A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

04 Juni, 2015

AJAK SINGA MENAWAR UDANG

Pukul empat sore, momen dimana jiwa-jiwa penghuni Ibukota mencapai puncak ketidakpastian. Antara memilih pulang atau bertahan di kubikal, berlindung dari kemacetan yang membosankan atau bergegas ambil bagian dalam gelombang massa yang tidak sabaran.

Jangan mau hidup dengan rutinitas yang tidak pernah memberi kita pilihan. Makan untuk hidup, hidup untuk kerja, kerja untuk uang, uang untuk pergi liburan. Ya, liburan. Karena belajar itu wajib, kerja itu harus, tapi liburan itu urgent!

Tak ada salahnya bertahan di ruang kerja hingga malam. Menyelesaikan tanggung jawab, menunggu matahari dicincang bulan. Berjanjilah bahwa nanti, takkan ada keteledoran yang dapat dijadikan alasan untuk mengganggu kita selagi bersenang-senang.

Satu-satunya hal yang harus dilakukan ketika draft dan segala laporan telah diselesaikan adalah, bergegas ke stasiun untuk sebuah petualangan. Sendiri saja? Tentu, kadang kita memang harus nekat menyusuri labirin dengan tumit sendiri, mengukur diri sejauh mana dapat melangkah, atau menakar kemampuan seberapa lincah otak bekerja dalam perjalanan tanpa teman.

Bantu saya menutup mata dari tujuan destinasi sejuta umat. Mari melipir ke tempat yang kurang populer dibanding Jakarta, Bandung, dan sekitarnya. Pergilah ke "Kota Udang", tempat segala kuliner enak bertakhta, pusat bertemunya budaya Jawa dan Sunda. Cirebon, begitulah orang-orang menyebutnya.

Perjalanan dengan kereta api memakan waktu kurang lebih enam jam. Tiket bisnis dan kelas eksekutif dapat dibeli di stasiun Gambir, dengan tujuan Kejaksan. Untuk kelas ekonomi, pemesanan dapat dilakukan dari stasiun Jakarta Kota, dengan tujuan Cirebon Prujakan. Alternatif lain adalah bus, tiket bisa diperoleh langsung di loket penjualan operator bus di terminal Grogol, Jakarta Barat.

Cirebon bukan hanya tentang kerupuk, terasi, jajanan, atau apapun yang terbuat dari udang.
Berstatus kotamadya, Cirebon berperan strategis sebagai simpul pergerakan ekonomi antara Bandung dan Semarang. Tak hanya itu, Pantura kerap menjadi urat nadi lalu lintas yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya.

Arsitektur tua peninggalan kompeni Belanda masih banyak ditemukan disini. Bergeraklah ke arah pelabuhan di Pasuketan hingga kawasan heritage di Panjunan, lihat dengan mata kepala betapa Fabriek Tenoen, Gedoeng Bentoel, hingga Bank Indonesia masih berdiri kokoh menanti kedatangan ngana.

Disini, di kampung nelayan ini, etnis Jawa, Sunda, Tionghoa, dan Arab melebur dalam satu wadah dinamis yang bergerak mengikuti peradaban. Nyawa kehidupan ada dimana-mana, terselip diantara pagi di Pasar Kanoman, memancar dari aura Keraton Kasepuhan, atau berserakan di Alun-alun Kejaksan. Semua bergeliat, berlomba-lomba menampilkan senyum paling hangat.

Kuliner pun turut ambil bagian. Siapa yang mampu mendustakan nikmatnya empal gentong, sega lengko, nasi jamblang, sampai jajanan formalitas semisal cimol, es duren, cilok, hingga bawang goreng yang sangat tersohor itu?
Cirebon Dalam Galeri Instagram (travendom)
Jika memiliki waktu yang cukup, bergeserlah ke arah Kuningan, lihat betapa megahnya gunung Ciremai yang memelihara kota kebanggaan Sunan Gunung Jati ini. Selain itu, fasilitas hiburan dan akomodasi juga sudah tersedia dengan baik disini. Semua demi menunjang aktifitas wisatawan yang datang.

Kawasan Cipto adalah wilayah yang menjadi konsentrasi pemerintah kota untuk dikembangkan pada abad ini. Hotel budget maupun yang kelas berbintang banyak bermunculan. Layanan penyewaan kendaraan juga tersedia disepanjang jalan ini. Pilih saja sesuai kebutuhan.

Bagi yang tertarik ke Cirebon namun bingung menentukan pilihan akomodasi, tenang, saya punya satu kata kunci, katakanlah lebih sakti dibanding tongkat ibu bidadari.

Buka travelio.com, situs dapat diakses via komputer atau perangkat mobile. Masukkan Cirebon pada kolom lokasi, pilih tanggal dan lama menginap, silakan tunggu dan biarkan mesin pencari bekerja sesuai kodratnya sendiri. Berikutnya pilih hotel yang panjenengan inginkeun, baca deskripsi untuk melihat fasilitas, review, hingga tahun pembangunan dan luas kamar yang mereka tawarkan. Jika telah selesai, loncat ke langkah "Tawar sekarang!"

Masuk Ke travelio.com, Pilih Tanggal Dan Jenis Hotel.
Bukan, ini bukan membeli ikat rambut atau menawar pakaian dalam, kita memang sedang memesan hotel. Tenang saja, Travelio memberi kita kebebasan untuk bargaining sesuka jidat. Lio, si singa pirang yang akan bernegosiasi sesuai penawaran yang kita inginkan. Jika disetujui, maka langkah terakhir adalah melakukan pembayaran. Transaksi ini dapat dilakukan dengan kartu kredit, transfer antar bank, dan internet banking. Cukup duduk manis menunggu rincian pemesanan dikirimkan ke alamat surel. No merpati, no telepati, no basa-basi. Semua beres!

Isi Harga Yang Dikehendaki Dan Biarkan Lio Bekerja Melakukan Penawaran.

Good luck and travel safely untuk ngoni samua!

*Tulisan ini diikutkan dalam lomba “Travelio #YourTripYourPrice Solo Traveling Blog Competition”  yang di-host oleh wiranurmansyah.com  dan disponsori oleh Travelio.com

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.