Dili, Hetan Diak Liu!

Rabu petang yang basah, saya terjebak di selasar toko ketika menunggu gerimis pamit dari Kupang. Perjalanan ini memasuki hari kedua, hari yang siangnya penuh dengan terik dan debu di seluruh kota. Alih-alih reda, langit mengirimkan petir yang semakin keras. 

Saya bergeser ke tenda soto panas, meraih ransel, dan mencari tenun yang baru dibeli tadi siang. Sekelabat mata menemukan sesuatu. Sesuatu yang menjadi musabab berpindahnya kordinat di perjalanan ini. Iya, paspor.

Tak pernah terlintas untuk pergi ke negeri jauh. Namun malam itu, secara impulsif saya memutuskan melompat ke tanah seberang, daripada merayakan kesepian di Kupang.

Edo, seorang ojek pangkalan menawarkan bantuan yang tentu saja diperlukan. Kami berangkat ke kantor biro perjalanan ketika hujan menemukan selesai. Apa pun yang terjadi, saya harus pulang dengan satu tiket menuju Dili.

* * *
Kamis pagi, sebuah minibus bergerak membawa sepuluh penumpang ke perbatasan. Di jalanan berkelok, mobil melaju melintasi hutan-hutan cendana yang sejuk dan wangi. Kami menghabiskan tujuh jam perjalanan, melewati Soe, Kefa, sebelum sampai di Atambua.

Memasuki PLBN Motaain, seluruh angkutan menjalani pemeriksaan untuk menyeberang ke Batugade. Saya menuju ke loket Servico de Migração, mengisi formulir deklarasi, lalu bergeser ke loket lainnya dan menebus Visa on Arrival untuk validasi 30 hari.

Kami berpindah ke minibus hitam usai melewati tiga bingkai detektor. Mobil bertolak meninggalkan perbatasan, menjauh dari jembatan yang mengucapkan selamat datang. Bem-Vindo a Timor-Leste!

Berada di bahu tebing dan pantai, jalur ini menawarkan pemandangan memukau sepanjang perjalanan. Senjakala berwarna jingga mengintip dari bukit-bukit gersang nan sepi. Mobil melaju mengejar jarum jam agar tiba di Tasitolu sebelum larut malam.

Kami memasuki Dili pukul 20.00, ketika jalan telah lenggang dan orang-orang sudah kembali ke peraduan. Tak seperti Kupang, kota ini sedikit berbeda. Bangunan gaya Eropa berpadu dengan rumah-rumah tropis ala Asia, serasi dengan lingkungan yang tampak lebih bersih dari Indonesia.

Sopir mengantar saya ke sebuah hostel di Almirante Tomás. Seorang wanita mempersilakan masuk dan menyerahkan buku reservasi untuk diisi. Di daftar tamu, saya menemukan satu nama dari negara yang sama. Evi, asal Jakarta, tinggal di mix dormitory, menginap selama satu malam. Sempurna!

"Is it possible if I stay at the same room with this guest?"

"Sure, we have three bed left at the same room. Would you like to confirm?"

"Yes, please!"

Evi sangat senang mendapat kawan dari negara yang sama. Kami bergeser ke kedai India, menikmati sepiring chapati dan dua gelas nanas dengan waswas. Waktu menunjukkan pukul 22.20, sepuluh menit lagi kami harus angkat kaki sebelum diciduk Polisi. Sebagai negara prematur, keamanan di Timor-Leste belum sepenuhnya stabil. Pemerintah masih campur tangan untuk menekan tindakan kejahatan.

Jumat pagi, Evi pamit menghadiri undangan pejabat sebelum kembali ke Kupang. Saya menyusun rencana dan menyewa sepeda sebagai modal vakansi hari ini. Penjaga hostel mendekat, menyerahkan kunci, menawarkan sepiring mangga, dan sedikit nasihat penambah semangat.

"Jangan cemas, pagi tidak seketat malam. Kami juga masih bisa berbahasa Indonesia. Jika butuh bantuan di jalan, jangan ragu untuk bertanya. Mereka akan sangat senang membantumu," begitu katanya.

Hati semakin mantap, saya siap berangkat. Tujuan pertama adalah ke Cristo Rei, sebuah maskot yang berada 10 kilometer dari timur hostel ini. Pedal dipacu dengan lekas, meninggalkan kawasan Motael menuju Dili Harbour, lalu melesat melewati Areia Branca sebelum tiba di Fatucama, sebuah puncak yang menebar 500 anak tangga untuk melindungi sang "Kristus Raja".

Di atas sana, Yesus berdiri menjaga Dili dari ketinggian 150 mdpl. Tangannya terangkat, seolah memberkati siapa saja yang datang berserah. Namun, tak banyak yang tahu jika Kristus yang gagah lahir dari kepala Mochammad Syailillah, seorang arsitek muslim yang dipilih Presiden Soeharto untuk merancang patung setinggi 27 meter sebagai hadiah bergabungnya Timor Timur ke Indonesia.

Sebagai landmark yang merangkap situs kudus bagi umat Katolik, tempat ini adalah jawaban bagi orang-orang yang merindukan rasa tenang. Sejumlah biarawati terlihat berdoa di plaza yang rindang. Di sekelilingnya dipagari relief penggugah iman.

Waktu bergulir, jam menunjukkan pukul 10.30, itu artinya salat Jumat segera dimulai sebentar lagi. Saya mempercepat langkah, bergerak menuju ke Kampung Alor. Sepeda saya biarkan meluncur melewati kantor Parlemen, pasar, gang-gang sempit, sebelum tiba di tujuan.

Di kampung ini berdiri masjid besar yang berdampingan dengan sebuah sekolah. Keduanya dikelola oleh satu yayasan dengan nama yang sama, An-Nur. Lokasinya strategis, berada persis di kawasan bisnis dan kedutaan negara-negara sahabat. Mayoritas jemaah adalah para diplomat. Kendati begitu, isi ceramah dan tata laksana ibadah masih menggunakan Bahasa Indonesia.

Ketika selesai, saya menuju pesisir. Tak jauh dari situ, beberapa rombongan turis berhenti di sebuah rumah berwarna cokelat tua. Saya mendekat, mencoba menebak. "Itu rumah Krisdayanti!" Kata seorang remaja dari seberang.

Dili ketika siang jauh berbeda dengan malam. Kota ini seperti memiliki tiga matahari yang berpendar di langit tanpa awan. Sepeda saya kayuh meninggalkan Kelapa Beach menuju Palácio do Governo, kemudian berhenti di Largo de Lecidere, sebuah taman yang menyediakan jaringan nirkabel cuma-cuma.

"Aku tiba dari Oecusse nanti sore. Bersiaplah, kita pergi makan malam sebelum pukul delapan. Sampai jumpa!" — Zofimo, via BlackBerry® Messenger.

Zozo adalah seorang politikus muda, seniman, dan aktor yang juga aktif sebagai relawan kemanusiaan di NGO Australia. Kami berkenalan setahun sebelumnya, saat dia melayangkan request di jejaring sosial CouchSurfing, dan meminta saya menjadi pemandu dalam kunjungan ke Nusa Dua.

Tuntas menjawab beberapa pesan, saya meraih ransel dan bergerak ke kawasan Medeiros. Sepanjang jalan berdiri banyak bangunan penting yang menjadi saksi perlawanan Timor-Leste menentang pendudukan Portugis dan Indonesia.

Casa Europa, Universitas Nasional Timor Lorosa'e, Kedutaan Portugal, hingga gedung Bank Mandiri kokoh memenuhi jantung kota yang super sibuk. Sedan-sedan mewah bergerak pelan, berbagi ruang dengan pejalan kaki, angkutan kota, serta beberapa mobil Kareta Estado.

Tiada lagi gulungan peta, sepeda saya kayuh sesuka hati hingga menemukan Palácio Presidencial, Katedral Motael, Santa Cruz, dan Hotel Timor yang setia mengawasi persimpangan Rua António Heitor.

Petang menjelang, keindahan Dili larut bersama senja yang tenggelam perlahan. Saya melepas lelah di bibir pantai, ditemani satu budak yang mengaku yatim piatu. Umurnya sekira 10 tahun, bertelanjang dada, memegang layang-layang, lobster, serta fasih bicara tiga bahasa (Tetun, Portugis, dan Indonesia). Kami berbincang sebentar sebelum saya kembali ke hostel. 

"Kalau kakak balik ke Dili, cari saya di sini saja." — Alfin.

Dili Harbour

Pukul 19.30 seseorang telah menunggu di lobi. Rambutnya klimis, wangi, serasi dengan kemeja flanel biru berlengan panjang. Zozo tampak siap menjadi tuan rumah untuk perjamuan malam ini. Kami membunuh hening lewat obrolan ringan tentang Jogja sambil menyantap gado-gado di restoran Padang yang menjual bubur manado.

Esok pagi, ketika menunggu jemputan untuk pulang, Rita—pemilik hostel—memberikan sebuah bingkisan. Satu paper bag berisi sirup pisang, kudapan, dan empat saset kopi lokal kini berpindah tangan.

"Ibuku asli Maluku, sayangnya beliau meninggal waktu usiaku tujuh tahun. Doakan semoga suatu saat aku bisa ke sana," pintanya.

Mobil bergerak menuju Kupang, dilepas oleh sebuah lambaian perpisahan yang penuh harapan. Sejak hari itu, Dili lebih dari sekadar nama kota. Ia abadi di relung yang penuh kesan. Dari minibus yang menerabas badai di Maubara, saya bersumpah akan kembali ke kota ini. Kota yang merawat banyak manusia dengan senyum paling tidak mengada-ada.

Dili, hetan diak liu, hau hadomi o!

Musik untuk perjalanan ini:
Dig Og Mig — Hjalmer
Terima kasih:
Edward Nenobesi, Zofimo Corbafo, Evi Aryati Arbay, Alfin, Vita, Erita Guitérrez, Nathanael Barbosa.

15 komentar

  1. Huihhhhh cakepnya udah sampe di Timor Leste.
    Bagus2 fotonya dan pemandangannya indah ya....
    One day aku juga harus kesana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dili keren, biar sederhana tapi photogenic!
      Sekian dan Debzzie mesti kesana :)

      Hapus
  2. Wah gue sempat understated sama timur leste... ternyata timur leste bagus juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus banget! Alamnya asri, udaranya masih segar sekali :))

      Hapus
  3. Mahal juga yaa voa nya $30, beberapa tahun lalu sempet mau kesana tp batal karena temen ngomporin ketempat lain ;-(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya cum, tarulah sehari ceban kalau pake kurs US$1 = Rp. 10.000 yes.
      Coba deh nyusun agenda buat trip ke sana taun depan. :)

      Hapus
  4. Hihihi, dulu kan w pengen ikut ke sini nih.. tapi apa daya, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lain kali mesti join yah, Yud :))

      Hapus
  5. waaah rumah KD terkenal banget yah disana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan lebih terkenal dari rumah Ramos Horta :))

      Hapus
    2. Kayaknya rumah KD ini jadi agenda tujuan wisata kalo ke DILI hahahaha

      Hapus
    3. Kayaknya Cum, kayaknyaa... Hahaha

      Hapus
  6. Aku teringin bangat ke timur laste ini.. syukur kamu telah membei sedikit gambaran pada ku untuk kesana... terima kasih.. sudah lama kita tidak kunjung berkunjung di blog masing2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau artikel ini cukup membantu. Jom bercuti kat Dili, we have one direct flight service from Denpasar to Dili. So, you nak ke Bali first, lepas tu baru ke Timor Leste. Wait, I'm on my way kat your blog. Haha.. :))

      Hapus