03 April, 2020

Pulang

Masa lalu adalah satu hal yang saya hindari dalam hidup ini. Perkara paling menakutkan adalah tentang kenang-kenangan. Memandang bangunan tua atau meraba dinding berlumut di benteng kolonial hanyalah beberapa di antaranya. Kadang saya berbohong ketika mengagumi kisah sejarah demi menghormati para tetua.

Pulang ialah kembali ke beberapa tahun yang lalu, tidak peduli bagaimana rupa bandara baru, atau seberapa banyak perahu di laut biru. Penerbangan ini seperti perjalanan untuk pergi ke masa lampau. Tidak lebih.

Lihatlah orang-orang itu, mereka menghabiskan jutaan rupiah untuk datang ke sini dan menjadi korban dari target promosi. Bapak menginjak pedal, mengacuhkan saya yang sibuk mengumpati sampah visual. Kecepatan ini cukup untuk menghitung pepohonan, mengagumi gunung, atau menyapa dermaga tua yang masih sama seperti dulu, tak berubah walau seujung kuku.

Hijau berganti merah, kami berhenti di persimpangan Istana Raja. Mobil dan motor berbaris memanjang, pasukan burung gereja melintang di atas tiang, hinggap menikmati kebebasan.

Pada sebuah perempatan di pusat kota, satu toko buku tua masih berdiri di sana, kokoh memunggungi area pecinan lama dan bekas bioskop era HollandiaPenjual perhiasan besi tempa juga masih berjaya, berjejer di atas selokan yang disanggah setapak berkapasitas dua kepala. Siapapun yang pernah ke kota ini, pasti sepakat untuk bertandang sekali lagi.

Dulu, pada sebuah penerbangan ke Sunda Kelapa, seorang pramugara juga pernah mengakuinya. "Apa pun yang ada di kotamu, kini telah berpindah ke dalam kepalaku," katanya.

Bagi saya, meriam besar di ujung bukit penyerangan bukanlah peninggalan prasejarah. Puluhan tahun silam, dari gundukan yang dilapisi rerumputan lebat, saya menjadi pendosa dan melanggar janji pada kedua orang tua. 

Setiap hari ketika pulang sekolah, kawan jahat selalu mengajak ke tempat yang sama. Kami kerap mencari kardus dan merobeknya dengan adil, lantas melesat turun secara bergiliran. Kala itu, tak ada janji yang perlu diingat, termasuk ikrar pada Ibu yang mewanti-wanti untuk menjaga seragam agar tak kotor dan lusuh.

Saya mengingat meriam itu sebagai pemantik kenangan, yang menembakkan ingatan masa silam: tentang kebebasan, kegembiraan, atau teriakan teman-teman yang berlarian hingga jatuh dan menangis kesakitan.

Harus berapa kali kuperingatkan untuk menunggu di gerbang sekolah?” Dengan darah yang mendidih di ubun-ubun, Bapak menghardik saya di bahu pedestrian, titik akhir pemberhentian.

* * *
Seorang musafir pernah menulis sangat runut tentang kota ini. Ada langit biru, warna laut, intonasi, bahasa, serta legenda danau keramat yang konon telah membuatnya jatuh hati. Katanya, cincang tuna mentah, irisan kenari, dan cabai pedas yang diberi perasan jeruk limau kini menjadi makanan favoritnya.

Ia terlalu bangga pada kota kecil ini, bahkan pernah meneteskan air mata di balkon Istana Raja. Ia jatuh hati, kasmaran pada sebuah kota, memelas cinta pada rahim cengkih dan pala.

Sekarang dunia telah berubah, era bergulir ke kordinat yang lebih cepat dan memanjakan mata. Zaman sudah melahirkan para "Mat Kodak" yang memilih bertutur lewat rupa dibandingkan kata-kata. Tangan-tangan itu cermat membidik segala yang memiliki nilai dan suara. Hasil yang telah diseleksi lalu dipotong sama sisi, kemudian dipoles menggunakan pemanis dan aturan saturasi, sebelum ditampilkan pada platform jejaring sosial berbasis visual. Saya melihat semuanya, ini hebat sekali!

Aspal basah berliku, ranting-ranting tua, matahari, awan, bintang, makanan, dan apa pun yang ada di dinding lini masa semuanya menakjubkan. Para ahli pemasaran menyebutnya sebagai strategi promosi berbasis peradaban. Ini jauh lebih rasional ketimbang menempatkan sepasang wajah kaku pada spanduk "Selamat Datang!" yang nyaris ada di setiap gerbang kedatangan.

Dua minggu setelah hibernasi, saya mengunci pintu, meninggalkan rumah ketika terik sedang berdansa di cakrawala. Dikawal kawan rasa saudara, kami melaju ke selatan. Barangkali inilah yang disebut sejarah, kisah tentang seorang perantau yang pulang untuk negerinya, tentang sebuah upaya memanggil masa lalu lewat penjelajahan pertama sejak tiga belas tahun. Inilah satu-satunya hari yang dilingkari dalam kalender hidupnya.

Kami tiba di struktur tanpa atap berbentuk kura-kura, dan merupakan bangunan pertahanan terapung di Republik Garuda. Berdasarkan literatur, tempat ini didirikan oleh bangsa Telenovela, sebelum disempurnakan oleh negeri Seribu Kanal. Tembok-tembok kokoh setebal satu meter seperti melekat di atas tanah, anggun dengan fondasi yang dilapisi suket lima senti sebagai penangkal lidah matahari.

Saat laut pasang, bangunan ini tampak mengambang dari dermaga di pulau seberang. Sekali lagi, ini bukan basis pertahanan perang. Saya mengenangnya sebagai tempat latihan berenang. Persis ketika pelatih meniup peluit panjang, kami meloncat bergantian, satu orang satu putaran.

Sewaktu singgah di Batavia saat hendak pulang ke sini, seseorang mendaratkan pesan sebelum jadwal lepas landas. Tanpa basa-basi, ia langsung menginterogasi.

“Kupikir kau sudah tak ingin kembali. Angin apa yang mengantarmu kali ini?”

Rumah.

“Kau bilang tak ada lagi yang harus diperbaiki. Aku masih mengingat kata-katamu.”

Aroma almari, cerita-cerita lama, dan wangi seprai tua yang menarik kaki untuk datang.

“Bagaimana dengan janji terakhirmu?”

Jangan cemas, dendam ini sudah hilang. Setidaknya tak ada lidah yang harus dipotong. Saya pulang untuk mengenang, mengingat, dan memaafkan sebisa mungkin. Hanya itu.

“Kirimkan foto tentang semua yang pernah kau ceritakan dulu.”

Lihat nanti.

"Lantas, bagaimana dengan hubungan ini?"

Sudah selesai.
* * *

Pantai Tugulufa, Tidore
Pulang,

Kini tentang menemukan kedamaian. Kota ini adalah sebenar-benarnya rasa tenang. Ibarat gasing yang gagah ketika berlari, saya tetaplah gasing yang patuh ketika digenggam. Pulang adalah akhir dari paragraf panjang perjalanan, terlebih ketika rindu memaksa saya menjadi pecandu.


Musik untuk perjalanan ini:
Home — Hollow Coves
Play on Spotify

Terima kasih:
Adon Accader, Risnawaty Tjan, Rini Redea, Zulham Bian, Nicholas Tan, Ketut Ardi L. Putra.

2 komentar:

  1. aku mau save ah rekomendasi playlist spotify mu.. haha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti wajib baca semua postingan, karena setiap cerita memiliki iramanya masing-masing. Haha

      Hapus

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.