28 Maret, 2020

Dosa Paling Manis

Kenalkan, inilah dua tokoh ajaib yang menjadi teman dalam perjalanan ke Baubau. Adalah Lusi, perempuan sipit berhati sensitif yang terlahir untuk memusuhi kakak kandungnya sendiri. Serta Ezra, gadis Toraja yang lebih senang dipanggil "mutiara hitam dari Papua."

Mari sepakat untuk melupakan stigma kolot yang bilang pengabdi ilmu hidupnya pas-pasan. Kata siapa mahasiswa tak bisa jalan-jalan.

Kami membuktikannya pada dunia, bahkan menjadi contoh jika berbohong demi plesiran adalah halal, selama tidak bocor ke telinga Rektorat.

Mulai penjaga kantin, teman, dosen, sampai petugas kebersihan kampus menelan bulat-bulat seluruh sandiwara ini. Kami dilepas seperti trio hebat yang hendak mengharumkan nama almamater ke mancanegara. Imbasnya, tiga ransel kini dipenuhi segala brosur promosi yang beratnya tak main-main. Sebuah permulaan yang menyedihkan.

* * *
Pesawat ATR Merpati Nusantara melayang menuju Baubau, terbang selama 1 jam 30 menit meninggalkan ruang udara Sultan Hasanuddin Makassar. Saya tak mengingat apa-apa pada penerbangan ini, kecuali benturan keras saat mendarat. Mungkin inilah yang disebut salam "Selamat Datang!"

Tiga pembohong dijemput Martinus, seorang pastor yang fasih berbahasa Arab dan bekerja di Gereja Katolik Santo Paulus Baubau. Kami mengenal Martinus dari Lusi, yang tak lain adalah mantan jemaatnya ketika bertugas di Makassar dulu. Pagi itu, setelah disambut dengan jabat tangan yang erat, Martinus langsung menjadi teman dan terjebak ke dalam cerita perjalanan ini.

"Kita tunggu bagasi dulu, ini mungkin agak lama. Petugas harus mengambilnya secara manual dan mememeriksanya satu-persatu. Persis seperti pendataan presensi di sekolah." Martinus bergurau.

2008, Bandara Betoambari tak lebih mewah dari kantor kelurahan di Jakarta. Gedungnya kecil tanpa pendingin ruangan, bingkai detektor, conveyor belt, serta mengoleksi toilet pesing yang menjadi rumah bagi kecoak dan laba-laba beracun.

Sebagai tuan rumah, pastor menjamu kami dengan ramah. Perjalanan pertama adalah menuju ke kedai milik jemaatnya di kawasan Kamali. Makanannya enak, bersih, murah, dan penjualnya sopan sekali. Kami bahkan disuguhkan 'sulap-sulip' ketika selesai.

Seorang petugas kasir yang belum mahir tampak kebingungan, kalkulatornya mendadak mati. Akhirnya transaksi dilakukan di bahu jalan, sebab alat penghitung sakti baru menyala jika dijemur matahari. Abrakadabra!

Pastor memandu kemudi, mengarahkan mobilnya ke sebuah penginapan sederhana yang tak jauh dari sana. Satu petugas menyerahkan kunci tanpa ekspresi. Kami menempati dua kamar di lantai atas, sepasang bilik kecil yang menjadi awal malapetaka di perjalanan ini.

Tak ada yang mencolok dari kamar kami, selain sepasang meja rias dengan cermin kusam, dipan kuno berkelambu, dan lantai papan yang berisik ketika dipijak. Satu jam setelahnya semua berubah, duo penakut memilih tidur bertiga dan memboyong segala harta ke kamar saya.

"Ada yang aneh dengan kamar itu. Lagi pula, kita tak melihat tamu lain sejak tiba tadi siang. Kitalah satu-satunya penghuni di penginapan ini!" Lusi berspekulasi, lalu diamini oleh Ezra, seorang Kristen fanatik yang tak pernah percaya takhayul sebelumnya.

Kami melewati malam di balkon kamar dan bermain kartu hingga pukul dua. Tiga anjing membawa kabar, berdiri persis di bawah sana dan menggonggong ketakutan. Tak lama lantai bergerak, seperti merespon beban yang berjalan mendekat. Lusi mematung, telapak tangannya berkeringat. Ezra bergegas merapihkan jajanan di atas meja dan mengutuk lelembut yang mencoba berkenalan. Kalah, trio penakut kini bertobat di dalam selimut.

* * *
Ini pagi pertama di Baubau. Umar, seorang pegawai dari Disbudpar datang menjemput pukul delapan. Sebagai warga lokal, Umar jualah yang mengatur segala jadwal untuk kunjungan ke beberapa instansi dan sekolah. "Ini pertama kalinya ada 'Kampus Pariwisata' dari Makassar yang datang promosi ke Baubau," katanya.

Agenda hari ini berjalan lancar tanpa hambatan, Umar melaksanakan tanggung jawabnya dan mengantarkan kami kembali ke sarang dedemit. Sebelum terjaga, Martinus melayangkan sebuah pesan.

"Besok subuh Pastor mengajak kita ke pantai dan situs sejarah, pulangnya kita diundang bermalam di gereja. Gimana Aiya, kau bersedia?" Lusi menyampaikan isi pesan, lalu menunggu jawaban dari seorang muslim yang jarang sembahyang. Tak ada alasan untuk menolak, saya menyanggupi sambil berkemas di balkon yang gelap.

Pukul 5.40 pagi, Martinus tiba dengan mini van biru berlogo salib yang lengkap dengan identitas gereja di kedua sisi. Kami bergerak menuju Pantai Nirwana saat matahari belum sadarkan diri. Di jalanan yang masih gelap dan lampu-lampu yang telah dimatikan, Martinus menginjak rem tiba-tiba. Sesuatu seperti terperangkap di kolong mobil setelah terjadi benturan keras. Kami melompat turun dan mencari segala kemungkinan. Nihil.

Mobil kembali dipandu dengan pelan, tak ada yang bicara hingga tiba di tempat tujuan. Seperti melepas sial, kami berendam ketika laut masih tenang, sekaligus melarungkan cemas dari segala tanda-tanda.

Pantai telah selesai, kini waktunya bergerak ke dataran tinggi. Mobil melaju menuju Fort Wolio, sebuah kawasan pusat pemerintahan Kerajaan Buton di masa lampau. Menurut Guiness Book Record (2006), benteng ini memiliki luas 23,375 hektare dan telah dikukuhkan sebagai benteng terluas di dunia.

Di kompleks itu juga berdiri Masjid Agung Keraton Buton, makam raja-raja, serta Museum Budaya Wolio. Seseorang mendekat ketika kami sedang berbincang di ruang tengah, kemudian mengajak saya untuk naik ke lantai dua. "Yang lain tunggu di sini, ya!" Pintanya.

Berada di atas, saya melihat beberapa almari kaca berukuran besar yang menyimpan banyak koleksi baju, kapak, parang, gelang, badik, tombak, dan segala prasarana perang. Pria ceking beruban itu memandu saya ke satu dinding tinggi yang berisi silsilah para raja. Telunjukknya mengarahkan pandangan ke sebuah nama yang tak asing di telinga: Sultan Madar Syah.

"Buton dan Ternate pernah berperang karena adu domba Belanda, hingga suatu ketika Pangeran Ternate datang melamar dan menikahi putri cantik Kerajaan Buton. Sejak saat itu seluruh dendam dihapuskan, mereka berikrar sebagai saudara dan menjadi mesra sampai sekarang," jelasnya.

Kunjungan telah usai, kami harus pulang ke kota sebelum tengah hari. Pastor bersama Lusi dan Ezra mengantarkan saya ke sebuah masjid di pusat kota. Ibadah salat Jumat akan dilaksanakan lima belas menit lagi. Pada sujud terakhir, saya berdoa meminta kesehatan bagi tiga nasrani taat yang rela menunggu di luar sana, di mobil bertanda salib yang dijaga budak-budak belum akil balig.

Pulang salat saya ikut ke gereja. Bukan pergi berdoa, melainkan untuk tinggal di sana. Beberapa petugas menyambut dengan ramah, kami langsung diantar menuju ke gedung asrama.

Saya berbagi kamar dengan Albert, seorang rohaniwan muda yang dua bulan lagi akan berangkat menimba pendidikan pastoral di Italia. Albert menyerahkan seperangkat alat mandi, selimut, dan memberikan sajadah serta kompas sebagai penunjuk arah kiblat. 

Sejak sore itu, dari ruangan ini saya bersujud menyembah Allah dengan Yesus Kristus yang menggantung tepat di atas kepala. Mungkin benar jika Tuhan memang gemar bercanda.

Lupakan promosi kampus, di perjalanan kali ini saya belajar tentang toleransi dan menemukan banyak orang yang masih menjadi manusia. Lihat saja saat makan malam tiba. Ketika berdampingan satu meja dengan seluruh pengelola gereja, Martinus jeli membaca kecemasan saya dan segera memanggil seorang bibi berkerudung putih.

"Jangan khawatir, itu kami yang masak. Seluruh makanan diolah oleh warga muslim yang tinggal di sekitar gereja. Pastor membayar kami untuk layanan katering bulanan. Mari makan sama-sama!" Rupanya bibi tak datang sendiri, ia tiba bersama empat perempuan muslim lainnya dan satu lelaki paruh baya yang lengkap dengan sarung dan peci di kepala.

Kami tinggal dua malam gereja ini, sembari menunggu jadwal pelayaran untuk kembali ke Makassar. Di hari kedua, Martinus mengajak kami menikmati malam di anjungan Kamali. Dari bundaran patung Naga yang menjadi simbol modernitas kota, seseorang memberikan kejutan, menutup mata saya dari belakang.

Dialah Desi, teman semasa SMA di Ternate. Setelah lulus, kami putus kontak selama tiga tahun dan bertemu tanpa sengaja di malam itu. Desi memilih pulang kampung dan menetap di kota ini. Ia melepas kami setelah mengajak berkeliling kota dengan angkot milik kekasihnya. Tak lupa, kami dibekali tiga bungkus kacang mete dan sepasang gelang rotan sebagai tanda perpisahan dari mereka.

Tibalah malam terakhir, malam yang sarat dengan kata selesai. Martinus dan petugas gereja antusias mengantar kami ke pelabuhan. Usai pamit dan berpelukan, suasana berubah mencekam setelah insiden penikaman menelan dua korban di pintu kedatangan. Untuk alasan keamanan, Pastor segera mengambil barang dan bernegosiasi dengan petugas darat agar bisa mengantarkan kami hingga ke geladak.

Seharusnya ini jadi air mata terakhir ketika merelakan Martinus kembali ke darat setelah semboyan persiapan berlayar dibunyikan, namun saya keliru. Di bawah sana ada banyak tangan yang melambaikan perpisahan, melepas kepergian yang entah kapan kembali datang.

Kapal telah menjauh, meninggalkan dermaga yang penuh doa-doa. Dari ranjang sempit yang berkarat, saya berjanji untuk mengingat perjalanan ini sebagai satu dosa yang paling manis.

Dua tahun kemudian seseorang membagikan pesan ke dinding milis di sosial media, mengabarkan kehilangan dan meminta doa untuk jiwa yang mendadak pergi. Desi telah pulang ke surga, meninggalkan banyak kenangan yang ditenun oleh tawa dan kebersamaan yang rupa-rupa. Inilah air mata terakhir dari perjalanan ini, air mata yang diberikan untuk perempuan pemalu yang diam-diam merawat sakitnya sendiri.

Musik untuk perjalanan ini:
Don't Watch Me Cry — Alexandra Porat
Terima kasih:
Lusiani Hartono, Ezra Paginan, Pastor Martinus, (Almh.) Desi Ramli, Usman Syam, Hatta Alwi, Umar Dg. Ngawing.

2 komentar:

  1. jng bilang kalo yg di ats si cantik desi ng p fans dlu....hahaha
    yah...bagus jg kalo bakat cerewet itu bisa mnghasilkan sswtu yg positif dlm bentuk tulisan,,, (terharu...hiks,,hiks,,)
    Anyway ByTheWay Busway,,,tulisan'y bguus, crta'y menarik, jd pngen ke Bau Bau... (-___-)
    ditunggu postingn selanjut'y...^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, Desi si gila arisan itu. Masih ingat kan?
      Cepet nabung, susun jadwal liburan, cabut deh ke Baubau. Sarannya pergi naik pesawat, pulang naik kapal biar seru :)

      Segera terbit: Singapore!

      Hapus

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.