22 Oktober, 2019

Jefman, 93701

Runway Bandara Jefman
Pagi pukul tujuh, aroma kayu bakar melekat di dinding-dinding kamar. Ruben mengetuk pintu pelan-pelan, membangunkan saya yang baru terjaga dua jam lalu. Bangun cepat, jonson datang 30 menit lagi, katanya.

Semesta di Papua memang bergulir lebih awal, Tuhan dan matahari tiba dua jam lebih cepat di sini.

Dari dapur yang tak bisa dibilang sempit, duduk Maar Yakeba mengawasi semangkuk kamomor dan dua cangkir teh goalpara yang masih panas. Saya bergegas mandi dan sarapan bersamanya sebelum pergi.

Vanus tiba belasan menit kemudian, merapat bersama long boat bertenaga 15PK dengan kapasitas angkut empat kepala.

Tempo! Kita harus lekas pergi, sebelum ombak hantam torang.” Perintahnya.

Hari ini, di Kamis ketiga pada April yang memilih tandus, kami bertolak dari Doom ke pulau Jefman. Sebuah daratan yang masa depannya telah mati sepuluh tahun lalu.
*  *  *

Frans menarik tali pinggang ketika indikator sabuk pengaman berkedip, empat awak kabin kembali bersandar di jumpseat. Dari kokpit yang disesaki perangkat navigasi, Capt. Lusset mengirim perintah persiapan mendarat.

Seribu kaki di bawah sana, tampak buih gelombang Laut Halmahera yang bertubi-tubi menampar pesisir Sorong, sebuah bandar yang pernah dikendalikan Kontroleur Hoofd van Paatselijk Bestuur di era Onderafdeling.

Fokker F28 yang mengangkut 39 penumpang beserta kru terbang merendah, bersiap untuk mendarat. Hirias, seorang petugas menara kontrol baru saja mengirim pesan, meminta Lusset bersedia mengalihkan penerbangan itu ke Biak. Cuaca kian buruk untuk sebuah pendaratan, dengan alasan apapun.

Di kiri Frans, duduk seorang perempuan asal Timika yang tengah mengepalkan tangannya. Di seberang, dua nona Ambon sedang berdoa menutup mata. Baki jendela dibiarkan terbuka. Semua terdiam, patuh mengikuti prosedur keselamatan penerbangan sipil sebelum mendarat.

Tak ada pemandangan lain kecuali langit yang benar-benar gelap, dan suara dua mesin Rolls-Royce Spey yang dipacu maksimal untuk mengangkat beban seberat ribuan ton.

Frans mengusap wajahnya, kepalanya penuh dengan banyak kemungkinan dan secuil rasa bahagia. Dadanya berdetak cemas, tak sabar untuk segera tiba dan menghadiri undangan pesta keluarga; sebuah perayaan sederhana yang penuh dengan dekorasi bunga kamboja.

Lima menit kemudian Ia terjaga dalam tidur yang panjang. Perjalanan ini telah selesai.

Kamis malam, lewat laporan terbaru di saluran televisi andalan, seseorang membacakan berita:

Penerbangan 724 yang lepas landas dari Ambon menuju Sorong telah menutup kisahnya bersama 41 orang yang dilaporkan meninggal dunia.

Pesawat terhempas saat menghantam bukit batu ketika berupaya mengganti kordinat untuk tindakan divert ke Biak. Lambung bernomor PK-GFU patah menjadi 3 bagian. Menurut catatan, terdapat 2 penumpang cedera dan 2 orang dilaporkan selamat dalam insiden ini.” – Kamis, 1 Juli 1993.

Pelukan-pelukan yang harusnya mekar di pintu kedatangan, kini menjadi luapan emosi kehilangan. Orang-orang sibuk mengingat kebaikan korban, berharap Tuhan berkenanan menukar garis tangan. Di sebuah tanjung berbatu di bibir lautan, ada regu penyelamat yang tulus bekerja atas alasan kemanusiaan.
*  *  *

Jonson ditambatkan pada sebuah jangkar setelah tiba di pulau ini. Saya menarik napas panjang untuk merayakan mimpi telah berkunjung ke pulau yang mati.

Tak ada lagi pesawat yang datang dan pergi, hilang sudah segala jejak, kecuali landasan sepanjang 1.850 meter yang digunakan anak-anak berlatih sepeda, bermain bola, mengejar kupu-kupu, atau berjalan kaki ke sekolah.

Asap ikan bakar mengepul harum dari rumah Ferdinand, nelayan paruh baya yang mengangkat Vanus sebagai anaknya. Kami dijamu dengan hidangan sepanjang meja dan taplak putih yang bersih dari noda.

Ruben meraih pinang, menawarkannya kepada empat pemuda yang berbalas mop di selasar utara. Saya memilih berjalan ke timur, mencari jejak peradaban Jefman yang kini mati tersungkur.

Puluhan tahun lalu, orang-orang yang hendak ke Sorong harus mendarat di sebuah pulau yang berada 15 mil di sebelah barat. Tak ada landasan pacu di kota itu, kecuali pelabuhan peti kemas yang menjadi satu-satunya gerbang ekonomi Irian Jaya.

Sesiapa yang tiba di Jefman, masih perlu menempuh 40 menit pelayaran menuju Sorong. Barang yang dibawa tak boleh banyak, kelebihan bagasi akan ditinggalkan di Ambon atau Ujung Pandang untuk diterbangkan pada hari berikutnya.

Lain dulu lain sekarang, ketika lalu lintas udara telah dialiahkan ke Bandara Domine Eduard Osok, Jefman perlahan ditinggalkan. Gedung terminal kedatangan hingga menara kontrol hanya menyisakkan pondasi yang rata dengan tanah.

Di pesisir dermaga tua, ada belasan depot kecil terbengkalai yang menunggu ditiupnya sangkakala sebagai tanda kiamat telah tiba.

Berenang di Tanjung Batu
Anak-anak berenang telanjang, menikmati paparan tabir surya dan menjadikan mereka menarik dengan caranya. Saya menyingkirkan sarang laba-laba saat melewati tiga bunker tua di tanjung batu. Seratus meter di belakang, berdiri sebuah bukit setinggi 35 kaki yang menghadap lautan bebas. Vanus mengulurkan tangan dan menggoda saya untuk naik ke atas.

Itulah bukit batu, puncak tertinggi di sini. Batu yang kau duduki adalah titik terakhir penerbangan itu.” Vanus mengarahkan telunjuk, tepat ketika saya sedang bersila di atasnya.

Bukit Batu, Pulau Jefman
Satu minggu lalu, ketika memutuskan datang ke Sorong, saya menyusun daftar kunjungan wajib bersama Résqualdoz. Ada dua belas tempat di catatan itu, tapi saya mencoret Piaynemo di Raja Ampat dan menggantinya dengan Jefman pada urutan pertama.

Sebab saya percaya; dulu, di pulau ini, pernah ada sepasang telinga yang pura-pura kuat mendengar selamat tinggal, dan ada banyak bahu yang acapkali merindukan pelukan-pelukan selamat datang.

Di sini, di Jefman.

Tanjung Batu, Pulau Jefman



1 komentar:

  1. Love it! Kusuka penuturan ceritannya.
    Make it to a book please. A collection of short stories from your journey ��

    BalasHapus

Travendom terbuka untuk para Blogwalkers. Namun, segala komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Hal-hal yang menyinggung SARA tidak dibenarkan di sini

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.