25 April, 2020

Alunan Untuk Niskala

Apa sebenarnya yang kita cari dari sebuah perjalanan. Apakah tentang menaklukan tantangan, beroleh kawan, mendapatkan pengalaman, atau masih bingung karena memiliki banyak alasan?

Seorang nelayan mampu membedakan laut yang tenang dan mematikan. Para penerbang selalu melihat gunung dan lembah yang mengagumkan. Begitu pun dengan pewarta berita, mereka bisa bertutur lebih jujur perihal kemajemukan, kemenangan, ketidakadilan, hingga kematian. Lalu untuk apa kaki dirancang untuk selalu bergerak, atau mata yang dapat melihat lebih panjang?

Di luar sana banyak musafir yang berjalanan melewati lorong sempit, menyusuri sungai, menembus perbatasan terisolasi, melompati bukit, mengintip samudra, hingga menyaksikan pohon kering tanpa buah-buahan. Ada yang ingin dikenal sebagai pemantik, namun beberapa hanya ingin dikenang sebagai pejalan.

Apapun itu, siapapun kita, percayalah, ada takdir yang harus tunduk pada ketentuan garis tangan. Ada alur yang ditulis dengan masing-masing alasan, agar setiap kepala mampu berpikir lebih tajam dan menemukan lebih dalam. Yakinlah, di atas sana ada kekuatan yang mengatur segalanya. Kekuatan yang kekal, yang tak bisa dijangkau oleh raga dan kata-kata.

Apa yang kita lihat, atau siapa yang kita peluk, hanyalah beberapa dari alur yang telah diatur. Alur yang ditulis oleh himpunan perjumpaan, keindahan, maupun suara-suara mayapada.

Seperti dua sisi uang logam, perjalanan juga menawarkan putih dan hitam. Entah bagaimana kita mengartikannya, namun yang pasti, dalam setiap gelap dan terang, kita hanyalah makhluk yang dirawat oleh alam, yang memiliki sepasang kaki pencari jalan dan gemar merindukan pulang.

Barangkali, dalam setiap perjalanan, sudah sepantasnya kita melambat, berhenti, berlutut, dan mendongak lebih banyak. Sudah saatnya membuka mata, hati, melepas pikiran, dan mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk menghargai yang tak terlihat.

Inilah masanya untuk bersepakat, bahwa dari sekian banyak rumah-rumah puja, perjalananlah yang mampu membuat kita melihat lebih jauh dan merasakan lebih dekat. Sebuah kekuatan yang mahakudus, yang selalu mengasihi dan tak peduli dari labirin mana kita berdoa. Sebab bagaimanapun, setiap mantra dan harapan pasti pulang ke pundak-Nya. Pundak paling segala untuk kekuatan bernama "Niskala."

Teruslah berjalan, bernyanyi, dan berterima kasih.

Banyak-banyak.

Kuat-kuat.
Pantai Akerica, Ternate
Musik untuk tulisan ini:
Right In Front of You — CĂ©line Dion
Terima kasih:
Tuhan Yang Mahaesa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.