A TRAVEL BLOG BY AIYA LEE

22 Juli, 2015

KARENA JOGJA ISTIMEWA

Mendeskripsikan Yogyakarta sama halnya dengan bercerita tentang Bali, sama-sama telah menyandang nama besar. Candi yang megah, masyarakat yang ramah, senyum yang tulus, kehidupan yang sederhana, bersahaja, kehangatan khas Indonesia, yang ini, yang itu, yang semuanya sempurna. Indah tanpa celah dan tak kekurangan apa-apa. Mengupas keistimewaan dan pesona mereka berarti memilih mengulang pujian-pujian yang sama.

Malioboro 2012 adalah sebidang jalan sempit yang mementaskan perilaku sosial kaum madya hingga kalangan ningrat. Di sebelah timur berdiri De White Paal sebagai titik hubung antara Laut Selatan, Keraton, dan gunung Merapi yang berderet sejajar. Lalu apesal riwayat Beringharjo, Niil Maatschappij, Vredeburg, hingga stasiun besar di bilangan Sosromenduran. Lupakan saja, mengurai mereka berarti setuju untuk bercerita lebih jauh hingga ke Borobudur dan Prambanan di Magelang sana.

Jogja tiga tahun lalu adalah kota penyelamat, yang melemparkan pintu ajaib manakala rutinitas kerja dan kuliah merampas hak sebagai manusia bebas dan merdeka. Di dalam koridor sepur tua saya duduk menerawang jendela, berharap kondektur mempercepat kereta. Deana, Bram, Esther, dan Anton telah bertemu di alam ketiga, terperangkap dalam perjalanan malam menuju Semarang, ke kota lumpia.

Tiga jam meninggalkan Lawang Sewu, minibus hijau tua melintasi jalan layang, di bawah sana terpampang landscape menyedihkan. Rumah tanpa atap, tumbuhan tanpa warna, ternak tanpa gembala, jalan, sungai, dan segalanya adalah abu-abu. Lahar dan air mata meluap bersama, sepatu dan batang pisang berserakan di dalam selokan. Merapi menyambut kami dengan angkuh, udaranya menerbangkan doa dan harapan-harapan. Selamat datang di Jogja, kota ini sedang kesakitan.


Jogja bukan yang dulu, tak ada lagi Hilda yang mengundang ke pementasan barongsai saat perayaan Imlek, atau Arie yang selalu sibuk kuliah dan tak punya waktu hingga saya kembali ke Jakarta, bukan pula tentang Handy yang menekan klakson ketika saya membelakangi mobilnya, kemudian membayar semua makanan sebagai kado ulang tahun di malam yang sama.

Gunung pemarah itu telah jinak, ditopangnya awan dan langit biru saat pesawat kami merendah di depannya. Jogja kali ini tentang Adisucipto yang nampak sempit, jajanan di Legend Caffee yang enak dan murah, hotel-hotel baru yang mengancam ruang tata kota, hingga pusat perbelanjaan moderen yang didirikan untuk melaknat ruh Alun-alun dan euphoria Taman Siswa. Begitulah, sakralnya budaya dan tata krama sudah ditelanjangi atas nama pariwisata. Haleluya!

"Mas sudah di Jogja, sayang. Kalau tak ada halangan hari ini juga kita pindahan, titip saja kunci kamarnya. Selamat sekolah, selamat belajar."

Saya menarik buku kumal, merobeknya untuk membuat daftar kegiatan selama disana. Adik nomor lima sudah pamitan sejak pagi buta, izin bermalam di sekolah agar nilai ekstrakulikulernya tak berubah warna. Belanja lemari, sewa pick-up, cari wi-fi, kirim artikel, ambil raport, mengunjungi Universitas Gajah Mada, Tamansari, bertemu komunitas pejalan, buka puasa dengan sahabat lama, makan malam bersama Leonard, hitam, gelap, lalu tumbang menindih catatan yang masih di awang-awang. Takluk sebelum perang, layu sebelum berkembang

Iin meretas sebagai titisan ibu peri, mengantar pergi kesana kemari. Darinya pula Jogja nampak tidak lebih luas dibanding jidat orang dewasa. Dee Jee tak kalah sakti, selaku duta sebuah komunitas pejalan, dia mengundang saya ke lesehan di kolong jembatan layang. Kunci motor diserahkannya sebagai fasilitas jalan-jalan. Dua hari kemudian saya didaulat sebagai “penanggung jawab” wilayah Bali dan Maluku Utara.

Ah, kota ini semakin menyebalkan saja, Ia memutihkan sumpah serapah yang saya ucapkan beberapa tahun lalu. Ketika dengan yakin saya berjanji tak akan jatuh hati pada nama besarnya, atau terperangkap dalam keramah-tamahannya. Tak mungkin, tak akan mungkin.

Kini bukan lagi kisah tentang menemukan keluarga, saya bahkan disuguhkan pelukan-pelukan hangat laksana saudara. Handy pun hadir untuk yang kedua kali, menculik saya dari Vito Cafe Seturan ketika sedang konsentrasi mengirim kerjaan. Tak lupa dengan Hajah Toyib, ibu asrama baru untuk adik nomor lima. Terimakasih sudah bersedia menjadi mata-mata ketika adik jauh dari jangkauan mama.

Satu jam sebelum mengangkasa, saya melepas separuh cinta untuk Yogyakarta. Kepada adik nomor lima yang mau tidak mau, suka tidak suka, telah memaksa saya kembali kesana. Yang meninggalkan rumah demi bangku SMA, dan meyakinkan kami bahwa perempuan kecil pun bisa merantau ke mana saja.

Atau, bisa saja separuh cinta itu masih harus dibagi dua dengan Dia yang juga telah memilih menetap disana. Dia yang menjadi alasan bahwa ada masa lalu yang belum selesai hari ini. Entahlah, Jogja merebut separuh bahagia dari saya. Maaf jika saya menjadi seperti mereka, orang-orang yang selalu mengulang pujian-pujian yang sama. Kota ini memang istimewa!

Salam,

------------------------------------------------------------



Terimakasih kepada:

Deana Chandrawijaya | Bram Anthony
Esther Berliana | Anton Sugiharto
Hilda Komalasari | Handy Bareszky
Arie Wicaksono | Dee Jee | Iin Tjan
Hajah Toyib | Leonard Hutagalung
dan tentunya Adik Nomor Lima. 

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.