia keliru mengirimkan doa ke negeri Petronas."

Panggilan berakhir, bau darah segar menyengat di seisi kamar tua. Saya tak peduli, inilah waktu yang paling dinanti. Tidur pertama kali dengan posisi yang lebih manusiawi.

5 menit kemudian lemari berbunyi, lalu tv mati sendiri.

Foto: M. Nawi, disadur dari website tipsfotografi.net [direct link]

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.