Kembara Corolonda

Minggu subuh, ketika orang-orang sedang membeli bunga tidur, seorang sopir terbangun dari lelapnya. Sebuah layanan taksi daring menjodohkan kami dengan sengaja. Saya melakukan panggilan untuk memandu penjemputan saat ia masih setengah sadar.

Kami melaju tanpa hambatan dari pinggiran Makassar menuju Pelabuhan Soekarno-Hatta di pusat kota. Mobil melesat dalam waktu 30 menit, cepat sekali. Jika bukan tengah malam, sudah tentu kami membutuhkan satu jam perjalanan.

Hari ini, saya dan adimas pertama bertolak untuk pulang. Kami menumpangi KM. Dorolonda karena membawa banyak barang. Perjalanan ini memakan waktu 3 hari 2 malam menuju Baubau, Namlea, Ambon, dan Ternate.

Saya terakhir berlayar dengan kapal yang sama pada 2016, saat berangkat dari Ternate ke Sorong. Sedangkan adik, ini adalah pengalaman pertama baginya. Pikirannya kacau, penuh rasa cemas karena takut digoyang gelombang.

Kami berlepas pukul enam, saat pagi belum mengetuk langit Ujung Pandang. Kapal tampak lenggang, menyisakkan banyak matras kosong yang bisa digunakan. Pemandangan ini sudah biasa, kecuali beberapa hal yang berubah. Kini geladak telah dilengkapi kamera pengintai, jaringan nirkabel, hingga kualitas makanan yang jauh lebih sehat dan enak. Namun, ada satu hal yang menuntut untuk dibahas. Corona.

Jauh sebelum pulang, tiada hari tanpa obrolan tentang ancaman pandemi ini. Televisi, radio, koran, hingga media sosial mengabarkan hal yang sama. Para ahli tak bosan-bosan menebar informasi terkait dampak dan cara penanganan. Eknonomi dunia terancam, tenaga kesehatan dibuat kewalahan.

Kota-kota besar menutup akses datang dan pintu keberangkatan. Para pejabat serentak berlutut, meminta rakyat menahan diri, menghindari keramaian, serta rajin cuci tangan. Namun itu tak terjadi di sini, di bahtera tua bagi orang-orang sederhana.

Tak ada masker, hand sanitizer, statistik korban, peta penyebaran, poster himbauan, maupun rasa cemas atau saling curiga. Orang-orang tidur bersama, berbagi makanan, berkenalan, tertawa, hingga melepas lamunan di laut yang tak pernah membocorkan rahasia ke siapa-siapa. Barangkali memang tak ada informasi yang tiba di telinga, atau bisa jadi mereka memang tak takut kematian.

Kapal berlabuh di tiap-tiap dermaga, menaik-turunkan penumpang segala usia. Saya memilih ke buritan saat terik berkibar di atas Laut Banda. Ini adalah hari kedua, hari di mana rasa heran memenuhi isi kepala. Bingung melihat banyak orang yang menolak percaya atas kepanikan Jakarta.

Ketika tiba di Namlea, kami dilarang turun ke darat. Berkali-kali mualim mengingatkan adanya pemeriksaan ketat. Mereka membatasi ruang gerak dan mengatur ketentuan jarak. Saya melihat kesigapan petugas darat, tapi tidak dengan para penumpang yang sudah menutup telinga rapat-rapat.

"Negara pung tugas cari obat, bukan suruh katong badiam di rumah. Katong ini rakyat biasa, seng punya kantor, seng ada gaji. Kalau katong badiam, sapa yang kasih katong makan. Nanti katong mati karna kelaparan, bukan karena virus dari Wuhan." 

Seorang perempuan berbaju cokelat mengeluhkan tindakan Istana, suaranya mencuri perhatian beberapa orang. Di malam yang berlimpah gerimis, kata-katanya telah hilang, terbang menghunus jantung orang-orang Batavia.

Pada semboyan ketiga, kapal mengangkat jangkar menuju titik sandar selanjutnya. Panggilan istimewa berdering dari Medan, saya menjawabnya dengan senang, hingga terkunci di geladak empat dan diselamatkan kawanan pedagang manisan.

"Sini dek, pegang tiket ini. Nanti kalau Kapten datang, jangan gugup. Bilang saja namamu La Murad," kata seorang pedagang perempuan.

Tak lama tujuh petugas melakukan sidak. Saya lolos berkat selembar mukjizat. Ketika rombongan berjalan menjauh, kami tertawa bersama, merayakan kemenangan, dan selamat datang di episode yang baru.

Oleh para penolong tadi, kini saya dikepung, ditanya arah tujuan, pelabuhan asal, usia, agama, profesi, hingga status pernikahan. Tak berhenti di situ, sekarang topik berbelok membahas khasiat minyak kayu putih racikan, nama-nama manisan, lalu bergeser ke penawaran untuk jadi member sabun keputihan. Sesi ditutup dengan penodongan nomor telepon untuk dijodohkan dengan anak-anak mereka.

"Su ada pacar ka belum? Mana fotonya?"
"Kamong putih, macam bukan orang Maluku e."
"Kamong muslim tapi kanapa pakai gelang Hindu?"
"Ayo gabung jadi member, kalau sukses dapat emas."
"Ini sabun keputihan, buat muka juga bisa."
"Minyak kayu putih asli tidak bikin hangat, tapi bikin hangus."
"Tadi sapa yang telfon, pacar ka?"
"Dulu beta pung mantan ABK kapal, tapi dia su mati."

Tuangala!

Saya bergegas pamit, meninggalkan mereka saat pintu kabin telah dibuka. Di dalam sana, banyak yang sudah terlelap, namun beberapa masih terjaga. Di sudut yang lain, orang-orang melingkar di depan tv, menikmati dangdut sembari menunggu babak eliminasi.

Lain Namlea, lain pula Ambon. Di kota yang seharusnya menjadi denyut segala aturan, kami tak melihat sebuah tindakan pemeriksaan maupun pengawasan dari otoritas kesehatan. Kapal berlabuh pukul tiga subuh, seluruh penumpang diizinkan turun dan kembali lagi lima jam kemudian.

Noura yang merasa bersalah karena tak sempat menemui saya, kini mematok gerbang Yos Sudarso sebagai titik temu. Ia mengubah rencana dan melanggar himbauan untuk pertemuan yang tidak perlu. Saya mengenalnya sejak 2017, ketika berangkat sebagai delegasi Indonesia untuk sebuah program antarnegara di Jepang.

Ambon yang mencintai hujan memaksa kami berjumpa pukul delapan. Tak mengapa, 50 menit sudah lebih dari cukup untuk memintal pagi di kawasan Sirimau. Esok saya akan mengingat Ambon sebagai kota yang membenci kerusuhan, ketidakadilan, yang punggungnya merawat Gong Perdamaian.

Ambon juga merupakan sinonim dari kata musik, Lapangan Merdeka, Tugu Trikora, Pattimura, sagu tumbu, serta buah gandaria yang diberikan cuma-cuma oleh mama penjual pulsa di pintu masuk pelabuhan.

Semboyan berangkat kembali dibunyikan, titiran berputar membawa kami ke "Negeri Para Sultan." Halaman terakhir pada perjalanan ini telah selesai di Teluk Ambon. Kapal cikar kanan, bergerak dari selatan ke utara, meninggalkan Noura dan separuh kenangan.

Kami melewati laut paling tenang, gunung-gunung, melihat matahari terbenam, serta lumba-lumba yang saling berkejaran. Saya menopang dagu di anjungan, melahap ketenangan, kebebasan, dan menikmati senja yang memiliki banyak cakra. Pelayaran ini telah berakhir, tepat ketika lamunan menemukan malam dan cinta yang mengapung di kulit samudra.

Laut Maluku | 18.35 | 18/03/2020

Musik untuk perjalanan ini:
Quizás Alla Turca — Marija Popovic, Julijana Sarac
Play on Spotify

Terima kasih:
Noura C. Letwory, Ardika Fawzi, Fréia Ramal, Handika Razalin, Wahyu Pribadi.

4 komentar