20 April, 2020

Dili, Hetan Diak Liu!

Rabu petang yang basah, saya terjebak di selasar toko ketika menunggu gerimis pamit dari Kupang. Perjalanan ini telah memasuki hari kedua, hari yang siangnya penuh dengan terik dan debu di seluruh kota. Alih-alih reda, langit mengirimkan petir dan hujan yang semakin deras. 

Saya bergeser ke tenda biru yang menjajakan soto panas, meraih ransel, dan mencari tenun yang baru dibeli tadi siang. Sekelabat mata menemukan sesuatu, sesuatu yang menjadi musabab berpindahnya kordinat di perjalanan ini.

Tak pernah terlintas di kepala untuk menyambung langkah hingga ke negeri jauh. Namun malam itu, secara tiba-tiba saya mengambil keputusan untuk melompat ke daratan seberang, daripada harus merayakan kesepian di Kupang.

Edo, seorang ojek pangkalan menawarkan bantuan yang tentu saja diperlukan. Kami berangkat ke kantor biro perjalanan ketika hujan menemukan selesai. Apa pun yang terjadi, saya harus pulang dengan satu tiket menuju Dili.
* * *

Kamis pagi, sebuah minibus bergerak membawa sepuluh penumpang ke perbatasan. Di jalanan berkelok, mobil melaju melintasi hutan-hutan cendana yang sejuk dan wangi. Kami menghabiskan tujuh jam perjalanan, melewati Soe, Kefa, sebelum tiba di Atambua.

Ketika tiba di PLBN Motaain, seluruh angkutan wajib menurunkan muatan untuk menjalani pemeriksaan sebelum menyebrang ke Posto Fronteirico Integrado di Batugade. Saya menuju loket Servico de Migração, mengisi formulir deklarasi, lalu berpindah ke loket lainnya untuk membayar Visa On Arrival seharga USD 30 untuk validasi 30 hari.

Kami dipersilakan keluar dan pindah ke sebuah van usai melewati tiga bingkai detektor. Mobil bertolak meninggalkan perbatasan, menjauh dari jembatan yang mengucapkan selamat datang. Bem-Vindo a Timor-Leste!

Berada di pinggir pantai, jalur lintasan ini menawarkan pemandangan memukau sepanjang perjalanan. Cakrawala menjadi jingga ketika senja mengintip dari bukit-bukit gersang yang sepi. Mobil melaju kencang, mengejar waktu agar tiba di Tasitolu sebelum malam.

Saat matahari lenyap, jalan menjadi gelap tanpa penerangan sama sekali. Aspal yang mulus berubah jadi tanah kering berbatu dan penuh debu. Tak ada yang salah, negara ini memang baru pulih dari luka.

Kami memasuki Dili pukul 20.00, ketika jalan telah lenggang dan orang-orang sudah kembali ke peraduan. Tak seperti Kupang, kota ini sedikit berbeda. Bangunan bergaya Eropa berpadu di antara rumah-rumah tropis ala Asia, serasi dengan lingkungan yang tampak lebih bersih dari Indonesia.

Usai menurunkan seluruh penumpang, sopir mengantarkan saya ke East Timor Backpackers Hostel di jalan protokol Almirante Américo Tomás. Seorang wanita menyambut dengan ramah, mempersilakan masuk dan menyerahkan buku yang harus diisi sebagai kelengkapan reservasi. Di daftar tamu, saya menemukan satu nama dari negara yang sama. Evi, asal Jakarta, tinggal di mix dormitory, dan menginap selama satu malam. Sempurna!

"Is it possible if I stay at the same room with this guest?" Saya menunjuk nama itu.

"Sure, we have three bed left at the same room. Would you like to confirm?" Ia memastikan.

"Yes, please."

Evi tampak kaget menemukan pelancong sebangsa. Tak banyak basa-basi, kami bergeser ke kedai India setelah berkenalan dan mandi. Sayangnya, obrolan ini harus selesai ketika waktu menunjukkan pukul 22.20, atau sepuluh menit sebelum operasi jam malam diberlakukan. Sebagai negara yang belum stabil, Timor-Leste cukup tegas terhadap isu keamanan. Tak ada kompromi, kami harus pulang sebelum ditangkap Polisi.

Jumat pagi setelah berkemas, Evi pamit menghadiri undangan pejabat sebelum kembali ke Kupang. Saya segera mandi dan menyewa sepeda sebagai modal vakansi hari ini. Seorang resepsionis menyerahkan kunci dan menawarkan sepiring mangga yang manis.

"Don't worry, morning is not as strict as night, and most of us are still fluent in Indonesian. Just say hello, we will be glad to assist you." Ia mencoba menenangkan.

Karena petuah datang dari orang yang terpercaya, saya mantap berangkat ke puncak Fatucama yang berada 10 kilometer dari timur hostel ini. Pedal dipacu dengan lekas, meninggalkan kawasan Motael menuju Dili Harbour, melesat melewati Areia Branca sebelum tiba di Cristo Rei yang terkenal sebagai landmark dengan 500 anak tangga.

Cristo Rei adalah sebuah patung 27 meter yang berdiri menjaga Dili dari ketinggian 150 mdpl di Fatucama. Patung rancangan Mochammad Syailillah ini dibangun pada tahun 1996 sebagai hadiah Presiden Soeharto untuk Timor Timur yang bergabung ke NKRI. Itulah mengapa tinggi "Kristus Raja" hanya mencapai 27 meter saja, karena mewakili angka terakhir dari jumlah provinsi di Indonesia.

Sebagai maskot yang juga merangkap situs kudus bagi umat Katolik, tempat ini sangat cocok bagi orang-orang yang merindukan rasa tenang. Beberapa biarawati tampak berdoa di plaza rindang yang dipagari banyak pepohonan. Saya menikmati keindahan Dili dan bersila di bawah Yesus yang memberkati siapa saja.

Waktu berjalan, jam sudah menunjukkan pukul 10.30, itu artinya ibadah salat Jumat akan dimulai sebentar lagi. Saya mempercepat langkah, bergerak menuju ke Kampung Alor. Sepeda saya biarkan meluncur melewati kantor Parlemen, pasar, gang-gang sempit, sebelum akhirnya tiba di tujuan.

Di perkampungan muslim ini, berdiri satu masjid besar yang berdampingan dengan sebuah sekolah. Keduanya dikelola oleh satu yayasan dengan nama yang sama, An-Nur. Konon, pada era kedatangan Portugis, masjid ini digunakan sebagai basis perlawanan orang-orang muslim di Timor-Leste.

Prosesi salat Jumat baru dimulai 30 menit lagi. Karena terletak di pusat kota dan berada di kawasan pemerintahan, tak heran jika para jemaah yang datang adalah diplomat dan ekspatriat negara sahabat, mayoritas dari mereka berasal dari Timur Tengah dan Afrika. Kendati begitu, isi ceramah maupun tata laksana ibadah masih menggunakan Bahasa Indonesia.

Ketika selesai, saya memandu sepeda menuju kawasan pesisir. Tak jauh dari situ, tampak satu mobil berhenti di sebuah rumah dan membawa beberapa turis Indonesia. Saya mendekat, mencoba menebak apa yang sedang terjadi. "Itu rumah Krisdayanti!" Seorang pemuda memberikan kabar dari seberang.

Dili ketika siang jauh berbeda dengan malam. Kota ini seperti memiliki tiga matahari yang berpendar di langit tanpa awan. Saya harus membeli air berkali-kali agar tak mati karena dehidrasi. Namun, lalu lintas yang tertib menjadi alasan terbaik untuk bersepeda di jalanan yang tak terlalu padat.

Setelah singgah ke Palácio do Governo, saya berhenti di Largo de Lecidere, sebuah taman terbuka yang menyediakan jaringan nirkabel cuma-cuma.

"Aku tiba dari Oecusse nanti sore. Bersiaplah, kita pergi makan malam sebelum pukul delapan. Sampai jumpa!" — Zofimo, melalui BlackBerry® Messenger.

Zozo adalah seorang politikus muda, seniman, dan aktor yang juga aktif sebagai relawan kemanusiaan di sebuah NGO milik Australia. Saya mengenalnya lewat jejaring sosial CouchSurfing, dia bahkan pernah tinggal di tempat saya ketika berkunjung ke Denpasar.

Puas berselancar dan membalas beberapa pesan, saya kembali memacu besikal menuju jalan Alves Aldeia, kemudian berbelok ke bilangan Medeiros. Sepanjang kawasan ini terdapat banyak tempat penting yang menjadi saksi perlawanan Timor-Leste untuk melepas bayang-bayang Portugis dan Indonesia.

Casa Europa, Universitas Nasional Timor Lorosa'e, Kedutaan Portugal, hingga gedung Bank Mandiri berdiri memenuhi jantung kota yang super sibuk. Sedan-sedan mewah bergerak melambat, berbagi ruang dengan pejalan kaki, angkutan kota, serta beberapa mobil Kareta Estado.

Tiada lagi gulungan peta, sepeda saya kayuh sesuka hati hingga menemukan Palácio Presidencial Nicolau Lobato, Katedral Motael, Monumen Pembantaian Santa Cruz, dan Hotel Timor yang setia mengawasi persimpangan Rua António Heitor.

Sore menjelang, keindahan Dili jatuh bersama baskara yang tenggelam perlahan. Saya melepas lelah di bibir pantai ditemani satu budak yang mengaku yatim piatu. Umurnya sekira 10 tahun, bertelanjang dada, memegang layang-layang, bekerja menjual lobster, serta pandai bicara tiga bahasa; Tetun, Portugis, dan Indonesia. Kami berbincang sebentar sebelum saya kembali ke hostel. 

"Kalau kakak balik ke Dili, cari saya di sini saja." — Alfin.

Dili Harbour
Waktu menunjukkan pukul 19.30, Zozo telah tiba dan menunggu di lobi, bersiap menjadi tuan rumah untuk perjamuan malam yang dijanjikan. Saya tak menyangka jika pertemuan ini harus selesai di sebuah restoran Padang yang menyediakan nasi uduk, bubur Manado, dan gado-gado.

Esok pagi, ketika menunggu jemputan untuk pulang, Rita—pemilik hostel—memberikan saya sebuah bingkisan. Satu paper bag berisi sirup pisang, kudapan, dan empat saset kopi lokal kini telah berpindah tangan. "Ibuku asli Maluku, sayangnya beliau meninggal waktu aku masih tujuh tahun. Doakan semoga suatu saat aku bisa ke sana," pintanya.

Sejak saat itu Dili lebih dari sekadar kota. Saya akan mengingatnya sebagai tempat yang gemar memberi banyak kejutan. Dari van yang melaju menerabas hujan-petir di Maubara, saya berjanji untuk datang kembali ke kota ini. Kota yang merawat banyak manusia dengan senyum paling tidak mengada-ngada.

Dili, hetan diak liu, hau hadomi o!

Musik untuk perjalanan ini:
Dig Og Mig — Hjalmer
Terima kasih:
Edward Nenobesi, Zofimo Corbafo, Evi Aryati Arbay, Alfin, Erita Guitérrez, Nathanael Barbosa.

15 komentar:

  1. Huihhhhh cakepnya udah sampe di Timor Leste.
    Bagus2 fotonya dan pemandangannya indah ya....
    One day aku juga harus kesana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dili keren, biar sederhana tapi photogenic!
      Sekian dan Debzzie mesti kesana :)

      Hapus
  2. Wah gue sempat understated sama timur leste... ternyata timur leste bagus juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus banget! Alamnya asri, udaranya masih segar sekali :))

      Hapus
  3. Mahal juga yaa voa nya $30, beberapa tahun lalu sempet mau kesana tp batal karena temen ngomporin ketempat lain ;-(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya cum, tarulah sehari ceban kalau pake kurs US$1 = Rp. 10.000 yes.
      Coba deh nyusun agenda buat trip ke sana taun depan. :)

      Hapus
  4. Hihihi, dulu kan w pengen ikut ke sini nih.. tapi apa daya, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lain kali mesti join yah, Yud :))

      Hapus
  5. waaah rumah KD terkenal banget yah disana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan lebih terkenal dari rumah Ramos Horta :))

      Hapus
    2. Kayaknya rumah KD ini jadi agenda tujuan wisata kalo ke DILI hahahaha

      Hapus
    3. Kayaknya Cum, kayaknyaa... Hahaha

      Hapus
  6. Aku teringin bangat ke timur laste ini.. syukur kamu telah membei sedikit gambaran pada ku untuk kesana... terima kasih.. sudah lama kita tidak kunjung berkunjung di blog masing2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau artikel ini cukup membantu. Jom bercuti kat Dili, we have one direct flight service from Denpasar to Dili. So, you nak ke Bali first, lepas tu baru ke Timor Leste. Wait, I'm on my way kat your blog. Haha.. :))

      Hapus

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.