20 Maret, 2020

Kembara Corolonda

Minggu subuh, ketika orang-orang sedang membeli bunga tidur, seorang supir daring terbangun dari lelapnya. Sebuah layanan pencari pengemudi secara otomatis memilihnya dan menjodohkan kami dengan tidak sengaja. Saya melakukan panggilan untuk memandu lokasi penjemputan saat ia masih setengah sadar.

Tak ada kemacetan, kami melaju tanpa hambatan dari pinggiran Makassar menuju Pelabuhan Soekarno-Hatta di pusat kota. Mobil melesat dalam waktu 30 menit, cepat sekali. Jika saja bukan tengah malam, sudah tentu kami membutuhkan satu setengah jam perjalanan.

Pagi ini, saya dan adik nomor dua bertolak menuju pulang. Kami menumpangi kapal Dorolonda karena membawa banyak barang. Perjalanan ini memakan waktu 3 hari 2 malam. Menurut keterangan, pelayaran kami akan singgah di Baubau, Namlea, Ambon, sebelum bersandar di Ternate.

Saya terakhir berlayar dengan kapal yang sama pada 2016 lalu, saat berangkat dari Ternate menuju Sorong. Sedangkan adik, ini menjadi pengalaman pertama baginya. Entah harus bagaimana, mesti gembira atau khawatir dibanting gelombang.

Kami berlepas pukul enam, saat pagi belum juga mengetuk langit Ujung Pandang. Kapal tampak lenggang, menyisakkan banyak tempat tidur kosong yang bisa digunakan. Pemandangan ini sudah biasa, kecuali beberapa hal yang berubah. Sebut saja sistem boarding pass, tersedianya kamera pemantau di seluruh lantai, ketepatan waktu tiba-berangkat, kualitas dan kemasan makanan, hingga jaringan nirkabel yang tersedia kendati berbayar. Namun, ada hal penting yang menuntut untuk dibahas. Corona.

Jauh sebelum jadwal pulang, tiada ada hari tanpa obrolan tentang ancaman pandemi ini. Televisi, radio, surat kabar, hingga tren media sosial memberitakan hal yang sama. Para ahli tak bosan-bosan menebar banyak informasi terkait dampak dan cara penanganan. Eknonomi dunia terancam, tenaga kesehatan dibuat kelelahan.

Kota-kota besar menutup akses datang dan pintu keberangkatan. Para pejabat serentak berlutut, meminta seluruh rakyat rajin cuci tangan dan menahan diri serta menghindari keramaian. Tapi itu tak terjadi di sini, di kapal tua yang menjadi bahtera bagi orang-orang sederhana.

Tak ada masker, hand sanitizer, informasi jumlah korban, peta penyebaran, poster statistik, himbauan, maupun rasa cemas atau saling curiga. Orang-orang tidur bersama, berbagi makanan, melepas tawa, menikmati banyak perkenalan, hingga menghanyutkan lamunan di laut yang tak pernah membocorkan rahasia ke siapa-siapa. Barangkali memang tak ada informasi yang tiba di telinga, atau bisa jadi mereka memang tak takut kematian.

Kapal berlabuh di tiap-tiap dermaga, menaik-turunkan penumpang segala usia. Saya memilih ke buritan saat terik berkibar di atas Laut Banda. Ini adalah hari kedua, hari di mana rasa heran memenuhi isi kepala, bingung melihat banyak orang yang menolak percaya atas kepanikan Jakarta.

Ketika tiba di Namlea, kami dilarang turun ke darat. Berkali-kali suara mualim memperingatkan akan adanya pemeriksaan ketat. Mereka membatasi ruang gerak dan mengatur ketentuan jarak. Saya melihat kesigapan otoritas darat, tapi tidak dengan para penumpang yang sudah menutup telinga rapat-rapat.

"Negara pung tugas cari obat, bukan suruh katong badiam di rumah. Katong ini rakyat biasa, seng punya kantor, seng ada gaji. Kalau katong badiam, sapa yang kasih katong makan. Nanti katong mati karna kelaparan, bukan karena virus dari Wuhan." 

Seorang Ibu berbaju cokelat mengeluhkan tindakan Istana, suaranya mencuri perhatian beberapa orang. Di malam yang dibasahi gerimis, kata-katanya mungkin telah terbang hingga ke jantung Batavia.

Pada semboyan ketiga, kapal mengangkat jangkar menuju titik pemberhentian berikutnya. Jika tak ada halangan, kami akan berlabuh di Ambon dalam 5 jam ke depan. Saya sedang menjawab panggilan istimewa dari Medan ketika pemeriksaan tiket dilakukan, hingga terkunci di tangga geladak empat dan diselamatkan rombongan pedagang perempuan.

"Sini dek, pegang tiket ini. Nanti kalau Kapten datang, kau jangan gugup, bilang saja namamu La Murad." Katanya. Ini pasti nama laki-laki Buton, saya bergumam.

Benar saja, ketika Kapten dan petugas keamanan melakukan sidak, saya lolos berkat tiket bantuan. Kami tertawa bersama saat tim operasi berjalan menjauh, dan selamat datang di drama yang baru.

Oleh orang-orang baik yang telah menolong tadi, kini saya dikepung, ditanya arah tujuan, pelabuhan asal, usia, agama, profesi; ditawari belanja minyak kayu putih racikan, diajak jadi member sabun antiseptik keputihan, hingga dimintai nomor telepon untuk dijodohkan dengan anak-anak mereka.

"Su ada pacar ka belum? Mana fotonya?"
"Kamong nih putih, macam bukan orang Maluku e."
"Kamong muslim tapi kanapa pakai gelang Hindu?"
"Ayo gabung jadi member. Kalau capai target dapat emas."
"Ini sabun untuk obat keputihan, buat muka juga bisa."
"Minyak kayu putih asli tidak bikin hangat, tapi bikin hangus."
"Tadi telfonan deng sapa, kamong pung pacar?"
"Dulu beta pung mantan ABK kapal. Tapi sayang dia su mati."

Tuangala!

Saya pamit meninggalkan mereka saat akses pintu kabin telah dibuka. Di dalam sana, banyak yang sudah terlelap, namun beberapa masih terjaga dan kompak melingkar di depan televisi, duduk melihat kompetisi Dangdut dengan volume yang menentang hukum alam.

Lain Namlea, lain pula Ambon. Di kota yang seharusnya menjadi pusat berdenyutnya segala aturan, kami bahkan tak melihat pemeriksaan yang mencolok. Kapal berlabuh pukul tiga subuh, para penumpang lanjutan diperbolehkan turun dan kembali lagi 4 jam kemudian. Saya dan adik tentu tak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Noura, teman yang sempat waswas dan merasa bersalah karena tak sempat menemui saya, kini telah berdiri dengan sabar di gerbang Pelabuhan Yos Sudarso. Ia mengubah rencana dan melanggar himbauan untuk membatalkan pertemuan yang tidak perlu. Kami bertemu di tahun 2017, ketika berangkat sebagai delegasi Indonesia untuk sebuah program kepemudaan di Jepang. Saya dari Maluku Utara, dan Noura selaku wakil dari Maluku.

Ambon yang mencintai suara hujan memaksa kami harus bertemu pukul delapan, atau satu jam sebelum kapal melanjutkan pelayaran. Tak apa, 40 menit sudah lebih dari cukup untuk memintal cerita di kawasan Sirimau. Esok, saya akan mengingat Amboina sebagai kota dengan banyak warisan kerusuhan, Gong Perdamaian, Lapangan Merdeka, Tugu Trikora, Pattimura, sagu tumbu, dan buah gandaria yang diberikan cuma-cuma oleh mama penjual pulsa di ujung jalan.

Semboyan berangkat dibunyikan, titiran berputar menghantarkan kami kembali ke pelukan Gamalama. Halaman terakhir pada perjalanan ini telah selesai di Teluk Ambon. Kapal cikar kanan dan bergerak dari selatan ke utara.

Kami melewati laut paling tenang, gunung-gunung di kejauhan, matahari terbenam, serta lumba-lumba yang saling berkejaran. Saya menopang dagu di anjungan sebelah kiri, menikmati jagat raya yang ternyata memiliki banyak cakra. Pelayaran ini telah berakhir, tepat ketika lamunan menemukan banyak cinta di kulit samudra.
Laut Maluku | 18.35 | 18/03/2020

Musik untuk perjalanan ini:
Quizás Alla Turca — Marija Popovic, Julijana Sarac
Play on Spotify

Terima kasih:
Noura C. Letwory, Ardika Fauzi, Dwi Rachmasari, Fréia Soler Ramal, Handika Rosalin, Wahyu Pribadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Travendom terbuka untuk para blogwalkers. Namun, segala komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Hal-hal terkait SARA tidak dibenarkan di sini

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.