09 April, 2020

Singapura 180°

Sebelum jauh bercerita, izinkan saya memperkenalkan Ester, perempuan Jambi yang di kepalanya menyimpan keajaiban bahwa Jakarta dan Depok masih satu provinsi. Bersamanya, kisah tentang Singapura, Malaysia, dan Thailand akan dimulai dalam beberapa hari ke depan.

Menjelang berangkat, kami berbagi tugas untuk segala persiapan. Saya menyusun itinerary dan mencari akomodasi, sedangkan Ester bertanggung jawab untuk urusan tiket dan tukar valas. Kami beraktifitas dan bekerja seperti biasa, hingga segalanya berubah di hari keberangkatan. Pukul lima di sore yang kalut, saya mematung di toilet kantor ketika tak satu pun panggilan mendapat jawaban.

"Gue masih meeting nih, ketemu di bandara saja, ya. Infoin gue jalanan macet apa kagak." — Ester, via sms.

Bukan perkara rapat atau tidak, namun dua jam lagi pesawat kami sudah terjadwal lepas landas. Sedangkan dia, satu jam sebelum boarding pun batang hidungnya tak kelihatan. Ini belum termasuk perjalanan dari Kelapa Gading ke Cengkareng, macet, pemeriksaan keamanan, serta antre di konter check-in dan Imigrasi.

Konon, rapat kala itu membahas kinerja karyawan dan evaluasi target perusahaan. Ester tak bisa memilih selain harus tetap duduk dan pura-pura mengerti. Siapa peduli jika perempuan itu harus segera angkat kaki dan pergi ke luar negeri.

Panggilan masuk ke ruang tunggu kini menggema di langit-langit bandara, saya semakin kacau ketika ia belum menampakkan diri sama sekali. Sempat terlintas pilihan untuk membatalkan perjalanan ini atau pergi sendiri dengan sisa uang yang ada. 

Dalam keadaan cemas, saya melambatkan kaki setelah menuruti perintah pindah dari Gate 4 ke Gate 2. Satu permohonan dikirim ke langit, berharap agar penerbangan ini ditunda hingga datangnya si "Juru Selamat."

"Halo, gue udah di bandara. Tunggu lima menit, gue masih dandan di toilet." Dia bahkan masih sempat bersolek. Perempuan jahat!

Lima menit yang dijanjikan, ia muncul dengan rambut yang masih berantakan. Orang-orang sudah naik ke pesawat, awak kabin menyambut kami dengan senyum kelelahan. Pintu ditutup, demo keselamatan diperagakan, emosi dipadamkan, doa-doa dipanjatkan.

* * *

Welcome To Singapore!
Wanita tua berkemeja hitam terlihat sibuk di balik loket, matanya awas mengamati siapa saja. Kini giliran paspor saya berpindah ke mejanya. Tak ada yang bisa diamati, selain halaman kosong yang bersih dari stempel negara mana pun. 

"You looks like my ex-boyfriend. Welcome to Singapore!" Senyumnya merekah, mempersilakan saya dengan bahagia.

Kami tiba dengan penerbangan terakhir di bandara ini. Itu artinya kami harus pindah terminal dan tidur di selasar, karena tak ada lagi kereta yang menuju ke sentral. 

Di sebuah kedai cepat saji, satu perempuan menghampiri kami dan meminta izin untuk berbagi meja dengannya. Wajahnya oriental, berpakaian sporty, dengan rambut cokelat patah mayang. Saya tak mengingat namanya, kecuali sebagai pelancong asal Boracay yang memecahkan suasana lewat satu pertanyaan sulit.

"Apakah Bali dekat dengan Indonesia?"

Sekuriti Laknat & Mumbai Imitasi
Menumpangi MRT dari Changi menuju City Hall, kami langsung mencari operator bus tujuan Kuala Lumpur dan Bangkok. Sial, periode liburan tenyata berimbas pada tingginya permintaan tiket menuju Thailand dan Malaysia. Semuanya telah ludes terjual.

Ester mendesak saya untuk segera menyusun rencana kedua. Saya membuka peta, mencari lokasi hotel terdekat, menghitung jarak, lalu kemudian telunjuk berhenti di satu titik, Geylang. Kali ini, mau tidak mau, suka tidak suka, kami harus melewati 5 hari 4 malam di negeri yang tak diinginkan.

Saya melangkah mantap, berjalan mendekati sebuah pos keamanan untuk bertanya cara menuju Geylang. "Sila guna teksi kat interseksyen, sebab jauh and takde bas pergi sana." Seorang sekuriti berbadan tegap memberikan nasihat tanpa menoleh dan tetap mengunyah permen karet.

Saya mengucapkan terima kasih dan lekas pergi kendati tak langsung memercayainya. Kami kembali mengamati peta, mencari keterangan transportasi yang mungkin tertulis di catatan kaki, dan memang ada. Dasar bodoh.

Menaiki jaringan bus SBS Transit, kami bergerak meninggalkan kawasan City Hall. Seorang pria India yang duduk di sebelah saya menawarkan bantuan untuk segala informasi yang kami perlukan. Darinya pula saya jadi tahu alamat masjid terdekat, waktu salat Jumat, daftar hostel murah, kedai kopi terkenal, hingga jam operasional seluruh moda transportasi di Singapura.

"Halte yang kalian tuju tinggal beberapa meter lagi. Bergegaslah!"

Tunggu sebentar, kami baru berada tujuh menit di bus ini, sedangkan tempat yang kami cari hanya tinggal sejengkal saja. Lantas Geylang di belahan bumi mana yang membuat sekuriti sombong itu menyarankan kami untuk "naik teksi sebab takde bas pergi sana?"

Atas nama tongkat Musa, terbelah dualah mulut beserta kumis dan segala kebohonganmu  di neraka yang bergejolak.

Turun di Lorong 1, saya percaya dapat menemukan alamat dengan mudah. Malang, tak ada satu pun warga lokal yang dijumpai sepanjang jalan. Pencarian berlangsung sampai kami tersesat di dapur restoran yang mempekerjakan para lansia, dan baru berakhir setelah dipersekusi resepsionis hostel khusus homoseksual, yang menolak reservasi hanya karena Ester seorang perempuan.

Viola! Rumah persinggahan berwarna cokelat pucat kini persis di depan mata. Bangunan tiga lantai ini terletak di ujung Lorong 27 dari Sims Avenue. Berdiri persis di sudut jalan, ternyata hostel ini juga mudah dijangkau dari halte dan stasiun Aljunied. Di sekitarnya terdapat kedai nasi lemak, minimarket, ATM center, apotek, sex store, dan hanya perlu beberapa langkah menuju pusat prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Strategis sekali.

Seorang wanita tua melayani kami dengan ramah, kemudian menyerahkan sepasang kunci untuk menempati kamar yang berada di lantai empat. Sebuah kamar berkapasitas empat orang untuk tamu segala gender. Setelah melepas ransel, Ester menggoda saya untuk berburu makan siang ke Little India.

Persis namanya, selain terlihat banyak perempuan yang mengenakan saree, kawasan ini juga dihiasi banyak patung batara Hindu serta los-los tua dengan plang yang menggunakan aksara Devanagari. Ditambah aroma dupa yang semerbak, saya merasa seperti berada di Mumbai namun dengan orang-orang yang fasih berbahasa Melayu.

Gadis Ajaib & Masjid Sultan
Hari menuju petang saat kami memutuskan kembali ke hostel. Usai mandi dan makan malam, kami sepakat untuk istirahat. Ester menutup malam dengan meratapi nasib buruknya, ia dipecat sebelum berangkat ke negara ini. Saya meraih laptop lalu merapihkan beberapa folder dokumentasi.

Ditemani lagu-lagu melankolis, kami menyaksikan sebuah pemandangan jenaka dari ranjang masing-masing. Di bawah sana, seorang muncikari pemarah sedang melayani transaksi empat lelaki tua yang memilih jasa tunasusila. Kemudian kami hilang dalam mimpi yang panjang.

Saya membuka pagi dengan ucapan "Selamat Paskah!" kepada Ester. Qi, seorang remaja belia masuk ke kamar dengan handuk yang masih melingkar di dada. Dia adalah tamu yang bergabung di kamar kami tadi malam. Dia pula yang menukar posisi kasur dan mengambil adaptor laptop saya tanpa permisi. Dan oh, dia juga yang meletakkan kaus kaki di atas ransel kami dan mendengkur seperti orang kehabisan napas.

"Bukankah kau datang dengan seorang wanita, di mana dia sekarang?" Saya mencari satu perempuan tua yang memang tak kelihatan sejak pagi.

"Ibuku sedang berkunjung ke rumah saudaranya. Dia datang untuk menemaniku mencari materi penelitian siang ini. Kami akan kembali ke Guangzhou lewat jalur darat nanti malam, sebab tak ada hal penting yang harus kulakukan lagi di sini," jawabnya.

Mungkin benar, tak akan ada hal penting yang harus ia lakukan di Singapura, misalnya bercermin. Lihat saja bekas pasta gigi yang masih menempel di dagu kiri.

Saya hanya bingung, bagaimana bisa dia mengajak ibunya jauh-jauh dari Tiongkok untuk melihat perayaan kebangkitan Yesus, lalu pulang dengan perjalanan yang membutuhkan waktu setengah abad.

Jika memang harus mengingat nama orang-orang paling aneh di dunia, saya pastikan Qi adalah salah satunya.

Matahari hampir tinggi ketika kami meninggalkan Qi untuk mencari sarapan sebelum pergi ke Masjid Sultan. Ester memilih untuk berhenti di Bugis Junction, sekaligus menunggu saya menunaikan salat Jumat di masjid yang menjadi maskot Kampong Glam.

Ibadah ini baru akan dimulai pukul dua belas siang. Saya cukup kagum melihat sebuah masjid besar berdiri tegak di kawasan multietnis dengan jemaah yang berasal dari berbagai negara. Kekaguman ini makin bertambah saat mengetahui segala tata laksana ibadah dan bahasa pengantar khotbah sepenuhnya menggunakan Bahasa Melayu.

"Selamat datang! Kami baru akan memulainya dua puluh menit lagi. Setelah selesai salat nanti, seluruh jemaah diundang ke halaman belakang untuk makan siang bersama."  Satu marbot muda menyampaikan pesan ketika saya mengajaknya bersalaman.
Sketsa Masjid Sultan Singapura | © 2019 Anita Ryanto
Sebentar, ada satu hal yang mencuri perhatian kala itu. Seorang turis Jepang dengan celana setengah lutut mencoba masuk ke dalam masjid. Anehnya, saya tak melihat satu pun penjaga yang mencegah atau berupaya melarangnya.

"Aku penasaran dengan doa-doa yang keluar dari pengeras suara. Kupikir aku harus masuk dan mengambil beberapa foto untuk kutunjukkan pada dunia bahwa mereka dalam ketakutan yang sia-sia. Tak ada bom di sini. Mana mungkin gedung-gedung tinggi dapat diledakkan hanya dengan bubur sebelanga?" Ia menutup kunjungan dengan meminta seorang jemaah untuk memotret dirinya.

Keluarga Baru
Tak ada hal menarik di hari ketiga. Kami hanya memasukkan nama-nama mainstream ke dalam daftar eksplorasi singkat ini. Raffles Landing Site, Esplanade, Vivo City, dan sebuah pantai sepanjang tiga ratus meter di Sentosa Island adalah beberapa di antaranya.

Saya dan Ester kembali ke hostel pukul delapan malam. Kini kamar telah sepi, Qi telah pergi dari kehidupan kami. Baru beberapa saat saya merindukan keramaian, datanglah penjaga hostel beserta empat tamu dari Jakarta. Mereka sengaja menempatkan orang-orang itu di lantai yang sama karena mengetahui kami berasal dari Indonesia.

Malam yang tenang menjadi pecah berkat obrolan gila bersama Ivan, Mels, Dede, dan Adit. Sambil bergurau, kami juga merayakan perkenalan dengan pesta mie instan kebanggaan Nusantara. Pertemuan yang tadinya kaku kini menjadi hangat setelah perjamuan singkat.

"Istirahat, yuk! Besok pagi kita berburu nasi lemak sama-sama." Dede menutup malam dengan himbauan yang terdengar lezat.

Bertemu Seseorang
Di hari keempat nampaknya Singapura merindukan hujan. Sungguh sebuah alasan yang tepat bagi kami untuk menolak berinteraksi dengan kamar mandi. Selesai sarapan bersama, kami bergegas pamit dan berkemas untuk pulang.

Kali ini giliran Ester yang menyusun rencana kunjungan. Saya melihat nama Orchard Road, Merlion, Marina Bay Sands, Rafless Hotel, dan The Helix Bridge di daftar catatan yang dibuatnya. Kemudian pada halaman kedua ia menempatkan Mustafa Center, China Town, dan satu tempat yang tak asing di kepala.

"Kok ke Little India lagi, sih?" Saya mengeluh.

"Gue mau coba beli roti canai, barangkali ada yang beda kalau dibikin langsung oleh orang India," jawabnya.

Di kota yang penuh gerimis, kami mencoba mengunjungi seluruh tempat satu-persatu. Apa daya, langit yang tak bisa diajak kompromi memaksa kami berhenti untuk berteduh di kawasan Orchard. Saya melempar ide agar kita berpencar dan bertemu kembali di Mustofa pukul delapan malam, Ester langsung menyetujuinya. Sempurna!

Segila-gilanya perempuan berkelana, mereka akan berakhir di toko pakaian, dan memang itu yang Ester lakukan. Saya lalu bergegas mencari bus untuk kembali ke Kampong Glam.

Dari sebuah kedai di persimpangan, seseorang telah duduk menunggu dengan tenang. Seseorang berkebangsaan Lebanon yang nekat terbang dari Beirut untuk bertemu pujaan hati yang sedang sibuk jalan-jalan. Ester bahkan tak mengetahui perjanjian ini. Benar-benar konspirasi, sebuah rahasia yang tak boleh bocor sama sekali.

Thank You!
Puas memborong segala parfum di Mustafa, kami segera pulang dan menuju bandara. Ester bahkan tak menanyakan saya pergi ke mana saja ketika kami berpisah siang tadi. Kota ini terlihat berbeda dari dalam kereta, karena "seseorang" telah menitipkan banyak warna di dalam kepala.

Saya baik-baik saja ketika lima botol Hersey's dicekal petugas Bea Cukai lantaran melebihi ketentuan barang bawaan. Bahkan tak merasa gelisah untuk pulang ke Jakarta, atau kembali bekerja di kantor yang tak tahu-menahu bahwa alasan pura-pura sakit telah mengantarkan saya ke Singapura.

Tak ada yang bisa menebak jika semuanya berbalik dari seluruh rencana yang telah dipahat. Bermula dari tempat yang tak diinginkan, kini menjadi negara yang senantiasa dirindukan.

Sebelum pesawat mengudara, saya membaca satu pesan yang dikirimkan kontak bernama "Sayang."

"Have a safe flight, I love you!"

Musik untuk perjalanan ini:
Fallin' High — Safri Duo
Terima kasih:
Ester Berliana, AMH, Melissa Mangunsong, Ivan Tambunan, Imelda Hutagalung, Tatiana Gosal, Aditya Buanareksa.

Tulisan ini didukung oleh sketsa luar biasa dari Anita Ryanto. Lihat karya lainnya di sini.

11 komentar:

  1. Hehe.. Walaupun mungkin udah ribuan (atau jutaan?) orang Indonesia yang ke Singapore, cerita masing-masing orang pasti dengan caranya sendiri. This is one of them! Senang 'nyadar' ke blog ini. :D

    BalasHapus
  2. Hei Maisya! Makasih sudah mampir kesini, maaf kalau ceritanya kepanjangan yah. Maklum, saya rada-rada cerewet kalau sudah ngeblog. Salah satunya, yah.. cerita Singapore ini. Salam :)

    BalasHapus
  3. hai aiya!! ngakak juga baca ceritamu hihih makasih udah berkunjung ke http://len-diary.blogspot.com/ mampir lagi ya ntar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.. Makasih lho Lenny, jangan kapok bertamu kesini yah :)

      Hapus
  4. hehe lucu juga gaya ceritamu, ketemu blog ini saat aq lagi cari referensi bwt jalan2 kere di sgp. tenkiu inpohnyah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciecie yang mau jalan-jalan kere ke negeri singa. Good luck yah Yen :)

      Hapus
  5. Wahahaha, ngebayangin gempornya :D, tapi ceritanya seru! dan runut..
    #jadi pengen visit lagi, penasaran sama Little India

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, sudahlah.. Jangan kau ungkit-ungkit tragedi betis bekonde, sungguh seperti ingin mengubur diri sendiri.
      Sok, silakan balik lagi kesana. Titip salam sama nasi nenas palsu yak :)

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  7. Sangat lucu dan menghibur, cara anda bercerita luar biasa seperti penulis professional, jadi ingat pengalaman saya juga tahun 2012 ke singapura,beruntungnya saya punya family yang tinggal di apartemen di dekat MRT Al Junied. Yang paling saya ingat dari MRT adalah bunyi peringatan saat pintu akan tertutup tit tit tit, i miss singapore.. Thank you for your great blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali sudah bersedia membaca artikel paling panjang di blog ini. Kapan-kapan kalau berkunjung lagi ke tempat family, saya nitip nasi lemak Al Junied, ya. Soalnya saya baru mau balik ke Singapore kalau pintu MRT-nya sudah bisa bilang, "Ciluk Ba!" #eh :))

      Hapus

I live in the amazing East Indonesia

A travelogger who loves humanity echoes.
Life as nomadic and born to be talkative.