Sebut Saja Malaysia


Jembatan Ampera, Palembang (2013)

"Flight attendant, doors maybe open!"

Tak ada yang berubah dengan Bandara Soekarno-Hatta. Holding bay, taxi wayapron, aviobridge, tenant, welcome banner, shuttle bus, dan segala garis jidat petugas darat masih sama seperti dulu; tebal dilapisi debu, depresi dikekang polusi.

Kopi hangat dari balkon lantai sepuluh adalah penawar bagi udara beracun Kota Jakarta. Di bawah sana tampak klakson penjual sayur dan rangkaian kereta yang sedang berselisih suara. Inilah saat yang tepat untuk menadah surya, atau sekadar duduk bertukar kabar sebelum adinda pertama berangkat kerja, pergi mengabdi di angkasa raya.

Ponsel berkedip, mengingatkan penerbangan ke Kuala Lumpur akan berangkat empat jam lagi. Saya bergegas mandi, berdandan, lalu melakukan lapor berangkat di laman daring maskapaiTak ada yang harus dilakukan setelah ini, kecuali memastikan paspor dan Ringgit telah aman di saku celana.

Lembar boarding pass sudah tersaji di kotak surel. Saya mengintip sebentar, kemudian mengabaikannya. Bukannya berkemas, saya menyeret kursor ke mesin peramban, membiarkan jemari berdansa mencari kontak Terminal Kalideres. Dua, lima, sembilan, hingga puluhan artikel yang disarankan tak ada satu pun yang memuat informasi ini. Tak dinyana, layanan informasi Telkom 108 ternyata masih mengoleksinya.

Suara perempuan tua menjawab panggilan dari seberang, intonasinya rendah, meyakinkan jika dia tersenyum selagi menyapa.

"Baiklah, jika Medan dan Pekanbaru tak ada lagi, mohon ambilkan satu tiket menuju Palembang. Saya siap untuk keberangkatan 1 jam dari sekarang." 

Semua terjadi tanpa rencana, secara tiba-tiba. Impulsif sekali.

Taksi melambat di persimpangan yang rumit. Mobil-mobil berbaris rapat, menyisakkan ruang gerak yang sempit. Manusia tak lagi menunggangi kuda, kerjanya hanya duduk menanti lampu pemberi aba-aba. Inilah perjalanan pertama ke Sumatra, melancong ke jantung Sriwijaya.

Bus meninggalkan terminal pukul empat sore, dengan estimasi ketibaan pukul satu besok siang. Bersiaplah untuk 21 jam yang menyedot usia. Melintasi Banten, bus bergerak ke ujung barat Pulau Jawa, melewati sembilan kecelakaan maut, dua pos pemeriksaan, hujan badai di Selat Sunda, lalu merapat di Pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Bus ini tak terlalu besar, berdaya tampung hanya dua puluh kepala. Dari jendela retak yang menganga, bukit-bukit berlomba mengopeng hidung purnama. Kami melaju menaiki tanjakan, menerobos kesunyian, melewati pemukiman hingga hutan-hutan di perbatasan.

Kereta pengangkut bauksit meliuk lemas di lintasan berkelok, di seberangnya datang lokomotif bermuatan kayu olahan. Orang-orang tertidur pulas, namun saya masih terjaga, pusing mencerna lirik lagu yang bikin repot isi kepala. 

"Janjimu bukan surga, bukan pula dunia.
Gara-gara cintamu aku masuk neraka.
Untuk apa kau terus berdusta?"

Kami berhenti di kedai Melayu pada jalur Trans-Sumatra di Menggala. Nenek di samping saya bergegas ke musala, merapatkan saf sebelum fajar menyapa. Budak-budak berbaris memanjang, ada yang kelaparan, ada yang menunggu toilet terbuka. Di sudut lain, orang-orang terbelenggu pada gawai yang sedang mengisi daya, beberapa bahkan terkapar pada muntah kedua.

Jam dua belas siang bus meninggalkan Padamaran, berlepas dari Ogan Komering Ilir menuju tempat Jakabaring berdiri. Tak berapa lama kami tiba di tujuan. Pak Malik menawarkan boncengan dengan ramah, sepuluh ribu untuk tarif dari Burlian ke Sungai Musi. "Inilah Jembatan Ampera, urat nadi Kota Palembang!", begitu katanya.

Incoming call. Saya menatap layar ponsel lekat-lekat.

"Bapak menghubungimu sejak kemarin sore, tetapi selalu di luar jangkauan."

"Jangan khawatir, aku sudah di Palembang."


"Bukannya ke Kuala Lumpur?"

"Tiket sudah kubatalkan. Untuk ke Putrajaya, aku bisa berangkat langsung dari Denpasar. Namun jika hendak ke Sumatra, aku harus terbang dulu ke Jawa. Tenanglah, anggap saja aku di Malaysia."


"Lekas kabari Ibumu. Jangan buat dia keliru mengirimkan doa ke ujung Petronas."

Panggilan berakhir. Aroma darah segar menyengat memenuhi seluruh kamar. Saya tak peduli, inilah waktu yang tepat untuk tidur dengan posisi yang lebih manusiawi.

Lima menit kemudian pintu almari berbunyi, lalu televisi mati sendiri. Persetan!


Musik untuk perjalanan ini:
Gending Sriwijaya — Indisch Muzikanten Collectief
Terima kasih:
Richard Bahisda, Aldo Grice, Ryan William, Dee Je.

Tidak ada komentar