24 Oktober, 2019

KARENA JOGJA ISTIMEWA

Mendeskripsikan Yogyakarta sama halnya dengan bercerita tentang Bali, sama-sama telah menyandang nama besar; candi megah, masyarakat ramah, senyum tulus, kehidupan sederhana, bersahaja, serta hangat. Indah tanpa celah dan tak kekurangan apa-apa.

Mengupas keistimewaan dan pesonanya berarti memilih mengulang pujian-pujian yang sama.

Malioboro 2012 adalah sebidang jalan sempit yang mementaskan perilaku sosial kaum madya hingga kalangan ningrat. Di sebelah timur, berdiri De White Paal sebagai titik hubung antara Laut Selatan, Keraton, dan gunung Merapi yang berderet sejajar.

Lalu bagaimana dengan riwayat Beringharjo, Niil Maatschappij, Vredeburg, hingga stasiun besar di bilangan Sosromenduran?

Lupakan saja, mengurai mereka berarti setuju untuk bercerita lebih jauh hingga ke Borobudur dan Prambanan di Magelang sana.

Jogja tiga tahun lalu adalah kota penyelamat, yang melemparkan pintu ajaib manakala rutinitas kerja dan kuliah merampas hak sebagai manusia bebas dan merdeka. Di dalam koridor sepur tua saya melamun menatap persawahan, berharap kondektur mempercepat kereta. 

Perjalanan dari Jakarta berakhir sudah, rangkaian telah tiba di Stasiun Poncol. Semarang kali ini tak bisa panjang, Jogja sudah menunggu dengan gempita. Esther, Deana, dan Bram memilih jelajah singkat di kota lumpia. 

Tiga jam meninggalkan Lawang Sewu, minibus hijau tua melintasi jalan layang, di bawah sana terpampang pemandangan menyedihkan. Rumah tanpa atap, tumbuhan tanpa warna, ternak tanpa gembala, jalan, sungai, dan segalanya adalah abu-abu. Lahar dan air mata meluap bersama, sepatu dan batang pisang berserakan di dalam selokan.

Merapi menyambut kami dengan angkuh, udaranya menerbangkan doa dan harapan-harapan. Selamat datang di Jogja, kota ini sedang kesakitan.


Jogja bukan yang dulu, tak ada lagi Hilda yang mengundang ke pementasan barongsai saat perayaan Imlek, atau Arif yang selalu sibuk kuliah dan tak punya waktu hingga saya kembali ke Jakarta, bukan pula tentang Handy yang menekan klakson ketika saya membelakangi mobilnya, kemudian membayar semua makanan sebagai kado ulang tahun di malam yang sama.

Gunung pemarah itu telah jinak, ditopangnya awan dan langit biru saat pesawat kami merendah di depannya. Jogja kali ini tentang Adisucipto yang nampak sempit, jajanan di Legend Café yang enak, hotel-hotel baru yang mengancam ruang tata kota, hingga pusat perbelanjaan moderen yang didirikan untuk melaknat ruh Alun-alun dan euphoria Taman Siswa. Begitulah, sakralnya budaya dan tata krama sudah ditelanjangi atas nama pariwisata.

"Mas sudah di Jogja, sayang. Kalau tak ada halangan hari ini juga kita pindahan, titip saja kunci kamarnya. Selamat sekolah, selamat belajar."

Saya menarik buku kumal, merobeknya untuk membuat daftar kegiatan selama disana. Adik nomor empat sudah pamitan sejak pagi buta, izin bermalam di sekolah agar nilai ekstrakulikulernya tak berubah warna.

Belanja lemari, sewa pick-up, cari wi-fi, kirim artikel, ambil rapor, berkunjung ke Universitas Gajah Mada, Tamansari, bertemu teman-teman Couchsurfing, buka puasa dengan sahabat lama, makan malam bersama Leonard, hitam, gelap, lalu tumbang menindih catatan yang masih di awang-awang. Takluk sebelum perang, layu sebelum berkembang.

Iin menjelma sebagai ibu peri, mengantar pergi kesana-kemari. Darinya pula Jogja nampak tidak lebih luas dibandingkan di peta. Dee Jee tak kalah sakti, selaku duta komunitas pejalan, dia mengundang saya ke lesehan di kolong jembatan layang. Kunci motor diserahkannya sebagai fasilitas jalan-jalan.

Ah, kota ini semakin menyebalkan saja, Ia memutihkan sumpah serapah yang saya ucapkan beberapa tahun lalu. Ketika dengan yakin saya berjanji tak akan jatuh hati pada nama besarnya, atau terperangkap dalam keramah-tamahannya. Tak mungkin, tak akan mungkin.

Kini bukan lagi kisah tentang menemui keluarga, saya bahkan disuguhkan pelukan-pelukan hangat laksana saudara. Handy datang untuk yang kedua kali, menculik saya dari Vito Cafe Seturan ketika sedang konsentrasi menyelesaikan kerjaan. Tak lupa dengan Hajah Toyib, induk semang baru untuk adik nomor empat.

Satu jam sebelum mengangkasa, saya melepas separuh cinta untuk Yogyakarta. Kepada adik yang mau tidak mau, suka tidak suka, telah memaksa saya kembali ke sana; yang juga telah meninggalkan rumah demi bangku SMA, dan meyakinkan kami bahwa perempuan kecil pun bisa merantau ke mana saja.

Atau, bisa saja separuh cinta itu masih harus dibagi dua dengan Dia yang juga telah memilih menetap di sana. Dia yang menjadi alasan bahwa ada masa lalu yang belum selesai hari ini.

Entahlah, Jogja merebut separuh bahagia dari saya. Maaf jika saya menjadi seperti mereka, orang-orang yang selalu mengulang pujian-pujian yang sama. Kota ini memang istimewa!


Terima kasih:

Iin Ilham Tjan | Handy Bareszky | Dee Jee | Hilda Komalasari | Arif Wicaksono | Deana Chandrawijaya | Esther Berliana | Maties Bram Anthony | Leonard Pasaribu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Travendom terbuka untuk para blogwalkers. Namun, segala komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Hal-hal terkait SARA tidak dibenarkan di sini

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.