Travel Loud!

Selamat tinggal gulungan peta, itinerari, dan daftar anggaran yang selalu merepotkan. Jadilah merdeka agar dapat berjalan jauh dan bercerita dengan gembira. Di luar sana banyak pejalan bisa menulis, membuat paket destinasi, memotret hal yang sama, lalu mereka klaim sebagai serpihan surga.

Tren berkelana telah dirintis sejak Adam mencari Hawa, saat Marco Polo melintasi jalur sutera, atau ketika Vasco Da Gama menemukan India. Berbeda dengan dulu, pejalan hari ini berlomba mencari surga, mengumumkannya, kemudian menjelma sebagai pemuja kenangan dalam bingkai piksel berwarna. Namun, terlalu sedikit yang mengerti bahwa nirwana hanya dipersembahkan kepada yang bernyawa, dan telah mencapai moksa.

Tak ada pakem yang diatur sebagai panduan perjalanan. Tiap kepala berhak atas intuisinya masing-masing. Berjalanlah, kita hanya perlu memberi nada dan berjanji untuk membawa cerita tentang makna sebuah perjalanan. Makna yang senantiasa hidup lewat ingatan dan percikan irama di kepala. Irama yang berdenyut, bergerak, jauh-jauh, lama-lama, kuat-kuat.

Tidak ada komentar