13 April, 2020

Kala Kelana

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), "kelana" berarti melakukan perjalanan ke mana-mana tanpa tujuan tertentu. Namun, kata siapa setiap perjalanan hanya melulu tentang berpindah, bersenang-senang, dan menghamburkan uang.

Selain pengalaman, seorang pejalan kerap menemukan banyak teman lewat setiap perkenalan. Bahkan, beberapa orang pernah melalui kejadian yang berlaku di luar kuasa mereka. Bertahun-tahun lalu, ketika menuruti hasrat sebagai seorang pengelana, saya juga mengalami suka-duka, yang kalau dipikir banyak tidak masuk akalnya.

Mungkin benar, alam memang gemar memberi banyak kebetulan, agar kita sadar bahwa beberapa tanda tanya tak pernah memiliki kunci jawaban.


1. Alasan Teknis
Surabaya — Tergiur dengan penawaran spesial akhir tahun, saya kalap membeli tiket untuk penerbangan tengah malam dari Juanda ke Denpasar. Pukul 23.00 pada 2012 silam, kami dipanggil memasuki pesawat MZ-616. Tepat 20 menit setelah lepas landas, Pilot meraih pelantang, mengabarkan jika kita akan kembali mendarat dan meminta seluruh penumpang tetap tenang.

Tak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa, menerka-nerka, melihat orang-orang ketakutan, dan beberapa lampu indikator yang menyala di pintu keluar darurat.

"Terjadi kerusakan di enjin kanan. Tadi setelah lepas landas, beberapa penumpang melihat percikan." Kata seorang pramuterbang kepada petugas darat yang kebingungan.

2. Sembilan Kali
Cilegon — Ini terjadi di tahun 2013, ketika dalam perjalanan dari Jakarta menuju Sumatra Selatan. Siang itu, di jam yang sama, harusnya saya sudah berangkat ke Kuala Lumpur dari Jakarta. Namun saya membatalkannya dan mengubah rencana dengan membeli satu tiket bus tujuan Kalideres-Palembang.

Dalam perjalanan menuju Merak, kami melewati 9 kecelakaan dalam kurun sepuluh jam saja. Bahkan pada insiden keempat, bus yang saya tumpangi juga nyaris menjadi korban. Saya bersumpah untuk mengingat ini sebagai perjalanan yang paling dekat dengan neraka.

Kepada mereka yang selamat, semoga dilimpahkan banyak bahagia hingga hari tua. Dan untuk yang telah kembali ke surga, semoga amal dan nama baikmu dikenang selamanya.

*Cerita lengkapnya ada di sini.

3. 140 km/h
Ayutthaya — Tahun 2017, saya berada di Thailand dalam sebuah program pertukaran antar negara. Selama di sana, panitia lokal telah menentukan satu keluarga angkat untuk setiap peserta. Saya mendapat sebuah keluarga yang memelihara banyak kucing di rumahnya. Tentu saja sebagai ailurophobia, kucing adalah sebuah ancaman dan masalah besar bagi saya.

Kepala keluarga ini bernama Alex. Berusia sekitar 50 tahun, berbadan tinggi tegap, pandai berhitung, namun irit bicara. Saya dan belasan peserta dari berbagai negara ASEAN akan tinggal selama dua malam di rumah ini.

Esok sore, ketika pulang mengunjungi situs pusaka di Ayutthaya, Alex meminta saya dan Kevin untuk ikut di mobilnya. Kevin ialah peserta asal Vietnam yang merupakan seorang taruna di Kepolisian Hanoi.

Dalam perjalanan kembali ke Bangkok, Alex meminta kami untuk duduk di baris kedua. Ia berencana mampir di sebuah persimpangan untuk menjemput seorang kawan. Tak lama, Alex bergeser ke sebelah kiri dan menyerahkan kemudi pada sosok yang belum sempat memperkenalkan diri.

Setengah jam berlalu, kemudian segalanya berubah pelan-pelan. Mereka terlibat cekcok ketika membahas urusan kerjaan. Tak terima dibentak Alex, pria berjenggot panjang dengan wangi parfum lavender sontak menginjak pedal dan memacu mobil kesetanan. Saya dan Kevin saling tatap, lalu menarik sabuk pengaman serta menyalakan audio recorder di ponsel masing-masing. Kami melesat dalam kecepatan 140 km/h, seperti orang-orang yang tak sabar menuju kematian.

Saat itu, kalaupun harus mati di negeri orang, Polisi pasti memiliki cukup bukti untuk kelengkapan penyelidikan. Setidaknya dari hasil rekaman suara dua pelancong yang ketakutan.

4. Banyak Rahasia
Cirebon — Ketika bekerja di Jakarta (2011), saya wajib pulang ke Cirebon setiap akhir pekan. Sial, siang itu tiket kereta telah habis terjual. Bergegas saya mencegat satu Kopaja dan mengejar jadwal bus di kawasan Trisakti. Beruntung, kini satu tiket armada Lorena tujuan Grogol-Harjamukti telah berada dalam genggaman.

Nasib sial belum juga selesai. Dalam perjalanan itu, saya kebablasan tidur dan baru bangun ketika bus sudah berada di Brebes. Kadung panik, saya meminta sopir untuk menepi saat itu juga. Mobil akhirnya melambat lalu menurunkan saya dan satu pria tua di jalanan sepi pukul dua dini hari.

Siapa menyangka jika ada yang bernasib sama di tengah malam buta. Lewat isyarat bahasa tubuh, pria itu meminta saya untuk membuntutinya. Setelah berjalan 300 meter ke utara, kami akhirnya berhenti di sebuah pos perlintasan kereta. Tak lama satu bus berwarna putih berhenti dan menaikkan kami dengan segera.

Dalam perjalanan kembali ke Cirebon, tak ada penumpang yang saling bicara. Saya baru sadar jika bus ini tampak tua, tanpa kaca jendela, berbau amis, serta memuat kambing, ayam, hingga beberapa batang tebu yang disandarkan di pintu depan. Saya juga baru sadar jika selama perjalanan ini kami tak berpapasan dengan satupun kendaraan di jalan. Dan oh, laki-laki tua tadi, dia bahkan raib dari tempat duduknya, padahal kami belum berhenti untuk menurunkan penumpang sama sekali.

Tak lama bus tiba di terminal tujuan, saya bergegas turun setelah menyerahkan uang ke seorang kernet yang menagih tanpa menampakkan muka. Jam menunjukkan pukul tiga subuh, itu artinya saya harus lekas ke rumah sakit karena paman segera menjalani operasi nanti pagi. Tiba-tiba satu becak mendekat, menawarkan jasa antar ke tujuan. Dengan ponsel yang kehabisan daya, saya menurutinya tanpa negosiasi. Ketika tiba di pintu gerbang, saya tercekat. Tukang becak itu, ia mengenakan pakaian serba putih, berwajah pucat, dengan badan wangi melati. Dan oh, dialah si kakek tadi!

5. Kereta Gila
Jakarta — Masih di tahun 2011, tahun di mana layanan Kereta Api tidak sebagus saat ini. Orang masih bisa naik ke atap gerbong, merokok di dalam kereta, banyak pedagang, dan nomor kursi hanyalah sebuah omong kosong belaka.

Di Sabtu yang terik, saya bertolak menuju Cirebon dari Stasiun Senen yang terkenal sebagai markas penyamun. Sungguh tak ada tempat duduk, padahal perjalanan ini baru selesai delapan jam lagi.

Karena tak kuat berdiri dan terimpit berjam-jam, saya pun mengalah dan memilih bersila di depan toilet berbau busuk. Dengan sisa tenaga yang ada, saya masih harus menghadapi satu cobaan. Dari sebuah pengumuman, kereta ini tak bisa berhenti di stasiun tujuan karena alasan keamanan. Orang-orang saling pandang, tak mengerti dengan apa yang terjadi.

Tak lama suara sirene bersahut-sahutan, lalu tampak rombongan mobil Polisi merapat di pinggir jalan. Setengah jam berlalu, kami masih belum mengerti sama sekali. Hingga akhirnya kereta kembali bergerak menuju ke stasiun tujuan. Saya bergegas turun, berlari keluar peron dan mencari kakak yang sudah menunggu satu jam lebih.

"Tadi kami berhenti di stasiun kecil, tapi tak ada yang boleh turun. Tiba-tiba banyak mobil polisi, entah apa yang terjadi." Saya mengeluh kesal di dalam mobil.

"Kamu naik satu kereta dengan penjahat. Dia jaringan teroris yang meledakkan bom di masjid Markas Kepolisian Resor Cirebon pekan lalu!" Kakak menjawab dengan lugas.

6. Senin Yang Jahat
Cirebon — Masih dari kota dan tahun yang sama. Pagi itu, saya membangunkan kakak pukul empat subuh, memintanya untuk bersolek dan segera mengantar saya ke stasiun. Diawali dengan insiden kehilangan kunci mobil, kami akhirnya berangkat menuju Stasiun Kejaksan dengan terburu-buru. Tak ayal, ketika masuk ke parkiran, semboyan berangkat juga tepat dibunyikan. Saya bergegas turun dan berlari melewati terowongan bawah tanah untuk menuju ke jalur seberang.

Kereta semakin kencang, kini saya cuma punya dua pilihan, nekat melompat di gerbong mana saja dan siap atas segala risiko, atau balik badan dan pulang. Tiba-tiba ingatan terbang ke meja kerja dan merasuki isi kepala, banyak laporan yang harus diselesaikan dengan segera. Hap! Saya melompat di pintu nomor enam, lalu tersungkur di kaki pramusaji yang menjerit ketakutan. Sekejap saya menjadi bahan tertawaan para penumpang di restorasi.

Seorang sekuriti berjalan mendekat lalu mengulurkan tangan, kemudian mengantarkan saya ke rangkaian paling depan.

"Kelas Eksekutif 1, nomor 5A. Silakan duduk di sini, mas." Ia lantas menjauh, meninggalkan saya yang masih kesakitan. Tak lama kakak menelpon dan mengatakan bahwa aksi saya ditonton banyak petugas dan calon penumpang. Peduli setan, yang penting saya bisa pulang.

Kereta kami berhenti di Gambir pukul delapan, saya langsung bergegas menuju kantor di bilangan Harmoni. Ketika sudah di meja kerja, kepala personalia datang menghampiri dengan tatapan penuh curiga. Ah, ternyata ada luka di pinggir alis dan memar kecil di pipi kiri, lengkap dengan kemeja putih yang penuh noda di punggung kanan.

"Saya jatuh di gerbong makan ketika mengejar kereta, Bu. Ini murni kecelakaan, bukan baru pulang tawuran."

7. Perahu Setan
Sorong — Juli tengah malam pada tahun 2016, saya menumpangi satu perahu motor dari Sorong ke Pulau Doom. Tak ada yang aneh dengan seluruh penumpang, hingga mesin mati di tengah lautan. 

Tiga lelaki berbadan tegap meracau dalam kesunyian. Tak lama, dua remaja melompat ke laut dan membuat panik seisi perahu. Situasi menjadi gaduh ketika beberapa pria yang duduk di baris kiri bergeser keluar dan memaki-maki petugas mesin. Siapa sangka jika malam itu saya berada dalam perahu dengan seluruh pemabuk berdosa yang tak lagi memiliki kesadaran. Oh, Tuhan!

8. Mengaku Kalah
Tokyo — Di penghujung 2017, dalam sebuah penerbangan dari Haneda ke Kitakyushu, saya merasakan apa itu siksa dunia. Sebagai orang yang tak terbiasa makan pagi, hari itu saya dipersilakan menyantap kotak sarapan yang disediakan sebuah agen perjalanan.

Bukan soal kebiasaan, bahkan menu yang dihidangkan juga terasa asing di lidah. Tak pelak, perut bereaksi tepat ketika panggilan naik ke pesawat. Saya mencoba tenang, berupaya mengendalikan diri agar terlihat baik-baik saja.

30 menit setelah lepas landas, kami memasuki situasi yang rumit. Bencana Topan Lan ternyata berdampak hingga ke angkasa raya. Berkali-kali pesawat mengalami turbulensi, sehingga indikator sabuk pengaman terus menyala selama penerbangan. Itu artinya, setiap penumpang dilarang berdiri dan akses ke kamar kecil akan ditutup sama sekali.

Perut bergejolak semakin hebat. Saya langsung berkeringat dan merasa dunia berputar dalam gelap. Tak sanggup berpura-pura, saya nekat berdiri dan berjalan menuju koridor belakang. Awak kabin yang panik mendadak iba melihat saya menangis kesakitan. Demi Tuhan, tak ada yang lebih buruk selain terbang dengan diare, ketika turbulensi, toilet ditutup, menggunakan setelan formal, dan hanya diberikan 15 menit untuk menyelesaikan semuanya.

9. Dijemput Polisi
Surabaya — Tahun 2013, dalam kunjungan kelima ke Kota Pahlawan, saya mewanti-wanti seorang kawan untuk menemani ke spot uji nyali. Sebuah tempat yang konon pernah menjadi lokasi syuting program "pemburu dedemit" di satu stasiun televisi. Orang Surabaya mengenal tempat ini sebagai Rumah Hantu Darmo.

Kami berangkat pukul 23.00 di Kamis malam, yang secara kebetulan pada penanggalan Jawa tertulis sebagai Malam Jumat Kliwon. Setengah jam perjalanan, kami pun tiba di tujuan. Ada beberapa pengunjung yang berburu foto di depan pagar, namun tak ada satu pun yang berani ke dalam. Tanpa pikir panjang, saya langsung melepas ransel dan nekat masuk berburu setan.

Bangunan terbengkalai berlantai dua ini tampak mewah dengan pilar yang tinggi-tinggi. Pantas saja banyak spekulasi yang muncul di masyarakat terkait musabab awal tragedi. Tak ada cahaya dan gelap, rumah ini kian horor dengan bulan yang terlihat jelas dari dinding-dinding tanpa atap.

Berbekal flashlight ponsel, saya menyisir setiap sudut dan berharap bisa menemukan apapun yang masih hidup. Sial, bukannya hantu, ruang-ruang kosong yang berbau ternyata dipenuhi sampah kemasan makanan, bungkus rokok, pakaian dalam, dan kondom bekas pakai. Ini murni propaganda, sebuah upaya menakuti manusia agar bisa aman melakukan sanggama.

Baru saja takjub dengan sebuah penemuan hebat, saya mendengar suara sirene yang bergerak mendekat. Tak lama, dua polisi merangsek masuk dan menyelamatkan saya dari 'kegelapan'. Ternyata setelah episode reality show itu tayang, tempat ini menjadi terlarang. Itulah sebabnya tak ada yang berani melawan untuk bertamu di rumah setan.

Ah, jika saja orang-orang itu tahu apa yang ada di dalam, pasti mereka berubah pikiran.

10. Penuh Kejutan
Kupang — Tahun 2014 saya mendaratkan kaki untuk pertama kali di Nusa Tenggara Timur. Sebelum terbang dari Denpasar, saya menghubungi seorang kawan untuk mencarikan penginapan selama dua malam. Tak perlu lama, ia langsung mengirimkan kontak seorang perempuan yang merelakan usaha kos-kosannya disewa harian. Sempurna!

Tiba di El Tari, saya segera menuju ke alamat tersebut. Sebuah rumah tua berlantai dua dengan lokasi strategis di kawasan Kuanino. Usai berkenalan, saya langsung diantar menuju ke kamar di lantai atas. Sungguh ruang tidur yang luas, dengan tempat tidur berukuran besar, ada almari, wastafel, shower, dan satu kabinet yang lengkap dengan alkitab dan salib di atas meja.

Tak ada yang aneh hingga tengah malam tiba. Saya mendengar orang berkumpul dan duduk di depan kamar, lalu samar-samar ada suara bayi menangis meminta ditenangkan. Di kamar mandi, air mengalir pelan dari saluran leding yang sudah saya kunci. Tak suka diganggu, saya segera turun dan mengetuk pintu pemilik rumah.

"Di depan kita ada rumah sakit, dan kamar kamu berada persis di belakang kamar jenazah. Mungkin mereka hanya ingin berkenalan. Kalau keberatan, mari pindah di bawah saja." Kami pun tertawa bersama.

Ada-ada saja!

Musik untuk seluruh kisah ini:
Anthem — Michael Abels
Terima kasih:
(Almh.) Astri Sjaban, Puteri Utari, (Almh.) Archi C. Oktiandini, Nguyên Hui Hoàng, Vilda Alwan, Hanan Mayor, Risda Nurhuda, Valerina Kosaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.