23 November, 2019

Jember Dan Perempuan Gila

Tiga minggu berkelana di Jakarta hingga Palembang, hari ini saya kembali. Kamis yang lumayan terik saat QZ 7520 menyentuh landasan pacu Bandara Ngurah Rai.

Dari meja kecil di sudut kedai kopi Amerika, saya membuka gawai, mematikan fitur flight mode selagi menunggu caramel macchiato disajikan. Ping! Notifikasi dari Freia tiba di baki peberitahuan.

"Mampir ke sini sebelum pulang ke tempatmu, ada sedikit kejutan. Aku berkencan dengan artis paling tampan di negeri ini. Percayalah!"

Bli Dewa, sopir langganan dengan sigap memandu kemudi, menuruti perintah untuk menuju ke Monumen Bom Bali di Legian. Kami berhenti persis di mulut gang Poppies II, saya masih perlu berjalan seratus meter ke indekos Freia yang berada tepat di belakang Sky Garden, kiblat hura-hura bagi para pelancong remaja Australia.

"Sini, masuklah!
Sekarang kau percaya, kan?
Setelah berpapasan dengan Justin Bieber dan duduk diapit para pemain Chelsea beberapa pekan lalu, kini aku bahkan telah mengetahui tahi lalat paling rahasia duda keren se-Indonesia ini." Mata kanannya dikedipkan dengan genit, lalu menawarkan secangkir teh tanpa gula.

Saya menyeretnya ke balkon, lantas menginterogasinya dengan banyak tanda tanya. Belum tuntas dia berterus terang, ponsel berkedip di pengakuan dosa nomor lima. Mas Her, sepupu dari keluarga bapak menelepon tiba-tiba.

Halo, mas..

"Kamu di mana? Mas sedang di Denpasar, transit delapan jam bersama mbakyu dan dua kemenakanmu. Malam nanti kita ke Jember, mudik ke rumah nenek. Mau ikut, ndak?"

Nggg... anu mas, aku sudah di Bali, baru saja mendarat dua jam yang lalu. Tapi mungkin mau istirah...

"Kamu sudah 20 tahun lebih ndak pernah pulang ke Jember. Nenek pasti senang kalau tahu kamu ikut."

Tapi mas, besok pagi aku harus ke ...

Ayolah, kapan lagi kau bisa ke sana?!

Baiklah mas, kita bertemu di terminal Ubung pukul tujuh malam, ya. Kalah telak.

Tanpa pikir panjang, saya bergegas meninggalkan Freia yang separuh telanjang. Tujuh jam tidaklah lama, bahkan masih harus dibagi dengan merapihkan barang-barang, membersihkan kamar, mencari layanan binatu ekspres, berkemas, bertemu miss Jeje, dan mengambil dokumen di kantor Pablo yang penuh banyak anak kucing. Hih!

Malam itu, tepat pukul sembilan, bus yang kami tumpangi bertolak menuju pelabuhan Gilimanuk. Perjalanan ini membutuhkan lima jam waktu tempuh, belum termasuk antrean naik kapal, pelayaran, dan lintas darat Banyuwangi-Jember.

Di sini, di bus tua berjendela kusam dengan gorden kotor berbau dan kantong muntah dimana-mana, saya menggantungkan harapan demi menemui nenek tercinta.

Bapak menelepon pukul dua pagi, hanya untuk menyampaikan jika nenek tak sabar menunggu kedatangan kami. Dari intonasi suaranya, sepertinya beliau senang mendengar saya 'ikut pulang'.

Subuh menjelang, dari baris belakang, Mas Her tetap antusias menjelaskan setiap tempat yang kami lewati. Saya memeluk si bungsu, memastikan kepalanya tegak dan tetap terjaga di pangkuan. Mobil melaju kencang, suara muazin terbang bersama angin yang timbul tenggelam.

Di depan kami, kutukan balsem menyeruak dari deretan penumpang lansia, di pojok lainnya, seorang anak laki-laki dirundung siksa muntahnya sendiri. Subuh yang lengkap; asap rokok, aroma kopi, hingga wangi pop mie. Seperti bahtera Nabi Nuh, bus ini memuat apa saja yang ia kehendaki.

"15 menit lagi kita akan tiba di Terminal Tawangalun." Kondektur menyadarkan penumpang yang kelelahan.

Kami tiba di Jember pukul tujuh pagi, saya masih takjub bisa datang lagi di sini. Seorang sopir mikrolet mendekat, menawarkan jasa angkutan sewa menuju Lojejer.

Mungkin, Jember hari ini adalah tentang mengingat sebanyak-banyaknya, atau menyoraki mendung yang berhasil membunuh matahari.

Sudah terlalu lama saya menghabiskan hari sebagai musafir. Berkelana kesana-kemari, jarang mandi, serta jarang mengingat tanggal dan hari. Melelahkan sekali.

Pagi itu, dari balik kabut yang menutupi jarak pandang dan embun yang tak rela jatuh dari daun-daun, nenek berdiri dengan senyum paling rindu. Saya memeluknya kuat-kuat, seperti orang-orang hilang yang akhirnya saling menemukan.

Tiba-tiba ponsel bergetar, menampilkan pesan dari bar pemberitahuan andalan.

"Dia sudah kembali ke Jakarta. Padahal aku masih merindukan aroma lehernya."

Ah, perempuan itu sudah gila!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Travendom terbuka untuk para blogwalkers. Namun, segala komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Hal-hal terkait SARA tidak dibenarkan di sini

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.