25 Oktober, 2019

Doom Dan Rahasia

Apa jadinya jika seorang pejalan berdarah Maluku yang menyenangi apapun tentang Bali dan Yunani, datang ke sebuah pulau tua rasa Belanda di Papua; yang masyarakatnya penggemar sepak bola, zumba, dan musik deutro Afrika?

Doom, merupakan daratan seluas 500 hektar yang mengapung kira-kira 3 Km dari bibir Kota Sorong. Dihuni oleh lebih dari tiga ribu kepala keluarga, pulau ini adalah cikal bakal terbentuknya peradaban Sorong dan segala hal yang mengatasnamakan modernisasi.

Saya adalah satu dari lima belas orang yang menumpangi perahu kayu bermesin 13 PK. Anak muda menyebutnya Jonson, orang tua mengenalnya sebagai taksi laut, dan orang mabuk memujinya sebagai moda penyeberangan cuma-cuma. 

Pukul sembilan malam, saya bertolak dari Halte Doom di Sorong menuju dermaga Doom. Dikawal nyanyian motoris cerewet yang terdengar seperti puji-pujian setan, saya mendekat ke jendela perahu, merapatkan dagu menikmati kerlap-kerlip pelabuhan peti kemas dan sorotan mercusuar pulau Dofior.

Sepasang tuna wicara memadu kasih di baris depan, sedang tiga nona Biak sibuk mengutuk harga pinang di bangku belakang.

“Lima ribu per kepala!” Motoris mengusir lamunan ketika perahu melekat di kaki dermaga. Tukang becak saling sikut merebut penumpang. Di ujung jembatan, satu mama berambut pirang menggenggam ikat pinggang, siap melabrak enam bocah berisik yang asik berenang telanjang bulat. Malam-malam.

Saya tinggal di rumah kepala katering junjungan di pulau ini. Maar Yakeba, mama enerjik berdarah besser yang semangat mengajarkan banyak hal tentang memasak. Bersama Nando anaknya, saya diberi tanggung jawab sebagai asisten koki terkenal untuk membuat kulit panada, lontar papua, apem labu, hingga roti unti setiap jam tiga sore.

Secara administratif, Doom berada di Distrik Sorong Kepulauan dan membawahi enam RK, atau semacam Rukun Tetangga (RT). Rumah Mama Yakeba terletak di RK IV, sebuah dusun dengan populasi pemakan pinang, mace penutur mop, remaja pemabuk dan gadis tukang gosip terbanyak.

Barangkali, Doom juga merupakan satu-satunya tempat di Papua yang memiliki becak sebagai moda transportasi utama dan orang Papua asli sebagai pengayuhnya.

Pada era Onderafdeling, pulau ini menjadi basis Hoofd van Plaatselijk Bestuur yang cukup berpengaruh di wilayah kepala burung Irian. Ini seperti pusat pergudangan terkemuka di bawah pengawasan para meneer "Van Oranje." 

Mewarisi kemajuan tata kota Belanda, rumah-rumah tropis bergaya Eropa juga telah didukung oleh instalasi air terpadu, pembangkit listrik Indonesia, hingga terowongan paralel buatan Jepang. Orang sana menyebutnya lovrak.

Tak jauh dari lapangan bola, berdiri gereja misionaris tua di persimpangan jalur laut. Kokoh bersebrangan dengan sebuah toko kelontong Cina dan satu-satunya PAUD di pulau ini. Dua ratus meter ke barat ada masjid Maloku dengan menara setinggi 12 hasta, pun merupakan salah satu masjid tertua di wilayah administratif Kota Sorong.

Pada beberapa pekarangan rumah kristiani, berdiri kamar lonceng yang dibangun menyerupai sebuah pos jaga dengan tanda salib di atapnya. Lonceng-lonceng itu dibunyikan sebagai pengingat waktu ibadah, berita kematian, dan kabar tentang upacara pernikahan.

"Hanya pemabuk berdosa yang sanggup membunyikan lonceng-lonceng ini melebihi suara semboyan tanda bahaya." Kata Mega, seorang kemayu mantan narapidana.

Malam hari, ketika sebuah pesta dansa digelar sebagai perayaan resepsi perkawinan, orang-orang berdesakan, merapat mencari pasangan. Beberapa datang dari Sorong, ada pula yang bertandang dari pulau-pulau seberang.

Pesta, bagi masyarakat di sini merupakan suka cita luar biasa. Orang muda menari sampai pagi, diiringi musik Ambon, Halmahera, Amerika, Turki, hingga India. “Ini dansa pukul tanah!” Mega membisikkan saya yang takjub keheranan.

Saya lalu diundang ke bilik rahasia Oginawa, seorang kemayu asli Waisai yang cakap berdialek Ternate, namun terobsesi menjadi warga negara Jepang.

Kami duduk membentuk separuh lingkaran, berderet dari kiri ke kanan; Anindita, Kencana, Esbeth, dan Mama Tua sebagai tamu dari luar kota yang mulutnya sibuk menjelaskan panjang lebar tentang suka-duka hidup sebagai lelaki lentik di tanah Papua. 

"Orang-orang di sini memanggil kami dengan kata 'bambu', menggantikan banci atau waria yang terdengar merendahkan." katanya.

Dua botol sopi dicampur minuman bersoda telah digilir searah jarum jam, dan sudah tentu gelas tidak perlu berhenti di saya. Separuh dari mereka meracau kepanasan, sebagian terkapar, dan berbalas mop dibawah sadar. Saya menekuk lutut, menahan tawa pelan-pelan, sembari membuka sedikit jendela demi menuruti dada yang kehilangan oksigen.

Subuh tiba ketika pesta di penghujung selesai. Saya dan Nando bergegas kembali ke rumah, melewati setapak gelap berbau pesing yang masih basah. Di beberapa sudut, orang-orang berjejer di selokan yang kering; ada yang berbagi pinang, memetik gitar, bernyanyi, atau menghitung bintang dibalik asap tembakau yang mengepul dari mulut.

Pemandangan dari Jetty RK IV, Pulau Doom.
"Ini torang pulang lewat jetty andalan warga, jam begini pasti masih ada Sayuti di sana, lagi sibuk tunggu de pu laki datang bawa barang naraka untuk dipake sama-sama.

Biasanya teman-teman kumpul untuk ambil barang di Oginawa, termasuk aparat. Ah sudah, ini su jadi rahasia umum." Nando menutup cerita dengan melompati selokan lebar di samping sumur tua.

Saya mengikutinya sambil meyakinkan pijakan mendarat dengan baik dan suara langkah kaki tak sampai ke telinga Mama Yakeba. Tepat pukul lima, kami sudah berada di kamar, saya mengunci pintu, menarik selimut, dan mencoba percaya jika pengalaman ini terlalu luar biasa.

Siapa sangka, dua jam lalu saya berbagi tawa dengan para pengedar di rumah bandar narkoba.


Salam,

*Seluruh nama disamarkan untuk alasan privasi dan keamanan.

1 komentar:

Travendom terbuka untuk para blogwalkers. Namun, segala komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Hal-hal terkait SARA tidak dibenarkan di sini

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.