A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

01 Juni, 2015

SEBUT SAJA MALAYSIA

Keterangan gambar atau photo
"Flight attendant, doors maybe open!"

Tak ada yang berubah dengan bandara Soekarno-Hatta. Holding bay, taxi wayapron, aviobridge, tenant, welcome banner, shuttle bus, dan segala garis jidat petugas ground handling masih sama seperti dulu. Membeku dilapisi debu, depresi dikekang polusi.

Kopi hangat dari balkon lantai sepuluh menjadi penawar bagi oksigen beracun Ibukota. Semacam pagi yang tepat untuk melepas rindu, atau sekedar bertukar kabar sebelum tukang sayur dan kereta berselisih suara. Dua jam setelahnya adik bergegas kerja, mengabdi sebagai orang terpercaya di angkasa raya.

Penerbangan ke Kuala Lumpur 4 jam lagi. Saya mandi, kemas pakaian, memotong kuku, berdandan necis, lalu melakukan web check-in. Tak ada lagi yang harus dilakukan setelah ini, kecuali memastikan berlembar-lembar ringgit telah disimpan di saku celana.

Rincian boarding pass sudah terpampang di beranda pesan. Saya mengintip sebentar, kemudian mengabaikannya. Kursor diseret ke mesin peramban, jari-jari berdansa di papan ketik, mencari kontak terminal Kalideres. Dua, lima, sembilan, hingga puluhan artikel yang disarankan tak ada satupun yang memuat informasi ini. Siapa sangka, layanan terpadu Telkom ternyata masih mengoleksinya.

Suara perempuan tua menjawab panggilan dari seberang, intonasinya rendah, meyakinkan jika ia tersenyum selagi menyapa.

"Baiklah, jika Medan dan Pekanbaru tak ada lagi, mohon simpankan satu tiket ke Palembang. Saya siap untuk keberangkatan 1 jam dari sekarang." 

Semua terjadi tanpa rencana, spontanitas, secara tiba-tiba. Impulsif sekali.

Taksi melambat di persimpangan rumit, mobil-mobil berbaris lengket, menyisakkan ruang gerak yang sempit. Manusia tak lagi menunggangi kuda, kerjanya hanya duduk menanti lampu pemberi aba-aba. Inilah perjalanan pertama ke rahim Sriwijaya.

Bus meninggalkan terminal tepat jam empat sore, estimasi ketibaan pukul satu besok siang. Bersiaplah untuk 21 jam yang menyedot usia. Melintasi Banten kami bergerak ke ujung barat pulau Jawa, melewati sembilan kecelakaan maut, dua pos pemeriksaan, hujan badai di Selat Sunda, lalu merapat di pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Bus ini tak terlalu besar, berkapasitas hanya dua puluh kepala saja. Dari jendela retak yang menganga, bukit-bukit berlomba mengopeng hidung purnama. Melaju menaiki tanjakan, menyebrangi jembatan, menerobos kesunyian, tanpa penerangan, kami melewati perkotaan demi hutan-hutan perbatasan. Kereta pengangkut bauksit meliuk lemas di lintasan berkelok, diseberangnya datang lokomotif bermuatan kayu olahan. Orang-orang tertidur pulas, saya masih terjaga, melamun mencerna lagu yang bikin repot isi kepala. 

Janjimu bukan surga, bukan pula dunia.
Gara-gara cintamu aku masuk neraka.
Untuk apa kau terus berdusta?

Kami berhenti di kedai melayu pada perlintasan trans sumatera di Menggala. Nenek yang duduk disamping saya bergegas ke mushala, merapatkan shaf sebelum fajar tiba. Budak-budak berbaris mengantri makan, ada yang menanti pintu toilet terbuka, menunggu segelas aqua, menyiapkan diri untuk muntah kedua, hingga menggantukan hidup pada grafik ponsel yang sedang mengisi daya.

Jam dua belas siang kami meninggalkan Padamaran, berlepas dari wilayah Ogan Komering Ilir, selangkah lebih dekat ke perut Jakabaring berdiri. Pak Malik menawarkan boncengan dengan ramah, sepuluh ribu untuk ongkos Burlian ke sungai Musi. Inilah jembatan Ampera, ruh kota Palembang, nyawa bagi orang Sumatera Selatan! Begitu katanya.

Incoming call. Saya menatap layar ponsel lekat-lekat.

"Ayah menghubungimu sejak kemarin sore, tapi diluar jangkauan."

"Jangan khawatir, aku sudah di Palembang."

"Bukannya ke Kuala Lumpur? Seingat Ayah, penerbanganmu kemarin siang."

"Tiket sudah kubatalkan, kupilih saja kesini. Untuk ke Putrajaya aku masih bisa dari Denpasar. Sedangkan kalau ke Sumatera, haruslah lewat Jawa. Tak apa Ayah, anggap saja aku di Malaysia."

"Kabari Ibumu, jangan buat dia keliru mengirimkan doa ke negeri Petronas."

Panggilan berakhir, bau darah segar menyengat di seisi kamar tua. Saya tak peduli, inilah waktu yang paling dinanti. Tidur pertama kali dengan posisi yang lebih manusiawi.

5 menit kemudian lemari berbunyi, lalu tv mati sendiri.

Foto: M. Nawi, disadur dari website tipsfotografi.net [direct link]

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.